Bab 20 : Permohonan restu
Hari itu terasa mendung, seolah langit pun ikut merasakan beban di hati Andrian. Ia berdiri di depan pintu rumahnya, tangan kirinya menggenggam erat tangan Kirana, sekretarisnya yang juga mencuri hatinya. Mereka datang ke sini bukan untuk sekadar bersilaturahmi, hari ini, Andrian bersiap untuk meminta restu dari Melinda, istrinya.
Kirana menatap Andrian dengan campuran harapan dan ketakutan.
"Apakah kita benar-benar harus melakukan ini?" tanyanya pelan, seolah takut jika suaranya terlalu keras akan menggugurkan niat mereka.
Meski ada keraguan di dalamnya, keberanian Kirana meraih mimpinya untuk bersatu dengan Andrian membuatnya tetap teguh.
Andrian mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya yakin. "Kita harus melakukannya, Kirana. Aku ingin Melinda tahu bahwa aku serius tentang kita."
Dengan napas dalam, Andrian mengetuk pintu. Detak jantungnya seolah membias di telinga, mengalahkan suara hujan yang mulai turun di luar. Beberapa detik kemudian, Melinda membuka pintu dengan wajah datar, matanya beralih menatap Kirana, dengan rasa muak, enggan untuk melihatnya.
"Mau apa, datang kesini?" tanya Melinda.
Andrian meneguk ludah. "Melinda, aku perlu bicara denganmu," katanya, mencoba untuk terdengar tenang.
"Bolehkah kita masuk?"
Melinda memberikan sedikit ruang untuk mereka masuk, lalu menutup pintu dengan pelan.
Andrian menarik napas dalam-dalam. Hari ini, dia akan meminta restu Melinda, istrinya, untuk menikahi Kirana. Meskipun pernikahan mereka telah lama terjalin, kisah cinta di antara Andrian dan Kirana tak bisa diabaikan. Kirana telah menjadi penopang Andrian di saat-saat sulit, menggoda dan memikat dengan pesonanya, hingga membuat Andrian jatuh cinta kembali. Namun, Melinda, sang istri, adalah sosok yang telah berjuang bersamanya bertahun-tahun.
"Bu Melinda," kata Kirana, berusaha menata kata-katanya. "Saya tahu pernikahan kalian adalah hal yang sakral… Namun saya mencintai Andrian, dan Andrian juga mencintai saya. Kami ingin meminta restu dari Anda untuk menikah…"
Melinda terdiam, hatinya terasa seperti disayat. Kenyataan pahit ini harus ia rasakan, Melinda tidak kuasa untuk memisahkan mereka berdua. Melinda menunduk, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Melinda, aku tidak ingin menyakiti kamu," Andrian mengulurkan tangan, mencoba menghibur istri yang telah bersamanya selama bertahun-tahun.
"Tapi aku tidak bisa mengabaikan perasaanku pada Kirana."
Melinda menatap ke arah Andrian, "Tapi kamu, Andrian, apa yang kamu lakukan? Apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini tanpa melukai orang lain?"
Andrian merasa air matanya menggenang. "Aku mencintaimu, Mel. Tapi perasaanku pada Kirana sangat nyata. Aku tidak bisa terus berbohong."
Melinda terdiam kembali, mencoba mencerna kata-kata Andrian. Setelah beberapa saat, ia menatap Kirana. "Bagaimana denganmu? Apakah kamu bisa menjadi bagian dari hidupku yang terlalu rumit ini? Atau kamu hanya sekadar ingin memiliki Andrian?"
Kirana menahan napas. Ia tidak ingin menjadi pihak yang merusak sebuah keluarga. "Aku tulus, Bu Melinda. Tidak pernah ada niat untuk merusak hubungan kalian. Aku hanya… merasa terikat dengan Andrian. Dia telah mengubah hidupku."
Melinda mengalihkan pandangannya ke jendela, melihat tetesan hujan yang meluncur di kaca. "Cinta itu rumit, Kirana. Dan terkadang, cinta yang nyata harus mengorbankan sesuatu."
Hening menjenguk ruangan itu. Andrian merasakan harapan nya seolah melayang. Rasa sakit melanda hati Melinda, namun dia berusaha tegar.
"Kalau begitu, Mas. Jika ini yang kamu inginkan, saya tidak ingin menjadi penghalang untukmu berbahagia."
"Bu Melinda…" ucap Kirana, merasa bersalah.
"Diam! Alasan apapun itu, tidak bisa mengubah keadaan," Melinda memotong.
"Saya cinta pada suami saya, dan jika dia bahagia, saya tahu saya harus merelakannya, meskipun itu berarti saya harus menerima poligami. Saya hanya minta, kalau memang kalian berdua benar-benar ingin bersama, lakukanlah dengan cara yang baik. Hormati saya sebagai istri yang sudah bersamamu."
Andrian terkejut mendengar ucapan Melinda. "Melinda, saya tidak ingin menyakiti hatimu. Saya akan melakukan ini dengan baik. Saya ingin memberi semua yang terbaik untuk kita berdua."
Dalam situasi yang sulit ini, Melinda menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu tentang memiliki seseorang sepenuhnya, tetapi juga tentang memberikan kebahagiaan kepada orang yang dicintai, bahkan jika itu berarti mengorbankan diri.
Kirana merangkul Melinda, tetapi Melinda tidak membalasnya, dan Andrian hanya bisa menatap dua wanita yang dicintainya, hatinya terbagi antara harapan dan rasa bersalah. Dia tahu bahwa perjalanan selanjutnya tidak akan mudah, tetapi saat ini, mereka sudah melewati satu tahapan penting. Dari sini, nasib mereka akan ditentukan oleh cinta, pengertian, dan sikap saling menghargai.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
nurzia aeni
ko bodoh kirana mnding cerai pasrah bngt jd istri geli punya suami berbagi ranjang sm istri lain,klo selingkuh mh x gk ketauan lah ini poligami
2024-08-06
0