Bab 2
Kota Terraville, sebuah kota diangkasa yang sibuk dengan jalan-jalan udara dan toko-toko unik
Tengah hari. Pasar ramai dengan pengunjung yang berbelanja dan berinteraksi
Aric dan teman-temannya melintasi jalan-jalan yang dihiasi dengan bendera-bendera warna-warni dan panggung-panggung kecil tempat para musisi tampil. Pasar penuh dengan hiruk-pikuk, aromanya beragam dari makanan khas yang dijual di warung-warung kecil.
Aric mengenakan kemeja berlengan pendek dan celana pendek, terlihat lebih santai dari sebelumnya. Elara, yang selalu terhubung dengan alam, tampak menikmati cuaca dengan pakaian yang longgar namun praktis. Livia dengan tekun memeriksa peta di tangannya, sementara Kael mengamati sekitar dengan pandangan tajamnya.
Saat mereka berjalan-jalan, Elara merasa tiba-tiba angin berubah dingin dan menusuk tulang. Dia berdehem dan bersin keras. "Tch, sepertinya ada yang sedang membicarakan kita."
Aric dan teman-temannya saling melirik dan mengangguk setuju. Tidak ada yang mencurigakan, tetapi tiba-tiba sebuah sekeranjang es menghantam kepala Kael. "Apa? Ini berasal dari mana
Di belakang tumpukan es, mereka melihat sekelompok anak-anak yang tengah tertawa. Salah satu anak menunjuk ke arah mereka dan berkata dengan nada mengejek, "Lihat, itu tim pertama elemen alam!"
Teman-teman itu saling bertatapan, terkejut oleh tingkah laku anak-anak tersebut, tetapi akhirnya tertawa. "Mereka sangat kreatif," Livia berkomentar. "Kami seperti tim pertama dalam Kejuaraan Keajaiban Elemental!
Namun, senyum di wajah Livia memudar ketika dia melihat mata anak-anak itu. Ada ketidakberesan di sana. "Ini bukan hanya sekadar lelucon, ada yang tidak beres," ujarnya dengan serius
Anak-anak itu tampak panik dan mulai menjelaskan diri mereka dengan cepat. "Tidak apa-apa, kami hanya ingin membuat hiburan yang lucu! Kami pikir kalian adalah pahlawan super atau sesuatu!
Teman-teman Aric merenung, kemudian tertawa ringan. Kael menoleh ke Aric sambil memandangnya dengan mata berbinar-binar. "Bagaimana jika kita benar-benar menjadi pahlawan super? Itu akan menjadi petualangan yang menarik!
Ya, mungkin nanti kita bisa mengejar penjahat sambil membeli makanan ringan di pasar ini," Livia menambahkan dengan senyum mengembang.
Semua teman-teman tertawa mendengar komentar Livia. "Tepat sekali, kita bisa menjadi pahlawan super yang tidak pernah merasa lapar!" Aric menyambut sambil tertawa.
Namun, Livia melihat sesuatu yang mencuri perhatiannya di balik anak-anak itu. Dia melihat sosok bayangan yang cepat berlalu di belakang mereka, menghilang di antara kerumunan orang.
"Tapi sepertinya kita tidak sendiri di sini," gumam Elara, menyadari bayangan yang terlihat oleh Livia.
Dengan rasa ingin tahu yang mendalam, teman-teman Aric memutuskan untuk mengikuti bayangan itu. Mereka bergerak dengan cekatan melalui keramaian, kadang-kadang harus menyingkir dari pedagang yang sibuk menjual barang dagangan mereka.
Kael mengambil sebuah syal dan mengikatkannya di kepala seperti ninja. "Ini akan membuatku terlihat seperti pahlawan super yang lebih tangguh," gumamnya dengan serius, sementara teman-temannya tertawa melihatnya.
Mereka terus mengikuti bayangan itu melalui lorong-lorong sempit dan jalan-jalan yang padat. Bayangan itu semakin lama semakin sulit untuk dilihat, seolah-olah menguji kemampuan mereka untuk berlari dan menyusup.
Akhirnya, bayangan itu berhenti di sebuah gang kecil. Teman-teman Aric memutuskan untuk bersembunyi dan memperhatikan. Tiba-tiba, seorang pria misterius muncul dari balik sudut, menghadap bayangan itu.
"Kamu berhasil mengalihkan perhatian mereka?" tanya pria itu dengan suara serak.
"Ya, tentu saja," jawab bayangan itu dengan suara yang lebih lembut, seolah-olah itu adalah suara yang sudah mereka kenal.
Teman-teman Aric terkejut. Mereka merasa ada yang tidak beres dan ingin tahu apa yang sedang terjadi.
"Ayo kita dekati mereka," Livia berkata pelan, mengangguk ke arah pria misterius dan bayangan itu. "Mungkin kita akan menemukan jawaban atas semua ini."
Dengan hati-hati, mereka mulai mendekati duo misterius itu, memasuki gang yang sempit dan penuh bayangan. Tantangan baru menanti, dan teman-teman Aric siap menghadapinya dengan penuh semangat dan, tentu saja, sedikit keceriaan.
Dalam gang yang sempit dan penuh bayangan, teman-teman Aric mendekati pria misterius dan bayangan itu dengan hati-hati. Mereka merasakan ketegangan di udara, seolah-olah ada suatu pertemuan yang menentukan.
Ketika mereka semakin mendekat, sebuah sinar cahaya tiba-tiba menyilaukan mereka. Cahaya itu berasal dari lampu sorot yang tiba-tiba dinyalakan oleh pria misterius. Mereka sekarang terlihat jelas, dan pria itu tersenyum.
Pria itu memiliki rambut hitam yang agak acak-acakan dan wajah yang tajam. Dia mengenakan mantel gelap yang membuatnya terlihat seperti karakter dari buku petualangan klasik.
"Aku merasa seperti aku harus berterima kasih padamu atas penyinaran," Kael berkomentar dengan nada kocak, mencoba menghilangkan tegangan yang terasa di udara.
Sementara itu, bayangan yang semula menghilang dalam kegelapan, akhirnya muncul menjadi sosok yang mengenakan pakaian hitam dan memiliki mata tajam yang menatap Aric dan teman-temannya dengan tajam.
"Jadi, kalian adalah tim pertama elemen alam, ya?" Bayangan itu berkata dengan suara yang lebih lembut dari yang mereka harapkan.
"Kami penasaran tentang apa yang sedang terjadi. Siapa kalian?" tanya Livia dengan penuh ketertarikan.
Pria misterius itu mengangkat alisnya dan menjawab, "Namaku Valen, dan ini adalah sahabat saya, Nox." Dia menunjuk ke bayangan di sampingnya.
Bayangan itu, Nox, mengangguk. "Aku adalah bayangan Valen, yang terikat dengan kemampuan dan perasaannya. Kami adalah pemburu misteri dan pencari kebenaran di dunia ini."
Valen mengubah ekspresinya menjadi lebih serius. "Kami telah menyadari perubahan aneh dalam alam, perubahan yang mencakup elemen-elemen yang kalian kuasai. Ada kekuatan gelap yang sedang merayap dan mengganggu keseimbangan."
"Kami memiliki misi untuk menjaga keseimbangan elemen-elemen alam dan menghentikan ancaman kegelapan," tambah Nox, suaranya tetap tenang meskipun bersahutan dari bayangannya.
Livia, Aric, Elara, dan Kael saling melirik. Mereka merasa terhormat diikutsertakan dalam misi semacam ini, meskipun merasa tidak yakin apakah mereka benar-benar memiliki kemampuan untuk menjadi pahlawan seperti yang dilihat oleh anak-anak tadi.
Dengan senyum tulus, Aric mengangkat bahunya. "Baiklah, kita akan membantu. Tapi beri tahu kami apa yang perlu kami lakukan."
Kael melirik ke teman-temannya dan berkomentar dengan nada ceria, "Mungkin di antara tugas-tugas kami, kita bisa mampir ke pasar untuk beberapa makanan ringan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Thảo nguyên đỏ
Menghibur banget!
2023-08-10
1