Bab 6: kecurigaan
Hari itu, cuaca di Jakarta cukup cerah. Melinda, seorang istri muda yang selalu tampil anggun, memutuskan untuk menghabiskan waktu di mall setelah menyelesaikan beberapa urusan rumah tangga. Ketika ia memasuki pusat dunia, senyumnya tak pernah pudar. Ia menikmati momen santai ini, menjelajahi toko-toko dan mencari beberapa barang yang diperlukan.
Sambil berkeliling, Melinda merasa hari ini, seharusnya menjadi waktu bersantai bersama suami, Andrian, setelah sepekan penuh kesibukan. Namun, entah kenapa, Melinda merasa ada yang menggantung di udara. Suaminya terlihat menghindar, seolah ada yang ingin disembunyikannya.
Melinda merasakan, seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang selalu merasa cemas ketika suaminya, Andrian, tidak berada di dekatnya. Suaminya adalah seorang CEO di perusahaan, dan sering kali harus berhadapan dengan banyak perempuan, salah satunya adalah sekretarisnya, Kirana. Kirana dikenal sebagai wanita cantik dan cerdas, yang tidak jarang mendapat perhatian lebih dari klien.
Melinda melanjutkan jalan-jalan sambil berusaha menghilangkan pikiran negatif tersebut. Namun, saat ia berbelok ke sebuah kedai kopi, matanya tertuju pada sosok yang sangat familiar. Di sudut kedai, Kirana sedang duduk sendirian dengan secangkir kopi di tangan.
Melinda merasakan jantung berdesir. Dengan suasana hati yang campur aduk, ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang.
"Seharusnya aku tidak boleh seperti ini," pikir Melinda. "Dia hanya sekretarisnya."
Tetapi ketika Melinda memperhatikannya lebih dekat, ia tidak bisa menyembunyikan rasa yang mencerminkan. Kirana mengenakan gaun ketat yang menunjukkan bentuk tubuh yang sempurna, dan senyumnya tampak menawan. Melinda mengambil napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri, tetapi mengkondisikannya sebagai istri tetap mendorongnya untuk mendekat.
"Kirana," sapanya, terdengar lebih kuat dari yang diharapkannya. Tiba-tiba perhatian Kirana beralih. Wajah cantik itu menjelma menjadi terkejut, lalu diiringi dengan senyum yang sangat manis.
"Halo, Ibu Melinda," jawab Kirana, sedikit ragu. "Apa kabar?"
"Baik, terima kasih. Kamu di sini sendirian?" tanya Melinda, menekankan kata "sendirian" untuk mencari tahu lebih lanjut.
Kirana mengangkat bahu. "Saya hanya ingin menikmati secangkir kopi. Terkadang, saya butuh waktu untuk sendiri."
Melinda tersenyum, namun dalam hati, perasaan curiga mulai menggerogoti.
"Saya senang bertemu ibu Melinda di sini," ucap Kirana, berusaha terlihat santai.
"Ya, aku juga. Aku melihatmu dari jauh," kata Melinda sambil melangkah mendekat. Dia berusaha tersenyum meskipun jantungnya berdetak kencang.
"Bagaimana pekerjaan di kantor?"
"Semuanya baik-baik saja. Suami Anda sangat baik hati," jawab Kirana sambil menatap Melinda dengan tatapan yang sulit di mengerti.
Melinda tahu bahwa ada yang lebih dari sekedar keprofesionalan dalam nada suara Kirana, dan itu membuatnya tidak nyaman.
Beberapa detik teringat di antara mereka, dan Melinda merasa ada ketegangan yang tak terucapkan.
"Jadi, apa kamu sering ke sini?" Melinda bertanya, berusaha untuk tidak terlihat curiga.
"Kadang-kadang, tapi hari ini aku punya janji dengan seseorang," jawab Kirana, menunjukkan betapa santainya dia. "Tapi aku senang bisa bertemu denganmu."
"Oh, baiklah. Tapi, apakah kamu tau Pak Andrian dimana?"
Tampaknya wajah Kirana sedikit terkejut. "Pak Andrian sama sekali tidak memberi tahuku di mana dia. Mungkin dia sedang sibuk."
Melinda berdiri di situ, merasakan ketegangan yang tak terlihat. "Baiklah, saya akan melanjutkan berbelanja. Senang bertemu dengan kamu."
Saat Melinda berbalik untuk pergi, dia mendengar Kirana berteriak, "Bu Melinda, tunggu! Sampaikan salam untuk Pak Andrian."
Melinda tersenyum miris, di dalam hati ia berjanji untuk berbicara dengan suaminya. Ia tidak ingin membiarkan rasa cemas ini terus mengganggu dirinya.
Ketika Melinda meninggalkan kedai kopi, ada satu hal yang pasti, dia tidak bisa mengabaikan perasaan ini lebih lama lagi. Keberadaan Kirana di hidup mereka menjadi sebuah teka-teki, dan Melinda perlu bertekad untuk menemukan jawabannya. Mungkin, pertemuan ini akan membuka mata dan hati pada kenyataan yang lebih besar dari sekadar rasa cemburu.
Dengan tekad yang baru, Melinda melangkah keluar dari mall, siap menghadapi kenyataan yang ada di hadapannya.
Melinda meneruskan langkahnya. Di dalam hatinya, gelombang pertanyaan mulai membanjiri. Mengapa suaminya tidak ada? Kemana Andrian? Seharian ini Melinda tidak melihatnya.
Kepalanya berputar saat dia memasuki toko-toko, mencari barang yang seharusnya menyenangkan, tetapi hanya memilih sebagian hati yang sakit. Melinda memutuskan untuk menelepon Andrian. Namun, setelah beberapa kali mencoba, telepon suaminya tidak diangkat.
Dia menghela napas, berusaha menghilangkan keraguan yang menghantuinya. Melinda sangat mencintai suaminya, namun pertemuannya dengan Kirana membuat segalanya terlihat lebih rumit. Jika Kirana memang seorang penggoda, apakah suaminya mampu menolak godaan itu?
Saat Melinda melangkah keluar dari toko, dia tidak dapat mengabaikan perasaan aneh dalam dirinya. Kirana yang duduk sendirian seolah menandakan sesuatu yang lebih besar dari sekedar kopi. Melinda bertekad untuk mencari tahu lebih jauh. Tidak peduli harga yang harus dia bayar, dia tidak akan membiarkan hubungan mereka yang dibangun selama bertahun-tahun hancur hanya karena satu sosok perempuan penggoda seperti Kirana.
Dengan semangat baru, Melinda siap menggali kebenaran dan mempertahankan cinta yang mereka miliki. Sebuah rahasia yang disimpan suaminya, dia akan mencari tahu. Pertemuan ini hanyalah permulaan dari lembaran baru dalam hidupnya—persoalan cinta dan kepercayaan yang harus dia hadapi dengan berani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments