di kamar Karan, Wenda melibatkan kedua tangannya di dada ia bertanya-tanya suaminya dari mana Kenapa ketika ia tadi mencari tidak menemui sang suami padahal mobil sudah terparkir di depan parkiran tapi dia tidak menemui suaminya
Ceklek...
" Dari mana kamu? " tanya Wenda dengan Ketus
" Cari angin " Jawab Karan berjalan ke arah kamar mandi Karena ia merasa gerah
" Tunggu! " Kata Wenda
Wenda berjalan ke arah kanan ia mencium seluruh tubuh keran dan mencari sesuatu yang mencurigakan namun bunda tidak menemukan itu " mandilah, tadi Aku harus di salon bersama mamah dan aku juga habis perawatan miss.... " Goda Wenda
" Aku lelah Honey, Bolehkan Malam ini Aku istirahat saja " Kata Karan yang langsung masuk kedalam kamar mandi
Wenda mengepalkan kedua tangannya ketika mendapatkan tolakan dari sang suami, baru kali ini Karan menolak ajakannya padahal biasanya Karan selalu semangat jika dirinya mengajak untuk bermain " Pasti mereka habis bermain makanya menolak ku " Wenda benar-benar kesal kepada Karan, Iya tidak terima di tolak oleh Karan
Wenda keluar dari kamar ya langsung berjalan ke Paviliun, panggilan Mamah Erina pun tidak Wenda hiraukan Ia terus berjalan ke pavilion dengan wajah yang sangat kesal " Ada apa dengannya " Gumam Mamah Erina heran
Di paviliun Wenda mencari keberadaan Kanaya iya memukul-mukul pintu kamar Kanaya dengan cukup keras
" Kanaya!!! Keluar kamu!! " Panggil Wenda
Kanaya yang hendak ingin tidur ia langsung Berdiri dan membuka Pintu
Palak....
" Dasar Wanita tidak benar!!! Bisa-bisanya kamu merayu suamiku dan bermain dengan mu hah!!! " Tuduh Wenda
Kanaya memegangi pipinya karena terasa perih " Maksud Nyonya apa? Main? siapa yang main? " Ucap Kanaya
" Alah.. jangan ngeles deh kamu, Aku tau jika suamiku tadi habis dari sini dan kalian menghabiskan sore kalian dengan bermain di atas tempat tidur "
" Jaga Ucapan Anda ya Nyonya, Apa nyonya juga lupa jika Aku ini juga istri sah nya Tuan Karan, Jadi Apa salahnya jika aku bermain dengan suamiku Sendiri " Ucap Kanaya yang membenarkan Ucapan Wenda toh di jelaskan juga tetap saja Wenda akan menuduh dirinya
" Dasar!! Wanita gak tau diri " Wenda Menjambak Rambut panjang Kanaya Lalu mendorong Kanaya ke atas tempat tidur dan menindih Kanya
" Auch.. sakittt!!! " Keluh Kanaya
Mbak Sari yang mendengar teriakan Kanya ia langsung menghampiri kamar Kanaya " Nyonya Wenda, Lepaskan Nona Kanaya " Teriak Mbak Sari
" Jangan ikut campur kamu upik Abu, Ini urusanku dan juga dia!! " Tatapan Wenda benar-benar mengerikan
" Sakitttttt " Runtuh Kanaya Yang perutnya di duduki oleh Wenda
Mbak Sari tidak habis akal ia langsung menggedor Kamar Bams dan meminta Bams untuk menghentikan kegilaan Wenda
Bams yang mendapatkan Aduan dari Mbak Sari, Ia langsung berjalan ke kamar Kanaya, Wajah Bams sudah membulat ketika melihat Ada Darah di pipi Kanaya " Nyonya hentikan!!! " Bentak Bams, Bams Membawa Wenda untuk turun di atas perut Kanaya
" Mbak, Bawa Nona Kanaya ke rumah sakit dan Pastikan Jika Nona Kanaya dan Bayi yang ada di dalam Kandungan nya baik-baik saja " Kata Bams yang langsung di anggukan oleh Mbak Sari
Mbak Sari langsung membawa Kanaya ke pintu yang biasa mereka lewati jika ingin keluar dari Rumah itu, Katanya yang merasakan sakit di bagian perutnya ia terus merintih kesakitan " Mbak, sakit hiks... "
" Yang sabar ya Non, sebentar lagi kita akan Sampai di rumah sakit " Kata Mbak Sari
Sedangkan di Paviliun, Bams tidak habis pikir dengan kelakuan Wenda " Apa Nyonya tidak berfikir bagai mana jika terjadi sesuatu kepada Nona Kanaya, Dan Apa Nyonya Tidak berfikir bagai mana jika Tuan Karan Sampai tau kejadian ini? "
" Maka dari itu kamu jangan banyak omong!! " Bentak Wenda yang langsung meninggalkan Bams di paviliun
Bams memijat pelipisnya ia benar-benar Pusing dengan kelakuan Wenda " Tuan, kenapa anda harus menikahi wanita yang seperti Nyonya Wenda " Gumam Bams
Bams langsung mengambil Kunci Mobil lalu pergi ke rumah sakit dimana Kanaya di Rawat.
~ RUMAH SAKIT
Di rumah sakit Kanaya langsung ditangani oleh Dokter, Kanaya cukup beruntung karena tekanan yang diberikan oleh Wenda tidak mengakibatkan keguguran, hanya saja Kanaya harus dirawat beberapa hari di rumah sakit karena kandungannya yang lemah
Mbak Sari merasa kasihan kepada Kanaya ia menitihkan air matanya, Mbak Sari sungguh tidak tega melihat keadaan karena ia saat ini terbaring lemah di atas tempat tidur dengan pipi yang merah dan sudut bibir yang lembam, Mbak Sari tidak habis pikir dengan Nyonya Wenda yang bisa-bisanya dia mendidih perut Kanaya dan menyiksa Kanaya dengan membabi buta tanpa alasan yang jelas lagian bukannya Tuhan karena itu adalah suaminya Kanaya juga jadi kenapa Wenda harus marah salah sendiri dirinya tidak bisa hamil.
Bams langsung masuk ke dalam ruangan Kanaya Iya langsung menanyakan bagaimana keadaan karena ya kepada Mbak Sari " Bagai mana dengan keadaan Nona Kanaya? "
Mbak Sari membuang napasnya pelana " Keadaan yang sudah membaik dan kandungannya juga tidak apa-apa hanya saja Nona Kanaya harus dirawat di sini beberapa hari karena kandungannya yang lemah sekalian pemulihan " Jawab Mbak Sari
Bams Mengangguk " jika itu yang terbaik lakukanlah, Tapi kamu jangan bilang kepada Tuan jika Nona Kanaya dirawat di rumah sakit karena ulah istri pertamanya "
Mbak Sari mengerutkan keningnya ia merasa heran kenapa harus merahasiakan perbuatan Wenda " Kenapa Tuan? "
" Jika kamu mau mengadukannya bisa-bisa Nyonya Wenda melakukan hal yang lebih dari ini, kamu tahu sendiri bagaimana Nyonya Wenda, Jadi aku harap kamu tidak banyak omong kepada Tuan Karan " Kata Bams
Omongan Bams ada benarnya juga semakin dirinya mengadu pasti Nyonya Wenda akan semakin menyiksa Nona Kanaya " baiklah jika ini buat kebaikan Nona Kanaya "
" Biaya rumah sakit akan aku urus dan biaya untuk kalian di sini pun akan aku transfer ke rekeningmu, Aku harap ini akan menjadi rahasia kita jangan sampai Tuhan Karan tau " Bams langsung meninggalkan ruangan Kanaya
Lagi lagi Mbak Sari merasa iba kepada Kanaya karena hidupnya yang akan semakin sulit dan akan penuh rintangan " Yang kuat ya Non, semoga Non bisa melewati ini semua dan berharap Setelah semua ini berlalu dan akan mendapatkan pria yang lebih baik yang sangat menyayangi Non dan menerima Non Apa adanya " Gumam Mbak Sari
ternyata Dari tadi karena yang sudah bangun ia mendengarkan pembicaraan Mbak Sari dan juga Bams, Iya tidak menyangka jika Bams menyuruh mbak sari untuk diam tentang dirinya padahal dirinya tidak salah yang salah hanyalah Nyonya Wenda yang sudah menuduh dirinya yang tidak-tidak
Hatinya terasa sakit perih, kenapa dia terluka pun suaminya tidak boleh tahu padahal ini menyangkut dirinya dan juga calon anak mereka, jika sampai anak yang ada dalam kandungannya Tidak ada,n ia tidak akan segan-segan untuk menuntut Wenda
" Mbak " Lirih Kanya yang sudah mengusap air matanya
Mbak Sari yang sedang duduk di sopa langsung berdiri dan menghampiri Kanaya " Iyan Non " jawab Mbak Sari
" Aku ingin pulang Bi " Lirih Kanaya
" Maaf non, Tapi Dokter tidak memperbolehkan Non Pulang dulu karena kandungan Non yang saat ini lemah " Kata Mbak Sari
" Tapi Jika aku sudah sembuh bolehkan Aku pulang ke kampung halamanku ku bi, Aku merindukan Nenekku Mbak Hiks... "
. Mbak Sari bingung harus jawab apa karena dia tidak mempunyai wewenang untuk menjawab pertanyaan Kanaya " Mbak tidak tahu non, tapi Mbak akan cuma ngomong ke Tuan Bams, tapi tidak janji ya Non karena keputusan tetap saja dari Tuan Karan " Kata Mbak Sari
Kanaya menganggukkan kepalanya lalu ia memalingkan wajahnya ke arah lain, air mata yang ia tahan kini telah tumpah rasanya hidupnya ini sangatlah pelit, andai saja waktu bisa diputar Mungkin karena ia tidak akan mau menerima tawaran dari Karan namun kini masih sudah menjadi bubur waktu sudah tidak bisa diulang.
~ RUMAH UTAMA
Karen yang baru keluar dari kamar mandi tidak melihat keberadaan Wenda di kamarnya, Karan tidak mencari keberadaan Wenda, Iya Malah memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur karena rasanya ia sangat lelah hari ini, namun ketika ia ingin memejamkan kedua matanya sekarang malah merasa gelisah jantungnya berdetak tidak karuan Iya merasa ada sesuatu hal namun tak apa itu " Ada apa denganku ini, Tidak biasanya aku merasakan hal seperti ini " Gunma Karan memegangi dadanya
Brak..
Wenda masuk ke dalam kamar dengan membantingkan pintu lalu ia masuk ke dalam kamar mandi tanpa menyapa Karan yang sudah terbaring di atas tempat tidur
Karan yang melihat istrinya tiba-tiba datang dan membandingkan pintu ia merasa heran, Ada apa dengan istrinya itu kenapa tiba-tiba dia marah-marah
yang tadinya Karan akan tidur Iya langsung duduk menunggu sang istri keluar dari kamar mandi
Ceklek..
Wenda keluar dari kamar mandi menggunakan handuk mandinya lalu ia pergi ke ruang ganti dan mengambil gaun Tidurnya yang tipis
Karan berdiri lalu ia menghampiri sang istri di ruang ganti " Honey, Ada Apa denganmu? " Tanya Karan yang memeluk Wenda dari belakang
" Aku tidak apa-apa " Jawab Wenda yang melepaskan pelukannya dari sang suami Lalu ia pergi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur
Karan heran kepada istrinya itu lalu ia mengikuti Wenda ke atas tempat tidur " Kamu kenapa hmm... Apa kamu sedang mau datang bulan Makanya kamu marah-marah begini "
" Pikir saja Sendiri " Jawab Wenda yang langsung memejamkan kedua matanya
Karan membuang nafasnya pelan lalu ia memberikan tubuhnya di samping sang istri diajak ngobrol cuman percuma karena istrinya itu malah memilih untuk tidur, Karan tertidur sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang ia melupakan perasaannya yang gelisah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Elizabeth Yanolivia
nafasnya = napasnya
memberikan tubuhnya = membaringkan tubuhnya
2024-10-17
0
Elizabeth Yanolivia
iya langsung = IYA langsung
2024-10-16
0
Elizabeth Yanolivia
membandingkan pintu = MEMBANTING pintu
2024-10-16
0