Bab 3
Di tengah kebingungan itu terdengar suara pintu diketuk. Kesadaran Tarissa kembali dan melihat Nafandra menoleh ke arah seorang perempuan paruh baya yang berwajah panik.
"Ada apa, Mbok?" tanya Nafandra kepada Mbok Darmi.
"Tuan, Den Keanu menangis terus tidak mau diam," jawab wanita itu dengan ketakutan.
Mendengar itu Tarissa langsung berdiri dan menghampiri pembantu yang setia mengabdi pada keluarga Brawijaya. Dia khawatir sudah terjadi sesuatu kepada keponakannya.
"Kenapa?" tanya laki-laki itu sambil berdiri mengikuti Tarissa.
"Sepertinya Den Keanu ingin menyusu. Di kasih dot susu formula tidak mau," jawab Mbok Darmi yang semakin ketakutan ketika melihat ekspresi wajah Nafandra.
"Sekarang Keanu sama siapa, Mbok?" tanya Tarissa yang telah berdiri di depan wanita paruh baya yang memakai daster.
"Sama baby sitter, Bu," jawab Mbok Darmi.
Tarissa tersentak mendengar ucapan pembantu itu. Setahu dia, Nessa tidak pernah menggunakan jasa pengasuh anak. Dia mengurus Keanu seorang diri. Itu sebabnya sang anak tidak bisa jauh dari sang ibu.
"B-baby sitter?" tanya Tarissa terheran-heran. Belum juga 24 jam Nessa meninggal sudah ada orang yang mengurus bayi itu.
Bola mata Mbok Darmi membulat seakan keluar dari tempatnya. Wanita paruh baya itu langsung menutup mulutnya sambil menunduk seakan sudah mengatakan sesuatu yang tidak boleh diucapkan.
Nafandra berjalan melewati Tarissa dan Mbok Darmi. Laki-laki itu berjalan menuju ke kamar putra semata wayangnya yang ada di samping kamar tidur utama miliknya.
"Tunggu!" Tarissa mengejar Nafandra.
Begitu masuk ke kamar bayi yang didekorasi dengan sangat nyaman dengan barang-barang yang berkualitas nomor satu, terdengar suara tangisan yang memilukan. Hati Tarissa ikut sakit melihat keponakan kesayangannya itu menangis tergugu dengan air mata membanjiri wajahnya.
"Mama ... Mama!" Keanu merentangkan kedua tangannya minta digendong kepada Tarissa.
Baby sitter yang masih terlihat muda dan cantik itu berusaha menenangkan Keanu. Dia menggendong sambil menimang-nimang. Terlihat jelas dia kewalahan karena Keanu terus berontak.
"Sini, Sayang," ucap Tarissa meraih Keanu dari gendongan baby sitter-nya.
"Mama!" jerit tangis bocah berusia 13 bulan itu ingin digendong oleh tantenya.
Keanu mengira Tarissa adalah ibunya. Dia sering memanggil mama kepada Tarissa meski tahu ada Nessa di sana juga. Meski sudah diajarkan untuk memanggilnya Tante, tetap saja mama. Mungkin karena wajah mereka berdua memang mirip. Hanya gaya pakaian dan dandan saja yang agak berbeda.
Baby sitter itu melihat ke arah Nafandra. Laki-laki itu mengangguk, baru dia melepaskan Keanu.
"Sayang, kenapa?" Tarissa membelai wajah Keanu yang basah orang air matanya. Dia menghapus cairan bening itu.
"Mimi cucu," ucap Keanu yang ingin menyusu ASI.
Keanu memiliki alergi terhadap susu sapi, gantinya menggunakan susu kedelai sebagai pendamping ASI. Namun, bayi itu lebih suka ASI dibanding dengan susu formula.
Tarissa menoleh ke samping di mana Nafandra berdiri. Seakan paham dengan tatapan matanya, laki-laki itu pun pergi keluar kamar putranya.
Segera saja Tarissa menyusui Keanu. Bayi itu menyusu dengan begitu lahap seperti orang kehausan dan kelaparan. Tidak lupa kebiasaannya mencubit-cubit kecil dada montok yang sedang dihisapnya.
Wanita itu menahan pedih ketika ASI nya dihisap oleh Keanu. Belum lagi kuku bayi itu terasa tajam meski pendek. Kini dia tahu rasanya kenapa Nessa terkadang meringis ketika menyusui anaknya.
Baby sitter itu terdiam melihat Tarissa menyusui Keanu sambil membelai kepala bayi itu. Mulutnya menembangkan tembang lagu yang terdengar syahdu.
Keanu benar-benar kelaparan. Karena sejak semalam bayi itu belum meminum ASI. Makanya sekarang begitu menyusu terlihat begitu lahap.
Setelah menyusu hampir satu jam, Keanu tertidur pulas dalam buaian Tarissa. Terlihat mata bayi itu bengkak karena terlalu lama menangis.
Ketika Tarissa membaringkan Keanu ke boks bayi, Nafandra datang. Dia pun membalikkan badan dan menatap tajam kepada laki-laki itu.
"Sudah kamu lihat sendiri, 'kan? Kalau hanya aku yang bisa mengurus dan menjaga Keanu," kata Tarissa tersenyum miring.
"Berarti kamu menerima ajakan ku tadi," balas Nafandra dengan tatapan mengejek.
"A-pa?" Tarissa lupa dengan perkataan Nafandra di pemakaman tadi.
"Apa kau sudah lupa?" Alis Nafandra menukik tajam.
Tarissa mencoba mengingat kembali. Dia pun mendengus kesal setelah ingat ajakan untuk menikah.
"Aku rasa kamu laki-laki tidak memiliki hati. Istri baru saja meninggal sudah ingin menikah lagi," ucap Tarissa dengan penuh penekanan.
"Ini demi Keanu," balas Nafandra.
Otak cerdas Tarissa mulai bekerja. Dia ingin menjaga dan melindungi Keanu seperti wasiat Nessa di detik-detik sebelum hilang nyawanya. Namun, dia tidak ingin menghabiskan hidupnya bersama dengan orang-orang dari keluarga Brawijaya. Terlebih lagi ada Mami Ayu yang tinggal di sini.
Nafandra sebagai pemimpin keluarga ini tidak mungkin pergi meninggalkan rumah utama. Tidak ada seorang pun yang berhak mengusir Mami Ayu dari sini, seperti yang diwasiatkan oleh Tuan Bara Brawijaya, mendiang ayah Nafandra.
"Keputusan ada di tanganmu," ucap Nafandra, lalu pergi keluar kamar menuju ruang kerja.
Sambil memandangi Keanu, Tarissa memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil. Dia memperkirakan baik dan buruknya menjadi bagian keluarga Brawijaya.
Sebelum makan malam Tarissa mendatangi ruang kerja Nafandra. Laki-laki itu terlihat sudah mandi dan mengganti pakaian dengan kaos kerah dan celana chino. Dia duduk di sofa sambil memangku laptop. Seperti yang sering dikatakan oleh Nessa kalau suaminya itu seorang gila kerja. Meski sudah di rumah tetap saja melakukan pekerjaan.
"Apa kau sudah mempunyai jawaban?" tanya Nafandra sambil melepaskan kacamatanya.
"Ya. Tapi, aku ingin mengajukan syarat kepadamu," jawab Tarissa dan Nafandra mengangguk.
"Aku bersedia menikah dengan kamu demi Keanu. Jadi, hanya sebatas itu saja. Aku tidak mau melakukan tugas istri yang lainnya. Termasuk urusan ranjang," lanjut wanita bersurai panjang itu dengan tegas.
Nafandra berdiri lalu berjalan mendekati Tarissa. Kini mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak yang sangat tipis.
"Aku laki-laki normal. Untuk apa ada seorang istri jika tidak bisa memuaskan aku," bisik Nafandra tepat di depan muka Tarissa.
Wanita itu hanya bisa menelan ludah karena membayangkan harus melayani laki-laki yang dibenci olehnya. Rasanya dia tidak akan sanggup.
"Kamu boleh cari wanita lain—"
Nafandra mencengkeram rahang Tarissa dengan kuat dan membuatnya meringis kesakitan. Mata elangnya juga menatap tajam dengan penuh amarah.
"Aku bukan laki-laki yang suka tidur dengan sembarang wanita!" desis Nafandra.
Tarissa mencoba menenangkan dirinya. Saat ini dia sudah berbuat gegabah dan memancing emosi laki-laki dingin dan cuek.
"Baiklah. Aku akan menikah denganmu dan menjalankan tugas sebagai seorang istri. Namun, beri aku kekuasaan penuh dalam mengatur rumah ini. Baik dalam keuangan dan pengaturan pegawai secara mutlak tanpa ada yang bisa menentang keputusan aku," kata Tarissa dengan tegas.
"Lakukan sesuka kamu. Aku tidak akan ikut campur," ucap Nafandra sambil melepaskan cengkeramannya.
Terdengar suara ketukan di pintu, kepala pelayan memberi tahu sudah waktunya makan malam. Nafandra pun mengajak Tarissa untuk ikut dengannya.
Begitu kedua orang itu memasuki ruang makan, di sana sudah ada Mami Ayu dan Andita. Mereka terkejut dengan kedatangan Tarissa yang hendak ikut makan malam bersama.
"Heh, janda barbar! Ngapain kamu masih di sini?" Andita bicara dengan nada tinggi dan tatapan menghina.
"Jaga mulut kamu terhadap calon istriku!" bentak Nafandra.
"Apa?" Mami Ayu dan Andita memekik dengan ekspresi terkejut.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Ketawang
Masih penasaran dg Nafandra...bisa"nya Nessa baru meninggal tanah kuburannya masih basah sdh ngajak nikah si Tarissa...kakak iparnya
2025-02-13
1
Ririn Nursisminingsih
kerenn nih karakter tarisa cewek tangguh😍😍
2024-09-30
3
Eva Karmita
suka kalau tokoh wanitanya kuat ngk gampang di tindas 👍👍
2024-07-10
1