Bab 11
Mami Ayu duduk di kamarnya yang luas. Ini adalah kamar utama di lantai satu tempat dahulu dia dan mendiang suaminya menghabiskan waktu bersama. Pandangan dia mengarah kepada foto pernikahannya 20 tahun yang lalu. Sekarang ini tanggal pernikahan mereka.
"Kenapa kamu begitu cepat meninggalkan aku, Mas Bara," ucap Mami Ayu dengan lirih. "Aku bahkan belum memberi kamu anak. Aku ingin melahirkan penerus untukmu."
Air mata Mami Ayu menggenang di pelupuk netranya yang kini terlihat sayu. Wanita itu pernah punya impian ingin hidup sampai tua bersama Bara. Namun, takdir memisahkan mereka 15 tahun yang lalu.
Nafandra tidak pernah melarang ibu tirinya itu untuk menikah lagi dengan pria lain. Namun, Mami Ayu tidak mau karena takut jika menikah maka jatah bulanan dari perusahaan akan terhenti. Menikah juga belum tentu akan memberikan rasa kebahagiaan untuknya. Selain itu juga, rasa cintanya yang besar kepada Bara membuat dia sulit membuka hati untuk laki-laki mana pun.
Usia Mami Ayu masih muda saat menjadi janda dan ada beberapa laki-laki yang ingin meminang dirinya. Namun, semua dia tolak dengan alasan ingin mencurahkan hidupnya membantu Nafandra.
"Nafandra belum pulang?" Mami Ayu bergumam ketika sadar belum melihat anak sambung dan keluarga kecilnya.
Untuk memastikan keberadaan Nafandra sudah pulang atau belum, Mami Ayu pun memberanikan diri untuk naik ke lantai atas. Dia tahu peraturan dari kepala rumah tangga ini, dilarang untuk naik ke lantai dua jika sudah lewat jam makan malam.
'Tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan saja keberadaan mereka,' batin Mami Ayu ketika akan menaiki anak tangga.
Dengan langkah perlahan Mami Ayu menaiki anak tangga. Di dalam keremangan cahaya, wanita itu berjalan seperti orang maling. Mengendap-endap takut ketahuan orang lain. Dia lupa kalau di rumah ini tersebar rekaman CCTV.
Setelah sampai di depan pintu kamar Nafandra, Mami Ayu merasa ragu untuk mengetuk pintunya. Tiba-tiba muncul perasaan takut di dalam dirinya. Dia menoleh ke arah salah satu ruangan yang ada di pojok lorong. Cepat-cepat dia memalingkan lagi wajahnya yang kini berubah pucat.
Pintu pun diketuk beberapa kali oleh Mami Ayu dengan pelan yang jelas tidak akan kedengaran meski ada orang di dalam. Karena tidak ada jawaban, maka wanita itu memutuskan untuk memutar handle pintu, lalu menengok ke dalam.
"Kamarnya gelap. Berarti mereka belum pulang," ucap Mami Ayu bergumam.
Kamar tidur itu tidak gelap total karena ada cahaya dari lampu balkon dan jendelanya tidak tertutup gorden tebal. Hanya gorden viltrase putih yang menutupi kaca berukuran lebar itu.
Tubuh Mami Ayu mematung ketika melihat ada kelebat bayangan seseorang di sana. Takut ada maling yang masuk ke sana, wanita itu memberanikan diri masuk ke dalam kamar. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Dia membuka pintu kamar mandi, di sana keadaan gelap. Lalu, dia menyalakan lampu dan tidak ada siapa-siapa di sana.
Mami Ayu yakin kalau dia melihat ada orang di kamar Nafandra. Lalu, dia berjalan ke ruang khusus yang menyimpan pakaian dan aksesoris milik Nafandra dan Tarissa. Tidak ada siapa-siapa juga di sana.
'Apa tadi itu cuma halusinasi aku saja, ya?' batin Mami Ayu.
Betapa terkejutnya Mami Ayu ketika dia membalikkan badan. Seseorang menatapnya dengan penuh curiga.
"Pak Budiman! Apa yang sedang Bapak lakukan di sini?" tanya Mami Ayu dengan tubuh bergetar.
Wanita tua itu sekuat tenaga mencoba menenangkan dirinya. Dia lupa kalau pelayan laki-laki ini selalu saja muncul di mana saja dan kapan saja tanpa di sadari.
"Justru saya yang seharusnya bertanya kepada Anda, Nyonya Ayu. Apa yang sedang Anda lakukan di kamar Tuan Andra?" tanya kepala pelayan itu dengan tatapan penuh selidik.
Ditanya seperti itu oleh Pak Budiman membuat Mami Ayu semakin salah tingkah. Dengan memasang wajah angkuh wanita itu berkata, "A-ku mau me-nemui Andra."
"Bukannya Tuan Andra pergi keluar bersama istri dan anaknya. Nyonya sendiri tahu itu karena tadi marah ingin ikut bersama mereka," ucap Pak Budiman mengingatkan Mami Ayu.
"Aku kira dia sudah pulang. Makanya aku datang ke sini," ucap Mami Ayu dengan nada bicara kesal untuk menutupi rasa malunya.
"Sebaiknya Nyonya keluar dari kamar ini. Aku tidak mau kalau besok Tuan Andra marah karena sudah ada yang berani memasuki kamar pribadi tanpa sepengetahuan dan izinnya," ujar Pak Budiman masih bicara dengan nada tegas.
Pak Budiman sudah lama sekali mengabdikan diri di keluarga ini. Sejak kecil sampai tua begitu setia melayani keluarga Nafandra. Meski sempat memiliki keluarga, dia masih bekerja di sini. Kini hidupnya kembali sebatang kara, jadi sudah menganggap orang-orang di sini sebagai keluarganya.
Mami Ayu pergi meninggalkan kamar Nafandra dengan menggerutu di dalam hati. Wanita paruh baya itu sejak dulu tidak suka sama Pak Budiman.
***
Tarissa menatap wajah Nafandra yang sedang tertidur pulas sambil memeluknya setelah mereka bergulat panas. Meski setiap hari laki-laki itu mencumbu dirinya, perasan dia untuk sang suami belum ada atau mungkin tidak akan ada. Sampai detik ini laki-laki yang bertahta di dalam hati wanita itu adalah mendiang suaminya. Sosok Rahandika memang tipe ideal Tarissa dan dia belum menemukan laki-laki lain yang persis seperti dirinya atau hampir sama.
'Apa yang di sukai oleh Nessa dari Nafandra, ternyata tidak sama dengan yang aku rasakan,' batin Tarissa.
Nessa sering mengatakan kalau Nafandra adalah suami yang romantis dan perhatian, walau tampangnya dingin dan terlihat cuek. Kalau bicara pun terkesan ketus dan irit.
Tarissa kepikiran tentang buku harian milik Nessa yang tadi di simpan di sembarang tempat. Apalagi dengan foto yang terjatuh di dalamnya.
'Foto itu milik siapa, ya? Apakah Nessa tahu orang-orang itu?' batin Tarissa.
"Kenapa belum tidur?" tanya Nafandra dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Tubuh Tarissa tersentak ketika mendengar suara suaminya. Wanita itu hanya tersenyum tipis, lalu mengusap rahang Nafandra.
"Aku belum ngantuk," jawab Tarissa.
"Ini sudah malam. Tidurlah!" Nafandra menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya agar cepat tidur. Biasanya posisi ini membuat nyaman Tarissa dan akan cepat tertidur.
Tarissa melihat ke arah cermin. Dia bisa melihat punggung Nafandra ada tanda bekas luka cukup besar. Awal melihat luka itu langsung banyak pertanyaan di dalam otaknya. Nafandra bilang itu luka lama yang tidak ingat kapan kejadiannya, kini bekas luka juga susah senada dengan warna kulit punggungnya yang agak putih.
'Ini seperti bukan luka kecelakaan? Luka apa ini?' batin Tarissa yang mengelus punggung Nafandra dengan pelan. Ujung jarinya yang sensitif bisa merasakan bekas luka itu.
'Apakah kamu pernah dicelakai oleh orang lain? Seberapa parah luka kamu waktu itu?' batin Tarissa bertanya-tanya karena Nafandra tidak suka jika ada orang yang bertanya tentang lukanya itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Khairul Azam
penuh teka teki, dan biasanya nanti banyak yg tak terduga
2024-11-24
2
Ririn Nursisminingsih
banyak misteri thor
2024-09-30
3
SasSya
hooooooo bikin jantung
siapa ituuuuu
Kayanya mama ayu gak neko-neko
2024-07-09
3