Mayang Sari terbangun dari tidurnya dengan tubuh dan kepala yang terasa sangat sakit. Semalaman tertidur dengan menangis membuatnya seperti itu.
Ia pun bangun dengan perasaan yang masih tak baik-baik saja. Kesedihannya masih terasa. Akan tetapi ia berusaha untuk bangkit dan mencoba melihat kedepan. Ia harus tegar dan kuat.
Suaminya impoten tidak akan membuat dunianya runtuh dan hancur. Ia yakin ia masih punya cara untuk bahagia.
Setelah ia membersihkan dirinya di dalam kamar mandi ia pun menghadap sang penguasa jagad untuk mencurahkan rasa sakit hatinya pada keadaan.
Banyak hal yang harus ia syukuri diantara nikmat yang diambil oleh Tuhan itu. Ia sehat dan juga mempunyai keluarga yang baik padanya adalah banyak nikmat yang seharusnya ia syukuri.
Melaporkan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Nya ia jadi kembali tenang. Hatinya jadi sedikit lapang dan merasa lebih baik.
Ia pun keluar kamar untuk bertemu dengan sang mama mertua. Ia ingin meminta izin pada wanita paruh baya itu untuk kembali ke kampungnya sementara waktu.
Sungguh, Ia ingin bertemu dengan mamanya sekaligus menenangkan dirinya sendiri atas masalah yang sedang dihadapinya.
Di depan pintu kamar ia tak sengaja bertemu dengan Arjuna Raka Sastrowardoyo, sang suami. Pria itu tampak sudah rapi dengan setelan pakaian kerjanya. Ia sangat tampan dan juga maskulin.
"Assalamualaikum mas," sapa Mayang dengan senyum diwajahnya yang cantik.
"Waalaikumussalam." Arjuna menjawab salam sang istri dengan suara pelan dan hampir tak kedengaran. Setelah itu segera berlalu dari hadapan sang wanita itu.
Sungguh, Ia merasa sangat malu bertemu dengan sang istri setelah kejadian semalam.
"Mas," panggilnya pada sang suami.
Arjuna menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik.
"Aku ingin meminta izinmu untuk menginap di rumah ibu dan bapak untuk beberapa hari," ucap Mayang.
Deg
Arjuna tersentak kaget. Apa mungkin wanita itu ingin melakukan apa yang ia katakan semalam? Tanyanya dalam hati.
Bagaimana kalau ia tidak kembali lagi?
Bagaimana dengan nasib dirinya?
Oh tidak!
Aku akan jadi pria yang semakin tak berguna dan menderita sendirian.
Berbagai pertanyaan pun muncul di kepalanya. Ia sungguh tak rela jika wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya sedangkan ia sangat mencintainya.
"Mas? Apa aku bisa pergi ke rumah ibu dan bapak?" tanya Mayang, mengulang kembali pertanyaannya.
"Tidak!" Arjuna menjawab dengan tegas berikut dengan rahangnya yang mengeras.
"Tapi kenapa mas?"
"Aku bilang tidak ya tidak. Aku suamimu dan kamu harus taat padaku!" Arjuna menjawab dengan tegas kemudian meninggalkan tempat itu.
Mayang Sari kembali kecewa. Pria itu semakin aneh, kejam, dan tak mempunyai perasaan.
Padahal kemarin-kemarin ia tidak pernah seperti ini. Apakah mungkin karena aku terlalu memaksanya?
Wanita itu merasakan dadanya sesak lagi. Ia kembali bersedih. Matanya pun berkaca-kaca.
Ia pun melangkahkan kakinya ke arah dapur dan memilih untuk memasak agar dirinya terhibur dengan apa yang telah terjadi pada dirinya belakangan ini.
Dyah Pitaloka, sang mertua ternyata ada di tempat itu juga dan sedang sibuk memberikan perintah ini dan itu pada asisten rumah tangga.
"Assalamualaikum ma, selamat pagi," ucapnya memberi salam.
"Waalaikumussalam," jawab Dyah dengan singkat tanpa senyum yang selama ini selalu ada di wajahnya yang teduh. Seketika Mayang merasa ada aura berbeda pada ibu mertuanya itu.
Ia pun mendekat tanpa mau memikirkan perubahan yang terjadi pada sang mama.
"Aku bisa bantu apa ma?" tanyanya. Dyah tidak menjawab tetapi malah menatapnya dengan tatapan sinis.
Mayang Sari semakin merasa tak nyaman. Ia yakin ada sesuatu yang tak beres dengan semua orang di rumah itu.
"Mau ngapain kamu?" tanya wanita paruh baya itu saat ia mulai mengambil bahan-bahan makanan dari dalam lemari pendingin.
"Mau masak ma," jawab Mayang seraya memperlihatkan beberapa buah sayuran yang ada di tangannya.
"Suami sudah berangkat bekerja dan kamu baru mau masak? Apa kata dunia ha?!"
Deg
Mayang tak pernah mendengar suara dan kata-kata ibu mertuanya bisa sangat tajam seperti itu.
"Maafkan aku ma. Kalau begitu aku bisa bantu apa," ucap Mayang sadar diri. Ia pun menyimpan kembali bahan-bahan makanan itu ke dalam lemari pendingin.
"Pikirkan sendiri!" balas wanita itu kemudian meninggalkan Mayang Sari di dalam dapur dengan hati yang sangat sakit.
Rasanya kebahagiaan yang dapatkan di rumah itu perlahan meninggalkannya. Ia merasa sendiri dan tak punya apapun. Ia seperti seorang yang tidak diinginkan oleh semua orang di rumah itu. Suaminya dan apalagi dengan mertuanya.
Dengan menarik nafas dalam-dalam, ia pun meninggalkan dapur juga untuk menuju kamarnya saja.
Ia tak mungkin pergi keluar karena suaminya melarangnya untuk keluar tanpa seizin pria itu.
Tak banyak yang bisa ia kerjakan selain membersihkan kamarnya yang selama ini ia huni sendiri. Suaminya tidur di kamar yang lain dan baru bertemu dengan pria itu jika ia sendiri yang mendatangi, menggoda, dan merayu untuk diberikan nafkah batin.
Akan tetapi peristiwa semalam adalah akhir dari segalanya. Pria itu mengakui dirinya impoten dan tak bisa membahagiakannya di ranjang.
Mayang Sari tiba-tiba merasakan airmatanya jatuh meleleh dipipinya yang mulus. Dadanya kembali sesak mengingat bagaimana perlakuan suaminya padanya semalam dan tadi pagi.
"Apa salahku mas?"
"Kalau kamu tak bisa seperti suami lain diluar sana, tak masalah bagiku. Aku sudah bersyukur dengan apa yang kamu sudah berikan padaku. Tapi kamu jangan benci padaku, hiks," ucapnya dengan tangis sesenggukan.
Setelah lama menangisi keadaannya ia pun mengaktifkan handphonenya untuk menghibur diri. Beberapa grup chat di aplikasi WhatsApp ia buka. Dan yang paling ramai adalah obrolan group sosmed arisan kompleksnya.
Hampir 200an percakapan pada grup itu dan semuanya membicarakan hal-hal yang berbau ranjang berikut perintilannya.
Para ibu-ibu itu memang adalah para tetangga kompleks yang mengajaknya ikut arisan. Setiap pembahasan mereka hanya seputar dunia hura-hura, berikut urusan khusus yaitu urusan ranjang dan gaya mereka bercumbu dan bercinta dengan suami-suami mereka.
Terkadang ia ingin keluar dari group itu karena risih tapi ia tak enak hati karena takut dicap sebagai wanita sombong karena mendadak kaya.
Dan juga demi nama baik suaminya yang cukup disegani di komplek itu, ia bertahan. Ia khawatir ia akan dapat predikat orang kaya baru karena menikah dengan Arjuna padahal ia hanyalah seorang gembel yang punya banyak utang.
Untuk itulah ia tetap berada di dalam grup itu tapi hanya jadi anggota yang pasif kecuali ada yang mencolek-coleknya barulah ia bicara.
Dan betul saja, ada yang mencarinya di grup, dengan kata-kata seperti ini,
[Bu Juna kok gak aktif sih semalaman? Lagi digenjot ya? Hihihi enak kali ya sama pak Juna yang sangat tampan dan wow perkasa itu]
[Kalau masih muda kayak mereka sih lagi hot-hot nya lah. Kalah sama kita-kita yang udah berumur] balas yang lain disertai emoticon cekikikan.
Ia tidak menjawab dan malah melempar handphonenya ke atas ranjang.
Apaan di genjot, orang suami aku impoten!
Huaaaaa!
Akhirnya ia menangis lagi.
🌺
*Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Bzaa
semangat 💪
2023-12-06
0
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
uda punya asam urat kolesterol darah tinggi dan nyeri pinggang... ea gak hot lagi
2023-10-11
1
Chici Cenga
yg sabar ya Mayang akan indah pd waktux🤭😁
2023-10-09
0