"Vina, ini sakit sekali... " rengek Jason pilu. Wajahnya lebam dan bengkak. Wajahnya berkali-kali lipat lebih besar dari saat dia baru saja dipukuli.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Vina sambil menarik napas dalam.
"Bajingan bernama Justin Dirgantara. Dia terus mengatakan bahwa dia adalah kakak iparku. Aku tidak setuju. Dia terus menamparku sampai aku menyetujuinya. Aku takut dia akan menamparku sampai mati," cerita Jason mengenai hal yang telah terjadi pada Vina.
"Sial! Beraninya dia!" Vina sangat marah sampai mengepalkan tangan dan dadanya bergetar.
Vina membatin, kakak ipar Jason? Bukankah itu artinya dia adalah suamiku?
Beraninya dia merusak reputasiku? Aku akan membuatnya membayar untuk itu!
"Apa kamu sudah menemukan di mana dia tinggal? Aku akan pergi dan berdebat dengannya!" kata Vina dengan marah.
"Itu tidak akan ada gunanya. Lupakan saja," kata Gilbert.
"Kakek, bagaimana mungkin kita membiarkannya begitu saja?" Vina sangat marah. Entah itu demi adiknya atau dirinya sendiri, dia harus membuat Justin meminta maaf.
Gilbert menghela napas panjang dan berkata, "Si Justin itu adalah kenalan Jihan. Tiger tahu bahwa Jason dipukuli oleh Justin, tetapi dia tidak melakukan apa pun. Kamu pasti sudah paham apa artinya." Vina pun tertegun.
"Kakek, apakah maksudmu Jihan dan tiga keluarga besar lainnya akan mengasingkan kita?"
Gilbert mengangguk.
"Keluarga Webster adalah gundukan harta besar. Semua orang itu tahu bahwa tidak tersisa banyak waktu lagi untuk aku hidup. Mereka semua ingin menjauhi kita. Setelah aku mati, mereka akan membagi-bagi harta kita. Warisan keluarga kita yang berusia seabad akan hancur."
"Keluarga kita runtuh! Aku merasa bersalah pada leluhur keluarga..."
Gilbert gelisah dan terbatuk hebat. Bahkan dia muntah darah.
"Kakek!"
"Kakek!"
"Tuan Webster!"
Keluarga Webster panik.
"Kakek, aku akan membawamu ke rumah sakit." Mata Vina memerah. Dia ingin membantu Gilbert bangkit dari sofa, tetapi Gilbert menghentikannya.
Gilbert memegang tangan Vina dan berkata dengan nada tulus, "Ayahmu dan saudara-saudaranya biasa-biasa saja dan tidak mampu memikul tanggung jawab besar. Jason adalah cucu laki-lakiku satu-satunya. Namun, kamu tahu pria seperti apa dia."
"Tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakitku. Aku bisa hidup selama beberapa bulan atau paling lama sekitar satu tahun. Awalnya, aku ingin membiarkan Jason mewarisi bisnis keluarga jika dia bisa memikul tanggung jawab dan membantumu menikah dengan keluarga baik-baik di Ibu Kota. Jadi, keluarga kita tidak akan hancur. Namun, Jason telah mengecewakanku."
"Oleh karena itu, aku akan membuat keputusan yang berbeda sekarang. Jangan salahkan aku. Di masa depan, kamulah yang akan menanggung beban Keluarga Webster. Aku harus memilih suami yang baik untukmu. Vina, lindungi keluarga kita."
"Dalam dua hari ke depan, aku akan menyebarkan berita bahwa aku akan mencarikan suami untukmu. Mungkin beberapa pemuda dari keluarga kaya di Ibu Kota dan Kota Silvia akan bersedia menikah ke dalam keluarga kita."
"Jika cukup banyak pemuda yang mau melakukan itu, aku akan mengumpulkan mereka dan memilih yang terbaik untuk menjadi suamimu. Saat itu, tidak peduli siapa yang aku pilih, aku harap kamu tidak akan menolak. Maafkan aku, Vina. Kamu harus mengorbankan cintamu untuk keluarga kita."
Vina hanya terdiam.
Setiap perempuan ingin menikah dengan laki-laki yang benar-benar dia cintai.
Meskipun demikian, Vina menyetujuinya.
Demi kakeknya dan Keluarga Webster, dia harus mengorbankan kebahagiaan hidupnya.
Hidup itu adil.
Gadis dari keluarga miskin, meskipun mereka tidak punya uang, memiliki kebebasan untuk jatuh cinta. Meskipun gadis-gadis dari keluarga kaya menjalani kehidupan yang baik, mereka kehilangan hak untuk bebas jatuh cinta.
Tidak ada yang bisa memiliki segalanya. Itu selalu benar.
Keesokan harinya, saat fajar, Justin tiba-tiba membuka mata. Dua sinar menyorot keluar dari matanya, menghantam sungai, dan menyebabkan cipratan air setinggi lebih dari sepuluh meter.
Jika ada yang melihat itu, Justin mungkin akan dianggap sebagai monster.
Bagaimanapun, tidak ada yang bisa menembakkan sinar dari mata mereka dan menyebabkan kerusakan seperti bom.
"Baik. Setelah satu malam, aku berada di tingkat pencapaian besar dari Alam Pemurnian Energi. Aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Meskipun aku berada di bumi, kecepatan kultivasiku sangat cepat." Justin puas.
Terdapat sembilan alam kultivasi: Alam Pemurnian Energi, Meditasi, Ekspansi, Ahli, Keabadian, Inkarnasi, Transendensi, Keilahian, dan Alam Penghakiman.
Setiap alam dibagi menjadi lima tingkatan, yaitu tingkat masuk, tingkat pencapaian awal, tingkat pencapaian besar, tingkat puncak, dan tingkat penyelesaian.
Dulunya Justin berada di tingkat penyelesaian Alam Penghakiman. Dia telah menguasai banyak keterampilan kultivasi. Jadi, Justin telah membuat kemajuan yang sangat pesat.
Melihat hari masih pagi dan dia tidak terburu-buru ingin mempermalukan Arya, Justin menangkap beberapa ikan seukuran telapak tangan dan memanggangnya.
Saat ikan hampir matang, Justin mendengar sebuah suara.
"Aku bertanya-tanya siapa yang sedang memanggang ikan. Ternyata kamu, Dokter Dirgantara."
Justin mengikuti suara itu dan melihat Jihan dalam balutan pakaian olahraga dan sedang berjalan mendekat bersama Tiger dengan tangan di belakang punggung.
"Selamat pagi, Jihan. Ayo. Kemarilah. Cicipi ikan panggangku," sapa Justin pada Jihan sambil tersenyum.
"Baiklah. Pasti rasanya lezat," kekeh Jihan.
Dengan cepat Tiger meletakkan dua batu besar di samping Justin. Tiger dan Jihan duduk mengitari api unggun.
"Ada dua ikan di setiap tusuk dari tiga tusukan ini. Masing-masing dari kita mendapat dua ikan."
Justin berbagi ikan dengan Tiger dan Jihan. Dia pun mulai makan terlebih dahulu.
Sebenarnya, Jihan tidak menyukai ikan itu. Ikan itu terlihat gosong. Jihan meragukan apakah ikan itu bisa dimakan.
Namun, demi Justin, Jihan menggigit ikan itu. Dia mengunyahnya dan terkejut. Jihan berseru, "Astaga! Enak sekali!"
Kemudian, Jihan langsung melahap ikan itu.
Tiger mengerutkan kening.
Dia bertanya-tanya apakah ikan itu benar-benar seenak itu.
Jadi, Tiger juga mencicipi. Lalu, dia makan lebih cepat dari Jihan.
"Dokter Dirgantara, bagaimana caramu memanggang ikan ini? Sangat enak. Bahkan tulang ikannya sangat renyah," tanya Jihan sambil menggigit tulang ikan.
"Benar, enak sekali. Ini ikan paling enak yang pernah aku makan." Tiger selesai makan dan menjilati tusukannya.
Justin tersenyum dan tidak berkata apa pun.
Dia tidak bisa memberi tahu mereka bahwa dia menggunakan air seninya sebagai garam.
Jika tahu, Tiger dan Jihan pasti akan muntah.
"Omong-omong, kudengar kamu adalah ahli bela diri di tingkat pencapaian besar di Alam Tenaga Dalam. Tunjukkan yang bisa kamu lakukan," ucap Justin. Justin pernah mendengar tentang seni bela diri dan mengetahui empat alamnya: Alam Tenaga Luar, Tenaga Dalam, Kesempurnaan, dan Alam Dewa. Namun, dia belum pernah melihatnya sebelumnya. Justin penasaran siapa yang lebih kuat, dirinya atau Jihan. Jihan berada di tingkat pencapaian besar Alam Tenaga Dalam dan Justin berada di tingkat pencapaian besar Alam Pemurnian Energi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 206 Episodes
Comments
Ramlah
enyak enyak enyak...bhaahahahaha 👌👌👌🤣🤣🤣🤣😝😝😝😝
2024-07-06
0
Zanzan
ngghilani bro....🤮🤮🤮🤣🤣🤣
2024-03-24
0
gelatik
alternatif ya bagus
2024-02-01
0