Bab 8

Bab 8: Ciuman panas di apartemen 

Kirana dan Andrian baru saja selesai berkeliling di sebuah mall besar di Jakarta. Hari itu terik, namun suasana ramai dan penuh energi membuat mereka melupakan segala cuaca. 

Kirana, seorang sekretaris yang cerdas dan berkarisma, mengajak Andrian untuk mampir ke apartemen nya. Andrian, yang sebenarnya sudah berjanji dengan istrinya untuk kembali tepat waktu, merasa terjebak dalam ketertarikan yang tidak dapat dia hindari.

Setelah membeli beberapa barang, mereka berjalan bersebelahan, tertawa dan berbicara tentang banyak hal. Kirana mengakui penampilannya bahwa dia selalu mengagumi Andrian—bukan hanya , tetapi juga cara dia berbicara dan memperlakukan orang-orang di sekitarnya. 

"Bagaimana? Apakah kamu senang?" tanya nya dengan senyuman menggoda.

Andrian merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Ia tahu bahwa Kirana adalah wanita yang memikat, tetapi ia tidak bisa untuk tidak memikirkan istrinya, Melinda, yang sedang menunggu di rumah. Namun, saat Kirana menggandeng tangannya, Andrian merasa seolah semua pertimbangan itu lenyap. Mereka cepat-cepat menuju apartemen Kirana, seolah terseret arus tak terlihat.

Begitu pintu apartemen tertutup, udara di ruangan itu terasa berbeda. Kirana berbalik, tatapannya menggoda, bersiap untuk menjauhkan diri dari dunia luar. Andrian berdiri di tengah ruangan, bertanya-tanya bagaimana situasi ini bisa terjadi. Seketika, tanpa sadar, mereka berdua telah saling mendekat. Hanya beberapa inci yang memisahkan wajah mereka.

"Kamu tidak perlu merasa bersalah," Kirana berkata lembut, mendekatkan wajahnya. "Kadang, kita hanya butuh sedikit pelarian."

Andrian terkesima. Dalam moment itu, semua suara di sekeliling seolah menghilang. Beban hidupnya seolah terangkat, dan ia bersandar pada perasaan yang sudah lama terpendam. Tanpa sadar, mereka bertabrakan. Badan mereka bersentuhan, dan Andrian melupakan semua komitmen yang dia buat.

Satu detak jantung menunjukkan pertemuan dua jiwa yang mabuk akan ketertarikan. Kirana menarik Andrian lebih dekat dan menyentuh pipi pria itu dengan lembut sembari berbisik,

"Apakah kamu pernah merasa tidak ada di tempat yang tepat?"

Andrian, terhanyut dalam suasana, menjawab dengan suara bergetar, "Kadang-kadang, kita hanya perlu menemukan tempat di mana kita merasa hidup." Dia menambahkan, "Tapi aku tidak bisa melupakan Melinda."

Sekali lagi, Kirana menyalakan percikan harapan, "Kamu juga bisa merasakan hal ini tanpa menghapus yang lain. Hidup ini terlalu singkat untuk menolak perasaan."

Perdebatan dalam hati Andrian semakin kuat. Dia merindukan petualangan, sesuatu di luar rutinitas yang membosankan. Di sisi lain, ia tahu di dalam hatinya, ada Melinda, istri yang menunggunya dengan cinta yang tulus.

Kirana melihat kesedihan di wajah Andrian. "Aku tidak ingin membuatmu merasa terjebak," lanjutnya. "Cukup rasakan saja apa yang ada di antara kita. Tidak ada yang perlu diputuskan sekarang."

Di tengah keraguan dan ketegangan, Andrian merasa terperangkap dalam dua hati yang saling menarik. Dia tahu, keputusan ini akan membentuk jalan hidupnya ke depan—dan bahkan bisa mengubah arah cinta yang telah dibangun bersama Melinda.

Pertanyaannya adalah, bisa kah dia melupakan sejenak semua tanggung jawabnya dan membiarkan cinta yang murni ini berkembang, atau akankah ia memilih kembali ke kehidupan yang sudah ditentukannya? Dalam ketidakpastian itu, dunia luar tampak semakin jauh, seiring waktu semakin cepat mengalir di dalam apartemen Kirana.

Andrian duduk di sofa apartemen Kirana, dikelilingi oleh aroma harum lilin yang menyala lembut. Suasana remang-remang menciptakan suasana intim, jauh dari hiruk-pikuk kantor yang selalu dipenuhi dengan tumpukan berkas dan panggilan telepon yang tak ada habisnya.

Kirana, yang selalu membuatnya terpesona dengan penampilan yang menawan, dan senyum menggoda, berdiri di dapur sambil menyiapkan dua gelas anggur merah. Hal itu tak luput dari perhatian Andrian. Ia mengamati Kirana, melihat bagaimana tangan rampingnya bergerak cekatan, menciptakan suasana yang seakan melambungkan mereka jauh dari dunia luar.

"Jangan terlalu tegang, santai saja." ucap Kirana sambil menuangkan anggur ke dalam gelas. Suaranya lembut namun menggoda, seperti alunan musik yang membuat dada Andrian berdebar lebih cepat.

"Aku hanya terpesona dengan kecantikan mu, Kirana." jawab Andrian, berusaha terdengar santai meskipun detak jantungnya semakin cepat. 

"Malam ini, aku ingin melupakan semua urusan di kantor."

Kirana berjalan mendekat, gelas anggur di tangannya. Ia duduk berseberangan dengan Andrian, tatapan mereka saling bertemu dengan intens. Kirana tersenyum, senyuman yang membuat Andrian terpesona.

"Jika itu yang kau inginkan," bisiknya, "aku bisa membantumu untuk melupakan segalanya."

Andrian tidak bisa lagi menahan diri. Keberanian yang telah lama terpendam kini memuncak. Ia meraih tangan Kirana, menariknya mendekat, dan tanpa ragu ia mengungkapkan perasaannya.

"Kirana, aku tidak bisa menahan ini lebih lama."

Mata Kirana berbinar, tetapi dia hanya tersenyum, seolah memberi kode untuk melanjutkan permainan ini. 

"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" ujarnya menantang.

Andrian menggigit bibir, merasakan ketegangan yang membara antara mereka. Ia bergerak lebih dekat, merasakan aroma parfum yang menyegarkan dari tubuh Kirana. Tangan Andrian kini melingkar di pinggang Kirana, menjadikannya lebih dekat.

"Sesuatu yang bisa membuat mu menjerit keenakan..." Kata-katanya tak mampu melanjutkan, karena Kirana sudah menyerahkan bibirnya untuk bertemu bibir Andrian.

Ciuman itu, pada awalnya lembut, namun seiring dengan semakin dalamnya perasaan, menjadi semakin penuh gairah. Kirana merasakan aliran listrik menyebar di seluruh tubuhnya, membagi kesadaran antara dunia luar dan keintiman tersebut.

Andrian menarik Kirana lebih dekat, kedua tangan mereka saling menjelajahi saat tatapan mereka tak pernah terpisahkan. Suara detak jantung dan napas yang menggebu seakan menjadi melodi kehidupan mereka saat itu. Ciuman mereka menyampaikan semua yang tidak terucapkan.

Saat mereka akhirnya terpisah, napas keduanya masih tersengal. "Bagaimana kita, melakukan nya lebih?" ucap Kirana berbisik. Kirana seperti memberikan sinyal, Andrian dengan senang hati melakukan nya.

Andrian tersenyum, "Kita akan menyelesaikannya malam ini." Dengan suara lembut, mereka kembali saling menatap, merasakan kenikmatan yang mereka rasakan.

Detik itu, semuanya seolah membara. Tidakkah mereka tahu bahwa mereka sedang melanggar batas profesional yang selama ini terjalin? Rasanya, semua yang ada di sekitar mereka menghilang. Hanya ada mereka berdua, dalam momen yang penuh gairah dan hasrat.

Malam semakin larut, dan apartemen Kirana menyimpan rahasia mereka. Keduanya terbenam dalam tawa, bisikan, dan sentuhan halus, menciptakan kenangan yang tak akan pernah mereka lupakan. Tanpa ragu, Andrian dan Kirana mengetahui bahwa ini adalah awal dari sebuah cerita baru yang lebih dalam dan menggenggam imajinasi mereka. Tak ada lagi sekertaris dan atasan, hanya ada dua hati yang terikat oleh hasrat yang tak terbendung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!