Berawal, dari pagi yang biasa. Biasa akan keributan di dalam ruangan kamar asrama yang terdengar gedoran pintu begitu keras.
"Apa kau tidak bisa cepat? Sudah ku bilang perempuan itu terakhir saja. Hey, aku bisa terlambat sialan," Envy berseru seraya menggedor keras pintu kamar mandi.
"Salahkan saja kau yang terlambat bangun," balasan dari balik pintu membuat Envy tidak mengelak. Ya. Itu Aristella. Sedari tadi ia ada di sana, lebih dulu menggunakan kamar mandi daripada Envy.
"Meski begitu apa wajar kau berada di dalam selama satu jam?! Itu tidak masuk akal."
Beberapa detik Envy berseru, pintu kamar mandi tiba-tiba saja terbuka membuat Envy mundur beberapa langkah. Stella keluar dengan baju seragam yang telah melekat di tubuhnya. Dia melangkah keluar dengan wajah datar, mencengkeram wajah Envy sampai ia memekik, "Akh! Apa yang kau lakukan?"
Stella menarik Envy–lebih tepatnya menarik wajah Envy–mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi, "Cepatlah selesai."
"Sakit!"
...***...
Kedua murid dalam satu tingkatan tahun pelajaran saling menatap satu sama lain. Terdapat kilatan listrik kecil diantara tatapan mereka yang perlahan membuat gerakan tiba-tiba seperti, merebutkan siapa yang pertama kali keluar dari kamar asrama.
Stella bergerak begitu pula Envy. Mereka berjalan ke ambang pintu secara bersamaan dan saat pintu itu terbuka, mereka berdesakan untuk keluar.
"Apa-apaan! Kenapa kau tidak ingin mengalah sedikitpun," Envy berseru membuat Stella memutar bola mata malas dan berdecih saat mereka kini 'sedikit' tersangkut di ambang pintu.
"Laki-laki yang seharusnya mengalah," Stella mundur tiba-tiba, menarik tangan Envy sampai ia kehilangan keseimbangan lantas terjatuh ke lantai, "Gadis gila," serunya kesal.
Stella pergi begitu saja mengabaikan Envy. Envy yang segera bangun berlari melewati Stella, menghadangnya lantas dengan iseng menyandung kaki Stella sampai ia terjatuh.
"Oh, jangan menangis, dasar lemah," ucap Envy tersenyum miring yang lalu balik badan pergi dengan berlari.
Stella berdiri dengan wajah gelap, menatap dingin punggung Envy yang menjauh, "Lihat saja nanti."
...***...
Aura suram dari si biang kerok akademi membuat semua murid dalam kelas itu bergidik. Tidak seperti biasanya seorang Envyren merebahkan malas kepalanya di atas meja.
"Kau kenapa?" Seseorang duduk di sebelah Envy dengan kedua tangan masuk dalam saku celana. Dia Leon. Sahabat–sekaligus saingan–Envy melalui perantara kedua hubungan kerjasama kerajaan mereka.
"Gadis itu ... bisa-bisa aku gila berlama-lama dengannya," balas Envy mengangkat wajahnya meski dagu masih menempel di permukaan meja.
Leon langsung menatap tak senang, "Apa yang dilakukan gadis itu?" Tanyanya yang kini merasa curiga.
"Dia seenak jidat memasang poster gambar tidak jelas di dinding dengan warna pink dan segala figur laki-laki tidak nyata itu. Mataku ternodai," ucap Envy sepenuhnya mengangkat kepalanya, dengan tegak duduk dan satu tangannya mengepal seraya api amarah membara-bara di belakang dan matanya.
Tatapan Leon kini berubah kebingungan, tersenyum kikuk, "Dia tergila-gila dengan 'orang' dalam gambar?"
"Iya!" Envy berseru kesal menatap Leon masih dengan api di tatapannya, "Dia bilang 2D lebih menggoda dariku! Dasar gadis gila, awas saja," curhatnya seakan ingin meninju seseorang.
Leon tak sepenuhnya mengerti, tapi melihat Envy yang kini 'sedikit' terbawa suasana dalam ceritanya tentang Stella membuatnya yakin sekarang temannya itu sedang terkena tekanan mental. Ia menepuk pundak Envy, membuatnya menatap sedikit tenang.
"Envy."
Envy entah kenapa sedikit berbinar seketika, biasanya Leon akan memberikan kata motivasi untuknya. Leon menatap Envy penuh keteguhan, "Jangan dipikirkan, menyerah saja. Kau akan gila."
"Sama sekali tidak membantu sialan!" Dengan keras Envy memukul kepala Leon hingga ia terkekeh kecil, "Bertatap muka dengan gadis itu saja sudah membuat muak, apalagi jika seperti kau yang setiap hari harus melihatnya? Pasti akan gila."
Ucapan Leon ada benarnya. Mereka menghela napas panjang bersama mengingat kelakuan buruk Stella di pesta antar kerajaan sebelum masuk ke akademi. Sampai mereka menyadari satu hal dan saling bertatapan.
"Sejak kapan kita membicarakan gadis itu?" Ujar mereka bersamaan dengan heran.
Beberapa detik hening dengan hal yang baru saja mereka sadari, kini aura suram tertular ke Leon. Envy yang kembali merebahkan jidatnya ke meja, ditambah Leon yang menatap horor ke depan dengan kedua tangan menyatu di depan mulut membuat ruangan semakin menggelap.
...***...
'Telingaku gatal.' aku pelan mengusap telinga, melewati lorong menuju kelas yang ramai.
Baru saja aku melangkahkan kaki ke dalam kelas, seseorang sudah membuat ulah dengan melemparkan buku di depanku. Aku menatap datar ke arah lantai tergeletak nya buku itu, mengambilnya. Saat melihat sampul bukunya, tertera nama Elyna.
"Oh, lihat siapa ini. Si pengecut sudah datang."
Suara itu membuatku mendongak, menatap tiga orang bedebah kelas. Mereka berdiri di depan seorang gadis yang terduduk di lantai dengan air mata yang mengalir. Salah satu dari tiga curut itu, adalah orang yang menantang ku kemarin di hari pertama. Zero Lery.
'Ini masih pagi loh.' Aku melempar buku itu kembali pada salah satu bedebah, membuatnya menangkap dengan refleks. Dia tersenyum miring, bicara "Sepertinya kau punya nyali."
Aku menatap malas, "Hm. Melebihi dugaanmu. Aku memiliki semuanya."
Mendengar ucapanku, dia tertawa disusul dua temannya yang lain. Beberapa saat setelahnya, terlihat tawanya meredup dengan mengusap setitik air mata di sudut matanya, "Kau tidak memiliki kekuatan bukan?"
'Nggak tuh.' batinku masa bodoh.
Dia mendekat dengan wajah remeh, "Pengecut. Kau menolak semua tantangan pasti karena kau takut dikalahkan benar kan? Dasar lemah."
Dua kali dalam satu hari dan tidak lebih dari satu jam aku mendengar mereka meremehkanku dengan kata 'lemah'.
"Siapa bilang?" Tanyaku datar.
Zero tersenyum remeh, menjauhkan wajahnya dariku, "Kau pengecut dengan menolak tantangan dari Yang Mulia Envyren. Kami sudah tahu itu. Jika bukan, maka buktikan."
Zero mengeluarkan RectaPhone, terlihat jarinya menekan sesuatu di permukaan layar. Beberapa saat, sesuatu bergetar ringan dalam saku rok seragamku. Aku mengambil benda persegi panjang itu, menatap notifikasi yang sama di hari pertama aku kemari.
...[ NOTICE ]...
...Zero Lery menantang Aristella Julius untuk bertarung 1 vs 1....
Mengingat beberapa hari lagi akan diadakan festival, sepertinya ini waktu yang tepat untuk memberi mereka sebuah kejutan.
Aku menekan satu opsi dua pedang membentuk silang, "Aku Aristella Julius, menerima tantanganmu, Zero Lery."
...***...
Studion Everglori terlihat 'sedikit' sepi dari biasanya. Ya. Beberapa murid tidak tertarik dengan dua kandidat pertarungan ini meski murid-murid lain terutama di kelasnya sangat terlihat penasaran.
"Kita kembali pada acara kebanggaan kita, Everglori dengan dua kandidat berbeda dari hari-hari lainnya. Sang penantang, Zero Lery dari kelas C dengan lima kali kemenangannya di Everglori sebelumnya! Apa ini akan menjadi yang keenam kali? Kita lihat saja nanti."
"Dan murid cantik yang berada di kubu kedua, Aristella Julius dari kelas E. Nol kemenangan sekaligus ini adalah Everglori pertamanya. Hmm. Tidak menyakinkan untu menang, tapi tidak masalah. Mencari pengalaman itu baik."
MC yang terdengar mengejek itu membuat murid-murid yang berada di studion tertawa. Memang tak banyak murid baru yang bisa menang di Everglori pertamanya, hanya beberapa dan dapat dihitung dengan jari.
"Ingin menyerah, Nona?" Zero dengan nada remeh bicara.
Stella menanggapinya dengan datar, "Tidak. Terimakasih tawaranmu."
"Wow! Terlihat dari tatapan dua peserta mulai memanas. Baiklah. Tidak perlu berlama-lama lagi, pertandingan dimulai!"
^^^つづく^^^
...ーARIGATO FOR READINGー...
...THANKS...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Ni Ketut Patmiari
semangat thor... ceritanya menarik👍
2024-03-22
1