Jian Yi dan kelompoknya melanjutkan perjalanan menyusuri padang pasir yang luas. Tiba-tiba, pasir di sekitarnya mulai menurun seperti pasir isap. Mungkin ini adalah pertanda bahwa mereka mendekati area yang lebih berbahaya atau memiliki keanehan tersendiri. Mereka harus tetap waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan di hadapan mereka.
Kalajengking besar muncul di hadapan mereka, mengguncang tanah dengan kehadirannya yang mengesankan. Jian Yi dan Muyinci, bersama kelompoknya, bersiap menghadapinya. Muyinci mengungkapkan ketidakpastian, "Ini mustahil, kalajengking ini sangat mengerikan, bahkan ekornya bercabang tiga. Apakah kita bisa mengalahkannya?"
Jian Yi, tanpa ragu, menjawab, "Kita harus mencoba. Bersatu dan berpikir taktis. Setiap bagian dari kalajengking ini memiliki kelemahan, dan kita harus mengeksploitasinya."
Mereka membentuk strategi, mencari peluang untuk menyerang bagian yang paling rentan. Sementara kalajengking mengamuk, mereka berusaha memahami gerakan dan pola serangannya. Keberanian mereka diuji, dan semangat pertarungan pun berkobar dalam diri masing-masing.
Lapisan pasir yang menyelimuti sekitar mereka menjadi saksi bisu dari konfrontasi epik ini di tengah padang pasir yang mempesona namun berbahaya.
Mereka bersiap menghadapi kalajengking, namun tiba-tiba monster itu masuk kembali ke dalam tanah. Jian Yi, dengan naluri tajamnya, merasa adanya serangan yang akan datang. Ia memberitahukan kepada yang lain untuk berhati-hati, dan tiba-tiba saja kalajengking itu meluncur dari dalam tanah tepat di bawah mereka. Untungnya, mereka sigap dan berhasil melompat ke atas, menghindari serangan mendadak yang dapat mengancam keselamatan mereka. Kecepatan reaksi dan kewaspadaan Jian Yi dan kelompoknya kembali menjadi kunci dalam menghadapi ancaman yang datang tiba-tiba.
Seketika Sua mengeluarkan palu gada besarnya dan dengan penuh keberanian, menghantam kalajengking itu. Namun, dampak hantaman itu membuatnya terpental jauh karena kulit kalajengking yang keras. Sua merasa kesakitan akibat pentalan hantamannya, tetapi tekadnya tidak goyah.
Muyinci, menyaksikan insiden itu, segera mengeluarkan sihir terkuatnya, Kristal Bostom, yaitu kristal es yang tajam. Dengan kemahiran sihirnya, dia mengarahkan serangan tersebut untuk menghujani kalajengking itu bertubi-tubi. Kristal es tajam menusuk kulit kalajengking, menciptakan efek membeku yang memperlambat gerakannya.
Saat itu, Jian Yi melihat celah dalam perlindungan kalajengking. Dengan kecepatan kilat, ia meluncur ke arah serangan dan membidik titik lemah yang baru ditemukan. Pedang Voer Hitamnya bersinar, memotong bagian yang terbuka dengan presisi yang memukau.
Taktik kombinasi ini membuka peluang bagi kelompok tersebut, meskipun kalajengking itu masih berusaha mengatasi serangan mereka dengan kegigihan dan keberanian mereka diuji dalam pertempuran yang semakin intens.
Pertarungan masih berlanjut, dan kecepatan Jian Yi menjadi kunci dalam menghindari serangan kalajengking. Dengan menggunakan skill fleksibilitasnya dan mengayunkan pedang Voer dengan penuh keahlian, Jian Yi berusaha mengatasi kekuatan besar dan pertahanan hebat kalajengking tersebut. Meskipun telah menemukan titik lemah, namun pertempuran masih berlangsung sengit, dan kalajengking itu menunjukkan ketangguhannya yang luar biasa.
Saat yang mendebarkan terjadi ketika kalajengking itu melancarkan serangan balik yang sangat cepat. Sua, yang sebelumnya terpental, dengan sigap melompat ke depan dan dengan gada besarnya, berhasil memblokir serangan tersebut. Namun, kalajengking itu kembali mencoba menyesuaikan diri dan mengubah strateginya, membuat pertarungan semakin rumit.
Muyinci, melihat kondisi tersebut, mulai menggabungkan sihirnya dengan lebih kompleks. Ia menciptakan formasi sihir yang memperlambat gerakan kalajengking, memberikan kesempatan bagi Jian Yi dan yang lainnya untuk mengeksploitasi titik lemah yang ditemukan sebelumnya.
Pertarungan yang tak terduga ini membuat kelompok Jian Yi harus terus beradaptasi dan bersinergi untuk mengatasi tantangan yang semakin meningkat. Kekuatan dan kelemahan masing-masing anggota kelompok menjadi kunci untuk mengubah dinamika pertarungan dan mencapai kemenangan.
Futya segera mengeluarkan sihir penyembuhan, membentuk energi penyembuh yang merata di antara mereka yang sedang bertarung. Bursa, dengan tangannya yang mahir, memberikan penambah energi melalui keahliannya di bidang dukungan.
Nick, dengan kepercayaan dirinya dalam membuka pertahanan perisai, memfokuskan energinya untuk menjaga kelompok. Namun, sayangnya, perisai itu tidak cukup kuat dan pecah ketika kalajengking melancarkan serangan berbahaya. Ekor racun kalajengking itu menembus tubuh Nick, menyebabkan rasa sakit yang mendalam.
Mereka semua berseru ketika melihat Nick terkena serangan tersebut. Futya segera meninggalkan sihir penyembuhan, mencoba mengatasi dampak racun yang menyebar di tubuh Nick. Muyinci dan Sua, dengan penuh tekad, kembali melancarkan serangan intens untuk mengalihkan perhatian kalajengking dari Nick.
Situasi ini menjadi sangat kritis, dan ketahanan kelompok Jian Yi diuji secara ekstrem. Keberanian mereka untuk melanjutkan pertarungan tetap terpancar meski mereka harus menghadapi cobaan yang lebih besar dan berbahaya.
Futya berusaha dengan segenap kemampuannya menyembuhkan luka-luka Nick, namun sayangnya, lukanya terlalu parah, melubangi tubuhnya dengan dalam. Wajah Futya yang penuh kesedihan menjadi saksi bisu akan keputusasaan dalam usahanya untuk menyelamatkan rekan setimnya.
Nick, meskipun terluka parah, masih tetap tenang dan memberikan pesan terakhir kepada mereka. Dengan suara yang lemah, dia menitipkan pesan agar mereka membawanya pulang dan menguburkannya di samping pusara orang tuanya. Pesan terakhir Nick menggema di antara mereka, menyiratkan kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi takdir.
Sementara Futya meratapi kegagalan penyembuhannya, yang lainnya merasakan kehilangan yang mendalam. Sua, Muyinci, dan Busra, terpukul oleh kepergian seorang teman. Namun, JIAN YI, dengan tatapan dinginnya, menyimpan kesedihan dalam dirinya, menyimpannya sebagai bahan bakar untuk melanjutkan pertempuran yang masih berlangsung.
Situasi ini menjadi momen suram dalam perjalanan kelompok Jian Yi. Keputusan untuk melanjutkan pertarungan demi menghormati Nick dan melindungi dunia dari ancaman kalajengking menjadi perjuangan batin yang berat. Mereka melanjutkan pertempuran dengan semangat yang didorong oleh kenangan Nick dan tekad untuk menyelesaikan misi yang telah diberikan.
Dalam keputusasaan mereka, menghadapi monster kalajengking dengan penuh emosi, Futya merasakan gelombang kesedihan yang mendalam. Nick bukan hanya rekan satu tim, tapi juga sahabat kecilnya. Dalam momen tersebut, Futya merasa bahwa kehilangan ini adalah bagian dari dirinya yang tercabut.
Dengan penuh emosi, Futya mulai membentuk energi yang tidak biasa, sebuah energi yang mencerminkan kesedihan mendalam yang terpancar dari hatinya. Energi ini membentang di antara mereka, menjadi semacam barier spiritual yang melibatkan kenangan terang Nick. Cahaya yang memancar dari energi kesedihan itu membentuk siluet lembut yang mengingatkan mereka akan kehadiran dan kebaikan hati Nick.
Futya, meskipun masih terhanyut oleh kesedihan, mengarahkan energi ini ke arah kalajengking. Ada kekuatan emosional yang terpancar dari setiap serangan yang dilancarkan oleh kelompok Jian Yi. Kalajengking itu, seakan merasakan getaran kekuatan emosional itu, tampaknya merespon dengan kebingungan, memberi peluang bagi kelompok Jian Yi untuk kembali menyerang.
Mereka menyadari bahwa meskipun Nick telah pergi, semangatnya dan kenangan indah bersama akan terus hidup dalam hati mereka. Dengan memanfaatkan energi kesedihan yang diciptakan Futya, kelompok Jian Yi melanjutkan pertempuran, memimpin dengan tekad dan semangat yang diperbarui untuk menghormati Nick dan melindungi dunia mereka.
Momen itu menjadi momen kebangkitan bagi kelompok Jian Yi. Jian Yi, menyadari potensi kekuatan dalam persatuan, menambahkan energi hitamnya ke dalam energi kesedihan yang dibentuk oleh Futya. Seiring dengan itu, yang lainnya juga ikut menggabungkan kekuatan mereka, menciptakan gelombang energi yang semakin kuat.
Dalam kebersamaan yang penuh kepercayaan, Jian Yi melangkah maju dan mengambil langkah-langkah taktis yang matang. Dengan pedang Voer yang ditariknya, ia menciptakan penyatuan energi dengan pedang legendarisnya tersebut. Cahaya pelangi yang memancar dari perpaduan energi ini menyala, membentuk aura keindahan yang mempesona.
Jian Yi, seolah menjadi perpanjangan dari pedangnya, melancarkan serangan dahsyat ke arah kalajengking. Energi yang dikumpulkan dari setiap anggota kelompok meledak dengan kekuatan yang luar biasa. Serangan itu, bagaikan ledakan cahaya pelangi, menghantam kalajengking dengan kekuatan yang begitu besar sehingga membuatnya tak berdaya.
Kalajengking itu, yang sebelumnya begitu tangguh, akhirnya tunduk di hadapan kekuatan persatuan kelompok Jian Yi. Monster raksasa itu tergeletak tak berdaya, dan keheningan meliputi padang pasir setelah pertempuran yang melelahkan. Mereka berhasil menaklukkan ancaman tersebut, meskipun kehilangan yang dirasakan akibat kepergian Nick masih membekas dalam hati mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments