Saat Aric, Erika, dan Rizal memegang buku tersebut dengan judul yang agak lucu, "Baju Ekor Naga," mereka tidak bisa menahan tawa. Bagaimana mungkin buku dengan judul seperti itu dapat membantu mereka berkomunikasi dengan Panda ? Rasanya seperti lelucon yang terlalu aneh.
Erika: "Buku ini memang konyol, 'Baju Ekor Naga'? Siapa yang bisa membayangkan makna di balik judul ini? Tapi sepertinya inilah kuncinya untuk berbicara dengan Panda.
Buku yang misterius, Aric dan kawan-kawannya duduk bersama dengan penuh rasa ingin tahu. Sampulnya berwarna-warni dengan gambar panda yang tersenyum, seperti sedang mengenakan jubah yang aneh.
Rizal membuka buku itu dan segera menemukan tulisan di halaman pertama, "Untuk berbicara dengan makhluk panda, pelajari Bahasa Panda Terbalik." Semua menatap tulisan itu dengan bingung.
"Apa itu Bahasa Panda Terbalik?" tanya Erika sambil menggaruk kepalanya yang cemas.
Aric mencoba memutar otak. "Mungkin itu adalah bahasa yang tulisannya dibaca dari belakang ke depan? Atau mungkin huruf-hurufnya harus diubah urutannya?"
Mereka semua mengangguk setuju, tetapi buku itu tidak memberikan petunjuk lebih lanjut. Mereka terus memikirkan apa yang dimaksud dengan Bahasa Panda Terbalik, tertawa terbahak-bahak karena ide-ide konyol yang muncul.
"Apa ini seperti kita harus bicara dengan suara terbalik atau seperti apa ya?" kata Rizal di antara tawaannya.
Erika menambahkan, "Mungkin kita harus bicara seperti panda yang canggung dan malas?"
Sementara mereka terus bersenda gurau dengan berbagai ide aneh, buku itu tetap membisu. Mereka tahu bahwa ini adalah teka-teki yang harus mereka pecahkan, dan petualangan mereka untuk berbicara dengan panda yang tidak seperti yang mereka kira terasa semakin konyol dan menarik.
Tiba-tiba, Rizal meraih buku itu dan membalikkan halaman-halamannya dengan cepat. Saat mereka melihat ke halaman terbalik tersebut, seolah-olah sebuah lampu neon besar menyala di pikiran mereka. Bahasa Panda Terbalik ternyata cukup sederhana: huruf-hurufnya hanya perlu dibaca dari belakang ke depan!
Erika tertawa. "Jadi begini caranya! Kita hanya perlu membaca teksnya dari akhir ke awal. Itu seharusnya mudah."
Aric menunjuk ke bagian teks di halaman tersebut. "Baiklah, mari kita coba." Mereka mulai membaca dengan lancar, dan tiba-tiba, kata-kata yang mereka ucapkan menggema dengan nada yang aneh.
Aric: "Amrap aitruknab irrap nandap, Adnap."
Naluri Hutan: "Apa yang baru saja kita lakukan?"
Rizal: "Mungkin ini adalah bahasa panda terbalik?"
Erika: "Tampaknya begitu. Tapi apa artinya?"
Mereka harus berjalan ke Padang Pasir. Mereka berkemas dan bersiap untuk perjalanan yang tak biasa ini. Dengan buku "Baju Ekor Panda" yang mereka miliki, mereka merasa semakin siap untuk menemui Panda yang mereka cari.
Rizal: "Semoga kita tidak tersesat di tengah Padang Pasir ini. Saya tidak ingin berakhir seperti mumi gurun."
Erika: "Jangan khawatir, Rizal. Kita punya panduan bahasa yang aneh ini, dan itu harus membantu kita."
Aric: "Mari kita pergi, teman-teman. Semakin cepat kita sampai di sana, semakin cepat kita akan menyelesaikan misteri ini."
Mereka meninggalkan rumah Naluri Hutan dan memasuki Padang Pasir , siap untuk petualangan baru yang penuh dengan kejutan dan tawa.
Mereka berjalan melewati Padang Pasir Panda yang tandus, merasa panas terik yang menghangatkan pasir di bawah kakinya. Di tengah kekeringan dan teriknya, mereka melihat sesosok mahluk yang diberitahu oleh Naluri Hutan. Dan, sungguh, itu adalah panda yang mereka cari!
Aric: "Wah, itu dia! Pandanya! Tapi apa yang dia lakukan di sini?"
Mereka melihat panda itu sedang berjalan dengan tenang, entah ke mana tujuannya, sambil membawa kendi yang tampak kosong di punggungnya.
Rizal: "Benarkah itu kendi kosong? Dia benar-benar tidak makan atau minum?"
Erika: "Ini semakin aneh."
Mereka mendekati panda itu dengan penuh kehati-hatian, ingat dengan kata-kata Naluri Hutan. Sementara panda itu terus berjalan tanpa menghiraukan mereka. Aric mencoba memulai percakapan dengan panda itu menggunakan bahasa panda terbalik, sesuai petunjuk di buku yang mereka temukan.
Aric: "Azlap adi remanabuk repasanarubu?"
Panda itu berhenti sejenak dan menoleh ke arah mereka, mata hitamnya yang besar memandang tajam. Lalu, dengan bahasa panda yang terbalik, panda itu menjawab,
Panda: "Aisurop ekal retlaw eb uoy od?"
Mereka tersenyum, seolah menemukan kunci untuk berbicara dengan panda ini.
Erika: "Kami mencari tentang beradaban kuno. Apakah kamu bisa membantu kami?"
Panda: "Onur rehto fo setonim."
Panda: "Onur rehto fo setonim."
Meskipun pesan itu awalnya terlihat membingungkan, Aric dan teman-temannya akhirnya berhasil menguraikannya.
Aric: "Sekarang aku mengerti! Dia bilang, 'Untuk harta sejati dari timenotes.'"
Panda mengangguk setuju, menunjukkan bahwa mereka telah memahami pesannya. Mereka menyadari bahwa panda ini memiliki kunci untuk menemukan informasi tentang peradaban kuno yang mereka cari.
Erika: "Kami siap mendengarkan ceritamu, Panda. Kami ingin tahu semua yang kamu ketahui tentang beradaban kuno."
Panda yang unik itu pun mulai menceritakan kisah yang panjang dan penuh detail tentang peradaban kuno, mengikuti tradisi lisan orang-orang zaman dulu. Suaranya bergetar dengan gairah saat dia memulai ceritanya
Pada zaman kuno yang jauh, ada sebuah kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Detar. Mereka hidup dalam kemewahan dan kekayaan, tetapi harta itu didapatkan dengan mengorbankan alam dan rakyatnya. Kerajaan Detar menjalankan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, mengeringkan sungai, merusak hutan, dan mengejar kekuasaan atas segalanya."
Saat panda berbicara, pandangan mereka seolah-olah terbawa ke masa lalu. Mereka melihat kerumunan orang yang menderita, sungai yang kering, dan hutan yang gundul.
"Situasi semakin buruk ketika Raja Detar memutuskan untuk menggunakan ilmu gelap dan kekuatan mistis untuk memperkuat kekuasaannya. Dia mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin yang tak tertandingi, namun itu hanya menandai awal dari kehancuran mereka."
Panda itu melanjutkan dengan suara mendalam, "Ketidakseimbangan dan kerusakan alam menyebabkan kelahiran tiga beradaban mengerikan yang kita kenal sebagai Iwamor, Inanuy, dan Epora Kuno. Mereka muncul sebagai manifestasi ketidakpuasan
"berlanjut
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments