Setelah pertemuan yang menegangkan dengan Melinda, istrinya, yang penuh dengan pengakuan dan kebohongan mengenai Karina, hati Andrian terasa lebih ringan. Ia telah membuka semua yang mengganjal di hatinya kepada Melinda, meskipun semuanya bohong, mengambil langkah berani meskipun rasa takut masih menghantuinya.
Kini, Andrian ingin menggali lebih dalam hubungan yang terjalin antara dirinya dan Karina, sekretarisnya yang selalu membuatnya berdebar setiap kali mereka berinteraksi. Meskipun dia tahu bahwa mengembangkan hubungan lebih dari sekadar profesional dengan Karina bisa berisiko, rasa tertariknya sulit untuk diabaikan. Apalagi saat melihat senyum cerah yang selalu menghiasi wajah Karina, rasanya seperti dunia ini milik mereka berdua.
Andrian memberanikan diri untuk mengajak Karina ke sebuah kafe kecil yang terletak di pinggir jalan. Kafe tersebut terkenal dengan kopi dan suasananya yang tenang—tempat yang sempurna untuk membahas proyek yang sedang mereka kerjakan. Namun, ada satu tujuan lain di benak Andrian, ia ingin lebih dekat dengan Karina.
Mereka duduk di sudut kafe yang dikelilingi tanaman hijau yang segar. Aroma kopi menyegarkan mengisi udara saat pelayan datang membawa pesanan mereka. Andrian melihat Karina saat ia mencicipi cappuccino, rambutnya yang tergerai sempurna menambah pesona keanggunan gadis itu.
"Bagaimana jika kita pergi bersama? Cuma sesaat, untuk menyegarkan pikiran," ujar Karina dengan suara yang menggodanya.
Andrian mengangguk, matanya berbinar. "Aku rasa itu ide yang bagus, mendiskusikannya secara langsung dan lebih santai." Suaranya tegas, memberikan kesan bahwa ia sangat profesional.
Andrian tersenyum, tahu bahwa Karina bagaimana menjaga batasan antara pekerjaan dan perasaan pribadi. Namun, dalam diam, bagian dalam dirinya mulai memberontak.
"Bagaimana jika besok kita berangkat ke luar kota?" usulnya, berusaha untuk mempercepat waktu bersama.
Andrian menatap Kirana sejenak, Ia terdiam, memikirkan situasi. Bagaimana bisa dia melupakan istrinya. Dia tahu, jika dia menyetujui ajakan Kirana, semua akan terungkap dalam satu momen—dan ketakutan penuh dilema.
"Saya pikir ini bukan ide yang buruk Kirana. Tapi Melinda...," Andrian berusaha mengingatkan, namun suara hatinya terasa lemah menghadapi pesona Kirana.
"Bu Melinda tidak perlu tahu. Ini hanya sebentar, dan kita akan kembali sebelum ada yang curiga," potong tegas Kirana.
Hanya dalam beberapa detik, Andrian merasakan terjangan angin yang mendesak imannya. Keputusannya, untuk menyetujui ajakan ini, terasa semakin dekat.
Dengan berat hati namun dibalut rasa penasaran dan ketidaksabaran, Andrian akhirnya mengangguk.
"Baiklah, saya setuju." Suaranya bergetar, mencerminkan keraguan yang mendalam.
Apa yang dia lakukan? Dalam pemikirannya, perjalanan ini bisa membawa banyak konfrontasi yang tak terduga, dan ia tahu bahwa ia harus menghadapi konsekuensi dari pilihannya.
Kirana dan Andrian sepakat untuk berangkat keesokan harinya, menyusun rencana dengan cermat untuk memastikan tidak ada yang akan pergi ke sana. Meski ada keceriaan yang menghinggapi pikiran Andrian, ada juga rasa tidak nyaman yang menggerogoti hatinya.
Di malam harinya, Andrian terlelap dengan mimpi yang bercampur aduk—antara harapan untuk kebahagiaan dan ketakutan akan pengkhianatan. Ia mencakup sejauh mana jalan yang ia pilih dapat membawa perubahan dalam hidupnya. Adakah cinta sejati di antara mereka berdua, ataukah hanya sekadar hasrat yang sesaat?
Ketika pagi tiba, Andrian berkemas dengan langkah yang terasa berat. Hanya waktu yang akan menentukan apakah mereka dapat menemukan arti sebenarnya dari hubungan ini atau malah menghancurkan semuanya.
Begitu mobil bergerak menjauh dari kota, Andrian menatap ke belakang, seolah berharap bisa menarik kembali semua keputusan yang telah diambil. Namun perjalanan ini telah dimulai, dan hanya satu arah yang akan mereka tuju.
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan, atau akhirnya dihadapkan pada kenyataan pahit yang harus diterima?
Petualangan telah dimulai, dan Andrian bersiap menghadapi segala kemungkinan di depan. Dengan keberanian yang tercampur gelisah, ia mendapati dirinya terjebak antara keinginan dan tanggung jawab. Sebuah kisah yang penuh emosi, intrik, dan pengabdian mungkin menanti di ujung jalan ini.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments