Aku duduk bersandar di sofa empuk, bersedekap tangan menatap orang yang kini mondar-mandir di depan televisi besar dengan segala celotehannya. Suaranya yang keras membuat sedikit gema di ruangan satu petak ini.
Envyren Safire val Demonic. Yang ku tahu, dia adalah tokoh utama laki-laki ketiga di novel. Dikenal misterius tapi ternyata aslinya seperti ini. Berisik, berpikir dangkal, namun tampan. Asal-usulnya, dia Putra Mahkota kerajaan Demonic yang berseberangan dengan kerajaan Reaffles dan hanya itu yang ku ketahui untuk saat ini.
Sisanya, aku hanya tahu dia memiliki kemampuan atas senjata Aexdark. Pengendali bayangan. Karena tidak banyak info, dia menjadi tokoh di peringkat terakhir. Pembaca juga tidak peduli dengan tokoh satu itu karena terfokus pada Riana dan Leon. Aku juga begitu.
"Kau dengar aku? Peraturan pertama itu penting." Baru dia mengecilkan suaranya, menatap kesal saat tahu aku terhanyut dalam pikiranku sendiri, namun aku menangkap semua apa yang dia bicarakan.
"Hm. Sudah?" balasku malas. Envy mengepalkan kedua telapak tangannya, tersenyum penuh kobaran api di belakangnya.
"Jangan membalas singkat seperti itu! Aku serius dengan tiga peraturan itu."
Peraturan pertama, dilarang menyentuh tempat yang sudah ditentukan masing-masing. Seperti jika sofa ini aku memilih kanan, dia harus di sisi kiri dan akan terus seperti itu.
Kedua, pembagian waktu ke kamar mandi.
"Perempuan itu selalu saja lama saat mandi, jadi aku duluan dan dilarang mengintip," pintanya seakan mengejek dirinya sendiri.
Ketiga, kebersihan dan urusan memasak ada di kubu perempuan.
'Cecunguk ini.' aku menimpuk wajahnya dengan kertas yang ku genggam, menatapnya datar, "Dilarang menjadikan orang sebagai pelayan. Selesai."
Envy mencengkram kertas yang menempel di wajahnya. Tatapannya membara api dengan wajah merah padam dan urat perempatan silang di pelipisnya, "Hah?! Seharusnya perempuan yang membersihkan semuanya. Itukan sudah menjadi tugas wajib. Apa itu salah?!"
"Menurutmu? Kami para perempuan seharusnya dihormati, bukan dijadikan seorang pelayan," ujarku datar bersedekap tangan.
Envy menunjuk marah dengan mendekatkan wajah sekaligus kepalanya, "Perempuan itu merepotkan dan lemah! Hanya bisa bergosip manja, sedangkan kami laki-laki harus bekerja untuk perempuan yang tidak bisa apa-apa itu, dasar egois!"
Aku ikut maju, menatap dingin dan menepis tangannya, "Laki-laki hanya bisa bermalas-malasan, membuat kekacauan, dan harus kami para perempuan yang menyelesaikannya."
Tanpa sadar kami berdebat sampai kepala kami bersentuhan saling mendorong, kilatan muncul diantara tatapan kami. Beberapa saat kemudian kami saling membuang pandangan.
"Sudahlah, percuma saja aku berdebat dengan gadis gila sepertimu."
Aku melirik Envy yang baru saja bicara. Dia berjalan keluar dan hilang dari pintu yang tertutup. Mungkin karena lelah berdebat, sepertinya dia memilih untuk pergi, aku tidak peduli, mengambil kertas yang dia buang sembarangan di lantai.
Aku hendak membuang kertas itu ke tempat yang seharusnya, namun melihat isinya kembali membuat kepalaku sedikit berpikir.
'Ada kafetaria akademi, kenapa dia membuat peraturan ketiga itu? Jika membersihkan masih masuk akal karena memang para murid yang harus bertanggung jawab atas ruangan asrama.'
Dari sifat seorang Envyren yang seperti itu, ya pasti ada masalah khusus. Entahlah. Aku tidak peduli. Karena tidak mau repot ku remas kertas itu dan melemparkannya di tempat sampah.
...***...
"Kita kembali pada pertandingan Everglori yang paling kita banggakan."
Suara gemuruh dari pemandu acara membuat ramai stadion kebanggaan Academy Evergreen.
Pertandingan disiarkan langsung pada layar sihir di seluruh sudut akademi, terutama kelas, taman, kafetaria, dan asrama yang sering dikunjungi oleh banyak murid. Juga disiarkan pada RectaPhone semua murid.
"Kali ini, terdapat dua kandidat sebagai penantang dan penerima dari kelas satu. Wah, tahun ini banyak sekali murid yang bersemangat, tapi wow! Apa ini? Penantangnya lagi-lagi seorang Envyren Safire. Berikan apresiasi pada Raja Penantang kita!"
Pembawa acara kembali berseru dengan mic dari benda sihir. Semua murid saling berbincang hangat mengenai pertarungan yang bisa dibilang biasa. Sudah lebih dari sepuluh kali Envyren menjadi seorang penantang. Entah apa masalahnya dengan murid-murid akademi ini, selalu dia yang maju sebagai penantangnya.
"Yang Mulia Envyren? Dia lagi-lagi berulah."
"Iya benar. Tapi melihat cara bertarungnya itu terlihat sangat keren!"
"Bukannya itu keterlaluan? Dia menantang orang-orang tanpa pandang bulu."
"Aku dengar julukannya penantang gila yang bertarung untuk kesenangan saja."
Envyren si Raja Penantang gila. Mereka menyebutnya seperti itu. Saat kabar bahwa dirinya membantai lawannya dengan kejam dia menjadi yang paling disegani oleh orang-orang. Kecuali dua tokoh utama laki-laki dan Riana tentunya.
"Riana, kau mau kemana?"
Kini dua orang berjalan cepat mengikuti langkah Riana yang berjalan dengan rasa cemas. Dua orang itu Leon dan Mexis. Ya, meski mereka mengikuti Riana yang berada di depan, tatapan tajam saling terlayang dari ekor mata mereka.
"Menyusul Envy. Bagaimana kalau dia melakukan hal yang gegabah?" Suaranya yang lirih membuat dua orang itu terdiam.
Riana benar-benar mencemaskan seorang Envyren, karena itu terdapat rasa cemburu di hati dua orang itu.
"Dia akan baik-baik saja karena dia tidak bodoh. Kau tahu itu kan?" Mexis membalas, bermaksud untuk menenangkan temannya namun malah sebaliknya, Riana semakin cemas.
"Envy memang tidak bodoh, tapi bagaimana jika orang-orang kembali menjauh darinya?" Kekhawatiran utama Riana adalah jika orang-orang menganggap buruk Envyren seperti dulu.
Tiga bulan terakhir orang-orang mulai dekat dengan Envyren, itupun karena usaha Riana yang membantu dan sedikit dorongan semangatnya.
Leon menahan langkah Riana dengan menggenggam tangannya, membuat Riana berbalik menampilkan wajah cemas yang begitu terlihat.
"Dengar. Mereka tidak akan melakukan itu. Lagipula si konyol itu memang sudah terbiasa kan."
"Leon! Kau tidak mengerti. Envy begitu menderita selama ini." Tanpa sadar Riana meninggikan suaranya. Dia menutup wajah dengan telapak tangan, suara isakan tangis memenuhi lorong yang sepi.
Leon yang tahu itu mengernyit. Rasanya, begitu sakit saat melihat orang yang dicintai menangis seperti itu. Yah. Dia menarik Riana dalam dekapannya, mengelus puncak kepala Riana dengan lembut, "Maaf."
Tatapan sendu terlayang dari Mexis, meski hanya sekilas. Dia segera mengubahnya, mengepalkan tangan dan menggelengkan kepala ringan.
"Jangan dipikirkan."
Suara Mexis membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya. Mexis bersedekap tangan, matanya terpejam tanda ia berpikir sejenak.
"Kalian lupa dia siapa? Jika orang itu adalah Putra Mahkota kerajaan Demonic, dia pasti memiliki alasan yang melebihi pemikiran kita. Percaya saja padanya, Rin."
"Envyren berhasil membuat lawannya tersungkur! Kita akan lihat apa ini menjadi akhir pertandingan?"
Suara pemandu bergema di seluruh lorong yang berasal dari layar sihir besar di tengah taman. Kini murid-murid berkumpul untuk menyaksikan pertarungan sengit.
Di sisi lain, pasar akademi juga dihebohkan dengan pertandingan Everglori. Ya. Di akademi juga disediakan pasar tersendiri khusus untuk para murid dan tentunya itu gratis. Dalam hal 'khusus'.
'Sudah ku duga dia pembuat onar.'
^^^つづく^^^
...ーARIGATO FOR READINGー...
...THANKS...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Monifa Shani
Kalau tidak salah, kalian sama-sama bokek, kan? Lebih hemat untuk memasak daripada membeli makanan
2024-03-30
0