Abi baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia merenggangkan punggungnya yang terasa pegal akibat terlalu lama duduk. Hari ini dia harus memeriksa semua tugas-tugas para mahasiswanya.
Abi memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan hingga menimbulkan bunyi 'kretek'.
"Hah! Akhirnya selesai juga," ucapnya lega sembari bersandar. Abi melirik jam tangannya, jarum pendek menunjukkan angka 4, sudah sore. Bergegas Abi membereskan meja kerjanya lalu pergi meninggalkan ruangan.
Dalam perjalanan pulang, Abi membelokkan mobilnya ke sebuah minimarket. Dia ingin membeli beberapa keperluan pribadinya yang sudah habis. Setelah mendapatkan semua yang dia butuhkan, Abi berjalan menuju kasir lalu membayar barang belanjaannya.
Abi berjalan menuju parkiran. Namun, tiba-tiba Abi teringat kalau tadi dia sempat membeli es krim. Abi berpikir untuk memakannya sekarang, takut es krim nya mencair jika harus menunggu sampai di rumah.
Abi pun memutar langkahnya menuju taman yang tak jauh dari minimarket tersebut. Kepalanya celingukan mencari tempat duduk yang nyaman. Saat sedang mencari, tak sengaja matanya menangkap sosok yang sangat di kenal nya.
"Itu bukannya Alvin ya," gumamnya sambil terus memandangi sosok tersebut. "Tapi sama siapa dia?"
Demi menghilangkan rasa penasarannya, berjalan menghampiri sahabatnya tersebut. Saat jaraknya sudah dekat, barulah dapat Abi lihat dengan jelas siapa orang yang sedang bersama Alvin.
"Gimana skripsi nya mau selesai kalau kerjanya pacaran terus. Mana pake pelukan segala lagi di tempat umum," gerutu Abi seperti orang yang sedang cemburu.
"Vin!" sapa Abi membuat dua orang yang sedang berpelukan itu memisahkan diri.
Aisyah yang melihat kedatangan Abi langsung menyeka air matanya. Dia tidak mau terlihat begitu menyedihkan di depan dosennya itu. Aisyah takut Abi akan mengolok-oloknya jika tahu kalau dirinya menangis.
"Eh, Bi. Kok Lo bisa ada di sini?" tanya Alvin sambil melirik Aisyah yang sedang menundukkan kepala.
"Kebetulan aja lagi lewat, terus nggak sengaja gue lihat kalian lagi pacaran," sindir Abi dengan tatapan yang tak lepas dari Aisyah.
Merasa tersindir, Aisyah menegakkan kepalanya lalu menatap Abi. Tak terima dirinya di tuduh seperti itu.
"Siapa yang pacaran? Bapak kalo nggak tau apa-apa nggak usah asal nuduh ya," protes Aisyah tak terima.
"Kalo nggak pacaran kenapa peluk-pelukan begitu?"
"Memangnya kenapa? Bapak cemburu? Nggak terima kalo saya di peluk sama kak Alvin?"
Ucapan Aisyah membuat Abi melongo tak percaya. Apa tadi katanya, 'cemburu?' Dirinya cemburu sama cewek seperti Aisyah? Oh tidak. Tentu saja itu tidak benar. Tapi ...
"Aisyah benar Bi, kita nggak seperti yang Lo pikirkan," ucap Alvin mencoba menengahi.
"Kalo iya pun juga nggak apa-apa, bukan urusan gue juga."
Aisyah menatap tak suka pada dosennya itu, suasana hatinya yang tadi sudah membaik kini kembali kesal. Napasnya terengah-engah menahan marah.
"Aku pulang aja deh kak. Malas lama-lama di sini, apalagi ada orang sok tau kayak teman kakak ini," sindir Aisyah dan langsung berlalu meninggalkan dua lelaki tampan itu.
...****************...
"Kenapa tuh bocah?" tanya Abi sambil melihat kepergian Aisyah.
"Biasalah, anak muda."
"Putus cinta?" tebak Abi yang di angguki oleh Alvin. "Cih, bilangnya sibuk kerja. Tapi nyata nya emang sibuk pacaran." Abi terus menggerutu seperti orang yang sedang cemburu.
"Kenapa? Lo cemburu?"
Abi memutar bola matanya malas mendengar tuduhan dari Alvin.
"Ngapain juga gue cemburu."
"Kalo iya juga nggak apa-apa kok. Lagian Aisyah itu anaknya baik, periang dan lucu sih kalo menurut gue dan cantik lagi. Tipe Lo banget pokoknya."
Abi melotot mendengar ucapan Alvin, bisa-bisanya sahabatnya itu berkata kalau Aisyah adalah tipe cewek idamannya.
"Lo udah kenal lama sama dia?" tanya Abi mengalihkan pembicaraan.
"Nggak terlalu lama sih, pertama kali ketemu sama dia itu pas dia lagi butuh bantuan. Waktu itu motornya mogok dan dia lagi buru-buru karena harus masuk kuliah."
"Kenapa bisa jadi Lo yang nolongin dia?"
Alvin mengerutkan kening mendengar pertanyaan sahabatnya ini. Entah kenapa Alvin merasa jika Abi memiliki perasaan pada Aisyah. Hanya saja sahabatnya ini tidak mau mengakuinya.
"Sepupu gue yang minta tolong," jawab Alvin akhirnya.
"Sepupu lo?" Abi mengingat-ingat siapa sepupu yang dimaksud oleh Abi.
"Masa lo lupa sih, sepupu gue itu ya si Shella. Sahabatnya Aisyah."
"Oh."
Abi lupa kalau tujuannya ke taman adalah untuk menikmati es krim rasa vanila yang dia beli tadi. Sesaat Abi sempat lupa, buru-buru ia segera mengeluarkan es krim tersebut dari kantong plastik belanjaannya tadi sebelum es krim nya itu benar-benar mencair.
"Lo masih suka makan es krim?" tanya Alvin yang merasa heran melihat sahabatnya itu sangat menyukai kudapan manis yang terbuat dari susu itu.
"Emang kenapa? Es krim enak kok. Lo mau?" Abi menawarkan es krim lain yang ia beli tadi.
"Nggak, makasih. Gue nggak suka es krim," tolak Alvin.
Sementara Abi hanya mengangkat bahunya tak peduli. Ia sibuk menikmati es krim nya sampai habis.
...****************...
Sepulang dari taman tadi Aisyah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya terasa berat dan mengantuk akibat ia kebanyakan menangis. Tak terasa Aisyah tertidur sampai langit sudah gelap.
Aisyah mengucek matanya lalu menatap jam dinding, jarum pendeknya menunjuk angka 7.
"Udah malam ternyata," gumamnya.
Perlahan Aisyah bangkit lalu berjalan sempoyongan menuju jendela. Ia menutup jendela kamarnya lalu kembali ke kasur. Matanya masih mengantuk, tapi sepertinya perutnya tidak bisa di ajak kerja sama.
Bunyi 'krucuk' membuat Aisyah bangkit kembali. Ia duduk di kasurnya dengan mata yang masih terpejam. Dengan terpaksa Aisyah membuka matanya walau hanya segaris. Dengan sisa-sisa kesadaran yang ada Aisyah berjalan menuju ke kamar mandi.
Aisyah menghabiskan waktu sepuluh menit untuk membersihkan diri. Ia keluar dengan tampilan yang lebih segar dari sebelumnya. Kemudian Aisyah mengambil dompet dan memutuskan untuk keluar mencari makanan.
Sebuah cafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya menjadi pilihan Aisyah untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi. Ketika sampai di depan pintu cafe, Aisyah di sambut ramah oleh salah satu karyawan yang bertugas untuk menyambut tamu. Begitu juga dengan pelanggan lainnya.
Aisyah masuk dan mencari tempat duduk paling nyaman. Saat kepalanya celingukan, tanpa sengaja sudut matanya menangkap sepasang manusia yang duduk berdua di tempat paling sudut sambil berpegangan tangan.
Tanpa di komando kakinya melangkah menuju dua orang tersebut.
"Oh. Jadi ini alasan kamu nggak pernah ada kabar selama ini? Kamu selingkuh sama dia?"
Dua orang yang sedang asyik dengan dunia nya sendiri itu terkejut melihat kedatangan Aisyah yang begitu tiba-tiba.
"Aisyah!" Reno terkejut melihat Aisyah yang memergoki dirinya bersama Maya. "Kamu ngapain di sini?"
"Kenapa emangnya? Kalo aku nggak ke sini, aku nggak akan pernah tau kelakuan busuk kamu ini."
Reno tampak ketakutan, sedangkan Maya hanya duduk santai memperhatikan pertengkaran Aisyah dan Reno. Gadis itu tersenyum puas karena sudah berhasil merebut Reno dari saingannya itu.
"Sayang. Aku bisa jelasin semuanya." Reno bangkit dan berusaha untuk menggapai tangan Aisyah. Namun, dengan cepat Aisyah menghindar.
"Jangan pernah panggil gue sayang dengan mulut kotor lo itu," geram Aisyah yang sudah tidak lagi memakai kata 'aku-kamu'.
"Reno itu udah nggak sayang lagi sama lo makanya dia pacaran sama gue," celetuk Maya membuat Aisyah semakin geram.
"Gue nggak ngomong sama ulat bulu ya. Jadi mending lo diam aja."
"Apa maksud Lo ngatain gue kayak gitu." Maya tak terima dikatakan 'ulat bulu' oleh Aisyah.
"Emang benar kan, lo itu sama kayak ulat bulu. Gatal!" Aisyah tersenyum miring dan puas karena berhasil membalas Maya.
"Lo!" Maya yang sudah kesal pun berdiri dan bersiap untuk menyakiti Aisyah. Namun, Reno bergerak dengan cepat dan berhasil menghalau Maya.
"Udah dong May, malu dilihat orang," ucap Reno berharap Maya mau dibujuk. Tapi, Maya tetaplah Maya. Dia paling tidak suka jika dikalahkan oleh Aisyah.
"Kamu kenapa bela'in dia sih, yang pacar kamu itu aku bukan dia." Maya menatap Aisyah dengan tatapan penuh kebencian. "Dan lo, mulai sekarang Reno itu cowok gue. Jadi Lo jangan dekat-dekat sama cowok gue," ucapnya memperingati Aisyah.
"Terserah. Gue nggak peduli," balas Aisyah acuh. Ia menatap remeh pada ke dua pasangan tersebut, tangannya terlipat di depan dada. "Kalo gue lihat-lihat kalian itu ternyata cocok juga ya."
"Baru tau lo," ucap Maya dengan bangganya.
Aisyah menunjuk Reno dan Maya bergantian sembari berucap, "sampah cocoknya sama tempat sampah."
"Apa lo bilang!" Napas Maya terengah-engah karena emosi yang hampir meledak. Ia tak terima dirinya di hina seperti itu.
"Udah May." Reno kembali menghalau Maya saat gadis itu ingin mendekati Aisyah.
"Syah, please. Kamu pergi dulu ya, biarkan aku tenangkan Maya dulu."
Aisyah memutar bola matanya malas, dia muak dengan laki-laki yang pernah ia bela mati-matian sampai dirinya harus pergi dari rumah.
"Lo tenangin aja tuh buaya betina, dan mulai hari ini kita putus!" ucap Aisyah puas dan berbalik meninggalkan cafe tersebut.
Namun, baru dua langkah Aisyah berhenti dan berbalik. Dia menatap Maya dengan senyum manisnya.
"Oh iya, ada yang lupa gue bilang. Makasih karena Lo udah mungut sampah gue. Sampah yang tidak ada harganya sama sekali."
"Bye!"
Aisyah melambaikan tangannya lalu ia pun pergi dari cafe tersebut.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments