Celine tiba di Jakarta dengan perasaan yang bercampur aduk setelah pekerjaan menjadi mediator proyek selesai, Beberapa hari berlalu, dia merasa perlu untuk berbicara dengan seseorang yang bisa dipercayai. Soraya, sahabat dekatnya dan asisten pribadinya, selalu menjadi pendengar yang baik.
Celine duduk di teras rumahnya, berbagi semua yang telah terjadi di Lombok dengan soraya."Soraya," ucap Celine dengan suara yang bergetar, "aku merasa sangat bingung. Aku tahu aku harus menjalankan peran ini sebagai mediator, tapi..."
Soraya mendengarkan dengan penuh perhatian. Celine menceritakan detail tentang apa yang terjadi di Lombok, bagaimana dia merasa sebelum, selama, dan setelah kejadian tersebut. Soraya yang bijaksana hanya mendengarkan tanpa menghakimi.
Ketika Celine selesai bercerita, Soraya mengangguk perlahan dan berkata, "Celine, apa yang telah terjadi memang rumit, tapi kamu harus tahu bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Pertama, cobalah merenung tentang bagaimana perasaanmu terhadap peran ini. Apakah ini benar-benar sesuai dengan prinsip dan integritasmu?"
Celine merenung sejenak dan menjawab, "Aku tidak yakin, Soraya. Aku merasa tertekan oleh ekspektasi dan tuntutan dari semua pihak."Soraya tersenyum lembut, "Mungkin saatnya kamu merenung tentang apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidupmu, apa yang benar menurutmu, bukan hanya apa yang diinginkan oleh orang lain."
Sementara di tingkat kementerian, proyek yang ditenderkan segera diumumkan, kontraktor dan pengusaha Pak Ananta dinyatakan sebagai pemenang, dan progresnya mulai berjalan baik. Dalam satu minggu kedepan, mereka berencana untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana dan mengundang Celine untuk kembali terlibat, untuk menyelesaikan komitmen dengan Herry.
Celine menyusun strategi untuk mengelola beban kerjanya. Dia mempertimbangkan untuk membentuk tim yang efisien dan mendistribusikan tanggung jawab dengan bijak. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan yang dirasakannya.
Dengan langkah-langkah ini, Celine berharap dapat merestrukturisasi dinamika proyek, mengatasi tantangan yang muncul, dan mengembalikan kendali dalam mengelola proyek yang semakin kompleks ini.
Pada suatu hari, dia memutuskan untuk bertemu dengan Ananta, untuk membahas situasi ini.
Mereka duduk bersama di ruang kerja Celine, dan Celine dengan tegas mengungkapkan perasaannya.
"Pak Ananta," ucap Celine dengan mantap,
"saya merasa bahwa saya tidak bisa lagi menjalankan peran mediator dalam proyek mendatang,
Tekanan dari semua pihak dan konsekuensi moralnya terlalu besar bagi saya, dan ada rencana fashion week di New York juga syuting yang menyita waktu saya dalam beberapa bulan kedepan." Ujar celine
Ananta mendengarkan dengan serius, lalu menjawab,
"Celine, saya mengerti bahwa ini adalah situasi yang sulit. Bagaimanapun juga, kami perlu menyelesaikan proyek ini dengan baik. Bagaimana jika kami membayar komisi penuh kepada Anda sebagai kompensasi?"
Celine merenung sejenak, kemudian setuju. "Baik, saya setuju dengan tawaran ini. Tapi saya ingin tahu bahwa proyek ini akan dijalankan dengan integritas dan sesuai aturan."
Ananta mengangguk setuju, "Saya akan memastikan semuanya berjalan dengan baik. Terima kasih atas kontribusi Anda, Celine."
Setelah pembicaraan ini, Celine merasa lega karena dia telah mengambil langkah untuk menghentikan peran yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsipnya. Meskipun dia menerima kompensasi penuh, dia juga merasa bahwa dia telah mempertahankan integritasnya.
Setelah beberapa minggu kemudian sutradara terkenal menghubungi Celine dan menawarkan peran film Horor yang diproduseri oleh Tino Noer, seorang produser kelas dunia yang sering bepergian ke Indonesia
Tawaran dari Herman, sutradara terkenal untuk peran dalam film horor yang diproduksi oleh Tino Noer adalah suatu kesempatan yang sangat menarik bagi Celine. Ini merupakan langkah besar dalam kariernya sebagai seorang aktris dan model. Celine merasa senang karena dia akan berkolaborasi dengan sutradara berpengalaman dan produser internasional.
Herman adalah seorang sutradara yang memiliki reputasi tegas dan berprinsip keras. Ia dikenal sebagai pembuat film yang tak mentolerir kelalaian atau ketidak profesionalan dalam pekerjaannya. Sifat tegasnya dan zero toleransi dalam hal ini telah memengaruhi banyak aktor dan aktris yang bekerja dengannya.
Meskipun tak jarang bahwa sutradara dengan prinsip keras seperti Herman dapat membuat aktor atau aktris merasa terintimidasi, namun pada saat yang bersamaan, pendekatan ini juga membantu menciptakan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Herman adalah tipe sutradara yang tak peduli dengan sejauh mana seorang aktor atau aktris telah mencapai ketenaran atau terkenal, dia akan tetap menuntut yang terbaik dari mereka.Dalam kasus Celine, Herman adalah sutradara pertama yang memberikan kesempatan padanya dan menjadikannya bintang.
Dengan tangan dingin Herman, Celine telah tumbuh dari seorang pemula menjadi seorang bintang sukses. Tentunya, hubungan kerja mereka telah memperkuat dan menandai langkah awal kesuksesan Celine di dunia perfilman.Jadi, Herman bukan hanya seorang sutradara tegas, tetapi juga seorang yang berkomitmen untuk menghasilkan karya berkualitas dan membimbing bakat-bakat muda menjadi bintang dalam industri film.
Herman sebagai Sutradara, menjelaskan bahwa film ini akan memiliki cerita yang mendalam dengan elemen horor yang kuat, dan perannya akan menjadi karakter utama dalam film tersebut. Tino Noer, produser kelas dunia, juga memberikan dorongan tambahan, karena reputasi Tino Noer dan jaringannya dalam industri film bisa membuka banyak peluang untuk Celine.
Celine merenung tentang tawaran tersebut, dan dia menyadari bahwa ini adalah peluang yang jarang datang. Namun, dia juga tahu bahwa komitmen untuk peran dalam film akan membutuhkan waktu dan usaha yang besar. Dia harus memutuskan apakah dia siap untuk mengambil tantangan ini, meninggalkan semua peran kencan dan bisnis lainnya, dan sepenuhnya fokus pada dunia film.
Pertimbangan Celine tentang tawaran ini menciptakan ketegangan emosional dalam dirinya. Dia harus mempertimbangkan dampaknya pada karier dan kehidupan pribadinya. Namun, dorongan untuk terlibat dalam proyek film yang besar dan ambisius sangat kuat.
Setelah menerima tawaran peran dalam film horor yang diproduksi oleh Tino Noer, Celine merasa begitu senang dan bersemangat. Namun, dia juga menyadari bahwa dia memiliki komitmen yang sudah ada untuk New York Fashion Week. Sebagai seorang profesional, Celine tahu betapa pentingnya menjalankan kontrak yang sudah ada, terutama dalam industri yang begitu kompetitif seperti dunia fashion.
Celine menghubungi sutradara Herman untuk membahas situasinya. Dia menjelaskan bahwa dia akan menerima tawaran ini, tetapi dia perlu menyelesaikan komitmen terlebih dahulu di New York Fashion Week. Herman, sutradara film, dengan pengertian setuju untuk menunggu dan mengirimkan kontrak dalam waktu 3 hari.
"Terima kasih banyak, Pak Herman. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini dan semua yang Anda ajarkan kepada saya."
Herman: "Anda bekerja keras dan memiliki bakat yang luar biasa, Celine. Saya yakin Anda akan sukses di dunia fashion dan film horor ini merupakan genre baru untukmu."
Celine: "Saya akan memberikan yang terbaik, Pak Herman. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
Herman: "Saya tahu Anda tidak akan melewatkan ini, bacalah naskahnya, Segera setelah Anda selesai dengan New York Fashion Week, kita akan mulai persiapan untuk film ini. Anda harus siap bekerja keras."
Celine: "Saya siap, Pak Herman. Ini adalah impian saya, dan saya akan berusaha sekeras mungkin."
Herman: "Saya tahu Anda akan melakukannya. Percayalah pada diri Anda sendiri, dan Anda akan mencapai segalanya."
Celine: "Terima kasih atas dorongan dan kepercayaannya, Pak Herman. Saya tak sabar untuk memulai proyek ini."
Pada tahap ini, Celine telah berhasil mengamankan peran dalam film yang diimpikannya sebagai pengalaman baru di genre horor, sambil juga tetap mematuhi komitmen yang sudah ada dalam karier modelingnya. Ini mencerminkan profesionalisme dan dedikasi Celine terhadap pekerjaannya.
Herman mengusulkan agar Celine bertemu dengan Tino Noer, produser ternama yang menggarap film horor tersebut. Secara kebetulan, Tino tinggal di New York saat ini, dan Herman berpikir bahwa pertemuan awal ini akan sangat bermanfaat.
Celine setuju dengan usulan Herman, dan Herman mengatur pertemuan tersebut. Mereka sepakat untuk bertemu di Manhattan, New York, sehari sebelum peragaan New York Fashion Week dimulai.
Tempat pertemuan yang dipilih adalah Hudson Park, di lantai 100 gedung pencakar langit ikonik, yang menawarkan pemandangan spektakuler kota New York.
Celine segera berangkat ke New York setelah pertemuan penting dengan Herman, Perasaannya campur aduk, antara gugup dan bersemangat karena menantikan peragaan New York Fashion Week serta tawaran peran dalam film horor yang menarik.
Penerbangan menuju New York merupakan perjalanan panjang, namun Celine telah terbiasa dengan perjalanan jarak jauh. Dia tiba di Bandara Internasional John F. Kennedy di tengah sorotan lampu yang menyambut kedatangannya di kota yang tak pernah tidur ini.
New York adalah salah satu pusat mode dan hiburan terbesar di dunia, dan Celine merasa terinspirasi oleh atmosfernya.
Setelah tiba di New York, Celine segera mengatur akomodasi di salah satu hotel mewah di pusat kota. Hotel ini akan menjadi tempat tinggalnya selama New York Fashion Week. Kamar hotel yang nyaman memberinya kesempatan untuk bersantai sejenak sebelum acara-acara sibuk dimulai.
Celine memanfaatkan waktunya di New York untuk berlatih dan mempersiapkan diri untuk peragaan busana yang akan diikutinya. Dia juga melakukan fitting pakaian yang akan dipakainya di panggung. Acara-acara pra-Fashion Week diadakan di berbagai tempat di kota, dan Celine harus berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk menghadiri pertemuan, latihan, dan pemotretan.
New York Fashion Week adalah salah satu acara paling prestisius di dunia mode. Celine tahu bahwa penampilannya di sana akan menjadi peluang besar untuk mengukir namanya di dunia mode internasional. Dia merasa bersemangat dan siap menghadapi tantangan yang ada.Celine juga memanfaatkan waktu luangnya untuk menjelajahi beberapa tempat ikonik di New York, seperti Times Square, Central Park, dan Broadway, dulu dia pernah berkunjung dan sangat terkesan, kini kesan itu akan diulang setelah pekerjaannya selesai.
Karena terpesona oleh pesona kota ini, yang begitu berbeda dengan lingkungan di mana dia biasa berada.Kehidupan sibuk dan gebrakan mode New York mulai merasuki Celine, dan dia tak sabar menantikan peragaan New York Fashion Week yang akan segera dimulai. Perjalanan ini adalah salah satu langkah penting dalam karirnya, dan dia bertekad untuk memberikan penampilan terbaiknya di sana, di sela-sela waktunya dia menyempatkan untuk bertemu dengan Tino,
Celine sangat gugup menjelang pertemuan ini. Dia menyadari bahwa Tino Noer adalah produser kelas dunia dengan portofolio yang mengesankan. Pertemuan ini adalah peluang besar, dan Celine ingin memberikan kesan yang kuat.
Ketika hari pertemuan tiba, Celine tiba di Hudson Park dengan berdebar-debar. Dia melihat Tino sedang menunggu di bawah langit biru cerah kota New York. Tino adalah seorang pria berusia pertengahan 50-an, berpakaian rapi dan berwibawa.
Celine merasa kagum dengan karisma dan aura profesional yang memancar dari Tino.Mereka berdua saling menyapa dengan hormat dan memulai percakapan. Tino mengungkapkan kekagumannya pada karya Celine di dunia modeling dan mengekspresikan ketertarikannya untuk melibatkannya dalam proyek film horor yang sedang dipersiapkan.
Celine dan Tino mulai membahas naskah film, karakter yang akan diperankannya, serta konsep dan visi film tersebut. Celine merasa semakin terlibat dalam percakapan ini dan semakin yakin bahwa proyek ini adalah langkah yang tepat dalam karirnya.
Pertemuan berlangsung cukup lama, hingga matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit. Mereka berdua meninggalkan Hudson Park dengan rasa optimisme dan semangat.
Celine merasa bahwa dia telah menemukan peluang besar dalam film ini dan berharap dapat memberikan penampilan terbaiknya.
Pertemuan dengan Tino Noer adalah awal dari perjalanan baru Celine dalam dunia perfilman bergenre Horor, dan dia tidak sabar untuk memulai proyek ini setelah menyelesaikan komitmennya di New York Fashion Week.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments