Regi hanya bisa diam sambil menyesap kopinya. Ia bukan penggemar kopi tapi untuk kopi dengan kualitas tinggi seperti yang kini di sesapnya, ia bisa membuat pengecualian.
“Anakmu sih pintar Mbak Yu! Pendidikan tinggi, jadi Boss pula, Kadiv Operasional tak mudah loh sampai ke jenjang seperti itu. Intelek buanget lah! Dibanding anakku, anti sosial, temennya bisa dihitung, bagaimana dia bisa mendapat koneksi bonafit?! Entahlah apa saja yang selama ini dia kerjakan, istripun tak punya, dapat pacar saja aku sudah ragu-ragu apa bisa menerima dia yang wataknya keras kepala seperti ini? Padahal aku juga ingin dapat cucu yang pintar-pintar seperti dirimu Mbak Yu! Ya tapi kalau anakku punya anak, apa bisa dia mendidik cucuku jadi sepintar dirimu, aku juga ragu deh hahahahaha! Nanti kalau anakku punya anak, aku ambil alih sajalah pengasuhannya! Hahahaha!” Bu Jani Einar tertawa terbahak sambil benyampaikan keluh kesahnya di hadapan sahabatnya.
“Regi, kamu nggak berniat ke Gym untuk memperbesar ototmu sedikit, biar agak kekar begitu? Kalau kemayu begini tante curiga jangan-jangan kamu homo loh! Hahahaha!” kata Bu Rinda. Ibu Wahyu itu kalau bicara ceplas-ceplos kurang adab seperti ini. Tapi kalau diprotes ia hanya berdalih kalau ia hanya berbicara apa adanya dan dengan tujuan untuk memotivasi anak-anak agar lebih maju.
Regi hanya diam sambil sengaja duduk sambil melipat kakinya lalu menatap pemandangan di area taman dalam sebelahnya.
Di depannya, ada Wahyu.
Iya, Wahyu, Kepala Operasional Kantor Pusat. Yang kini mengaku sebagai Kadiv. Kepala Divisi. Beberapa tingkat lebih tinggi level jenjang kariernya. Wahyu yang kepergok dari CCTV Rahasia ‘pinjam uang’ dari Khazanah. Walau pun dikembalikan lagi saat gajian tapi tetap saja hal itu menyalahi peraturan. Bisa jadi malah tidak sepenuhnya dikembalikan.
Mereka di awal hanya bisa saling bertatapan dengan kaget. Tidak menyangka kalau ibu mereka berdua adalah sahabat di masa kuliahnya.
Tapi Karena Wahyu tidak menyapanya lebih dulu, malah diam saja, Regi menganggapnya sangat tidak sopan bertemu dengan orang yang posisinya lebih tinggi di kantor tapi malah diam saja, Regi pun gengsi menyapa duluan. Jadi mereka hanya bisa saling diam.
Tapi Regi biasa diperlakukan seperti itu dari dulu, orang-orang sekantornya kalau berpapasan dengannya di luar jam kantor atau di weekend seperti ini lebih baik diam saja pura-pura tak kenal atau menghindar dengan memutar lebih jauh.
Jadi, Regi berusaha santai dan tidak memulai obrolan, Biar saja ibunya bercerita panjang lebar mengenai ketidakpuasannya ke anaknya satu-satunya.
Sementara Wahyu melirik-lirik Regi karena ia merasa was-was Regi akan buka mulut mengenai posisinya di kantor, dan mempermalukannya di depan semua orang.
“Bu,” Pak Yudi, Pria keturunan Jawa namun sejak lahir ia tinggal di Jakarta, “Jangan merendahkan anak kita. Nanti jadi Doa, beneran terjadi loh.”
“Aku kan nggak mendoakan, Pak. Ini kan apa adanya!” dengus Bu Jani. Regi hanya diam, terserah saja ibunya mau berpendapat apa. “Kalau nggak ingin kuomongi begini ya dia harus berusaha jadi manusia berkualitas!” Bu Jani ini memang wanita keturunan Jawa-Swedia, namun mulutnya seperti netizen +62. Julidawati, ngomong dulu yang di hati, klarifikasi belakangan.
Sudah biasa bagi Regi, ibunya memang yang membentuk perangainya menjadi seperti ini. Sejak kecil saat ia diomeli karena rangking 2 Nasional tingkat SD, Regi berhenti untuk membuat bangga orang tuanya dan berhenti berusaha. Tidak ada yang memberinya apresiasi karena Rangking 2, jadi walau pun ia rangking 1 pun orang-orang akan menyebut kalau hal itu wajar saja. Bukan sesuatu yang luar biasa.
Ia bahkan menyembunyikan hasil Tes intelegensinya dari ibunya, kalau Tingkat Perkembangan Intelektualnya 158, kategori Jenius. Regi merobek-robek hasil tesnya dan membuangnya ke tempat sampah. Karena ia merasa laporan semacam ini tidak berguna. Pun ia memenangkan nobel pun ibunya pasti akan membicarakannya dengan kata-kata favoritnya, ‘Iya, Tapi...’ sederet kata-kata yang paling Regi benci. Ya Tapi... selalu ada ‘tapi’. Apa sih susahnya memuji anak sendiri? Merendah di hadapan orang tapi menyiksa anak sendiri? Begitu pikir Regi.
Hanya ejekan yang menerpanya, semakin tinggi prestasinya, semakin besar hujatannya.
“Kalau Regi jadi seperti ya kamu omongi, bukan salah Regi loh bu. Memang kemauan ibu yaaaa...” kata Pak Yudi.
“Justru ibu maunya dia bisa membuktikan kalau ibu salah, Pak. Nah bapak sendiri berprasangka jelek ke istri sendiri. Bagaimana tuh?!” sembur Bu Jani.
Regi masih diam dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Dalam hatinya, ia memuji Ratu. Memang tidak salah ia memilih Ratu untuk membooking Restoran Bunga ini karena tempatnya indah dan eksklusif. Yang bisa mendapatkan tempat duduk strategis ini, dengan pemandangan mengarah ke area taman dalam hanya orang-orang tertentu di Garnet. Garnet Grup memang menjadi salah satu investor terbesar Restoran ini.
Lumayan, selain membuat terkesan ibunya, ia juga bisa menenangkan pikirannya. Ia butuh melihat suasana yang indah untuk membuat pikirannya teralihkan dari sakit hati.
“Wis-wis, sudaaaah. Biar suasananya enak, makan kali ini Anakku yang traktir ya! Ya Wahyu ya? Bisalah kecil buat kamu tagihan segini Mah! Si Regi cuma minum doang itu Hahahahaha! Takut mahal ya Regi? Tenang ajaaaa, anakku yang bayar, gajinya berkali-kali lipat lebih besar dari kamu kok!”
Tampak wajah Wahyu langsung tegang. Sebagai karyawan Garnet ia sangat tahu harga makanan di sini. Dan yang paling mahal adalah penyewaan tempat duduk ini. Apalagi mereka mengambil paket fine dining.
“Kalau mahal salahin Regi nih! Pakai sok-sok’an booking tempat di restoran mewah segala! Kita kan lidah orang tua lebih suka makanan tradisional. Masakan Eropa kayak gini sih aku sudah bosan dari dulu dicekoki sama nenekku! Hahahaha!” Seru Bu Jani mencoba merendah tapi malah menghina. Padahal dia sendiri terpukau sangat lama dan antusias saat datang ke sini tadi.
Regi tanpa bicara menyodorkan buku menu yang isinya makanan ala Indonesia ke depan ibunya.
“Ya sudah telat kenapa nggak dari awal?” protes ibunya.
Regi hanya menaikkan bahunya dan kembali diam sambil memandang ke suasana di dalam restoran.
“Regi, tante penasaran, kamu kerja dimana sih? Pegawai Salon, jangan-jangan hahahaha!”
“Dia itu jadi pesuruh katanya,” kata Bu Jani.
“Pesuruh? OB maksudnya? Walah Jeng, kuliahin anak tinggi-tinggi masa cuma jadi OB? Memang OB dimana?”
“Di anak usaha Garnet Grup katanya? Ya tapi tetap OB, kerjanya kan Outsourching ya! Nggak pengaruh. Wahyu kerja dimana?”
“Loh? Wahyu juga di Garnet! Garnet Bank!” seru Bu Rinda. “Jadi kalian saling kenal dong? OB nya di Garnet mana Gi?”
“Garnet Bank juga Tante.” Kata Regi.
“Jadi Wahyu atasannya Regi dong? Kok dari tadi nggak ngomong?! Regi ini harusnya sama yang jabatannya lebih tinggi itu kasih salam dong! Duuuh anak ini memang dari dulu adabnya nggak bagus ih! Apa sih salah ibu sampai kamu jadi begini?!”
Regi menatap Wahyu sambil memicingkan mata lalu membuang muka. Wahyu hanya bisa menunduk ketakutan. Secara tak langsung kalimat itu menohok hati Wahyu. Siapa yang sekarang adabnya tak bagus?!
Kemudian selama beberapa saat kedua sahabat itu, Bu Jani dan Bu Rinda mengobrol mengenai gosip-gosip artis dan berbagai hal, sementara kedua suami mereka membicarakan mengenai dunia politik yang tahun ini sedang memanas.
Keadaan semakin heboh saat istri Wahyu dan ketiga anaknya muncul di restoran.
Sesaat mereka semua mengobrol banyak hal dan tidak memedulikan Regi yang ada di sana, sampai anak bungsu Wahyu yang masih balita tiba-tiba mengulurkan tangan ke Regi dan tertawa, “Prince!” katanya sambil menunjuk ke arah wajah Regi. “Prince! Prince!” serunya sambil bertepuk tangan, lalu mengangkat tangannya ke Regi dan minta dipangku.
Regi menggendongnya lalu memangku anak itu. “Hehe,” anak bungsu Wahyu membelai-membelai pipi Regi lalu menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan ke kiri menunjukkan gesture tersipu.
“Prinses mayuuuu, hihi!” katanya lugas.
“Jangan malu dong, harus happy,” kata Regi.
“Prinses hepiiii! Kata anak itu sambil bersorak.
“Pinteeer,” kata Rei sambil mengelus kepala anak itu.
Bu Jani terkekeh sinis sambil bilang, “Cakep ya cakep ‘tapi’ kalo tingkahnya ngeselin, jomblo, ya nggak bikin orang tua bangga juga. Makasih itu ke ibu gara-gara ibu turunan Eropa muka kamu cakep, yaaa paling nggak ada positifnya sedikit lah yaaa.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Bee mi amore
rasanya emaknya Regi 11 12 sm emaknya milady
2024-12-20
0
Bee mi amore
ono mambu blasteran dong regi
2024-12-20
0
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
asli aku gedek banget loh, dr awal mulutnya emak regi gak ada adab...
ngehina anaknya mulu...
astaghfirullah...
2024-09-03
0