Aku pikir ini adalah alasan utama mereka bertengkar setiap hari setiap malam, karena bagaimanapun dan siapapun pasti membutuhkan nya. Dengan berbagai alasan, satu hal yang tidak dapat aku mengerti. "Apakah hanya ekonomi yang lebih banyak mempengaruhi tingkat perceraian yang terjadi pada setiap keluarga?".
Aku mungkin belum mengerti karena belum merasakan pernikahan dan bagaimana mengurus rumah tangga, tapi setiap kali aku mendengar kedua orang tua ku bertengkar karena masalah ekonomi ataupun hal lain, aku selalu sangat kesal.
Dalam hati ku, aku selalu bilang "Aku ingin menjadi orang kaya yang begitu banyak uang,biar mereka ngga bertengkar lagi." Terdengar sangat konyol tapi aku sangat ingin bisa melakukannya.
Tapi melihat apa yang terjadi di antara mereka berdua juga, aku juga berpikir mungkin bukan hanya tentang perekonomian keluarga, tapi juga rasa cinta yang sudah hilang, dan rasa kesal serta mungkin ada benci di hati satu sama lain yang membuat mereka tidak bisa mengontrol emosinya.
Saat kemarin aku bilang mama tidur di samping laki laki lain, tapi aku juga melihat bapa ku tidur dengan perempuan lain.
Hah,,,Kenapa aku harus melihat adegan adegan itu??Kenapa aku harus mengerti saat aku belum waktu nya mengerti???
Hmmm,,,Tarik nafas tahan buang!!
Seperti itu lah aku mengatasi rasa kesal ku ketika sudah memakai diri ku sendiri dalam hati.
Aku mengerti, pasti berat juga untuk mereka melalui semua ini, tapi apakah harus mereka terus mengulang ulang kesalahan yang sama??Mereka cape, tapi aku juga cape mendengarnya.
Malah ekonomi dan masalah hati dalam hubungan sangat sangat mempengaruhi banyak hal dalam hubungan.Aoalagi di kedua nya sudah tidak ada alasan untuk bertahan. Bahkan mungkin jika mereka pernah bertahan atas alasan kasian pada anak anaknya, mengapa mereka sering mengulang kejadian yang sama yang membuat anaknya takut dan tertekan?
Karena terlalu sering mendengar mereka bertengkar, aku sempat berfikir "kenapa mereka tidak pisah?dan hidup masing masing tanpa saling mengganggu dan menjelekan satu sama lain di depan anak anaknya.
Mama ku memang sudah bekerja keras, tapi aku juga lelah dibandingkan dengan anak yang lain yang lebih pintar dan lebih hebat dari ku, apalagi ketika mama sudah mengungkit ungkit uang dan tenaga yang telah dia keluarkan untuk anak anaknya.
Setiap kali mamah marah atau bertengkar sama bapa,,
"Liat tuh, anak anak kamu bisa sekolah, pake pakaian yang bagus itu berkat siapa??Aku! Kalau bukan aku yang tega pergi dari rumah biar bisa sekolahin anak anak, anak anak gak bakal kaya gini!" kata mamah.
"Yang bener sekolah tuh, liat tuh kakak kamu, pinter, dikasih uang berapapun nggak pernah komentar, nurut, liat sekarang hidup nya gimana? Enak!"
"Kepengen mah kalian tuh cepet cepet nikah biar nggak jadi beban Mamah lagi, mamah juga cape kerja. Buat siapa? Buat anak anak mamah"
"Kalo nyari suami tuh yang kerja nya di bank, jadi polisi, atau guru yang kerjaan nya enak enak."
Hmmmm itu lah sebagian perkataan perkataan mamah kalau lagi marah atau ngobrol biasa. Perkataanya mungkin terdengar biasa aja, tapi setiap kali mendengarnya membuat ku nggak enak hati.
"Mah, Pa! Nggak ada yang mau jadi beban orang tua. Kita juga pengen ngasih yang terbaik buat orang tua kita dan saudara lain.!" yang sering aku omongin dalam hati.
Ahhh,, Ternyata benar, selain mulut seseorang uang dan hati manusia adalah yang paling mengerikan.
Ketika kita mempunyai ekonomi yang bagus, kita akan di hargai dan di hormati, tapi sebaliknya, ketika kita tidak mempunyai ekonomi yang baik orang akan menghina dan menganggap rendah seseorang.
Hari manusia memang tidak ada yang tahu, tapi kita bisa tahu melalui mata dan perasaannya. Kita bisa merasakan mana saat orang tulus dan mana saat orang itu berbohong.
Setiap kali aku flashback ke masa sulit Wakti itu sampai sekarang, tidak dapat aku pungkiri, memang benar kita membutuhkan uang untuk bisa bertahan di tengah tengah dunia yang sulit ini. Tapi apa cara penyelesaian nya hanya dengan pertengkaran?
Aku tidak membenarkan kesalahan bapa, fakta bahwa dulu bapa sangat egois memikirkan dirinya sendiri dan hobinya sendiri, tapi aku juga tidak bisa membenarkan ketika mamah merendahkan bapa di depan kedua orang tua nya.
Bapa salah, tapi bukan berarti harus di rendahkan. Mamah juga benar dengan tindakan nya untuk memilih pergi karena hidup harus terus berlanjut, apa harus anak anaknya mengetahui semuanya?
Ahhh,, uang memang sangat mengerikan.
Aku tidak tahu mana yang benar mana yang salah, siapa yang benar dan siapa yang salah, karena disini mereka juga untuk membela diri nya sendiri.
Mungkin untuk sesaat aku pernah berfikir "Bukan anak yang mereka pertahankan, tapi ego dalam diri mereka."
Saat adik ku sudah mulai sekolah, dan masuk ke SMP aku sangat sedih ketika dia bilang "Buat apa sekolah kalau cuman jadi pertengkaran karena biaya!"
Aku sedih karena, adik ku juga ternyata sudah mengerti dengan yang terjadi di rumah. Dia memilih untuk tidak melanjutkan sekolah nya karena biaya dan karena dia sering mendengar pertengkaran kedua orang tua nya.
Setiap kali aku mendengar perkataan nya, aku merasa bodoh karena tidak bisa berbuat apa apa. Dan karena aku pun sering berpikiran sama dengan nya.
Dan aku juga sedikit mulai mengerti kenapa mamah memilih meninggalkan kami berdua tinggal sama bapa dan pergi kerja yang jauh, makanya aku tidak menyalahkan dan tidak membenarkan.
Melihat sekeliling, ketika mereka lagi kesusahan dengan ekonomi mereka, aku menyalahkan diri ku lagi, dan lagi karena tidak bisa berbuat apa apa.
Kakak ku yang kedua kak Marni, dia juga tidak lanjut sekolah, dia juga berhenti sekolah ketika lulus SMP. Dia bekerja di PT dan membantu mamah membiayai kak sunyi, dan aku sekolah sampai Lulus.
Kemudian setelah kak sunyi lulus dan kerja, kak sunyi yang membantu ku sekolah.
Karena kita saudara dan kak Marni juga ngga suka di banding bandingin dan nggak suka di ungkit soal berapa uang yang telah mamah keluarin buat dia, jadi aku pikir aku bisa mengembalikannya secara perlahan setelah aku lulus dan kerja nanti, tapi nyatanya, belum juga aku lulus, setiap kali dia kesal, dia memperhitungkan semuanya, mulai dari biaya sekolah, uang jajan ataupun setiap kali dia membelikan baju lebaran.
Aku nggak kaget, karena mamah pun begitu, tapi aku pikir aku juga bakal kembali in uang uang itu, aku juga nggak mau ngerepotin, tapi ya mau bagaimana lagi. Bukan cuma pada ku, tapi pada kedua orang tua ku juga.
Hmmm,, Aku pikir karena keluarga bisa di bicarakan baik baik tapi ternyata memang yang lebih menyakitkan itu adalah omongan dari keluarga dan orang terdekat itu sendiri.
Pernah suatu hari, bapa beli paket dan kebetulan aku ngga pegang uang sama sekali, terus paketnya nyampe pas bapa sama semuanya pergi jemput kak Marni di bandara, pulang main dari Batam, terus aku telpon "Kak bisa minta tolong bayarin dulu paket bapa nggak 75 ribu? Aku lagi ngga pegang uang sama sekali, bapa nya ngga nitipin uang." kata ku di telpon.
"Hihh, emang bapa kamu gak bilang paket nya nyampe hari ini?" kata kak Marni.
"Ngga, katanya harus nya hari Minggu depan baru nyampe!"
Kata ku.
"Hih monyet!Ya udahlah mana no rekening nya kirimin. Orang mah lagi buru buru." katanya sambil matiin telepon.
Aku ngerti dia lagi di bandara dan buru buru, tapi apa gak bisa ngomong baik baik?? Dan itu salah satu alasan kenapa aku selalu ragu buat minta tolong sama seseorang.
Dan disini bapa juga nggak punya aplikasi buat pembayaran bisa dibilang masih belajar, dan ketika dia pesan sesuatu di market place dia ngga akan bolak balik buat check paket nya udah sampe mana, atau Kapan pasti nya.
Jadi aku juga sedikit marah karena kok bisa sama orang tua sendiri kaya gitu. Di banding minta tolong aku lebih suka di mintai tolong, karena ya gitu selain karena aku ngga enakan, aku juga nggak mau denger hal yang bikin sakit hati karena uang.
Sama seperti kata ku sebelumnya, ekonomi, hati dan mulut seseorang paling menakutkan.
Keluarga yang hancur karena ekonomi, orang ketiga, dan masalah hati.
Bukan aku tidak terlalu peduli dengan ekonomi, tapi nggak tahu kenapa setiap masalah ekonomi atau yang berbau dengan uang hati ku selalu tenang walaupun sesulit apapun, di dalam hati kecil ku pasti selalu bilang "Ngga apa apa ada Allah SWT, Allah SWT pasti bantu, rejeki ngga akan tertukar!" jadi bukan karena aku tenang karena nggak tahu apa apa, tapi aku selalu yakin itu.
Walaupun aku masih marah, kesel, tapi hari kecil ku selalu ngerasa tenang. Seakan semuanya akan cepat berlalu.
Hmmm,,, sampai saat ini ekonomi keluarga masih berantakan, dan sampai saat ini juga aku masih selalu ngerasa nggak berguna.
Setiap kali mamah bicara tentang ekonomi keluarga, aku selalu ngerasa bersalah. Tapi sekarang, walaupun masih sering saling menyalahkan bahkan sampai saat ini setelah keadaan Mereka sudah benar benar bercerai.
Sangat rumit untuk menceritakan dan menjelaskan nya, aku juga tidak tahu akan seperti apa ini. Aku hanya ingin bercerita dan meluapkannya. Aku masih berharap sesuatu yang baik akan terjadi. Dan aku yakin itu akan terjadi. Entah itu terlambat atau tidak, aku yakin masih ada harapan untuk ku mengangkat harkat dan derajat kedua orang tua ku. Dan membuktikannya pada diri ku sendiri bahwa aku bisa melakukannya, aku sudah berkerja keras.
Salah satu impian ku adalah membuat ibu ku diam di rumah dan mengurus adik ku, dan aku yang menggantikannya bekerja.
Melihatnya kelelahan, membuat hati ku sakit dan tidak tega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments