Tiga hari sudah berlalu, tenggat waktu untuk menyelesaikan tugas yang diberikan pada Aisyah sebagai hukuman pun hampir habis. Besok pagi ia harus menyerahkan makalah itu pada dosennya.
Saat ini Aisyah sedang berada di dalam kamar kostnya, ia sedang fokus menyelesaikan tugas yang di berikan oleh sang dosen. Hari ini dia libur dari kerja part-time nya, dan sudah tiga jam Aisyah berada di depan laptop. Namun, makalah tersebut belum selesai juga.
"Aakh! Lama-lama gue bom juga nih si dosen killer. Ngasih hukuman nggak kira-kira, ya kali gue harus ke Palestina terus gue tanyain satu-satu masyarakat di sana. Bukannya selesai tugas gue, yang ada malah gue mokat duluan di sana kena bom Israel." Aisyah menggerutu sambil mengacak-acak rambutnya. Kepalanya sudah hampir pecah memikirnya deadline yang harus di kejar, sementara tugasnya belum selesai.
"Siapa yang mokat?" Tiba-tiba Shella datang dan bertanya membuat Aisyah terkejut.
"Lo tuh bisa gak sih, kalo datang itu gak usah ngagetin," sungut Aisyah kesal.
"Nggak bisa. Soalnya gue seneng banget bikin lo kaget."
"Sialan lo." Aisyah melempar salah satu bukunya ke arah Shella. Namun tak kena. "Ngapain lo ke kost-an gue?" Aisyah kembali fokus pada laptopnya.
"Kenapa? Nggak seneng banget kayaknya lo."
"Serah lo deh, yang penting lo jangan ganggu gue."
Setelah obrolan singkat yang lebih mirip perdebatan itu, Aisyah pun kembali fokus menyelesaikan tugas makalahnya, sedangkan Shella fokus pada drama Korea yang ia tonton di ponselnya.
...****************...
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk!"
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Abi pada setumpuk tugas para mahasiswanya. Pintu ruangannya terbuka dan menampilkan Aisyah yang menyembulkan sedikit kepalanya sambil tersenyum manis. Sementara itu, Abi kembali fokus pada pekerjaannya saat tahu siapa yang mengetuk pintu.
"Pagi pak Abi! Boleh saya masuk pak?"
"Hmm!" Abi hanya berdeham menjawab sapaan Aisyah.
"Saya mau menyerahkan tugas makalah yang kemarin," ucapnya setelah seluruh badan masuk ke dalam ruangan.
"Letakkan saja di situ," tunjuk Abi pada meja kerjanya tanpa menatap Aisyah.
Aisyah berjalan mendekati meja dan meletakkan tugasnya. Satu menit ... dua menit, Aisyah berdiri membuat Abi sedikit terganggu karenanya. Lelaki itu mendongak dan menatap heran pada mahasiswi nya tersebut.
"Ngapain kamu masih berdiri di situ?"
"Itu tugas saya nggak bapak periksa dulu, siapa tau ada yang salah."
"Nggak perlu, lagian makalah kamu itu tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah yang saya ajarkan," kata Abi dengan entengnya.
Aisyah membuka lebar mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar, dan sudah pasti hal itu membuat Aisyah geram, dia sudah mati-matian bergadang mengerjakan makalah yang tak masuk akal tersebut. Dan sekarang dosennya itu mengatakan makalah yang ia buat tak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah yang diajarkannya.
"Bapak ngerjain saya ya?" tanya nya yang mulai tersulut emosi.
"Buat apa saya ngerjain kamu."
"Terus itu," tunjuk Aisyah pada makalahnya. "Kenapa bapak suruh saya buat makalah yang tidak masuk akal seperti itu." Aisyah benar-benar kesal dibuatnya.
"Ya suka-suka saya lah. Dosennya di sini kan saya, bukan kamu."
Aisyah benar-benar tak habis pikir dengan dosen yang satu ini. Ingin rasanya ia memasukkan lelaki resek yang ada dihadapannya ini ke dalam kardus lalu mengirimkannya ke Palestina.
"Ngapain masih berdiri di situ. Keluar!"
Bukannya keluar, Aisyah malah menatap Abi dengan penuh kebencian. Kesabarannya sudah mulai menipis, setipis tisu yang di belah sepuluh.
"Mau saya tambahi lagi tugas buat kamu?" sindir Abi karena Aisyah tak kunjung pergi dari ruangannya.
"Nggak! Makasih!" Dengan sambil menghentakkan kakinya, Aisyah berjalan keluar dari ruangan Abimanyu.
...****************...
"Kamu kok jutek gitu sih muka nya? Kenapa lagi?"
"Aku tuh lagi kesel banget tau nggak sih yank," adu nya pada sang kekasih, Reno.
"Pasti sama dosen kamu itu kan?" tebak Reno tepat sasaran. Pasalnya, Reno sudah sering mendengar kekasihnya itu mengeluhkan tentang dosennya, bahkan ia sampai bosan mendengarnya. "Kamu tuh kenapa lagi sih, emang nggak bosen apa cari masalah terus sama dosen. Nggak takut kamu nanti di persulit saat mengerjakan skripsi. Dengar-dengar dia dosen pembimbing kamu kan?" Sepertinya Reno sudah mulai jengah dengan masalah yang sedang dihadapi oleh kekasihnya itu.
"Aku tuh nggak pernah cari masalah ya sama dia," ketus Aisyah. Ia tak terima jika dikatakan selalu mencari masalah dengan dosen yang menurutnya menyebalkan itu. "Dia nya aja yang sensian, suka marah-marah nggak jelas kayak emak-emak komplek yang punya anak sepuluh."
Aisyah kesal, sangat kesal. Maksud hati mengadu pada sang kekasih agar dapat di hibur. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ia jadi semakin kesal.
"Hai!" Seorang wanita cantik, berjalan menghampiri mereka berdua.
"Ngapain lo duduk di sebelah cowok gue!" hardik Aisyah. Ia tak suka melihat kedatangan Maya, musuh bebuyutannya sejak hari pertama masuk kuliah.
"Ya suka-suka gue lah mau duduk di mana, emangnya nih kantin punya bapak lo?" balas Maya memancing emosi Aisyah.
"Kalo iya emang kenapa?"
"Dih, nggak peduli juga gue. Mau gue duduk dimana ya terserah gue lah."
"Ya tapi nggak di sebelah cowok gue juga. Lagian masih banyak noh tempat duduk yang kosong." Aisyah menunjuk beberapa bangku kosong. Karena memang kondisi kantin saat ini tidak terlalu ramai.
"Baperan amat sih lo, cowok lo aja nggak masalah gue duduk di sini. Ya kan Ren?" ucapnya sambil memegang tangan Reno. Ia sengaja membuat Aisyah cemburu.
"Ish. Nggak usah pegang-pegang tangan cowok gue juga kali." Dengan kasar Aisyah melepaskan tangan Maya dari kekasihnya.
"Udah dong yank, jangan buat keributan. Malu di lihat yang lain." Reno menegur Aisyah membuat gadis itu semakin kesal.
"Yang buat keributan itu dia, jadi harusnya kamu tegur dia dong. Kamu tuh sama aja kayak pak Abi. Ngeselin tau nggak!"
Dengan perasaan kesal, Aisyah pergi meninggalkan Reno dan Maya. Reno tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya menatap kepergian kekasihnya itu. Sementara Maya, gadis itu tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat musuhnya itu kesal.
...****************...
Kekesalan yang Aisyah rasakan tak kunjung hilang, ia pun melampiaskannya dengan makan. Seperti saat ini, Aisyah mengajak Shella makan di warung bakso favoritnya. Ia memesan bakso urat, tak lupa ia tambahkan saus dan ekstra sambal.
"Itu kuah bakso apa lautan cabe sih, merah banget warnanya."
"Lo kayak nggak pernah lihat gue makan bakso aja. Lo tau sendiri kan kalo gue ini pecinta makanan pedas. Apalagi kalo lagi kesal kayak sekarang ini. Lagian nih ya, makan bakso kalo nggak pedas itu nggak nikmat, emangnya kayak Lo makan bakso tapi kuahnya bening begitu. Apa rasanya coba," tutur Aisyah panjang lebar.
"Lo nggak takut nanti perut Lo terbakar?" Shella sampai bergidik ngeri melihatnya. Aisyah yang makan pedas tapi Shella yang merasa perutnya terbakar.
"Gue cuma makan bakso, bukan menelan bara api," katanya mengabaikan kekhawatiran Shella.
"Terserah Lo deh." Sheila mengabaikan Aisyah yang tampak biasa saja menikmati bakso super pedas itu. Berbeda dengan Aisyah, Shella justru tidak suka dengan makanan pedas. Bagi Shella, makan pedas sama saja dengan menyiksa diri, dan hal itu yang paling tidak dia sukai.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments