CHAPTER XVII

"Museum Academy Evergreen telah berdiri sejak sepuluh tahun lalu ..."

Di tour kali ini, Riana yang mengambil alih karena aku malas untuk menjelaskan setiap sudut tempat. Menurutku dia cocok karena sifatnya yang mudah bergaul, terlihat pula orang-orang itu lebih nyaman padanya.

Profesor memberikan sepenuhnya tugas itu pada kami. Sungguh beban ditambah dia bicara seperti tidak ada masalah denganku dan Riana.

"Aku mengandalkan kalian. Tour ini bisa juga menjadi liburan, menggembirakan bukan?"

'Gembira his teeth.' aku tidak mengerti dimana gembiranya, tapi aku paling gembira dan senang saat berada di dapur tadi.

Kami sudah mengunjungi lima tempat utama akademi, termasuk studionnya. Mereka terkesan dengan studion itu karena ya, studion itulah yang membuat akademi ini terkenal sampai ke manca negara dan benua. Bukan hanya itu, fasilitas canggih dan sistemnya juga sangat jarang ada di benua ini. Beberapa akademi lain juga mengikuti langkah Evergreen, namun gagal entah apa alasannya.

"Yang Mulia, selanjutnya kita akan pergi kemana?" Riana bertanya saat semua tamu berkeliling melihat-lihat koleksi di dalam museum.

Aku menatap jam di RectaPhone, menunjukkan setengah dua belas, "Kita kembali ke akademi. Sudah hampir waktunya untuk makan siang."

Setelah makan siang, aku bisa bebas karena mereka akan pulang setelah itu. Pulang dengan perut kenyang memang yang terbaik. Riana mengangguk paham tersenyum cerah.

"Saya sangat senang menghabiskan waktu ini dengan Anda."

'Aku tidak.' meski begitu, ini harus berakhir secepatnya.

...***...

Dalam mobil menuju akademi, kami berbincang. Terlihat wajah puas mereka tapi tidak dengan rasa penasarannya. Masa bodoh yang terpenting mereka sudah akan pulang, ini melelahkan. Sangat.

"Ini sangat menyenangkan, Nona. Kami menantikan festival nanti. Jika semua berjalan tentunya."

'Itu tandanya kau akan datang atau tidaknya tergantung kemauan mu, bukan?' batinku kesal, tersenyum palsu padanya, "Kami senang jika Anda senang, Tuan."

"Benar. Kami menantikan kehadiran Anda sekalian di hari festival StarLight," tambah Riana dengan senyuman malaikatnya.

Mereka berbincang dengan Riana membuatku memiliki kesempatan untuk mengecek keadaan luar. Kami melewati jalan setelah pasar. Di depan terdapat jembatan penghubung. Ya. Di sini ada sungai yang mengarah langsung ke laut dan sungai itu sangat besar lebarnya.

Sejak beberapa waktu, aku merasa aneh pada sopir yang berkali-kali memandang arah spion. Sampai aku melihat sesuatu di luar saat mobil memasuki jembatan.

"Hentikan mobilnya," ujarku pada sopir. Dia menatapku melewati spion tengah. Tujuh tamu menatapku bingung, bahkan Riana.

"Apa? Tapi kita belum ..."

"Hentikan saja," ujarku kembali. Kali ini sopir menurut, perlahan mobil berhenti. Aku menatap keluar dengan tenang.

"Apa ini, Nona? Kenapa kau menghentikan mobilnya?" Tanya Nyonya Freza di belakang.

Aku tidak menoleh sedikitpun, bersedekap tangan menatap ke depan, "Tour ini akan ditutup dengan tamu tak diundang. Namun sepertinya, dia akan sedikit terlempar."

Mereka menatapku tidak mengerti. Saat menurutku itu waktu yang tepat, dengan cepat aku menarik kunci pintu, membuka jendela pintu mobil itu lebar-lebar, dan membuka pintu mobil yang terakhir ku tendang begitu saja.

Beberapa saat, selang satu detik seseorang dengan kecepatan tinggi menabrak pintu mobil, tubuhnya melewati kusen mobil yang ku buka kacanya.

Terdengar samar mereka berseru terkejut. Aku menoleh ke belakang mendapati wajah pucat pasi mereka, menatap datar, aku bicara, "Jalankan mobil ini saat aku turun, secepat mungkin mengerti?"

"Yang Mulia, saya juga ikut."

"Lalu, siapa yang akan menjaga mereka sampai ke gedung utama akademi?" Pertanyaan ku membuat Riana diam menunduk, lalu dia menatapku "Saya akan kembali untuk membantu Anda," balasnya.

Aku memutar badan, turun dari mobil. Orang yang baru saja menabrak itu terlihat sakit di lengan dan pundaknya. Saat pintu tertutup, mobil itu melaju cepat sesuai arahan.

"Beraninya kau menggagalkan rencana kami!" Orang itu berseru dengan pakaian serba hitamnya berdiri. Dia seperti ninja dengan sebagian masker menutup wajahnya.

"Kalian tidak diundang," ujarku santai membuat ia semakin marah. Namun dengan melampiaskannya, bukan dengan serangan, namun dengan gertakan.

"Kau pikir bisa menghentikan kami? Lihatlah," ujarnya menunjuk ke beberapa arah.

Bukan hanya satu, ini mungkin sebuah pasukan. Satu-persatu muncul mengepungku. Dapat ku lihat mobil yang tadinya melaju kini terhenti di depan sana. Gumpalan asap muncul di antara mobil itu. Aku menatap datar pada mereka. Sepuluh orang kini di hadapanku dari segala arah.

Orang itu tertawa, "Serang gadis itu!" serunya membuat mereka yang mengepung kini melesat.

Aku melompat saat satu orang menyerang ku dengan belati. Punggungnya ku jadikan pijakan, lalu aku kembali melompat dengan cepat ke arah satu orang. Dalam satu detik kakiku menapak pada wajah orang itu, membuatnya tersungkur.

Aku kembali melompat dengan berputar saat satu orang berseru di belakang, ku tendang wajahnya dengan gerakan memutar itu. Dia tersungkur.

Satu orang berseru, melesat ke arahku dengan pedang yang terangkat. Aku menyerong, melompat ke belakang. Saat kakiku memijak lantai jembatan, aku melesat cepat, memukul perutnya hingga ia terpental menabrak orang di belakangnya.

"Jangan remehkan kami!" Salah satu mereka dengan dua pedang mengarah padaku.

Aku melompat ke belakang untuk membuat jarak. Sekilas melihat beberapa cahaya di depan. Sepertinya di sana juga terjadi pertarungan. Baik. Aku mengerahkan sedikit sihir pada kaki, dengan kuat aku berpijak dan melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.

Wajah mereka terkejut saat aku muncul di depannya, lantas ku layangkan tinju terkuat sampai ia terpental beberapa meter.

Saat ku rasakan gerakan di belakang, aku memutar badan, sedikit merendahkan tubuhku untuk menghindari benda tajam yang mengarah padaku, lantas ku pukul perut tepat di lambungnya, dia terpental menabrak dua orang di belakang.

Semua tersungkur dengan luka lebam. Tidak ada lagi yang berdiri, hanya beberapa yang masih merintih kesakitan. Aku mengikat mereka dengan sabuk yang mereka kenakan. Dua orang satu sabuk. Dengan segera aku berlari cepat ke arah para tamu berada.

Karena sihir yang membantu, aku mencapai target dalam waktu singkat. Riana dengan sihirnya menyerang orang-orang yang berpakaian sama hitamnya. Mereka lebih banyak daripada orang yang mengepungku.

Aku melompat ke udara, mendarat ke depan salah satu orang membuatnya terkejut. Sebelum selesai dengan keterkejutannya, aku menendangnya dengan gerakan memutar, dia tersungkur keras di tanah.

Gerakan cepat aku kembali melompat ke udara untuk menembus mereka dan berada dekat pada Riana. Setelah beberapa orang ku buat tersungkur karena ku jadikan pijakan untuk melompat, aku mendaratkan kaki ke wajah orang yang berada di depan Riana dengan mengarahkan pedangnya. Alhasil, dia terjatuh karena berat badanku.

"Yang Mulia."

Aku berdiri dengan posisi siap meninju, membelakangi Riana. Mereka masih mengepung, "Pada akhirnya aku yang datang membantu."

Riana tersenyum cengengesan, "Maaf, beberapa orang muncul tiba-tiba di atas mobil tadi. Beberapa saat setelahnya terjadi ledakan yang mengeluarkan asap."

'Asap itu ... obat bius ya.'

Kami saling belakangi untuk mengawasi satu sisi. Aku menghembuskan napas tipis, menatap mereka dengan waspada. Satu orang berseru dan melesat, aku mencengkeram tangannya yang memegang pedang, mengangkatnya hingga aku bisa memukul perutnya tanpa pedang yang mengenaiku.

Beberapa orang juga menyerang Riana dan ia membalas dengan sihirnya.

Aku merebut pedang yang ada di genggamannya dan mengayunkan pedang itu untuk menangkis serangan pedang lain di atasku. Dengan gerakan secepat kilat aku melesat ke arah satu orang, memukulnya sampai ia tersungkur, lalu melesat kembali ke satu orang lain, memukulnya.

Tiga orang berlari ke arahku, dengan gerakan yang sama aku mencengkeram tangan salah satu dari mereka, menyerong kan badan sampai pedang di tangan itu menusuk orang yang berlari ke arahku, setelahnya aku menendangnya, lalu melompat dan berputar membuat orang di belakang terjatuh.

Melihat mereka tidak ada habis-habisnya, aku menarik kalung yang ada di leherku, "Exclart."

Batu kristal itu bercahaya membuat sebuah pedang. Aku berputar, dalam satu ayunan menumbangkan lima orang. Aku berdiri di depan Riana yang sudah tersudut sampai punggungnya menyentuh badan mobil.

"Mythic." Mataku terpejam, tubuhku terasa hangat. Saat perlahan membuka mata, gerakan mereka terlihat melambat seperti siput. Aku melesat ke arah mereka. Hanya dalam satu detik, aku sampai di belakang orang-orang itu.

Tidak ada reaksi, tapi tubuhku lemas saat cahaya itu menghilang. Perlahan Exclart kembali berubah menjadi batu kristal, aku balik badan, melihat pemandangan dengan banyak orang-orang berpakaian hitam tergeletak di jalan. Beberapa sisanya lari tunggang-langgang.

"Yang Mulia!"

Pandangan terakhirku sebelum semuanya gelap hanyalah Riana yang berlari mendekat.

^^^つづく^^^

...ーARIGATO FOR READINGー...

...THANKS...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!