Bab 4 Abimanyu

Abimanyu Dewantara, seorang pria yang sebentar lagi akan menginjak usia 30 tahun. Memiliki wajah tampan dan tinggi 180 cm, bekerja sebagai dosen di Universitas Pelita Bangsa milik keluarganya. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga itu, ia masih betah melajang. Bukan karena tak laku atau tidak ada yang menyukainya. Tapi karena luka di masa lalu membuat Abimanyu takut untuk menikah. Banyak wanita yang mengejarnya, terutama para mahasiswi di tempat ia mengajar. Namun, semua itu ia abaikan, Abi hanya fokus pada karir dan pekerjaannya untuk saat ini.

"Abi! Sini sebentar, papa mau bicara."

Abi yang baru saja sampai di rumah, harus menghentikan langkah saat mendengar papa nya memanggil. Abi pun berjalan menuju ruang keluarga, tempat papa dan mamanya berada.

"Ada apa pa? Serius banget kayaknya." Abi duduk di sofa tepat di samping kedua orang tuanya. Ia memandangi wajah mereka yang tampak serius.

Tampak pak Dewantara menarik napasnya sebelum akhirnya membuka suara. "Papa dan mama berencana mau menjodohkan kamu dengan anak sahabat papa."

Sudah Abi duga, cepat atau lambat orang tuanya pasti akan segera mencarikan calon istri untuknya. Inilah yang Abi tidak suka.

"Papa tidak ingin kamu terus terpuruk. Papa mau kamu bahagia dan mempunyai keluarga seperti sepupu-sepupu kamu."

"Kalo Abi menolak? Apa perjodohan ini bisa dibatalkan?"

"Mau sampai kapan kamu menyendiri seperti ini nak? Sudah tiga tahun berlalu, apa kamu tidak bisa membuka hati kamu untuk wanita lain?" Martha, mama Abi pun ikut bersuara. Ia tak tega melihat putra semata wayangnya itu terus terpuruk karena masa lalu.

"Bukannya Abi nggak mau, Ma. Abi cuma belum siap aja."

"Belum siap atau kamu masih mencintai perempuan itu?" tanya Martha tak suka. Sejak mantan calon menantunya itu pergi meninggalkan anaknya begitu saja, Martha sangat membenci wanita itu. Apalagi sejak Abi terus terpuruk dan melampiaskannya pada pekerjaan. Anaknya itu berubah dari Abi yang hangat dan ceria menjadi Abi yang dingin dan cuek, bahkan cenderung ketus pada wanita.

"Abi sudah melupakannya Ma. Sudah nggak ada lagi cinta untuknya. Abi menolak perjodohan karena Abi belum siap untuk menikah."

"Mau sampai kapan? Ingat Abi, sebentar lagi usia kamu sudah kepala tiga. Mama sama papa ingin melihat kamu menikah dan mempunyai anak. Kami juga ingin punya cucu."

Abi terdiam, ia tak bisa membalas perkataan mamanya. Karena menurut Abi percuma saja, toh mereka akan tetap memaksanya menikah. Walau apapun alasan yang diberikan Abi nantinya.

Untuk sesaat, tak ada lagi yang membuka suara sampai akhirnya Martha menyerahkan ponselnya pada sang anak. Abi menatap mamanya penuh tanya, seolah mengerti Martha pun meminta anaknya untuk melihat foto yang ada di ponsel tersebut.

"Ini?"

"Itu anak teman papa yang akan di jodohkan dengan kamu. Cobalah untuk bertemu dengannya, sekali saja," ucap Martha memohon.

"Ini kan ... "

...****************...

Di dalam kamarnya, Abi duduk bersandar di atas kasur. Ia memandangi selembar foto yang telah lama ia simpan. Foto dirinya bersama dengan mantan tunangannya, Alya. Sudah tiga tahun berlalu, tapi hingga saat ini Abi masih tidak tahu kenapa Alya tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka dan pergi meninggalkannya, padahal hari pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari.

Abi dan keluarganya terpaksa harus menahan malu karena pernikahannya yang batal. Ia pun menjadi bahan cibiran di lingkungan keluarga besarnya. Sudah berbagai upaya Abi coba untuk menghubungi dan mencari Alya untuk menanyakan alasan kenapa wanita itu membatalkan pernikahan secara sepihak. Namun, sampai saat ini ia tak bisa menghubungi Alya. Wanita itu menghilang begitu saja tanpa jejak. Hal inilah yang membuat Abi trauma untuk menjalin hubungan dengan wanita lain dan takut untuk menikah.

"Bagaimana kabar kamu Al? Aku harap kamu baik-baik saja, entah dimanapun kamu berada." Abi memandangi foto tersebut sambil mengelus wajah mantan tunangannya itu.

"Semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku. Jujur, aku sangat kecewa sama kamu. Tapi semua itu sudah lama berlalu dan aku juga sudah belajar untuk melupakan kamu. Tapi aku masih takut Al, aku takut untuk memulai hubungan baru. Aku takut nanti akan kecewa untuk kedua kalinya."

Abi sudah tidak lagi meneteskan airmata setiap mengingat tentang masa lalunya. Namun, rasa sakit itu masih tetap ada dan rasanya masih sama. Saat ini Abi butuh seseorang untuk diajaknya bercerita. Ia tahu siapa yang harus dihubunginya.

Abi meraih ponsel yang ada di sebelahnya lalu menghubungi seseorang.

"Halo Bi !" sapa seseorang di seberang sana setelah beberapa saat panggilannya berdering.

"Halo Vin! Lo besok ada waktu nggak? Gue pengen ketemu, ada sesuatu yang mau gue obrolin sama lo."

"Besok gue free kok, mau ketemu dimana?"

"Di tempat biasa aja jam 3 ya."

"Oke. Sampai ketemu besok."

Panggilan berakhir, Abi meletakkan ponselnya di atas nakas lalu menyimpan foto lamanya ke dalam laci. Dia segera membaringkan tubuhnya dan beristirahat.

...****************...

"Sorry ya Vin, udah nunggu lama?" tanya Abi pada sahabatnya. Alvin sudah berada di sana lebih dulu dan dia juga sudah memesankan minuman untuk mereka berdua.

"Santai, gue juga nggak terlalu lama kok nunggunya. Ini udah gue pesankan minuman buat Lo."

"Thanks." Abi langsung meneguk minumannya hingga tinggal setengah.

"Oh iya, ada apa Lo ngajak gue ketemuan?"

"Gue mau di jodohkan," jawab Abi to the point.

Mendengar jawaban Abi, Alvin terkejut sampai tersedak minumannya.

"Lo serius, Bi?"

"Ya serius lah." Abi menarik napasnya dalam.

"Kok bisa? Lo di jodohkan sama siapa?"

"Sama ... "

"Kak Alvin? Kak Alvin kan ya?" Suara seseorang menginterupsi ucapan Abi. Lelaki itu terbelalak saat melihat siapa orang tersebut.

"Aisyah!" balas Alvin terkejut, ia tak menyangka bisa bertemu kembali dengan sahabat dari sepupunya ini. "Kamu sama siapa? Duduk sini." Alvin menggeser duduknya agar Aisyah bisa duduk di sampingnya.

"Ngapain kamu di sini?" tanya Abi ketus saat Aisyah sudah duduk nyaman di kursinya.

Aisyah sangat terkejut dan tak menyangka bisa bertemu dengan dosen yang sangat di bencinya ini.

"Pak Abi!"

"Ngapain kamu di sini?" tanya Abi lagi tanpa menghiraukan keterkejutan Aisyah.

"Bapak tanya saya?"

"Nggak. Saya tanya rumput yang bergoyang, ya saya tanya kamu lah. Ngapain kamu di sini?" Untuk ketiga kalinya Abi bertanya.

"Saya mau latihan karate pak di sini," jawab Aisyah asal. Sementara Abi mengerutkan keningnya bingung. "Ya bapak kira-kira dong. Ya kali saya datang ke cafe mau nari zumba. Saya mau makan pak."

"Sendiri?" Lagi-lagi pertanyaan aneh keluar dari mulut Abi, padahal sudah jelas-jelas ia melihat Aisyah datang sendiri. Tapi kenapa masih dipertanyakan.

"Nggak pak, sama rumput yang bergoyang. Ya sendiri lah pak. Masa bapak nggak bisa lihat kalo saya datang sendirian." Aisyah sungguh sangat kesal mendengar pertanyaan dosen yang satu ini, sedangkan Alvin hanya tersenyum mendengar jawaban Aisyah yang sangat lucu menurutnya.

"Saya kan cuma nanya, jangan sensi gitu dong," balas Abi santai.

"Ya habisnya bapak ngeselin," gerutu Aisyah, sementara Abi hanya mengangkat bahunya tak peduli.

"Kalian saling kenal?" tanya Alvin tiba-tiba membuat kedua orang itu langsung saling pandang.

"Nggak!" jawab keduanya kompak.

"Kompak bener jawabnya, jodoh kayaknya nih," goda Alvin membuat Abi dan Aisyah melotot ke arahnya.

"Dih, siapa juga yang mau berjodoh sama om-om ngeselin kayak gini."

"Kamu pikir saya mau berjodoh sama kamu? Dasar cewek pembuat onar."

Aisyah melotot mendengar julukan yang dibuat Abi, ia tak suka jika dirinya disebut sebagai pembuat onar. Aisyah pun menatap tajam dosennya itu, begitu juga dengan Abi. Hawa permusuhan seolah terpancar diantara keduanya. Sementara Alvin jadi bingung dibuatnya, ia berada di posisi yang serba salah.

"Hati-hati. Dari benci bisa jadi cinta loh." Alvin kembali menggoda mereka berdua.

"Nggak Sudi!" Kompak keduanya lalu saling membuang muka.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!