Leon menghela napas lega saat ia tepat waktu menangkap tubuh Stella sebelum jatuh sepenuhnya. Riana pula bernapas lega, mendekat dengan wajah khawatir.
"Dia tertidur, jangan khawatir." Meski begitu, Riana tetap khawatir. Dia menyentuh dahi Stella dengan hati-hati, cahaya hijau samar merambat hangat, membuat perlahan wajah pucat Stella hilang.
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Leon membuat Riana tersenyum padanya, "Aku sudah menetralkan udara beberapa saat lalu, seharusnya mereka baik-baik saja sekarang."
"Syukurlah. Profesor akan datang bersama dewan akademi. Kejadian ini, pasti dibawa oleh salah satu dari tamu itu."
Riana menatap ke arah mobil, dia mengepalkan tangan, menunduk saat melihat kondisi Stella. Padahal, itu akan selalu terjadi saat Stella menggunakan 'Mythic' untuk mengakhiri semuanya.
Beberapa menit berlalu, Profesor Terra bersama dengan Profesor Yuren dan Profesor Alice, ditambah dengan dewan akademi muncul dengan teleportasi.
"Astaga, kacau sekali. Kalian tidak apa-apa?" Profesor Terra mendekat pada tiga muridnya. Riana yang mengangguk menjawab semuanya.
"Bawa Nona Stella kembali, kami akan mengurus mereka," ujar Profesor Alice. Leon mengangguk, mengangkat tubuh Stella. Riana berdiri menjajarkan langkahnya dengan Leon.
Profesor Terra menatap datar pada arah orang-orang yang kini tergeletak di tanah. Dewan akademi yang turut ikut serta membantu para tamu yang terlihat pucat keluar dari mobil.
"Profesor, kami menemukan sesuatu." Salah satu dewan akademi bicara dengan wajah tenang, dia adalah ketua Dewan Akademi generasi baru.
"Apa itu?" Tanya Profesor Alice, wajahnya sudah menunjukkan rasa tidak nyaman.
Ketua dewan memberikan sobekan kain dengan corak aneh pada Profesor Terra, membuat ia menatap murka.
"Mereka lagi," gumam Profesor Terra dengan wajah gelap.
"Dasar cecunguk itu masih saja mengangguk murid-murid ku! Awas saja," Profesor Yuren berseru dengan wajah merah padam, menghentakkan kaki dengan kesal.
"Siapa mereka? Anda tahu sesuatu?" Tanya Ketua Dewan membuat ketiga Profesor terdiam. Mereka terlihat ragu, namun beberapa saat setelahnya Profesor Alice tersenyum.
"Jangan khawatirkan apapun. Semua dalam kendali. Bantu teman-temanmu, Aiden."
...***...
"Ke ... kenapa kau memasang wajah seperti itu?"
Aura suram mengelilingi ruang perawatan dari seorang gadis yang terbaring dengan seluruh tubuh pegal-pegal. Dia menatap horor pada langit-langit ruangan, sedangkan di satu sisi Riana yang duduk di samping ranjang tersenyum cerah dengan bunga-bunga sembari hendak menyuapi makanan bubur encer.
"Yang Mulia, bilang a~"
'Minggat kek lu.' batin Stella dengan logat Indonesia. Dari awal dia membuka mata, sudah disambut oleh wajah Riana dengan mata sembab dan berair. Menanyakan ini dan itu sampai Stella merasa muak.
"Yang Mulia, ada yang sakit? Dimana? Tangan? Kaki? Punggung? Ah! Saya membawa makan siang, namun hanya bubur karena kata profesor Anda harus makan makanan yang lembut."
Dia memperlakukan orang yang tidur karena kehabisan energi sama dengan orang yang sakit hampir menuju tingkat sekarat. Stella bangkit duduk, menatap datar, "Aku punya satu permintaan."
Mata Riana berbinar, ia tersenyum lebar dengan efek bunga-bunga dan cahaya dibelakangnya, "Apa itu?" tanyanya semangat.
"Keluar dari sini."
"Tidak bisa." Riana merespon cepat, secepat berubahnya aura dibelakangnya menjadi suram. Senyumannya yang seindah malaikat berganti dengan senyuman maut penuh penekanan.
Stella entah kenapa rasanya terkena tekanan batin oleh aura itu. Leon yang ada di sana hanya bisa tersenyum kikuk, ikut bergidik.
"Kalau begitu, aku yang akan keluar."
"Jangan! Anda harus istirahat penuh di sini. Bagaimana kalau sakitnya kembali?"
Stella berdecih, mengacak-acak rambut perlahan sembari melangkah ke arah pintu, "Berisik. Justru keberadaan mu di sini menggangguku."
Mendengar itu, Leon menatap tajam. Tangannya mengepal geram lantas ia mendekat pada Stella, menghentikan langkahnya untuk keluar, "Ucapanmu itu keterlaluan. Jika aku jadi kau, pasti akan senang dengan perlakuan khusus dari orang lain."
'Hah?' Stella menatap Leon dengan satu alisnya yang terangkat. Dia mengernyit saat itu juga, "Kalau begitu kau saja yang sakit."
Leon tersentak, berkacak pinggang menatap kesal pada Stella, "Apa maksudmu kau ingin aku sakit?"
Stella ringan mengangkat bahu, lantas satu ide terbesit. Dia mendekat pada Leon dan membisikkan sesuatu, "Jika kau sakit, Riana akan peduli padamu."
"Hah?! Kau ini bicara ..."
"Lalu dia akan menjengukmu setiap saat, menanyakan kabar dengan wajah khawatir, 'Apa masih sakit? Dimana?' lantas kau bicara 'Ah ... kepalaku', lalu Riana akan menatap khawatir, mendekat padamu. Tangan lembut seperti sutra akan membelai rambut landak mu itu, semakin turun dan turun ke pipi. Tiba-tiba, dia menarikmu seraya wajahnya yang mendekat dan chu~ kiss moment." Stella panjang lebar bicara dengan nada parodi.
Hening sekilas dari mereka berdua, sedangkan Riana yang ada di belakang hanya menatap bingung dengan kepala yang miring ke samping.
Wajah Leon memerah seketika dengan asap keluar dari puncak kepalanya. Ya. Meski Leon dikenal sangat mencintai Riana, tapi dia 'belum' pernah mencium Riana sekalipun. Hanya sebatas pelukan dan genggaman tangan.
"Ki ... kiss ..."
'Polos. Ya. Dia tetap saja anak berusia enam belas tahun.' batin Stella tersenyum jahil meski tidak dengan wajahnya. Dia mengambil semua deskripsi itu dari otome game yang ia mainkan saat ini. Ya. Game di dunia ini tidak jauh dari dunia lain.
"Kalau tidak percaya, coba saja."
Baru selesai Stella bicara, dengan pikiran yang sudah kacau dan berkeliling kemana-mana, Leon melewati Stella dan berdiri di depan Riana. Ia merasa gugup.
"Eh? Leon, wajahmu merah. Kenapa? Apa ada yang sakit?"
Dialog yang hampir sama dengan ucapan Stella membuat harapan menjulang tinggi dari Leon. Dia dengan bibir gemetar bicara tergagap, "Ke ... kepalaku ... kis ... a ... kepalaku sakit."
Riana tentunya terkejut, dia langsung menyentuh dahi Leon yang mungkin sekarang tambah panas. Benar saja, seakan ada ledakan di puncak kepala Leon, wajahnya semakin memerah.
"Kau tidak demam. Heh?! Tapi wajahmu merah sekali!" Riana yang panik menyentuh pipi Leon, diam-diam dia menggunakan sihirnya. Disitulah Stella menatap dengan serius. Momen langka dimana dia akan menyaksikan keromantisan dari dua karakter utama.
Dengan percaya dirinya Leon langsung mendekatkan wajahnya pada Riana, namun yang terjadi, Riana menimpuk wajah Leon, membuat Leon mematung seperti menjadi patung, sedangkan Stella segera balik badan menghindari amukan Leon nanti.
"Berhenti bercanda! Aku sudah memeriksamu dengan sihir tapi tidak ada apapun yang aneh. Dasar. Ah, Yang Mulia Aristella! Tunggu, Anda belum sembuh!"
Riana berlari melewati Leon untuk menyusul Stella. Seakan hancur menjadi debu, Leon lemas, lalu kembali pada kesadarannya. Auranya yang suram kini membara api amarah, "Aristella Julius! Awas saja kau nanti!"
...***...
"Apa kau tidak apa-apa? Bagaimana dengan Riana?"
Di sebuah lorong Envy bertanya dengan ekspresi kurang meyakinkan itu khawatir atau sekedar basa-basi. Stella menatap datar, melangkah melewati Envy, "Hm."
"Jangan 'hm' saja. Aku baru saja mendengar penyerangan tiba-tiba itu. Sekarang saat aku melakukan hal baik, kau meresponnya dengan malas," protes Envy mengikuti langkah Stella dengan bersedekap tangan. Ya. Stella mengabaikannya karena Envy bertujuan untuk menanyakan keadaan Riana.
"Apa pedulimu? Jika yang kau tanyakan keadaan gadis itu, tanya saja sendiri."
Envy berdecak kesal, "Aku juga menanyakan keadaanmu. Lagipula kita sudah berjanji."
Langkah Stella terhenti, begitupula Envy yang ada di belakangnya. Mereka sudah berjanji satu hal untuk mencapai Tujuh Bintang. Ya. Berpasangan di babak kedua dan memenangkan pertandingan.
"Katakan. Jangan bersikap menyebalkan seperti itu."
Gertakan Stella membuat Envy melangkah maju satu jalur saat ia berada di jalan buntu. Di malam itu, Envy mengajak Stella untuk menjadi partner festival.
"Jadilah partnerku. Aku berjanji akan berjuang apapun yang terjadi. Namun, kau juga harus begitu untuk mencapai kemenangan di pertandingan."
Stella menghela napas tipis mengingat malam itu. Melihat tatapan Envy yang sungguh-sungguh membuatnya hampir saja menerima dengan mudah. Namun, saat Stella menanyakan satu hal malam itu, jawaban Envy membuatnya mempertimbangkan dengan matang.
"Kau yakin? Lantas, bagaimana jika itu tidak berhasil?"
"... Aku berjanji, tidak. Aku bersumpah akan mencapai Tujuh Bintang itu."
Stella balik badan dengan wajah tanpa ekspresi pada Envy, "Aku belum menerimanya," balas Stella membuat Envy tersentak. Ia menyibakkan poni rambut dengan senyum hambar.
"Ah ya ampun! Bagaimana bisa aku menawarkan hal itu pada gadis gila sepertimu sialan! Hah ... hancur sudah. Siapa lagi yang bisa ku ajak ..."
Ucapan Envy terhenti saat kepalan tangan terulur di depannya. Ia mengira akan dipukul, namun kepalan itu berhenti. Envy menatap bingung Stella yang menatapnya datar-datar saja.
"Janji satu pihak itu bukan janji. Aku, Aristella Julius berjanji akan mencapai Tujuh Bintang dengan Envyren Safire. Namun, jika Envyren gagal, aku tidak akan memaafkannya sampai mati."
'Karena ini juga penting untuk kerajaan ... dan rakyatku.'
^^^つづく^^^
...ーARIGATO FOR READINGー...
...THANKS...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments