Aku duduk di lantai beralaskan karpet lembut. Meja bundar di depanku menyediakan beberapa camilan sisa. Camilan itu ku dapat dari hasil jual kembali salah satu CD Animation yang menurutku terkesan payah.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pintu terbuka. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu dia siapa karena kamar asrama ini tidak bisa dimasuki oleh orang tanpa identitas di RectaPhone.
"Lagi-lagi kau menonton hal tidak berguna seperti itu," Envy berseru kesal dengan satu tangan berkacak pinggang dan satu tangan lain menyibakkan poni rambutnya dengan gaya.
"Bagiku ini sangat penting. Dua episode lagi dan mereka akan mulai mencapai konflik utamanya," balasku tanpa menatapnya.
Envy duduk malas di sofa tempatku bersandar saat duduk di lantai. Aku sedikit meliriknya, lalu kembali pada layar dan memakan camilan ku. Beberapa menit kami terdiam tanpa bicara, membuat suasana hening dan seolah mempersilakan serangga di luar sana berbunyi.
Sampai semakin lama, tengkukku sedikit merinding. Aku menoleh mendapati tatapan Envy, "Kenapa?" tanyaku datar.
Sekilas Envy menatap aneh. Alih-alih menyembunyikannya, dia berdiri dengan wajah biasa saja, "Tidak ada. Aku pergi."
Aku menatap punggung Envy yang menjauh, keluar dari kamar asrama. Bukannya dia baru saja datang tadi? Keluar lagi dengan sikap mencurigakan seperti itu.
...***...
"Hah ... apa yang ku pikirkan?" Envy bersandar pada pintu yang baru saja ia lewati, hanya menatap ke bawah dengan perasaan campur aduk.
Beberapa waktu lalu, dua orang dari kerajaan Demonic mendatangi Envy. Ya. Dua orang suruhan Raja Demonic, ayah Envy. Bukannya menanyakan kabar atau apapun yang menyangkut Envy sendiri, ia malah mendapatkan tekanan.
Keharusan dalam kemenangan festival resmi itu harus ia dapatkan jika tidak, dia akan kehilangan orang yang ia cintai. Ya. Dia diancam lebih tepatnya.
"Pesan dari Yang Mulia Raja untuk Anda. Jika Yang Mulia Envyren Safire val Demonic tidak memenangkan festival StarLight, sebagaimana perjanjian Anda dengan Raja, maka jangan harap bisa bertemu dengan 'beliau' lagi."
Festival StarLight memiliki satu ketentuan, setelah babak pertama sebagai pemilah murid-murid yang berbakat, mereka diharuskan berpasangan untuk mencapai Tujuh Bintang.
Envy tak memiliki teman, baru ia akan bicara pada Leon saja temannya itu sudah membicarakan bagaimana jika berpasangan dengan Riana. Ingin meminta pada Mexis, tidak mungkin. Mereka tidak dekat.
Envy mengacak-acak rambutnya prustasi, lantas ia balik badan menatap pintu. Ia ragu untuk meminta Stella, di satu sisi tidak mungkin gadis itu akan menerimanya. Sisi gelap lorong asrama akibat malam dan sepi membuat suasana hati semakin menurun.
Hendak Envy kembali membuka pintu dengan meneguhkan hati, namun pintu tiba-tiba saja terbuka membuat cahaya lampu dalam kamar asrama menyinari wajah dan sekitaran Envy. Envy terperanjat, refleks mundur beberapa langkah setelah beberapa saat terpaku, "Kau?!"
Stella bersedekap tangan dengan ekspresi datar bercampur dingin, "Kenapa, kau bersikap menyebalkan seperti itu?"
...***...
Keesokan harinya, sesuai dengan arahan Profesor Egatha dan sesuai dengan peraturan baru dalam kamar asrama yang berisi, 'Siapa yang terakhir keluar dari kamar itu berarti seorang sampah masyarakat', aku berdiri berhadapan. Ya. Lagi-lagi berhadapan dengan biang kerok.
Setelah sarapan satu lembar roti dibagi dua dengannya, kini kami saling menatap penuh waspada dengan tangan mengepal ke belakang.
"Satu," Envy mulai menghitung, aku menatap datar dengan penuh kewaspadaan, "Dua," lanjutnya.
Dalam satu detik kemudian, kami melayangkan kepalan tangan itu ke depan, membentuk simbol batu, gunting, dan kertas. Envy berada di pihak gunting sedangkan aku batu.
"Agrh! Sialan!" Envy berseru prustasi dengan menjambak rambutnya sendiri. Dia mendrama dengan membenturkan jidatnya ke dinding.
Aku melangkah keluar dari kamar, melambaikan tangan tanpa memandang Envy ke belakang, "Sampai jumpa, sampah masyarakat."
"Aku akan mengalahkan mu nanti sialan," Envy berseru di belakang. Seruan hilang saat pintu tertutup.
Aku keluar dari gedung asrama dengan cepat karena beberapa menit lagi tamu itu akan datang. Saat sampai di tempat yang ditentukan, Profesor Egatha bersama dengan Profesor Terra sudah siap berdiri di pintu masuk akademi.
Namun yang membuatku tak senang adalah seorang gadis yang berada di depan mereka, terlihat masih berbincang hangat sampai ia menoleh padaku, tersenyum cerah dan melambaikan tangannya seakan kita ini dekat.
"Yang Mulia Aristella, selamat pagi."
Aku menatap datar ke arahnya, terlihat beberapa momen Profesor Egatha tersenyum puas. Dia sengaja.
"Kau hampir saja terlambat," ujar Profesor Terra dengan bersedekap tangan. Aku memandang malas mendekat pada mereka, namun dengan menjaga jarak pada gadis itu meski dia bersikeras mendekat.
"Kita dipilih oleh Profesor, ini pasti takdir. Mohon bantuannya nanti, Yang Mulia." Riana tersenyum cerah membuatku mengalihkan pandangan karena geli sendiri.
Seakan menyadari suasananya, Profesor Egatha menepuk tangan satu kali, "Baik. Lakukan yang terbaik, anak-anak. Aku mengandalkan kalian. Namun, jangan lupa satu hal, bersenang-senanglah."
'Bersenang-senang your eyes.' aku menyibakkan poni rambut dengan perasaan kesal, menatap tajam pada Profesor Egatha yang membuat ia mengalihkan pandangan.
"Oh, mereka datang. Bersiaplah."
Aku menatap ke arah gerbang yang dilewati mobil panjang berwarna hitam. Aku berdiri, ah tidak, kami berdiri berjajar di belakang Profesor Egatha. Profesor Terra berada di sampingnya sebagai pengganti Profesor Preatta yang tengah menjalankan tugas lain di dalam akademi.
Mobil itu berhenti, salah satu dari dua ksatria pengawal membuka pintu mobil dan menunduk saat seorang pria keluar dari sana. Satu ksatria lain mengarahkan sopir untuk memarkirkan mobil.
Profesor Egatha melangkah maju, berjabat tangan dengannya untuk menyambut. Mobil kedua datang, satu ksatria membukakan pintu, satu mengarahkan sopir ke tempat parkir, Profesor Egatha menyambut, dan begitu seterusnya sampai mobil ke tujuh.
"Baru saja kami datang, taman akademi yang indah sudah menyambut sampai membuat hati sejuk," ujar apresiasi dari seorang pria. Di kemejanya terdapat bros bunga mawar.
Aku pernah melihat bros itu, berpusat pada Academy Flora. Ya. Padahal mereka juga salah satu saingan berat akademi ini.
"Terimakasih, Tuan Clot. Saya senang jika Anda menyukainya," balas Profesor Egatha dengan senyuman ramah.
Pandanganku tertuju pada satu orang yang tiba-tiba saja tertawa kecil dibalik kipas. Bukan hanya aku, tapi kami semua.
"Meski indah di luar, apa Anda membiarkan saja akademi ini hanya memiliki dua ksatria pengawal? Itu bisa berbahaya untuk para murid," ujarnya terdengar remeh. Sayangnya dia berhasil membuat tamu lain mengangguk kecil.
"Saya sudah menimbangnya dan itu tidak ada masalah," balas Profesor Egatha tenang, masih dengan senyumannya.
"Bagaimana jika ada yang tiba-tiba menyerang? Apa kalian juga tidak menyediakan ksatria pengawal untuk kami bertujuh?" Pertanyaan dari orang yang sama membuat ricuh.
"Keamanan akademi ini sangat buruk."
Aku menatap mereka yang mulai berbincang dengan nada cemooh. Sungguh, apa hari ini aku harus bersama dengan mereka yang membuat geram ini? Profesor Terra saja sampai berjuang keras untuk tidak kelepasan emosinya.
"Itu tidak akan terjadi, Nyonya Freza."
^^^つづく^^^
...ーARIGATO FOR READINGー...
...THANKS...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments