Unconditional Love, novel berlatar kerajaan yang menyangkut kemodernan. Kendaraan mesin beroda empat sudah ada di sini, hanya saja digerakkan oleh sihir. Adapula kekurangan yang lain.
Di sini tidak ada televisi, mereka menyebutnya sebagai layar sihir. Handphone, mereka menyebutnya benda sihir pengantar surel. Karena sihir menjadi salah satu hal terpenting di sini, tidak ada lagi yang bisa menandingi betapa berharganya sihir itu.
Terciptalah sebuah tempat untuk mengumpulkan generasi pemilik kemampuan sihir bernama Evergreen.
Akademi yang melatih orang-orang terpilih untuk menjadi yang terbaik. Siapapun yang lulus dengan peringkat pertama, maka dia akan mendapatkan apresiasi berupa satu permintaan di depan pohon kehidupan. Pohon yang memiliki segala sihir sekaligus menopang kehidupan di benua ini.
Jika pohon itu rusak, habis sudah. Peperangan antar ras akan terjadi. Yap. Pohon itu sangat berharga.
...***...
Sampainya di depan gerbang akademi, aku mengernyit tak senang memandang dingin luar jendela mobil yang sudah dipenuhi banyak orang dengan kamera di tangannya.
Baru saja kemarin Raja memberitahu keberangkatanku ke akademi, orang-orang dari organisasi berita ini jeli juga mendengar kabar itu.
'Pantas saja Raja bicara aneh.'
"Jika ada serangga yang berbunyi, abaikan saja."
Begitu. Dia bicara sebelum aku berangkat tadi pagi.
"Anda baik-baik saja, Putri?" Tanya Rian. Dia diperintahkan Raja untuk ikut mengantarku, berjaga-jaga. Baru aku mengerti ini tujuannya.
"Hm," balasku sembari mengangguk seadanya menatap malas luar jendela yang sangat ramai. Beruntung mobil bisa masuk ke kawasan akademi dan meninggalkan wartawan-wartawan itu di depan gerbang. Ksatria penjaga di akademi ini juga sangat peka, terbukti dengan langsung menutup gerbang setelah kami masuk.
Rian turun terlebih dulu, membukakan pintu mobil untukku. Dia membungkuk saat sepenuhnya aku turun. Pemandangan yang pertama kali ku lihat adalah betapa megahnya akademi ini.
Meski di abad kerajaan, arsitektur nya begitu modern dengan beton putih dan kaca transparan seperti di gedung. Aku terharu. Sungguh.
Penampilannya sama seperti di sekolah Jepang modern di anime-anime yang ku tonton. Karena ini jugalah aku menyukai novel itu.
"Selamat menjalani kehidupan akademi Anda, Putri," ujar Rian sebagai salam perpisahan.
Aku mengangguk, menarik tas koper yang sudah disiapkan Rian untuk masuk ke dalam gedung, meninggalkan Rian yang masih membungkuk.
Rasanya sedikit gugup saat melihat pintu megah besar dan tinggi di beberapa sisa langkahku. Di depan terdapat satu orang wanita paruh baya berkacamata mata dengan wajah tampak tegas dan satu orang perempuan yang berdiri anggun di belakangnya. Ada pula dua pria ksatria penjaga.
"Selamat datang di Academy Evergreen. Kami menanti kehadiran Anda Putri Aristella Julius de Vermilion," sambut mereka membungkukkan badan sekilas lalu kembali ke posisi tegak.
"Saya Preatta Rod. Wakil kepala Evergreen sekaligus profesor di bidang Ekonomi. Mulai sekarang, akan saya jelaskan detail akademi ini," ucap wanita paruh baya berkacamata.
Aku mengangguk, "Mohon bantuannya, Profesor Preatta."
Kami memasuki gedung akademi yang menurutku ini sangat fantastis. Terlihat sangat modern di dalam sini dengan semua warna bernuansa putih dan biru hologram.
"Kita mulai dengan sejarah akademi ini ..."
Profesor mulai bercerita tentang asal-usul akademi. Aku tidak sepenuhnya mendengarkan, lebih memilih menikmati sekitarku daripada sejarah tak jelas. Kami berjalan di lorong berlantai marmer biru tua. Hiasan dinding berupa seperti hologram.
'Benar-benar kombinasi antara abad pertengahan dengan abad 21. Aku akui ini keren.'
"Di sini kita akan mendapatkan indentitas mu dan nomor asrama."
Profesor berhenti di sebuah pintu besi. Dia menekan tombol hijau di sisi kanan pintu, membuatku lagi-lagi tertegun dengan arsitektur di dalamnya. Seperti sebuah lobi modern dengan layar hologram. Ini bahkan lebih canggih daripada di dimensi ku.
"Silakan sentuh bola itu," ujar Profesor Preatta menunjuk sebuah bola sebesar bola sepak di tengah kapsul transparan.
Aku melangkah masuk dalam kapsul, menyentuh bola itu tanpa adanya keraguan. Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan munculnya layar-layar hologram di kaca transparan kapsul.
Oh astaga. Menikmati kemodernan sekaligus pusat pemerintahannya masih berupa kerajaan itu suatu hal aneh tapi menyenangkan.
Layar-layar itu berputar, lalu seakan ter-resap dalam bola yang ku sentuh. Sebuah lampu hijau menyala di sisi sudut kiri, membuka sebuah kotak yang memunculkan benda persegi panjang.
'Itu smartphone?! Apa ini tandanya aku bisa menonton anime?'
"Itu benda yang akan kau pakai di akademi ini, disebut RectaPhone. Hanya untuk pemberitahuan kepada semua murid, dan data nilai. Yang paling penting dari benda itu adalah sebagai identitas murid bahwa mereka merupakan bagian dari Evergreen. Jadi, kau harus membawanya setiap saat untuk membuka akses ke tempat-tempat seluruh Evergreen."
Seakan mengerti apa tujuanku, Profesor menenggelamkan semuanya dalam beberapa kalimatnya. Aku mengambil benda itu dengan menggerutu dalam hati.
'Selamat tinggal dunia per-wibuan ku.'
"Apa kau tahu cara mengaktifkannya?" Tanya Profesor Preatta memastikan. Aku memeriksa setiap inchi benda ini, menyentuh permukaannya lalu layar itu menyala.
"Ya. Ku rasa aku tahu." Sama seperti smartphone di dimensi ku. Sayang sekali tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi ataupun menonton anime.
"Bagus. Kita lanjutkan ke tempat berikutnya," ujar Profesor memandu ku. Aku mengikutinya dengan tenang sesekali menikmati suasana.
Profesor menunjukkan banyak tempat. Mulai dari taman, kolam renang, tempat pelatihan, kelas, asrama, laboratorium, perpustakaan, ruangan para profesor, lapangan, aula, dan tentu saja kafetaria sebagai kantin.
Yang paling membuatku kagum adalah tempat terakhir ini.
"Ini adalah studion utama kami," ucap Profesor dengan sedikit kebanggaan tersendiri.
Pandanganku terpaku dengan pemandangan studion yang juga lagi-lagi bernuansa modern. Layar besar di atas studion, lebih tepatnya di tengah atas. Lapangan studion yang sepertinya berlantai seperti kaca karena begitu mengkilap diselingi garis-garis. Banyak bangku dan luasnya sama seperti lapangan sepakbola internasional.
"Kebanggaan akademi Evergreen. Pertarungan yang diselenggarakan untuk generasi berbakat. Everglori."
'Ho. Everglori ya.'
Pertarungan antar murid yang menjadi tontonan semua orang di benua sampai ke manca negara jika ingin. Murid-murid akan membuktikan kemampuan mereka di pertarungan itu dan menjadi yang pertama serta populer.
'Hm. Ini akan semakin membuatku bersemangat.'
"Baik. Apa kau siap untuk menjadi murid resmi dengan seragam mu, Putri?" Profesor terlihat sedikit memandangku dari atas sampai bawah.
Ya. Gaun biru tua polosku memang terlihat usang, tapi inilah pakaian terbaik melihat semua gaun di lemari berisi seperti balon udara penuh akan renda.
"Ya. Aku menantikannya," jawabku asal.
Profesor menjentikkan jarinya, seketika seperti sihir, kami berpindah tempat dalam satu detik ke sebuah ruangan yang hanya berisi kapsul di tengahnya. Batinku tersenyum miris sesaat.
'Kenapa tadi kita berjalan begitu jauh kalau jasa kilat saja ada?' kesal ku dalam hati.
"Silakan," ujar Profesor Preatta memintaku untuk masuk kedalam kapsul yang kini hanya dengan setengah jendela transparan.
Aku menurut, masuk ke dalam kapsul. Oh sial. Lagi-lagi aku dikejutkan dengan pintu kaca hitam yang tiba-tiba menutup seluruh kapsul. Lampu lingkaran menyala di dasar dan atap kapsul yang aku pijak. Layar muncul di jendela hitam kapsul menampilkan dua opsi gender. Perempuan untuk merah dan laki-laki untuk biru.
Aku menekan tanda untuk 'perempuan' di sana. Lampu kapsul berubah menjadi merah jambu. Tubuhku tiba-tiba saja bersinar. Gaun polos yang ku kenakan perlahan berubah menjadi setelan seragam dengan jas dan bros tanda akademi. Benar-benar praktis.
Jendela kapsul terbuka dan lampu kapsul padam. Aku menatap Profesor Preatta yang tersenyum tipis, mengarahkan tangannya untuk menunjuk ke arah kapsul lain yang berisi bola seperti aku mendapatkan smartphone tadi.
"Saatnya untuk senjata yang akan kau gunakan nantinya," ujar Profesor.
Aku mengangguk pelan, melangkah tenang ke dalam kapsul dan menyentuh bola itu.
Dalam satu detik bola itu bersinar biru pekat memberikan tiga opsi layar di depanku. Tiga warna yaitu, hijau, biru, dan kuning. Beberapa detik kemudian, ketiga layar itu saling berdekatan lalu menyatu, menampilkan satu gambar benda bercahaya biru pekat yang kemudian menjadi nyata, melayang di udara. Ada sebuah nama di atas benda itu.
Aku membacanya, "Exclart."
"Exclart?! Bagaimana bisa?"
^^^つづく^^^
...ーARIGATO FOR READINGー...
...THANKS...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Frando Wijaya
entah knp....gw curiga ada seseorang reinkarnasi dloan sebelom FMC dtg
2024-08-05
0