Bab 5: Jawaban Andrian
Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan tirai jendela di ruangan kantor Andrian. Matahari yang beranjak turun mengecat langit dengan warna oranye keemasan, menciptakan suasana yang tenang sekaligus hangat. Namun, hati Andrian saat itu terasa tidak tenang.
Sebelumnya, Kirana, sekretarisnya yang cantik dan cerdas, telah membuat pengakuan yang mengejutkan. Dalam sebuah percakapan yang awalnya ringan, Kirana melontarkan kata-kata yang mengguncang dinding-dinding pertahanannya. "Pak, kita bisa jadi lebih dari sekadar atasan dan bawahan, bukan?"
Andrian menatap Kirana, matanya yang tajam seolah mencari tahu maksud di balik ucapan tersebut. Dia sudah lama menyimpan perasaan untuk Kirana, namun untuk mengungkapkannya terasa seperti merusak hubungan profesional yang telah mereka bangun.
Sebagian dari dirinya merasa tertarik, namun kesetiaan pada isterinya, Melinda, selalu menjadi pagar kuat yang menghalanginya.
Waktu itu, saat Kirana memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa yang menyelubungi hatinya, Andrian bisa melihat ketulusan dalam matanya.
"Kirana, saya…," suara Andrian terhenti. Dia menatap jas putih yang dikenakan Kirana, melihat kerinduan dan harapan di sana. "Kita memiliki hubungan yang baik. Perlu diingat bahwa ini adalah lingkungan kerja."
"Kenapa? Apakah itu salah?" tanya Kirana, nada suaranya sedikit memelas.
"Kita bisa saling mendukung, bukan? Dan aku bukan hanya ingin jadi sekretaris Pak Andrian. Aku ingin lebih dari itu."
Kirana yang memiliki kecerdasan dan pesona luar biasa berhasil membuat Andrian serba salah. Satu sisi hatinya ingin merasakan cinta itu, sementara sisi yang lain menahan diri, khawatir akan apa yang akan terjadi jika mereka memang benar-benar mendekat. Apakah dia siap menghadapi konsekuensinya?
Hatinya bergetar saat mengingat senyum lembut Melinda, istrinya yang selalu ada di sisi. Ketika Andrian memandang Kirana yang menantinya dengan penuh harapan, ia merasakan pertarungan antara keinginan dan tanggung jawab.
Andrian menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan hatinya yang berdebar-debar. "Kirana..." Suaranya rendah, penuh kehati-hati. "Kamu tahu aku sudah menikah, kan? Melinda, istriku yang sudah bersama bertahun-tahun. Kami telah melalui banyak hal, dan aku tidak bisa begitu saja mengabaikannya."
Andrian bisa melihat embun air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Aku tahu," jawab Kirana akhirnya, suaranya bergetar. "Tetapi aku merasa ada sesuatu yang lebih antara kita. Saat kita bersama, aku senang. Aku merasa hidup."
Andrian merasakan hatinya tertekan. Dia ingin menghibur Kirana, tetapi kata-katanya seolah terjepit di tenggorokan. "Aku juga menikmati waktuku bersamamu, Kirana, tetapi kita harus menyadari batasan. Ini tidak adil bagi Melinda."
"Yang tidak adil adalah jika kita saling menyukai tetapi tidak mengambil langkah untuk mengeksplorasi perasaan itu," sahut Kirana, belum menyerah.
Kirana menarik napas dalam-dalam, tampak terlihat kecewa. “Apa kamu tidak melihat betapa aku ingin lebih dari ini? Setiap hari aku ada di sini, semua ini terasa lebih dari sekadar teman atau rekan kerja,"
"Kirana, aku menghargai perasaanmu. Namun, kita harus memikirkan risiko yang ada. Hubungan kita bisa sangat rumit," katanya, berusaha untuk bersikap bijak.
Kirana menggeleng pelan. “Aku tidak bisa lagi berpura-pura.”
Andrian menunduk, mengingat semua momen-momen kecil ketika mereka berbagi tawa, ketika Kirana menggodanya dengan lelucon-lelucon cerdas, dan ketika dia merasa hangat hanya dengan tatapan mata indah itu. Dia merasakan dua tukang yang berkelahi di dalam hatinya: satu yang ingin meraih cinta, dan satu yang ingin menjaga rumah tangganya.
"Kalau kita menjalin hubungan ini, ada kemungkinan besar kita akan kehilangan segalanya," Andrian menjelaskan, masih mencari-cari kata.
"Kehilangan segalanya," Kirana menyela, "atau tidak berani mengambil risiko? Hidup ini hanya sekali, Pak Andrian. Mengapa kita harus menolak sesuatu yang bisa jadi indah hanya takut pada apa yang mungkin terjadi?"
Andrian melihat ke mata Kirana dan merasakan gejolak perasaannya. Momen itu terasa seperti ujian, apakah mereka akan membiarkan ketidakpastian memisahkan mereka, ataukah mereka akan berani melangkah ke jurang yang penuh ketidakpastian itu?
"Baiklah, Kirana," akhirnya Andrian menghembuskan napas berat. "Kalau ini memang yang kamu inginkan, mari kita bicarakan semua ini dengan matang. Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kita bekerja bersama."
Senyum lebar terukir di wajah Kirana, seakan bagian dari jiwanya yang selama ini dipendam tiba-tiba terasa lega. "Aku mengerti, Pak Andrian. Mari kita bicarakan segalanya. Yang terpenting, kita harus jujur satu sama lain."
Saat itu, Andrian merasa seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh tantangan. Di ujung koridor kantor yang sepi itu, mereka mulai melangkah ke arah yang tidak pasti namun penuh harapan.
Andrian menatap Kirana satu kali terakhir. Dalam tatapan itu, ada harapan yang mungkin akan terus ada, meski terbakar oleh rasionalitas yang memisahkan mereka. Dia harus segera memberi jawaban kepada hati yang tidak ingin setia dan semakin mengasah keraguan di benaknya.
Andrian dan Kirana sama-sama tahu ini baru awal dari sesuatu yang lebih besar, dan dengan keberanian, mereka bersedia menghadapi segala kemungkinan, berdua.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments