Malam hari, Zoey berniat membuat makanan dan segera ke dapur. Bagaimana pun juga dia masih dalam misi menaklukkan hati Oscar. Jadi dia akan berperan menjadi istri yang baik.
Pertama-tama Zoey membuka kulkas. Akan tetapi, Zoey tertegun karena kulkas itu hanya berisi beberapa bir dan air mineral. Ironi sekali, kulkas sebesar ini tidak ada isinya yang bermanfaat.
Dia menggaruk pelipisnya bingung. Zoey memandangi pintu kamar Oscar dengan ragu. Apakah dia harus mengetuk dan bertanya dimana supermarket berada?
Zoey akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Oscar. Zoey mengetuk pintu tiga kali dan tak lama pintu pun terbuka.
"Ada apa?" tanya Oscar dengan alis berkerut.
"Aku ingin memasak, tapi kulkasmu ...."
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengantarmu ke supermarket untuk membeli bahan makanan dan mengisi kulkas."
"Terima kasih," ujar Zoey tersenyum lebar. Oscar sempat linglung mendapat senyuman begitu hangat dari Zoey. Senyum itu bahkan turut menghangatkan hati Oscar yang dingin.
Zoey berganti baju dan mengambil tas dan juga ponselnya. Sementara itu, Oscar juga memakai baju kasual biasa dan segera keluar dari kamarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Zoey sangat bersemangat berbelanja. Sesekali dia menanyakan pendapat Oscar dan minta pria itu untuk memilih berapa bahan makanan yang dia mau. Berawal dari hal kecil itu lah, kedekatan mereka mulai terbentuk secara alami. Oscar bisa merasakan jika Zoey adalah pribadi yang sangat humble dan menyenangkan. Tanpa sadar tatapan Oscar selalu tertuju pada Zoey.
Usai berbelanja, mereka tidak langsung kembali ke apartement. Oscar justru malah mengajak Zoey pergi ke sebuah resto makanan khas Jepang, yang ada di dekat supermarket tempat mereka berbelanja tadi.
"Kita makan di sini," kata Oscar. Ini bukan semacam tawaran, tapi perintah. Zoey mengangguk saja, toh dirinya memang sudah sangat lapar.
Memasuki resto, Zoey duduk berhadapan dengan Oscar di ruangan terbuka. Oscar sengaja tidak memesan private room. Ini bertujuan agar penyamarannya sebagai pria biasa menjadi sempurna.
Zoey tidak pemilih dalam hal makanan. Dia menerima rekomendasi dari Oscar tentang apa saja yang enak di resto ini.
Meski masih ada sedikit kecanggungan, tapi keduanya bisa melewati makan malam ini dengan baik. Zoey bahkan sampai kekenyangan karena menghabiskan semua makanannya.
Oscar sampai merasa kagum melihat napsu makan Zoey. "Apa masih mau memesan makanan untuk dibawa pulang?" tanya Oscar. Zoey menggeleng.
"Itu sudah cukup. Aku tidak mau membuatmu malu. Apakah tadi aku terlihat rakus?" Tiba-tiba Zoey menempelkan tubuhnya di dekat Oscar dan membisikan pertanyaan itu. Oscar tidak tahu harus tertawa atau malu, yang jelas dia merasa terhibur dengan sikap Zoey yang tidak dibuat-buat.
Oscar berdehem dan mundur satu langkah. "Sebaiknya kita segera kembali. Setelah ini aku ada urusan."
"Kau akan pergi?" tanya Zoey dengan wajah penasaran.
"Ya. Aku harus mengurus bisnisku."
"Tapi ini sudah malam, tidak bisakah besok saja. Aku tidak berani tinggal di apartemen sendirian," wajah Zoey tampak memelas. Namun, sebenarnya dalam hati dia sedang menertawakan Oscar. Zoey sangat tahu bisnis sampingan apa yang Oscar jalani di setiap malam.
Dalam hati, Zoey merasa bersyukur bisa mengulang lagi hidupnya. Dia tidak akan menyesali kehidupan yang lalu. Sebaliknya, dia akan menggunakan kesialan di masa lalunya menjadi sebuah keberuntungan dan kejayaan. Setidaknya sampai tahun-tahun ke depan.
Oscar tampak berpikir sebentar. Lalu dia merogoh ponselnya di saku dan mengetik beberapa kalimat, lalu mengirimkannya pada anak buahnya.
"Ayo kembali dulu." Oscar berjalan keluar dari resto mendahului Zoey. Zoey tersenyum menatap punggung Oscar. Rasanya menyenangkan bisa membuat pria di depannya ini tak berdaya.
Sesampainya mereka di apartemen, Zoey langsung menata belanjaan mereka tadi di kulkas dan mengisi kabinet yang ada di dapur.
Oscar awalnya merasa Zoey ini terlalu buang-buang waktu dan tenaga, tapi saat dia melihat antusias gadis itu, Oscar tidak bisa tidak tersenyum. Ini sungguh lucu, dia biasanya hidup sendirian dalam ketenangan dan kesunyian. Akan tetapi sekarang dia melihat Zoey sibuk wara wiri dan menimbulkan suara dan anehnya dia sama sekali tidak terganggu. Jadi Oscar membiarkan gadis itu berbuat semaunya.
***
Malam hari, Zoey tidur seperti biasa. Namun, sejak hari dimana dia terbangun lagi, semuanya tak lagi sama. Dia mengalami mimpi buruk berturut-turut setiap dia memejamkan mata.
Seperti malam ini, Zoey lagi-lagi tersentak dari tidurnya dengan warna mata yang memerah. Tangannya terkepal erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan dan membuat tangannya terluka. Bayangan bayangan buruk itu membuat Zoey mengalami PTSD atau Post traumatic Stress Disorder.
Di saat yang sama, Oscar baru saja hendak meminta Zoey membuatkan kopi untuk nya. Melihat kamar Zoey yang masih terang, Oscar memberanikan membuka pintu kamar tanpa mengetuknya. Dia melihat Zoey duduk bersandar di ranjang dan tatapan matanya kosong.
Oscar langsung mendekat ... dan benar saja dugaannya, warna mata Zoey telah berubah seperti saat dia tertidur di mobil. Kali ini Oscar bisa melihatnya dengan jelas. Tanpa rasa takut, Oscar mendekati Zoey dan mengguncang lengan gadis itu.
"Zoey! Zoey!" Cukup lama Oscar mengguncang lengan Zoey dan tak lama Zoey merespon. Lambat laun, warna mata Zoey kembali berubah kecoklatan seperti sebelumnya.
"Kamu di sini?" Zoey tampak linglung melihat Oscar ada di kamarnya.
"Ya, malam ini aku tidur di sini."
"Kenapa?" tanya Zoey masih belum sepenuhnya pulih dari kondisinya.
"Kamu lupa? Kita sudah menikah pagi tadi. Tentu saja kita harus tidur berdua.
Sebenarnya ide ini baru terbesit tadi. Saat Oscar melihat keanehan yang dialami oleh Zoey. Dia ingin memantau sendiri, apa yang membuat Zoey seperti tadi. Dan sebenarnya apa yang terjadi?
Zoey tak ambil pusing masalah ini, toh hanya tidur saja 'kan? Siapa takut?
Zoey baru sadar merasakan perih di telapak tangannya. Dia memandangi luka yang entah sejak kapan dia dapatkan. Saat melihat darah di tangannya mata Zoey kembali berkabut. Oscar secara teliti terus memperhatikan perubahan ekspresi Zoey. Matanya tak lepas menatap Zoey, tapi kemudian, Oscar meletakkan telapak tangannya tepat di depan kedua mata Zoey.
"Jangan dilihat," bisik Oscar. Namun, detik berikutnya yang tidak disangka-sangka oleh Zoey, Oscar memukul tengkuknya hingga dia jatuh pingsan di pelukan Oscar.
Dengan hati-hati Oscar menidurkan Zoey di kasur. Oscar menghubungi dokter kepercayaannya dan memintanya untuk datang segera.
Oscar menatap telapak tangan Zoey yang terbuka. Luka-luka ini sepertinya baru saja di dapat karena kondisi Zoey yang baru saja dia alami. Oscar bangkit dan mengambil kotak peralatan obat dan merawat luka Zoey dengan hati-hati.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Oi Min
kok iso mata Zoey berubah jdi merah?? apa bukan manusia biasa si Zoey
2024-09-06
0
awesome moment
d yg brubah dri zoey. oscar paham tu
2024-09-02
0
Yeni sukan Yeni sukan
waduh tumbu benih cinta
2024-07-30
0