Regi sedang posisi memeriksa pekerjaan staffnya dan mencorat-coret sesuatu di proposal. Tampak Fandi, Johan dan Tyo memanjangkan lehernya berusaha melihat bagian mana dari pekerjaan mereka yang dicoret-coret.
“Fandi,” panggil Regi dengan kening berkerut. Rata-rata staff di bawah Regi usianya lebih tua darinya, apalagi para Marketing Senior yang sudah berada di Garnet Bank 10 tahun lebih lama.
“Ya Pak?” jawab Fandi.
“Jabatan kamu apa sekarang?”
“Eeeeh, Marketing Senior Pak.”
“Sudah berapa lama kamu kerja di Garnet Bank sampai dikasih title ‘senior’?”
“Emmm... 8 tahun Pak.”
“8 tahun kerja di Bank masih tidak tahu bedanya Cash Flow dan Profit?”
“Mmmmm....” Fandi menatap bergantian antara proposalnya dan wajah Regi yang alisnya naik satu, tanda keheranan sekaligus mengejek.
“Nasabah perlu dipertimbangkan karena memiliki profit pertahun sebesar bla bla bla... padahal saya hitung cashflownya minus nih.” Regi mengetuk-ngetuk proposal Fandi.
Fandi pun menelan ludah.
“Kamu masih sanggup jadi Marketing atau mau dirolling saja jadi Kurir? Saya bisa angkat Abbas jadi marketing saya, dia lebih nurut dari kamu.” Kata Regi sambilmelempar proposal Fandi ke tempat sampah. “Terlalu banyak yang harus diperbaiki, buang-buang waktu saja. Kalau kamu maubilang itu bisa dijadiin kertas buat gorengan, sana ambil di tempat sampah...” kata Regi. “Kamu tetap di ruangan, saya mau bicara.”
“Pak, nasabah minta akad besok pagi.” Nada suara Fandi bergetar.
“Ya makanya kamu duduk di situ dulu jangan kemana-mana, ngeyel...” dengus Regi.
“Tyo, proposal kamu saya tolak, Nasabah tidak akan mampu bayar cicilan kalau gaya hidupnya masih seperti ini. Tulis saja surat penolakan.”
“Yaaaah... tapi nasabahnya-“
“Nasabahnya siapanya kamu?”
“Heh? O-orang lain Pak, datang ke Bank sendiri untuk mengajukan pinjaman.”
“Ya buat apa kamu paksakan? Kenal saja tidak.”
“B-B-Baik Pak.” Tapi kan maksud Tyo, Nasabah yang ini bisa jadi penutupan Targetnya kalau gol. Karena ditolak, mulai besok ia harus ‘turun ke jalan’ untuk menawar-nawarkan kredit.
“Johan, kamu bisa lanjutkan proposal kamu. Minta bagian Legal persiapkan draft Akad, kasih saja garis besarnya dulu.” Kata Regi sambil menandatangani proposal Johan.
Lalu hanya ada Regi dan Fandi di ruangan itu.
“Kamu nggak cocok di Kredit, kamu kerjanya janji-janji manis ke nasabah. Nasabah kredit itu nggak bisa dibaik-baikin karena dia mau pinjam uang kita.”
“Nasabah yang ini bisa bayar kok Pak walau pun saya hitungnya salah. Bapak lihat saja track recordnya di Bank Lain! Semua lancar kolek 1.”
“Bunga yang kita tagih dari nasabah memang salah satu pemasukan untuk gaji karyawan seantero gedung. Dan kamu memang kami target biar nggak malas. Tapi bukan berarti kamu boleh memihak nasabah! Itu namanya kamu ngasih kotoran ke shareholder! Seandainya ini sampai NPF, bagaimana caranya kamu jual tanah kosong di antah berantah ke orang? Berapa lama kamu bisa jual? Mau dilelang puluhan kali nggak bakalan laku juga! Kita bukan perusahaan property! Kita ini Bank! Mikir dong!”
“Kalau dia telat bayar kita bisa minta nasabah untuk take over ke bank lain dan-“
“Ooooh jadi itu cara dia tetap kol 1 hah? Main take over begitu saja? Makanya dari tadi saya heran kenapa dia kredit di BPR terus... karena di BPR telat beberapa hari nggak bakalan masuk Kolek 2, masih tetap kolek 1. Kamu mau samakan BPR dengan Garnet Bank yang Labanya sudah triliunan? Kita aturannya lebih ketat dari BPR!”
**
“Kenapa lo diem aja di depan ruangan Regi?” Pak Dimas menyenggol-nyenggol lengan Pak Felix yang dari tadi berdiri di depan pintu ruangan Regi.
“Lagi dengerin Regi ngomel.”
“Berisik ya?”
“Ya iya. Tapi... hehe.”
“Kok Hehe...”
“Tadinya gue mau semprot si Regi gara-gara dia kita semua panik barusan. Tapi ternyata... dia boleh juga.”
“Boleh juga?”
“Kita butuh seseorang yang galak dikit biar karyawan nggak pada manja kan? Hehe...” Pak Felix menyeringai sambil balik badan dan berjalan ke arah area Direksi.
Pak Dimas pun penasaran dan akhirnya memutuskan untuk ikut menguping keadaan di dalam ruangan Regi.
“IMB keselip gara-gara si Fajar matanya buta saja kita didenda 50juta oleh OJK! Sekalian saja kamu pindah sana! BPR pasti mau kok nerima bekasan Garnet!!” terdengar teriakan Regi dari dalam ruangan.
“Widih ambyar...” gumam Pak Dimas.
“Kenapa Pak?” Dan Regi Pun tiba-tiba membuka pintu ruangannya dan menatap Pak Dimas.
“Eeeeh, nggaaak, cuma mau nguping.”
“Pak Felix kenapa pergi? Saya pikir tadi mau masuk sekalian, mau ikutan dengerin saya marah-marah ke Fandi.” sindir Regi.
“Kayaknya dia insecure sama kamu, karena kamu ternyata lebih judes dibanding dia.”
“Enak saja, saya judes kalau ada yang ganggu saja kok.”
“Ya semua insan hayati kan kamu anggap penganggu, yang bisa berdamai sama kamu cuma tembok karena tembok kan nggak bisa kemana-mana kalau kamu ajakin ngobrol. Itu, pulpen kamu saja menjatuhkan diri dari meja saking dia pingin kabur...”
Regi mencibir mendengar kalimat Pak Dimas, namun ia bahkan tidak bisa menampiknya karena ia sendiri juga setuju. “Kalau tembok sudah nggak betah kayaknya dia meruntuhkan diri sih Pak.” Tambah Regi dengan nada Sarkas.
Pak Dimas pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan prihatin, “Regi...”
“Ya Pak?”
“Kalau sudah capek, liburan ya. Saya ingin sekali saja melihat senyum di bibir kamu.” Kata Pak Dimas sambil menepuk-nepuk bahu Regi.
**
Hari-hari selanjutnya membosankan seperti biasa, menurut Regi. Tapi tiba-tiba ia ingat kalau harus booking restoran untuk tempat reuni ibunya
Dan mungkin karena pekerjaan yang menggunung, Regi pun menjadi tidak bisa berpikir mengenai tempat yang cocok.
Terus terang saja kalau untuk urusan hal-hal yang ‘menyenangkan orang lain’ ia tidak berbakat. Lagi pula ibunya minta tempat yang fancy, Regi sudah malas saja karena feelingnya mengatakan ‘jangan-jangan dia disuruh membayari’.
Saat itu Ratu, Sang Sekretaris Direksi, berjalan melewati ruangannya.
Mata Regi langsung terpaku melihat gadis itu.
Ratu belum sampai setahun bekerja di Garnet Bank. Regi juga tidak menemukan data lain mengenai dirinya. Apa pekerjaannya sebelum di sini? Dia lulusan universitas mana? Dan kenapa hanya ada nama Ratu saja di CV-nya? Apakah tidak ada nama keluarga?
Usianya di biodata 23 tahun, tapi kalau dilihat dari postur tubuhnya yang tampak matang, pembawaannya yang anggun dan ramah, juga caranya bekerja, seakan ia sudah memiliki banyak pengalaman menghadapi manusia.
Yang paling menarik perhatian Regi adalah cara Ratu berpakaian. Sederhana namun berkelas. Regi tahu harga blazer dan rok yang dipakai Ratu tidak mahal, khas online shop, dilihat dari bahannya. Tapi Ratu dapat membuat pakaian murah jadi terkesan eksklusif. Terlihat pas di tubuhnya. Ratu adalah satu-satunya orang yang Regi tidak komplain mengenai cara berpakaian.
Jadi, Regi pun berdiri dan menghampiri Ratu yang sekarang sudah di kubikelnya untuk menyusun berbagai laporan yang hari Senin akan diajukan ke manajemen.
“Ratu,”
Ratu agak kaget saat Regi menyapanya, tampak ia sedikit waspada karena takut dimarahi.
“Y-ya Pak?”
“Restoran apa yang mewah, kids friendly, cocok buat ibu-ibu sosialita?”
“Eh? Hm...”Ratu agak menunduk karena sedang berpikir. “Buat kencan ya Pak?”
“Buat ibu saya hang out sama teman arisanya Ratuuuu... kamu berniat menyindir saya ya?”
“Huff...” entah kenapa Ratu terlihat lega. “Buat ngopi cantik toh, hehe saya pikir Bapak sudah punya anak diam-diam atau pasangan bapak sudah punya anak gituuu.”
“Kalau bisa yang tempatnya agak luas, dan ada tempat buat saya melipir tarik nafas sebentar.”
“Cafe Bunga.” Jawab Ratu.
“Cafe Bunga?”
“Iya, Karyawan Garnet setingkat Kadiv ke atas mendapat diskon khusus dan bisa booking mendadak di ruangan VIP Pak. Tapi Pak Regi harus memasukkan Deposit dulu di kartu khusus.”
“Ribet nggak? Saya butuhnya besok jam 10an.”
“A-a-anu... saya bisa urus kok Pak, bapak mau deposit berapa?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Bee mi amore
meskipun ora mudeng blass...tetep baca...asik aja
2024-12-20
0
Bee mi amore
jd inget milady
2024-12-20
0
Bee mi amore
weehh..jujur amat pak
2024-12-20
0