Oscar, benar-benar khawatir melihat Zoey tak sadarkan diri. Wajah lelahnya berubah menjadi raut penuh kecemasan melihat Zoey yang pucat pasi.
Setelah menempatkan Zoey di atas tempat tidur, Oscar duduk di tepi ranjang dan menunggu kedatangan dokter keluarganya. Tak lama, Dokter Andreas, tiba. Pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih itu, datang dengan tas dokternya. Raut mukanya pias saat menerima panggilan dari Achilles beberapa waktu yang lalu.
Dokter Andreas memeriksa Zoey dengan teliti, matanya yang berpengalaman mencari tanda-tanda yang mungkin terlewat oleh mata awam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, ia menarik napas dalam dan menoleh kepada Oscar yang menunggu dengan cemas.
"Menurutku, berdasarkan penjelasan dari anda, nona Zoey mengalami PTSD, Tuan," ujar Dokter Andreas dengan suara yang lembut namun pasti. Meskipun ada sedikit keraguan, tapi berdasarkan petunjuk dari Oscar. Dia memiliki kesimpulan itu.
"Sesuatu pasti telah memicu kenangan yang menyakitkan, dan tubuhnya bereaksi dengan cara ini."
Oscar menggenggam tangan Zoey, merasakan dinginnya kulitnya yang pucat. "Apa yang harus di lakukan agar penyakitnya tidak kambuh?" tanyanya, suaranya serak karena cemas.
"Jika nona Zoey berkenan, saya bisa menjadwalkan untuk mulai dengan terapi dan dia juga memerlukan dukungan emosional," jawab Dokter Andreas. "Pemulihan dari PTSD adalah perjalanan yang panjang dan melelahkan, bukan sprint. Dan nona Zoey sangat membutuhkan semua dukungan dari anda."
Oscar terdiam, sosoknya yang menawan dan dingin terlihat semakin dingin. Wajahnya yang tampan terlihat sedikit berantakan. Namun, hal itu tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.
Setelah dokter Andreas pergi, Oscar duduk termenung di samping tempat tidur Zoey yang masih terlelap dalam ketidaksadaran. Sinar matahari cukup terik sehingga Oscar memilih menutup tirai. Dengan suasana yang temaram, hati Oscar dipenuhi kecemasan yang tak terkatakan. Ini adalah pertama kalinya dia berurusan dengan wanita. Dalam hidupnya, Oscar baru kali ini menghadapi situasi seperti ini. Tidak ada pengalaman sama sekali mengurus orang pingsan. Namun, karena ini adalah Zoey. Oscar tampaknya tidak terlalu keberatan untuk merawatnya.
Oscar mengamati wajah Zoey yang damai, dirinya berharap bisa memahami apa yang terjadi pada Zoey sebenarnya dan apa yang membuat Zoey trauma hingga PTSD. Padahal sejauh dia mengenal Zoey, Zoey selalu ceria dan tampak sedikit malu-malu.
Setiap detik terasa seperti jam bagi Oscar. Dia berharap Zoey segera membuka mata, dia merasa tidak berdaya, tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu.
Tangan Zoey yang dingin tergenggam erat di tangannya, Oscar seolah-olah bisa mentransfer kekuatan melalui sentuhan itu. Dengan penuh kesadaran Oscar mengecup punggung tangan Zoey dan mengusapnya perlahan-lahan.
Tiba-tiba, Zoey menggerakkan jari-jarinya dan Oscar langsung menegakkan tubuhnya. “Zoey?” bisiknya, penuh harap. Matanya yang lelah terpaku pada wajah Zoey, mencari tanda-tanda kesadaran.
Perlahan, Zoey membuka matanya, dan pandangan mereka bertemu. Oscar merasakan lega yang tak terkira. “Apa yang kamu rasakan?” tanyanya, suaranya serak dan gugup.
Zoey menggeleng, “ Entah. Ada apa denganku? Kenapa aku pingsan?” tanya Zoey kebingungan dengan suara serak.
Oscar mengusap punggung tangan Zoey dengan ibu jarinya. Matanya mengawasi setiap perubahan ekspresi Zoey. Sepertinya dia memang tidak sadar saat melakukan hal tadi. Oscar masih terus mengenggam tangan Zoey, berharap sentuhannya bisa memberikan kenyamanan.
“Kamu benar-benar tidak tahu kenapa kamu pingsan?” tanya Oscar. Zoey menggeleng lemah. “Ya sudah tidak masalah, yang terpenting sekarang, kamu sudah siuman."
Zoey menatap Oscar, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Oscar. Maaf aku selalu merepotkanmu."
Oscar tersenyum tipis. "Tidak masalah. Lain kali sedikit berhati-hatilah."
Oscar yang awalnya ingin memarahi Zoey akhirnya mengurungkan niatnya. Melihat penampilan Zoey yang tak berdaya, Oscar mau tak mau akhirnya bersikap lembut pada gadis itu.
***
Oscar berada di ruang kerjanya. Ruangan itu hening. Namun, sesekali dipecahkan oleh suara pena yang menari di atas kertas.
Cahaya lampu meja yang hangat menerangi wajah Oscar yang terlihat serius, Meski sedang menatap berkas-berkas pekerjaan, Oscar tidak bisa menyembunyikan kemarahan atas kedatangan Kyle, mantan kekasih Zoey.
"Sebenarnya apa yang diinginkan pria itu?" gumam Oscar.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja diketuk. Oscar tahu itu pasti Achilles, sehingga dia langsung mempersilahkan Achilles untuk masuk dan Achilles masuk dengan langkah yang terukur. Di tangannya, ia membawa sebuah flashdisk dan lalu meletakkan flashdisk itu di hadapan Oscar.
“Ini bukti rekaman CCTV di depan unit anda, Tuan Oscar,” kata Achilles, suaranya tenang. Namun membawa ketegasan tersendiri.
Oscar menatap flashdisk itu dengan tatapan rumit. Tangan Oscar segera meraih flashdisk itu dan mulai menyalakan laptopnya.
Achilles duduk di kursi di depan meja Oscar, dia menunggu perintah selanjutnya dari sang tuan. Oscar mulai mengamati kejadian di depan unit apartemennya. Dia melihat sosok Kyle yang berulang kali menekan bel pintu apartemennya. Hal ini membuat Oscar merasa kesal juga. Siapapun yang mengalami gangguan seperti ini sudah pasti akan kehabisan kesabaran, begitu juga dengan Zoey. Oscar mempercepat waktu hingga kemunculan Zoey. Saat Zoey muncul, terlihat jelas jika warna matanya sudah memerah dan auranya sangat tajam.
Oscar mengernyit. Beruntung kamera CCTV ini sudah dilengkapi dengan microfon perekam suara. Jadi pembicaraan mereka terdengar jelas oleh Oscar.
Aura Zoey begitu mengintimidasi Kyle. Sesaat Oscar dibuat terpana oleh sikap Zoey ini. Zoey tampak seperti dirinya jika sedang dikuasai amarah, tapi apa yang sebenarnya memantik penyakit mental yang saat ini dialami oleh Zoey?
"Tuan, kenapa anda tidak mengajak nona Zoey tinggal di mansion utama? Sejauh pengamatan saya, Nona Zoey sama sekali bukanlah wanita yang gila harta.
Oscar melirik Achilles dengan sinis. "Kau sepertinya sangat mengenal istriku."
Achilles langsung menutup mulutnya. Dia tidak menyangka akan mendapat teguran langsung dari tuannya. Dari nada bicaranya, Achilles yakin jika tuannya sedang terbakar cemburu.
"Kau bisa pergi sekarang. Katakan pada Rooney, untuk segera melapor padaku. Semakin lama kerjanya semakin lamban," kata Oscar kesal.
Achilles langsung keluar. Dia tidak ingin menunda untuk pergi dari hadapan tuannya. Kecemburuan membuat tuannya diluar pikiran.
Achilles tepat berada di depan pintu, saat pintu dibuka, tampak Rooney muncul dengan wajah datarnya.
"Tuan memintamu segera melapor."
"Baiklah." Rooney mengetuk pintu ruang kerja Oscar, dan tak lama, dia langsung masuk. Achilles segera pergi dari apartemen tuannya.
Rooney melaporkan keberhasilan mereka dalam membumihanguskan kelompok serigala darah. Senyum kebanggaan menghiasi bibir Rooney. Setelah dua kaki tangannya memberikan laporan, Oscar masuk ke kamar. Dia melihat Zoey meringkuk dengan tubuh gemetaran.
"Tidak. JANGAN! SELENA AKU MOHON, BERHENTI! SA_KIT." Zoey memekik dalam tidurnya dan terus menggelengkan kepalanya. Keringat membasahi kening Zoey. Bahkan bajunya pun telah basah oleh keringat.
...----------------...
Notes : PTSD, atau Post-Traumatic Stress Disorder, adalah gangguan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat traumatis atau tidak menyenangkan. (Sumber dari Google)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
awesome moment
kasihan zoey. traumanya mendalam btgs msp jd PTSD. cinta berlimpah dri oscar yg bisa menyembuhkannya
2024-09-03
0
Yeni sukan Yeni sukan
syang dia troma
2024-07-30
0
Nurhayati
jadi iTu PenYakiT diKaRenakn KeL.BaKKeR Sering MenYiKsa ZoEY😩😩
2024-06-20
1