Malam itu, saat Oscar masuk ke kamar, dia melihat Zoey masih sibuk dengan laptopnya. Bahkan dia tidak sedikit pun melirik ke arahnya. Oscar masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, ponsel Oscar yang diletakkan di atas meja terus bergetar. Zoey mencoba melihat nama pemanggil, tapi hanya ada tulisan A di sana. Mungkinkah ini seseorang yang dirahasiakan oleh Oscar.
"Oscar, ada panggilan dari A. Dia menghubungimu berkali-kali," kata Zoey sambil mengetuk pintu kamar mandi. Oscar bergegas keluar. Dia segera mengambil ponselnya dan berjalan ke balkon.
Samar-samar Zoey mendengar nada kemarahan saat Oscar menjawab telepon. Dia tiba-tiba bergidik ngeri membayangkan masa lalunya.
Saat Oscar kembali masuk dari balkon. Dia berganti pakaian. Sepertinya Oscar hendak keluar.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zoey. Oscar berbalik sembari mengancingkan kemejanya.
"Aku ada urusan penting. Kemungkinan aku tidak akan kembali sampai besok. Jangan bukakan pintu untuk siapapun. Sebelum aku pulang, jangan keluar dari apartemen."
Zoey mengangguk patuh. Oscar tersenyum tipis. Sebelum dia benar-benar meninggalkan kamarnya, Oscar memutar arahnya, mendekati Zoey. Sebuah ciuman lembut dia sematkan di kening Zoey.
"Patuhlah dan jadi istri yang baik. Aku akan segera pulang."
Zoey merasakan kehangatan mengalir di hatinya. Jika Oscar terus menerus memperlakukan dirinya seperti ini, bisa dipastikan dia akan bertekuk lutut pada laki-laki itu. Oscar tidak tahu pikiran Zoey yang berkecamuk. Dia segera pergi ke pinggiran kota untuk melihat hasil kerja anak buahnya.
Setelah kepergian Oscar, Zoey tidak bisa tidur. Dia merasa ruangan kamarnya menjadi sunyi. Gadis itu menghela napas panjang. Dia merebahkan tubuhnya dan berkali-kali berganti posisi yang nyaman agar bisa terlelap. Akan tetapi, hingga waktu menunjukkan pukul enam pagi, matanya sama sekali belum terpejam. Zoey sangat kesal sekarang.
Di pinggiran kota, Oscar memasuki sebuah gudang kosong yang terbengkalai. Dia melihat beberapa anak buahnya sedang mengelilingi musuhnya.
"Halo Henry. Long time no see."
"Si*alan! Cepat lepaskan aku!"
"Wow, rupanya kau masih sangat bersemangat. Apakah kau menyukai kejutanku?"
"Bi*dab! Kau rubah tua yang licik. Kau menjebakku," pekik Henry.
Oscar terbahak-bahak mendengar bualan Henry. "Bukankah kau yang berkemauan untuk bermain-main denganku? Aku sudah tahu semuanya. Kau bekerja sama dengan Paulo 'kan?
Kau tidak bisa mengatakan aku bi*dab, sementara kau sendiri juga sama denganku," ujar Oscar.
Henry terdiam cukup lama. Oscar mendekat dan menempelkah sebilah belati di pipi Henry. "Kau pasti tidak menyangka jika aku akhirnya tahu rencana kalian hingga ke akar. Mulai besok Serigala Darah akan musnah. Orang-orang pada akhirnya akan melupakan kelompokmu yang tidak berguna itu."
"Kau boleh membunuhku, tapi jangan menghancurkan kerja keras ayahku!" pekik Henry putus asa. Siapa yang tidak mengenal kekejaman Oscar Reid. Dia adalah ketua kelompok mafia Mata Iblis.
"Kau pikir siapa dirimu? Kau terlalu melebih lebihkan dirimu sendiri dengan memberi perintah padaku. Aku adalah Oscar Reid. Aku pantang menjilat ludah sendiri. Jika aku katakan klan kalian hancur. Maka akan aku hancurkan." Oscar menggores pipi Henry hingga tubuh Henry bergetar.
Malam itu menjadi malam terakhir bagi ketua Serigala Darah dan kelompoknya. Oscar menghabisinya tanpa ampun dan para bawahannya menyerang markas Serigala Darah.
Zoey menatap ke pintu berkali-kali. Pikirannya benar-benar kacau. Tidak sedetik pun dia fokus pada pekerjaannya.
"Sial! Ada apa sebenarnya denganku. Kenapa aku terus terusan mengkhawatirkan dia."
Zoey mengacak acak rambutnya. Sebenarnya dia ingin meminta Bobby untuk mengirimkan beberapa alat untuk membuat rancangan robotnya. Hanya saja, memperkirakan apartemen yang begitu sempit ini, Zoey terpaksa menyuruh Bobby mencari tempat untuk dia bisa leluasa merakit pekerjaannya.
Tidak mudah merakit robot, terlebih banyak komponen-komponen yang perlu diperhatikan secara khusus. Namun, karena dia adalah bagian dari keluarga Amstrong, maka tidak ada yang sulit untuk dibuat oleh Zoey.
Bell pintu apartemen kembali berbunyi. Tiba-tiba Zoey merasakan jantungnya berdebar kencang. Ingatan masa lalunya membuat sesuatu yang selama ini terpendam dalam diri Zoey, perlahan meronta ingin keluar.
Mata Zoey tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah. Aura yang dia miliki sangat menakutkan penuh dengan niatan membunuh. Perlahan Zoey berdiri dia berjalan dengan tenang ke arah pintu.
Bell terus ditekan dari luar dengan tidak sabar. Seolah orang itu ingin merobohkan pintu apartemen. Zoey membuka pintu dan melihat seseorang yang dia kenal berdiri di depan pintu.
"Zoey, kau harus ikut denganku." Pria di depan pintu menarik tangan Zoey. Dia tidak menyadari ada yang berubah dari Zoey. Zoey tidak bergeming. Dia menatap pria di depannya dengan dingin.
"Apa maumu, Kyle?" tanya Zoey dengan nada datar. Mendengar nada bicara Zoey yang sedikit ketus, membuat Kyle menatap Zoey secara intens.
Kyle baru menyadari jika warna mata Zoey berbeda dari biasanya bahkan auranya membuat Kyle merasa tertekan.
"Siapa kau?"
"Bukankah kau baru saja menyebut namaku? Apa kau amnesia?"
Zoey tersenyum miring melihat wajah terkejut Kyle. Kyle melepaskan pegangannya di tubuh Zoey. Pupil matanya melebar, melihat kilatan cahaya membunuh dari mata gadis yang pernah menjadi kekasihnya ini. Kyle pun mundur dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa denganmu, Kyle. Kau tampak pucat seperti melihat hantu." Zoey perlahan bergerak maju dan Kyle semakin mundur ketakutan.
Suasana di apartemen itu sepi. Meski apartemen Oscar tidak tergolong mewah, tapi unit milik Oscar adalah satu satunya yang ada di lantai itu. Jadi wajar saja jika sepi. Tangan Zoey terulur dan mencengkeram leher Kyle. Wajah Kyle langsung memerah.
"Le_lepaskan!" ujar Kyle tergagap.
"Bukankah kau mendatangiku untuk ini? Bagaimana rasanya Kyle?" Zoey menyeringai melihat wajah Kyle yang memerah karena terce*ik.
Denting suara lift tidak mengganggu Zoey sama sekali. Dia tetap menekan leher Kyle dengan kuat. Kyle hampir kehilangan napasnya saat kemudian, Zoey tiba-tiba ditarik masuk ke dalam pelukan seseorang.
Aroma ini ... Zoey sangat mengenalnya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat wajah tampan Oscar. Perlahan warna mata Zoey berubah seiring badannya yang tiba-tiba jatuh terkulai lemas di pelukan Oscar.
"Achilles, kau urus pria ini dan panggil dokter, sekarang."
Oscar mengangkat tubuh Zoey dengan hati-hati. Dia membawanya masuk ke dalam apartemennya dan membaringkan Zoey di atas ranjang.
Alis Oscar berkerut tak senang. Gadis ini tidak mematuhi ucapannya dan bahkan mungkin melupakan ucapannya sendiri. Namun, dari semua kekesalannya, Oscar masih bisa merasakan perubahan Zoey tadi, terlebih warna matanya.
"Sebenarnya ada apa denganmu?"
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Amelya Ratulangi
mungkin punya alter ego
2024-09-26
1
Oi Min
podo..... aq yo penasaran ex Car
2024-09-06
0
awesome moment
makin pinisirin campur sayang kn?
2024-09-03
0