Salju yang turun tadi malam membuat jalanan dan gedung-gedung akademi serta pasar dan taman menjadi padang putih. Orang-orang beraktivitas seperti biasa tanpa kendala apapun. Tidak untuk satu orang, aku.
'Shit.' Dalam setiap menitnya batinku sudah mengumpat beberapa kali. Di antara salju di bumi, kami yang menjadi perwakilan antar kelas Profesor DinoTerra berkumpul dengan perwakilan kelas lain, namun masalahnya hanya karena satu kelas belum juga datang, kami harus menunggunya dan ini sudah lima belas menit.
"Kenapa mereka belum datang juga?" Riana bertanya dengan cemas. Aku menatap sekitar, tidak ada tanda-tanda kedatangan satu kelas itu.
"Mungkin lima menit lagi," balas Mexis membuatku berdecak kesal, memeluk tubuhku sendiri.
"Sudah tiga kali kau bicara seperti itu, tidak ada hasil," protes ku datar.
"Yang Mulia, Anda kedinginan? Kemari lah!" Riana tiba-tiba berseru dan berlari ke arahku. Tangannya terentang yang lalu memelukku erat.
Aku kesal, menimpuk wajahnya dan mendorongnya menjauh, tapi dia tetap menempel seperti perangko meski sudah beberapa kali aku memberontak, susah di lepas.
"Lepaskan. Apa yang kau lakukan?" pekik ku kesal dengan perempatan silang di pelipis. Riana mendongak tersenyum cerah membuat pancaran ilahi menyinari wajahku, membuat seluruh ragaku merinding.
"Wow! Abadikan, abadikan! Ini akan menjadi berita yang bagus. Keromantisan antar teman di musim dingin antara murid perempuan dan kehangatan yang mereka bagi bersama."
Layla, murid perempuan yang ikut dalam perwakilan kelas memotret seenaknya dengan kamera kecil yang selalu ia bawa itu. Aku menatapnya tajam, membuat ia bergidik sedikit terperanjat dengan wajah pucat pasi, "Jika kau berani, akan ku hancurkan kehidupanmu sampai tingkat termelarat di akademi. Minus seratus poin."
"Ampuni saya suhu!" Layla berseru dengan lantang, bersujud gaya klasik kerajaan kuno Jepang-Korea, dua tangan di atas kepala.
Riana tertawa, dia mendongak padaku, "Ini cara saya dan ibu agar tidak kedinginan," ucapannya membuatku lebih keras mendorongnya sampai pelukan itu terlepas.
Aku menatapnya datar, mengusap baju seragam dengan wajah masam, 'Menyebalkan.' batinku sebal.
"Boleh saja kau menulis berita seperti itu, namun jangan melupakan fakta kalau itu bukan sesuatu yang romantis," Mexis menambah dengan santai bersedekap tangan. Layla yang mendengarnya berbinar, dia berdiri dan mendekat pada Mexis, menyikut lengan Mexis dengan tatapan jahil.
"Anda cemburu tuan? Melihat Anda yang melajang di perpustakaan dan hanya diam menatap para kekasih bukankah Anda iri?" Layla dengan jahil menggoda Mexis yang kini bungkam dengan wajah mengeras, "Jangan diperjelas."
Aku melihat mereka yang asik sendiri bicara, terlihat akrab dari awal kami berkumpul. Riana juga terlihat penasaran, dia tersenyum binar ke arah mereka.
"Kalian terlihat akrab, apa kalian berteman sebelumnya? Aku tidak pernah melihat Mexis dengan Layla," ujarnya jujur. Aku diam-diam mendengarkan.
Layla tersenyum cerah, "Kami bertemu di perpustakaan. Dia sendirian dengan tumpukan buku setinggi dua meter. Benar-benar kutu buku," ujarnya yang entah kenapa melirik ke arah Mexis yang pastinya tersinggung. Tapi aku yakin satu hal, tidak mungkin tumpukan buku itu setinggi dua meter kan.
Riana dan Layla tampak akrab dalam waktu dekat. Tak sedikit dari mereka berbincang tentang Mexis yang menyukai perpustakaan daripada kamar. Kalau aku lebih memilih kamar lah. Mexis tampak mengalihkan wajahnya yang terlihat merona malu.
"Ah, mereka datang!"
"Akhirnya datang juga. Kalian terlambat."
Empat orang murid laki-laki berjalan dengan wajah santai tanpa rasa bersalah. Aku menatap mereka datar. Bisa-bisanya mereka santai saat semua orang lama menunggu.
"Oh! Leon! Kau ikut? Envy juga," Riana berseru girang, sedangkan Layla sudah lebih dulu bersemangat memotret dari setiap sisi orang-orang itu.
"Aku ikut karena kau ikut. Kita akan terus bersama," ucap Leon membuat semua orang menatap iri mereka berdua. Sayangnya pancaran itu terpental di kepalaku.
Saat Leon hendak menggenggam tangan Riana, Mexis mencengkeram pergelangan tangan Leon, menatap tajam, "Jangan sentuh sahabatku. Pergi saja kau pengganggu. Kau itu bukan bagian dari perwakilan kelas kami," ucapnya penuh nada yang terkesan menekan.
Belum sempat Leon membalas, Envy menarik kerah belakangnya, menariknya dengan wajah terlihat kesal, "Berhenti mengganggunya sialan. Kau sudah seperti buaya yang lepas dari kandangnya."
"Apa masalah kalian sialan!" Leon memprotes. Mereka bertengkar saat ini. Aku mengabaikan pertengkaran mereka dengan mengalihkan pandangan, sedangkan Riana dengan polosnya menatap bingung. Layla terdiam, kamera yang ada di tangannya refleks ia tekan, memotret ketiga orang itu.
"Perhatian semuanya."
Suara seruan dari seseorang membuat perhatian kami semua terarah pada asal suara itu. Seorang murid laki-laki dengan tanda lambang akademi di lengannya, berambut biru tua dan bermata serupa mengawasi dengan tegas. Kacamatanya seakan sejernih elang, mampu mengintimidasi siapapun.
"Aku Aiden Trigra, sebagai ketua dewan akan membagi tugas setiap perwakilan kelas. Masing-masing tugas itu akan dikerjakan oleh dua kelompok."
Aiden bicara tanpa basa-basi. Kami menatapnya dalam diam, menyimak sebaik mungkin kecuali aku yang memilih untuk membenahi syal yang longgar. Pembagian tugas mulai diumumkan, dibantu beberapa dewan akademi lain, setiap kelompok berisi delapan orang akan diawasi setidaknya dua dewan akademi.
Aku mendapatkan bagian pasar. Entah apa nanti sepertinya akan melelahkan.
"Lakukan yang terbaik, laksanakan."
"Baik!"
Setelah pidato selama lima menit, dua dewan akademi yang mengawasi setiap kelompok mulai mengarahkan kelompoknya ke tempat yang disebutkan. Perwakilan kelasku bergabung dengan kelas Leon dan Envy. Anehnya, siapa yang akan mengawasi kelompok kami?
"Dimana dewan pengawas?" tanya Riana bingung.
Layla mengamati dengan teropong yang ia buat dari tangannya sendiri. Beberapa saat, dia berseru dengan menunjuk ke suatu arah, "Mungkin dia! Potret, potret!" dengan tidak tahu malu dia memotret orang yang mendekat pada kami.
Aiden, mendekat dengan santai. Kami terdiam, menatapnya cukup lama. Aku mengernyit, tidak mungkinkan ketua dewan turut serta dalam hal ini.
"Kenapa? Cepat bekerja."
...***...
"Perhatikan baik-baik ya."
Kami sudah bekerja untuk menyiapkan festival akademi lebih dari tiga puluh menit. Selama itu, ini yang mereka lakukan padaku. Saat ini, seorang pria paruh baya sedang membuat sebuah rangkaian bunga meski itu hanya bunga palsu. Mereka menyuruhku untuk memperhatikan karena memiliki kemampuan 'Observer', mereka menjadi seenaknya.
Aku mulai merakit bunga, menggabungkannya dengan seluruh ingatan yang ada di pikiranku tadi. Mereka mengikuti gerakanku meski harus dari satu tahap ke tahap lain dengan hati-hati.
"Akh! Jadi satu!" Envy tiba-tiba berseru dengan mengangkat hasil rangkaian bunganya. Namun yang ku lihat, itu sama sekali tidak rapi. Seolah bunga itu hanya dililit kertas.
"Lakukan dengan benar. Rapikan lagi," Aiden tegas mengarahkan meski tugasnya yang utama adalah mengawasi, tapi dia ikut membantu meski tidak banyak.
"Yang Mulia, apa seperti ini?"
"Ah! Terlalu sulit! Tapi menyenangkan, potret!"
"Mungkin terlalu kecil."
Aku menatap datar orang-orang yang kini ribu di dalam toko. Mereka saling menilai dan bertanya, tak sedikit yang merasa kurang dengan yang mereka buat. Aku melemparkan rangkaian bunga yang telah selesai di tengah mereka, "Itu mudah. Kenapa kalian ribut sekali."
"Mudah untukmu." Envy, Leon, Mexis, dan Aiden, serta dua murid laki-laki yang dari dekat ternyata kembar, Glen dan Geral, berseru bersamaan kecuali Riana dan Layla yang sibuk saling mengarahkan rangkaian bunganya.
Aku mendengus pelan, bersedekap tangan menatap mereka yang terlalu serius dengan bunga di genggamannya. Entah kenapa perasaanku akhir-akhir ini kurang bagus. Semenjak musim dingin datang, selalu saja merasa ada yang mengganjal, ditambah saat malam badai salju kemarin. Apa ada yang terlupakan?
Saat hanyut dalam pikiranku, tiba-tiba saja getaran kecil muncul di dalam kantong almamater akademi yang ku pakai. Aku mengambil benda persegi panjang, RectaPhone, menampilkan notifikasi berasal dari Profesor Egatha.
...[NOTICE]...
...Nona Aristella Julius de Vermilion...
...Ada surat untukmu dari Raja Vermilion....
..."Pulanglah lusa minggu ini. Rian akan menjemputmu."...
Aku terdiam berpikir hari apa lusa itu. Sampai satu kalimat terlintas dalam ingatan buku novel.
'Kematian ibu Aristella, terjadi pada saat musim dingin. Pemberontakan itu. Pantas saja perasaanku benar-benar buruk. Ternyata.'
"Yang Mulia? Apa ada masalah? Kenapa Anda terus menatap RectaPhone?" Suara Riana membuatku segera mengembalikan RectaPhone pada kantong almamater. Dia menatapku dengan wajah sedikit cemas, karenanya semua orang menatap kemari.
Aku mengambil kembali beberapa bunga, "Tidak ada. Cepat selesaikan," ujarku datar, mengerjakan beberapa rangkaian bunga untuk Festival StarLight.
^^^つづく^^^
...ーARIGATO FOR READINGー...
...THANKS...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments