Bab 2.

Bab 2

"Kamu gila, ya? Kamu ingin menikah lagi, sementara kuburan Nessa saja masih merah dan basah!" bentak Tarissa setelah mendengar ucapan Nafandra.

Laki-laki berwajah dingin itu terlihat diam tidak menunjukkan emosinya. Tarissa tidak bisa menebak pikiran suami mendiang adiknya.

Jika saja Keanu benar-benar aman di tangan keluarga Brawijaya, mungkin Tarissa tidak akan khawatir. Sebulan yang lalu, ketika Nessa dan Keanu berlibur ke rumahnya, sang adik mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti olehnya. Namun, lewat pesan video singkat yang dia dapatkan semalam, kini dirinya tahu. Kenapa hanya dirinya yang bisa menjaga dan melindungi Keanu.

"Seharusnya kata-kata itu pantas untuk dirimu," balas Nafandra dengan nada datar.

Tawa sumbang keluar dari mulut Tarissa. Justru menurutnya laki-laki itu yang gila. Istrinya saja baru selesai dikuburkan malah mengajaknya menikah.

Bola mata Nafandra bergerak memerhatikan Tarissa dari atas sampai ke ujung kaki, lalu naik lagi melihat ke wajahnya. Seakan tidak mau lama-lama di tempat yang sepi dan suram seperti ini laki-laki itu pergi meninggalkan kembaran mendiang istrinya.

"Hei, kita belum selesai bicara!" teriak Tarissa karena adik iparnya itu pergi dengan langkah lebar dan cepat, sehingga dalam sekejap sudah melangkah jauh.

Sifat Nafandra yang menyebalkan seperti ini paling tidak disukai oleh Tarissa. Anehnya di mata Nessa, laki-laki itu begitu sempurna. Sampai-sampai sang adik dibuat jatuh cinta dan tergila-gila kepadanya.

Tarissa berlari mengejar Nafandra karena pembicaraan mereka belum selesai. Begitu laki-laki itu hendak masuk ke dalam mobilnya, dia bisa menahannya.

"Kita perlu bicara dengan kepala yang dingin. Jangan karena kematian Nessa, kamu menjadi gila seperti ini," kata Tarissa yang kini bicara dengan nada biasa. Dia tidak boleh memancing pertengkaran dengan ayahnya Keanu.

Mata elang milik laki-laki itu menatap lekat kepada Tarissa. Lalu, dia memberikan kode untuk ikut dengannya. Nafandra tahu pembicaraan mereka tidak akan sebentar, mungkin akan memakan waktu berjam-jam. Dia tahu kalau Tarissa itu berbanding terbalik dengan Nessa yang akan selalu patuh dan tidak pernah membantah apa pun ucapannya.

Tarissa menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan dengan kasar. Dia mau tidak mau harus ikut dengan Nafandra. Wanita itu berjalan menuju ke kursi penumpang di samping pengemudi. Nessa pernah bilang kalau suaminya tidak suka jika dia duduk di depan seorang diri, sedangkan ada orang lain duduk di kursi belakang.

Perjalanan dari pemakaman ke rumah keluarga Brawijaya sekitar 30 menit, karena Nafandra mengemudi dengan kecepatan batas maksimal. Tarissa tidak menyangka kalau dirinya akan dibawa ke rumah mewah dan megah ini. Dia mengira kalau mereka akan bicara di suatu tempat yang tidak akan ada pengganggu.

"Kenapa kamu membawa aku ke sini?" tanya Tarissa dengan menunjukkan muka marah.

"Turun!" titah Nafandra menghiraukan ucapan Tarissa sambil membuka sabuk pengaman.

Laki-laki itu pergi meninggalkan Tarissa yang masih terdiam di dalam mobil. Dalam sekejap Nafandra sudah masuk ke dalam rumah.

"Dasar pria berdarah dingin!" Tarissa memukul dasboard mobil dengan keras beberapa kali, kemudian turun sambil menggerutu di dalam hati.

Begitu Tarissa masuk ke dalam rumah terlihat ada Mami Ayu dan Andita yang berdiri sambil menatapnya tajam penuh dengan kebencian. Bagi dia tidak aneh mendapatkan perlakuan seperti itu dari mereka.

"Bu Tarissa, di tunggu sama Tuan di ruang kerja," kata Mbok Darmi dengan sopan.

"Terima kasih, Mbok," balas Tarissa dengan senyum manis menghiasi wajahnya.

"Mau apa janda barbar datang kemari?" tanya Andita menghadang Tarissa saat akan naik tangga.

"Minggir! Ini bukan urusan kamu," balas Tarissa sambil mendorong tubuh Andita agar tidak menghalangi jalannya.

Wanita cantik yang ber-make up tebal itu mundur beberapa langkah. Untung dia berhasil memegang pegangan tangga, sehingga tidak jatuh.

"Andita!" teriak Mami Ayu saat melihat keponakan kesayangannya itu hampir terjatuh.

"Tante, tolong aku!" jerit Andita seakan sedang mengalami hal yang menyakitkan.

Tarissa jengah dengan kelakuan Andita. Wanita yang dikenal sebagai model terkenal di negeri ini, selalu saja mencari gara-gara kepadanya. Paling suka mendramatisir keadaan dan manipulatif.

"Berhenti!" Mami Ayu berlari ke arah Tarissa, lalu menjambak rambutnya yang tergerai panjang.

Langkah kaki Tarissa terhenti di anak tangga ketiga. Dia merasakan sakit di kepalanya akibat jambakan wanita tua yang selalu berpenampilan glamor.

"Berani-beraninya kamu menyakiti Andita!" pekik Mami Ayu dengan wajah menyeramkan.

Seperti biasa Tarissa akan melawan orang yang berani menyakitinya, dia menahan tangan Mami Ayu yang menarik rambutnya. Lalu, dengan gerakan cepat dia memutar tangan itu, meski ikut merasakan sakit juga akibatnya tarikan tangan wanita tua itu di surainya, tetapi mertuanya Nessa ikut merasakan kesakitan yang lebih darinya.

"Aaaaaaa, aduh. Lepaskan!" jerit Mami Ayu kesakitan.

"Tidak mau. Kau yang memulai duluan. Jadi, rasakan akibatnya!" pekik Tarissa semakin kuat mencengkeram tangan Mami Ayu.

Andita tiba-tiba menyerang Tarissa dengan menggunakan patung hiasan yang ada di dekatnya. Namun, bisa ditahan dengan sebelah tangan kanannya. Lalu, dia pun mendorong tubuh Mami Ayu ke arah keponakannya, sehingga kedua orang itu jatuh tersungkur di lantai.

Sementara itu, Nafandra melihat kejadian itu semua lewat kamera rahasia yang terpasang di beberapa titik di rumahnya. Tidak ada yang tahu kecuali dirinya dan kepala pelayan di rumah ini.

"Hebat juga," puji Nafandra dengan pandangan yang tidak lepas dari layar monitor.

Tidak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk dari luar. Nafandra tahu itu adalah Tarissa. 

"Masuk!"

Terlihat wajah masam Tarissa ketika beradu pandang dengan Nafandra. Wanita itu memilih duduk di sofa dekat kaca jendela. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruang kerja itu. Semua dipenuhi oleh buku. Tidak ada hiasan dinding atau foto. Jam dan kalender juga diletakkan di meja kecil di belakang kursi kerja.

Nafandra berjalan ke arah Tarissa, lalu duduk di sofa tunggal yang ada di depannya terhalang oleh meja. Kini mereka saling menatap.

"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nafandra dingin.

"Keanu masih memerlukan ASI dan aku bisa memberikan itu untuknya," jawab Tarissa dengan serius.

Terdengar suara Nafandra yang tertawa terkekeh untuk pertama kalinya bagi Tarissa setelah menjadi adik iparnya. Tentu saja ini semakin membuat wanita itu aneh dengan kelakuan laki-laki itu.

"Jangan melucu. Bagaimana bisa kamu mempunyai ASI sedangkan kamu tidak mempunyai bayi?" tanya Nafandra yang telah menghentikan tawanya.

Tarissa terdiam dan terlihat bingung. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi kepada tubuhnya. Sebulan belakangan ini payuudaranya mengeluarkan ASI. Dia belum sempat memeriksakan hal ini ke dokter karena sedang sibuk dengan urusan sekolah, tempatnya bekerja. Wanita itu sempat cerita kepada Nessa, tetapi sang adik bilang kalau itu bukan sesuatu yang berbahaya. 

'Aku juga penasaran kenapa dadaku bisa mengeluarkan ASI?' batin Tarissa.

***

Terpopuler

Comments

Ketawang

Ketawang

Nih suaminya Nessa gak ada rasa sedih kehilangan ato gmn yak...
masa punya istri di tinggal sendirian di villa

2025-02-13

1

Kasmiwati P Yusuf

Kasmiwati P Yusuf

tor aku bru baca,semua ny pd kaku2 gt ya,.aku ikut tegang melek gt,penasaran,. mau lompat tar aku malas baca ny.

2025-02-15

0

Nurlaila Hasan

Nurlaila Hasan

suka cerita sperti ini,, sperti ada sesuatu dgn mma ayu dan andita,,

2024-12-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!