"Aexdark."
Batu kristal bersinar dan berubah menjadi sebuah pedang digenggaman Envy. Di tengah kerumunan murid di sekitar pasar, aku menatap layar besar persis seperti hologram di tengah air mancur.
Setiap inchi dan gerakan dari kedua orang itu ku amati dengan seksama, bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu bagaimana caranya menggunakan kekuatan. Dari RectaPhone, aku menemukan tiga elemen dalam diriku. Angin untuk panah, api untuk pedang, dan air untuk tongkat. Masalahnya, aku sama sekali tidak bisa menggunakan ketiga itu.
'Setidaknya aku tahu tidak perlu menghafalkan mantra yang merepotkan.'
Aku balik badan meninggalkan kerumunan orang yang penasaran. Kebanyakan memuji kemampuan Envy, namun banyak juga yang merasa dia itu keterlaluan. Yang terpenting sekarang adalah menikmati pasar ini.
Lonceng perak berbunyi dari sebuah pintu toko yang ku kunjungi. Seorang pria paruh baya dengan kacamata sebelah menoleh ke arahku yang sebelumnya dia menatap layar tipis televisi. Dia menonton hal yang sama dengan kerumunan tadi. Aku mengunjungi toko perhiasan untuk satu tujuan.
"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Dia tersenyum ramah dengan posisi tegak.
Aku mengeluarkan batu kristal hitam berukuran sekiranya sebesar dan sepanjang ibu jari, "Bisakah Anda mengubah ini menjadi sebuah kalung?" ujarku memberikan permintaan.
Pria itu mendekatkan wajahnya pada batu kristal di meja lobi, memeriksa dengan teliti pada kacamata pengamatan.
"Ini luar biasa. Saya tidak pernah melihat batu kristal artefak senjata sepekat ini, ah bukan ini sangat hitam. Ini milik Anda, Nona?" Tanyanya terlihat antusias. Aku hanya mengangguk ringan sekilas.
"Saya merasa terhormat Nona genius datang ke toko kami. Saya akan melakukan yang terbaik. Anda bisa menunggu sambil melihat-lihat produknya, dan seperti yang Anda tahu, itu gratis dan hanya membayar dengan poin nilai dari RectaPhone resmi Academy Evergreen."
'Ya. Aku baru tahu itu tadi saat datang kemari.' batinku sebal mengingatnya.
Sebelumnya, aku mengira semua ini 'benar-benar' gratis tanpa apapun dan mengambil sesuka hati, namun ternyata aku salah saat mengambil beberapa bahan makanan di toko sebelah.
Saat mengambilnya aku langsung hendak pergi dengan satu paper bag penuh dengan bahan sayur segar dan beberapa daging, namun aku ditahan di ambang pintu oleh ibu penjaga toko.
"Maaf Nona, Anda belum membayarnya."
Tentu saja aku kaget. Apalagi saat itu juga tidak membawa uang, namun syukurlah ibu penjaga toko itu baik hati menjelaskan panjang lebar sistem jual beli di pasar akademi ini dan itu berlaku untuk semuanya termasuk di kafetaria.
"Anda harus memiliki poin. Poin didapat dari nilai para murid. Semakin besar nilai mereka maka semakin banyak poin yang akan akademi berikan. Setelah itu, Anda bisa menscan poin di layar RectaPhone pada kotak di sana."
'Untungnya aku memiliki poin nilai untuk murid baru sebanyak seratus poin.' Satu poin bernilai satu perak koin mata uang di sini. Jika seratus poin berarti seratus koin perak dan seratus perak tersebut menjadi satu koin emas. Benar-benar berharga.
Aku menunggu sembari duduk di kursi depan lobi pembayaran, menopang dagu sesekali menatap layar televisi yang masih menayangkan pertandingan Everglori.
"Nona, maaf menunggu lama. Apa ini cocok dengan selera Anda?"
'Sebentar. Ini baru lewat sepuluh menit. Ku kira akan memakan waktu lama.' batinku tersenyum kikuk.
Aku menatap benda kecil itu yang kini sudah terpasang tali kalung hitam. Sesuai selera, sangat simpel dan mudah digunakan. Aku mengangguk membuat kesan puas, mengeluarkan RectaPhone namun di tahan paman penjaga toko.
"Sepenuhnya gratis untuk Anda," ujarnya dengan mengedipkan sebelah mata.
Aku menerima kalung itu, menatap paman penjaga toko, "Terimakasih."
...***...
Ketukan cepat antara mata pisau dengan meja talenan yang ku gunakan untuk memotong beberapa wortel membuat ruangan kamar yang sunyi ini mengeluarkan suara.
Ahli dalam teknik potong memotong di kehidupan pertama tidak tertinggal di kehidupan kedua ini. Semuanya ku ingat dengan baik.
Dua hari tidak memegang pisau itu rasanya begitu hampa. Tanganku gatal jika tidak melakukan itu.
Di istana aku tidak boleh memasuki area dapur, karena itu saat makan di ruang makan pisau pemotong daging ku gunakan dengan sepenuh hati sampai membuat orang-orang istana heran termasuk sang Raja.
Ya, hanya memotong daging saja sampai ku buat beberapa bentuk. Pantas mereka heran.
Aku merebahkan diri setelah semua selesai. Ngomong-ngomong, Envy belum menentukan tempat tidur nya. Aku memilih di tempat tidur bawah, di atas terlalu repot untuk memanjat. Dia belum juga datang.
Aku memandangi batu hitam yang sudah ku jadikan sebuah kalung, mengingat bagaimana caranya memanggil sebuah senjata lewat benda kecil ini. Sudah beberapa kali ku coba, namun nihil, malah mataku yang perih akibat terlalu lama melototi batu ini.
"Hah ..." Aku menghela napas panjang, beranjak keluar dari kamar.
Saat pintu terbuka, aku berpapasan dengan seorang murid laki-laki yang wajahnya terdapat luka lebam di pipi. Envyren Safire. Dia menatapku sekilas yang samar terdengar suara berdecih darinya.
Aku menatap datar, melewatinya tanpa bicara apapun.
...***...
Di ruangan kamar asrama, Envy membaringkan tubuhnya di lantai tanpa alas. Lengannya menutup kedua mata yang mengarah pada atap. Penampilannya berantakan setelah pertarungan itu. Ia tidak mempedulikan luka yang ada di tubuhnya saat ini.
Envy bangkit duduk, mengeluarkan RectaPhone dari sakunya. Layar menampilkan data poin yang dimiliki Envy saat ini, hanya lima poin. Ekspresinya seketika menggelap dengan sedikit amarah.
"Sial. Tidak berguna." Ia berseru kesal, melempar RectaPhone ke lantai di depannya. Lagi-lagi dia harus berpuasa karena untuk menghemat poin. Ya. Jika tidak memiliki poin, hancur sudah tidak bisa apapun lagi. Lima poin itu saja dia dapatkan dari Everglori barusan.
Yang Envy rasakan saat ini hanya lapar. Meski gila akan pertarungan Everglori, dia menggunakan itu hanya untuk mendapatkan poin tambahan. Dia termasuk murid 'termelarat' di akademi ini. Yap. Envyren.
Envy berdiri menuju ke dapur. Matanya menelusuri setiap sudut untuk menemukan beberapa makanan. Sampai ia melihat sebuah panci kecil yang masih di atas kompor.
Dia membuka tutup panci. Satu panci berisi sup mentega masih terlihat hangat dengan kepulan udara lembut yang menyeruak. Aromanya begitu menggiurkan.
"Dia yang membuatnya?" Ucapan Envy terhenti saat melihat sebuah kertas yang sudah kusut kini menempel di dinding.
Itu kertas yang ia buang karena Stella tidak menyetujui peraturan. Masih terdapat tiga peraturan, namun kalimat kedua dan ketiga diubah.
Peraturan kedua, kamar mandi tergantung orang yang lebih dulu bangun. Ketiga, aku yang memasak. Untuk membersihkan ruangan ...
"... Dia yang mengacaukan, dia juga yang harus membereskannya sendiri," lanjutnya membaca setiap kata.
Peraturan itu lebih adil dari sebelumnya. Envy menatap panci berisi sup hangat itu kembali. Dia mengambil sendok untuk mencicipi masakan Stella. Mata Envy terbelalak saat satu sendok sup masuk dalam mulutnya. Hanya satu kata yang ia gumamkan, "Enak ..."
Tidak berlama-lama lagi, berawal dari satu suapan, berakhir dengan seluruh sup di dalam panci habis tak bersisa.
^^^つづく^^^
...ーARIGATO FOR READINGー...
...THANKS...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments