CHAPTER XIV

Memuakkan jika ini terus terjadi. Aku tidak menyangka menjadi terkenal itu selalu melelahkan. Meski sudah terkenal dulu, tapi ini lebih kacau, aku masih bisa bersembunyi dibalik dinding dapur. Di setiap gerakan kecil selalu saja setiap pasang mata menatap ke arahku dan sekarang, aku mulai muak dengan tatapan gadis di sampingku.

'Pemeran utama sepi job kah?' batinku kesal. Sejak tadi Riana menatapku tanpa sebab, lantas kemarin juga dia mengikutiku seperti penguntit. Ah tidak. Ini sudah satu minggu berlalu sejak praktek itu dan dia terus seperti ini.

'Ah, aku tidak bisa berkonsentrasi.' Penjelasan Profesor di depan tidak bisa tercerna dengan baik. Beruntungnya Mexis orang yang tenang, jika tidak aku akan benar-benar stress.

Sampai akhirnya lonceng menara akademi berbunyi. Aku segera bangkit bahkan sebelum Profesor keluar, aku keluar lebih dulu melewati pintu yang satunya. Benar saja. Aku lagi-lagi merasa diikuti.

'Dia benar-benar seorang penguntit.' Aku sengaja mempercepat langkah untuk menghindarinya.

Dia tidak berhenti sampai terbesit sebuah ide. Aku berlari tiba-tiba ke arah lorong di dalam gedung. Derapan kaki terdengar pula dibelakang ku. Aku berbelok ke lorong kiri, seketika bersembunyi di sela pintu, mengatur napas dan bersiap.

"Eh, kemana perginya?"

Saat langkah seseorang mulai mendekat, aku muncul dengan bersedekap tangan membuatnya terperanjat hingga terjatuh ke lantai. Wajahnya yang cantik menawan tak lepas dari keterkejutan.

"Ya ... Yang Mulia ..."

"Kenapa kau mengikutiku?" Tanyaku memotong ucapannya. Gadis itu, Riana tersenyum canggung dengan sikap ceroboh menggaruk kepala belakangnya.

"Itu ... ada yang ingin saya tanyakan," jawabnya berdiri. Senyumannya yang seindah malaikat bersinar seperti lampu jalanan menyilaukan.

Dia terlihat ragu bicara dengan menatap ke bawah seraya memainkan jari tangan, "Apa ... saya bisa berteman dengan Anda?"

Aku seketika terdiam. Riana menatapku dengan penuh harapan.

"Tidak," jawabku singkat melangkah melewati Riana, namun langkahku terhenti merasakan tangan hangat menggenggam pergelangan tanganku. Dengan cepat aku menepisnya, membuat sedikit gertakan peringatan pada Riana saat itu juga.

"Kenapa? Apa karena status? Kenapa Anda menolak?" tanyanya terdengar sedih.

Aku terdiam, sepenuhnya menghadap Riana yang kini sudah mulai berkaca-kaca. Dia terlalu baik terhadap orang yang telah berusaha untuk melenyapkannya. Apalagi, tujuanku di sini juga ingin menggeser posisinya sebagai murid nomor satu di akademi.

Melihat Riana yang setia menunggu jawabanku, dengan tenang aku bicara dalam satu kalimat.

"Karena aku tidak membutuhkannya."

...***...

Seorang gadis berambut coklat pendek berjalan gontai menuju ke kelasnya. Pikirannya kalut dengan kepala sedikit menunduk menatap lantai marmer gedung akademi.

Baru saja ia mendengar kata-kata paling membuat hatinya terluka. Ya. Selembut itulah hatinya, bahkan ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata menyedihkan itu. Ya. Dia Riana.

Langkahnya terhenti saat ia menabrak seseorang. Karena perbedaan kekuatan tubuh, Riana terjatuh ke lantai, "Ah, maaf ... Riana?"

Riana mendongak, mendapati wajah sahabatnya dari kecil yang terlihat terkejut. Riana yang sedari tadi menahannya, kini mulai mengalirkan air mata, "Mexis ..."

Mexis tentu saja terkejut, dia berlutut cemas, "Apa sakit? Dimana? Maaf, aku tidak melihatmu tadi. Jangan menangis."

Bukannya mereda, tangisan Riana semakin menjadi-jadi membuat murid-murid lain menatap ke arah mereka.

...***...

"Hah ... Jadi itu masalah? Ku kira apa," Mexis bisa bernapas lega. Dia kira Riana menangis karena dirinya, tapi tentu saja dia tidak memaafkan orang yang membuat sahabatnya sekaligus orang yang ia sangat ingin lindungi itu menangis.

Melihat Riana yang murung dan tidak ceria seperti biasanya, Mexis merasakan hal yang mengganjal lagi. Ya. Hatinya sangat tidak karuan sampai rasanya tercabik. Ia berpikir sejenak.

"Apa aku salah ingin berteman dengannya?"

Mexis mendengar gumaman Riana, lalu menggeleng, "Tidak. Tapi mungkin kau terlalu tiba-tiba sampai membuatnya tidak nyaman ..."

Ucapan Mexis terhenti saat itu juga yang malah membuat air mata Riana kembali mengalir. Dia salah bicara padahal tahu sahabatnya itu cenderung mudah terluka, "Maaf, bukan itu maksudku. Mungkin dia terkejut. Butuh waktu untuk berpikir."

"Lalu aku harus bagaimana?" Riana terdengar putus asa, menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.

"Perlahan saja, dia akan mengerti nanti." Mexis sekilas mengingat apa yang dilakukan gadis itu. Mencoba membantu agar perasaan sahabatnya itu kembali ceria lagi. Dia mengingat saat bertemu di taman perpustakaan, "Bagaimana dengan buku? Sepertinya dia menyukai beberapa buku seperti novel."

Perkataan Mexis membuat Riana mendongak, menatapnya, "Buku? Benarkah?" tanyanya penasaran.

Mexis mengangguk meski sedikit ragu, namun melihat Riana yang kembali pada kepercayaan diri dan semangat membuatnya merasa puas, "Aku akan melakukannya," seru Riana berdiri.

Mexis tersenyum tipis, lalu kembali berpikir, "Kenapa kau ingin berteman dengan orang sepertinya?"

Riana memutar badan, menyentuh dagu terlihat berpikir, "Putri Aristella itu ... mengagumkan."

Senyuman Riana yang begitu tulus sedikit membuat Mexis terpaku, dia kembali pada kesadarannya tersenyum seakan tahu memang begitu sikap Riana. Dia berdiri, berkacak pinggang satu tangan, "Ya, berusahalah meluluhkan batu es itu. Jika gagal jangan menangis."

Riana tersentak, "Tidak akan!" Serunya yang terlihat imut dimata Mexis.

...***...

'Sial. Lagi-lagi telingaku gatal.'

"Jadi, bagaimana menurutmu, Nona Aristella?"

Aku menatap pada Profesor Egatha yang saat ini duduk di meja kepemimpinan. Dia memintaku untuk ikut serta dalam ekspedisi pengunjungan para tamu dari luar untuk berkeliling di sekitaran akademi.

Para tamu itu juga calon penonton untuk festival yang akan diadakan satu bulan lagi dari sekarang. Tujuannya adalah menarik perhatian. Itu tergantung pada ekspedisi kunjungan itu. Mengabaikan telingaku yang aneh, aku terdiam berpikir sejenak.

"Apa dengan itu nilai saya bertambah?" Ya. Yang terpenting di sini adalah nilai. Tidak ada nilai maka tidak ada poin dan maka pula tidak ada makan. Ditambah untuk mencapai si nomor satu.

Profesor Egatha terkekeh, "Ya. Akan ku tambah nilaimu dua kali lipat. Aku tahu kau sedang melarat sekarang, bahkan sampai mendengar kabar burung Aristella Julius hanya membeli dua potong wortel dan kecap."

'Aku tidak bisa mengelak.'

"Aku harap, kau bisa membuat mereka terkesan apalagi dengan kemampuanmu," lanjutnya membuatku mengernyit.

Aku menatap datar, "Itu berarti Anda meminta saya untuk membongkar semua itu?"

"Tidak, tidak. Aku sudah berjanji untuk tidak memberi tahu orang-orang, kecuali para Profesor. Cukup buat mereka penasaran saja denganmu. Dengan begitu mereka akan kembali ke sini untuk menyaksikan sebuah kejutan," balas Profesor membuatku yakin. Dia bisa membaca pikiran orang lain atau apa.

Aku tidak senang dengan kejutan, namun sangat suka mengejutkan orang lain, "Baiklah. Berjanjilah Profesor."

Profesor Egatha mengangguk, mengangkat telapak tangannya, "Aku bersumpah. Lagipula, hari festival akan segera datang. Kau juga akan mengungkapkan kekuatanmu di hari itu bukan? Untuk menarik perhatian orang 'itu'."

Lebih dari apapun, itulah yang ku inginkan. Aku menghela napas tipis, membungkuk sekilas, "Saya permisi."

"Oh, tunggu sebentar. Satu hal lagi."

Langkahku terhenti diambang pintu, menoleh ke arah Profesor. Dia tersenyum yang membuatku merinding, "Akan ada orang yang menemanimu. Jadi, bersenang-senanglah."

Aku mengernyit tak mengerti, namun ku abaikan dengan keluar dari ruangan itu setelahnya pintu tertutup. Perasaanku mengatakan, itu akan merepotkan kecuali di bagian penambahan nilai.

Semoga saja.

^^^つづく^^^

...ーARIGATO FOR READINGー...

...THANKS...

Terpopuler

Comments

Frando Wijaya

Frando Wijaya

HA! dgn cara mengikuti trs? itu bkn ingin bertmn...melainkn cari penyakit 😒💢

2024-08-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!