🌹Voteeee sebelum membaca yaaa ghaisss🌹
🌹Follow juga igeh emak : @Redlily123🌹
🌹Jangan lupa baca Stuck with an Arrogant CEO🌹
Ini adalah Novel Romantis Komedi. Jadi akan ada saatnya keromantisan atau humor humor yang mendominasi. Namun meski ini novel romantic komedi, pasti akan ada konflik yang menguras air mata.
Dan terima kasih kepada para pembaca setia yang selalu memberikan support dan masukan masukan.
Terima kasih telah membaca karya receh ini.
Ini adalah buku ke-2 dari series David- Sebastian – Luke. Jadi ada tiga sahabat yang mengalami kisah cinta yang berbeda beda.
Maka dari itu, saya sangat menyarankan alias memerintahkan kalian membaca :
STUCK WITH AN ARROGANT CEO.
Jadi kalian bisa tahu bagaimana asal usul persahabatan mereka, dan sifat Sebastian yang jahil. Di sana juga ada awal mula pertemuan Nana si gadis kampong yang melempar Sebastian dengan sandal saat dia menggodanya.
Bagaimana cara membacanya? Tinggal klik profil RED LILY alias saya sendiri kemudian cari judul ini.
Selamat membaca.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nana menatap khawatir pada pria yang sekarang terbaring di atas ranjangnya, keningnya mengeluarkan darah. Bagaimana tidak, spontan Nana melemparkan vas bunga kaca itu.
Eve dan Hans datang, tidak lama kemudian dokter juga datang untuk memeriksa.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Hans pada Eve.
Yang segera Eve ceritakan lewat bisikan, yang mana membuat Nana lebih baik menunduk memainkan kancing kemeja yang dipakainya. Dia tidak menyalahkan dirinya mengingat tindakannya benar, Sebastian seharusnya tidak melakukan itu mengingat mereka belum menikah. Dan hal hal seperti itu membuat Nana sensitive, dia selalu marah jika ada pria yang berbuat seenaknya pada wanita.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Nana saat dokter selesai mengobati luka.
“Tuan hanya terbentur sedikit.”
“Tapi dia kehilangan kesadaran.”
“Itu karena beliau meminum alcohol terlalu banyak.”
“Dia minum?” tanya Nana pada Hans yang dia tahu itu adalah asisten pribadinya. “Bukankah dia sakit sakitan? Kenapa kau tidak memperhatikan majikanmu.”
“Bukan begitu, Nona.”
“Nona,” panggil Eve. “Lebih baik kita biarkan Tuan beristirahat. Anda juga bisa melakukannya di⸻”
“Aku tidak mau tidur bersamanya, Eve. Kami belum menikah.”
“Maksud saya anda juga bisa melakukannya di kamar bawah.”
“Oh,” ucap Nana datar, dia mengangguk. “Baik, aku akan turun. Dia baik baik saja ‘kan, Dok?”
“Iya, Nona.”
Dan Nana diantar oleh Eve meninggalkan Hans dan dokter di sana.
“Terima kasih, Dok. Biayanya akan saya urus.”
“Sama sama, Tuan Hans. Saya hanya bisa berpesan agar Tuan Sebastian mengurangi alcohol yang dia minum mengingat umurnya memasuki usia 40-an.”
“Ya, aku tau. Akan aku peringatkan.”
“Apa yang baru saja itu calonnya?”
“ya, tapi dia ingin membatalkannya.”
“Asataga kenapa? Dia tidak akan menjadi pria lajang selamanya bukan?”
Hans mengangkat bahunya. “Terima kasih untuk hari ini.”
“Baiklah.”
Dan dokter itu keluar diikuti Hans.
Meninggalkan Sebastian yang perlahan membuka matanya, dia merasa kepalanya sangat sakit. “Astaga…..”
Kemudian dia ingat sesuatu. “Jodohku,” gumamnya bergegas untuk bangkit.
Saat keluar dari pintu, Sebastian langsung dihadapkan dengan Hans.
“Oh Shiiiit,” gumam Sebastian merasa kaget.
“Tuan, anda baik baik saja? Teh herbal yang dibuatkan dokter ada di nakas.”
“Batalkan pembatalannya.”
“Maaf, Tuan?”
“Besok aku akan menikah dengan gadis desa itu.”
“Besok?”
“Lakukan apa yang aku katakana atau aku makan semua sahammu.”
Dan Hans tidak pernah melihat Sebastian se- exited ini kecuali bersama teman temannya yang tidak lain adalah Luke dan David. Kini Sebastian terlihat kehilagan karismanya.
“Kau dengar aku bukan?”
“Iya, Tuan.”
“Dan cepat panggil perancang busana yang handal kemari.”
“Baik, Tuan.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Nona, Tuan Sebastian ingin bertemu dengan anda,” ucap Eve memanggil Nana yang sedang minum. “Dia ada di kamar.”
“Kita bicara di kamar? Bisakah memintanya bicara saja di ruang tamu?”
“Anda bisa naik dan memintanya pada Tuan,” ucap Eve saat dia ingat kalau posisi Sebastian jauh lebih tinggi daripada Nana.
“Baiklah.”
Menghela napas, Nana naik ke lantai atas. Dia melihat Hans yang berjaga di depan pintu di sana. Sebelum Hans bicara, Nana lebih dulu mengatakan, “Bisakah kita bicara di ruang itu saja?”
Tangan mungilnya menunjuk ke sofa di samping balkon yang terbuka.
“Saya akan meminta Tuan Muda.”
Dan tidak lama setelah Hans masuk, Sebastian keluar dengan senyuman terpatri di wajahnya. “Hallo, Nana. Mari bicara di sana.”
Dan Nana sedikit terkejut dengan pancaran tatapan Sebastian yang terlihat berseri, lebih tepatnya seperti anak kecil yang bahagia.
“Kemarilah, kenapa diam di situ? Apa perlu aku gendong?”
“Tidak usah.”
Nana mendekat, dia duduk di depan Sebastian. “Kang, saya minta maaf atas lemparannya. Itu juga kan salah Akang masuk begitu saja, untung saya pake handuk, kalau lagi pakai baju bagaimana?”
“Wah, kalau gitumah yam akin bagus dong?”
“Permisi, bilang apa?” tanya Nana yang sensitive dengan pria berotak ngeres.
“Maaf, aku juga minta maaf tidak mengetuk dulu.”
“Ya , memang itu salah Akang. Dan….,” ucapan Nana menggantung saat melihat Sebastian terus menatapnya dengan mata bersinarnya. “Ada apa, Kang? Apakah ada yang aneh dengan wajah saya?”
“Kamu cantik sekali.”
“Terima kasih, akan aneh jika saya tampan.”
“Dan juga pandai berargumen.”
“Ya?” nana mulai khawatir melihat Sebastian yang terus senyam senyum sendiri layaknya manusia kurang waras. “Akang baik baik saja kan?”
Sebastian menarik napas dalam, kemudian kembali menatap Nana dengan matanya yang berbinar. “Kau adalah cahaya dalam hidupku.”
“Hah?” tanya Nana tidak paham.
“Kita akan menikah, minggu depan.”
“Secepat itu?”
“Aku akan meninggal jika tidak segera malakukannya,” ucap Sebastian saat ingat Nana begitu sensitive terhadap hubungan pria dan wanita diluar pernikahan. “Bagaimana?”
“Saya pikir Akang tidak suka pada saya.”
“Siapa bilang aku tidak menyukaimu? Aku hanya gugup tadi melihat wajahmu yang cantik.”
Nana menatap tidak percaya, sosok pria arogan dan sombong hilang dengan pria yang penuh gombalan dan sering akan senyuman. Itu membuat Nana berdehem heran. “Apakah Akang tidak ingin kita mengenal lebih dulu?”
“Akan bagus jika saling mengenal setelah menikah, bagaimana?”
“Akang sudah banyak membantu saya, jadi saya menurut saja.”
“Oke, kita akan menikah minggu depan.”
Nana hanya mengangguk.
“Dan, Nana.”
“Iya?”
“Jangan tinggalkan aku, aku berpenyakitan tanpa dirimu.”
Nana diam, dia sedang mencerna itu adalah gombalan atau kenyataan. “Baik, Kang Mas.”
“Ya ampun, aku suka sekali saat kau memanggilku begitu. Sangat lucu.”
Dalam hati, Nana berkata, “Apa dia tidak waras?”
Dan Sebastian yang ada di depannya terus saja tersenyum memamerkan sisi manisnya. Sampai Nana berpaling saat dirinya mulai sadar kalau pria di depannya ini tampan.
🌹🌹🌹🌹
Tunggu kelanjutannya ya sayang sayang…..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments
gia nasgia
Ternyata obat untuk adik kecilnya Bule tua ternyata nana😂🤣🤣
2025-03-04
0
Alfin Faris
ngik ngik😭
2025-02-24
0
Mimi Sanah
hahahahadduuuuhhhh,
2025-02-21
0