"Mengapa kamu tidak mengatakan sejak tadi jika kamu adalah keluarga Wijaya?" tanya Arshen dalam perjalanan menuju rumah milik keluarga Wijaya yang tak asing lagi di telinganya.
"Memangnya kamu bertanya? Tidak, kan?" balas Kenza.
"Sudahlah, berbicara denganmu hanya akan menguras emosiku saja!" gerutu Arshen sambil mendengus kasar.
Kenza pun terdiam. Meskipun bibirnya mengatakan tidak ingin menerima ponsel pemberian Arshen, tetapi ponsel baru itu diutak-atik untuk membuka salah satu akun sosial medianya. Beruntung saja Kenza mengingat sandi, karena Kenza sengaja menggunakan tanggal lahir pacarnya agar mudah diingat.
Wajahnya terlihat kusut setelah berhasil membuka instragram miliknya. Berbagai unggahan teman lamanya seakan memenuhi berandanya. Terlebih saat melihat salah satu unggahan sepupunya yang sedang mengunggah foto bersama dengan pacarnya. Hati Kenza mendadak seperti sedang tersayat oleh sembilu, sungguh perih.
"Apa coba maksudnya foto sama Kala!" dengus Kenza saat melihat unggahan Elena bersama pacarnya—Zakala Putra Kanna.
"Kenapa?" tanya Arshen penasaran.
"Bukan urusan kamu! Semuanya gara-gara kamu!" sembur Kenza dengan kesal.
"Kok aku lagi? Memangnya apa salahku? Baru juga ketemu, udah numpuk aja kesalahanku."
"Kalau kamu enggak nabrak aku dan enggak menghancurkan ponselku, mana mungkin pacarku diambil oleh Elen. Semua ini gara-gara kamu!" gerutu Kenza.
"Ya udah kalau pacar kamu udah diambil orang, mending kamu sama aku aja. Kebetulan Mommy-ku juga sedang mencari menantu. Kali aja kamu bisa masuk sebagai kandidatnya," saran Arshen.
Kenza menarik dua sudut garis di bibirnya. "Gak usah bermimpi karena aku sama sekali tidak tertarik denganmu. Terlebih kamu bukanlah tipeku!"
Kali ini Arshen memilih untuk diam. Semakin dia menanggapi ucapan Kenza semakin panjang juga Kenza berceloteh dah itu hanya akan membuat jantungnya tidak bisa di kondisikan karena bibir seksi itu terus berkomat-kamit.
"Nyetir yang benar biar cepat sampai!" perintah Kenza.
Seperti layaknya seorang supir, Arshen mengangguk dengan pelan. Dia pun menambah laju kecepatan mobilnya agar bisa segera sampai di rumah keluarga Wijaya. Namun, lagi-lagi Kenza mendumel.
"Kamu bisa bawa mobil dengan benar gak sih? Atau kamu memang sengaja bawa mobil ugal-ugalan biar aku segera ketemu sama malaikat Izrail?" Mata Kenza sudah melotot kearah Arshen.
Helaan napas panjang terasa sangat berat. Arshen pun menurunkan kecepatan laju mobilnya.
Salah lagi, salah lagi! Apakah semua wanita itu memang selalu benar? gerutu Arshen dalam hati.
Kenza pun memilih untuk menyandarkan kepalanya pada jok mobil sambil memikirkan Elena yang sedang bersama pacarnya. Apakah mungkin jika Elena benar-benar tega menusuknya dari belakang?
Hanya dengan sebuah foto, pikiran Kenza sudah mulai menerka-nerka. Menjalani hubungan jarak jauh selama dua tahun, tentu saja bukanlah hal yang mudah. Dimana Kenza harus menahan rindu untuk bertemu kepada pacarnya. Bahkan rasa rindunya tak bisa terobati hanya dengan melakukan panggilan video call saja.
Karena saking lelahnya, Kenza pun tertidur. Arshen yang mengemudikan mobil, sesekali melirik kearah Kenza. Baru pertama kali bertemu saja sudah membuat jantungnya terus berdebar, bagaimana jika Arshen bertemu dengan Kenza setiap hari. Bisa-bisa Arshen langsung terserang penyakit jantung.
"Aku harap ini adalah kali pertama dan terakhir aku bertemu dengannya. Sungguh aku tidak bisa mengontrol jantungku. Aku tidak mau mati muda karena serangan jantung," lirih Arshen dengan pelan.
Tak terasa perjalanan yang ditempuh Arshen sudah sampai di depan sebuah rumah kebesaran keluarga Wijaya. Setelah sampai, Arshen berniat untuk membangunkan Kenza yang masih terlelap.
Perlahan, kepalanya mendekat untuk membangunkan Kenza. Arshen tertegun dengan wajah manis didepan matanya. Wajah yang begitu cantik dan menawan. Bahkan bisa dikatakan, wajah yang ada dihadapannya saat ini terlihat langkah.
'Astaga ... cantik banget sih, nih orang. Tapi sayang udah punya pacar. Kalau saja masih sendiri, cocok dibawa pulang untuk dijadikan menantunya Mommy' batin Arshen yang masih terkagum dengan kecantikan Kenza.
Masih berada dalam posisinya, tiba-tiba Kenza membuka matanya dengan pelan. Saat menyadari wajah Arshen yang lebih dekat, Kenza segera memberikan sebuah tamparan di pipi Arshen.
PLAK!
Seketika Arshen langsung mengaduh kesakitan. Selama 24 tahun ini adalah tamparan pertama yang dia rasakan.
"Aduh .... sakit tahu!"
"Oh, tahu sakit juga, ya! Rasain, siap suruh mau macam-macam!" papar Kenza.
Arshen pun langsung menautkan kedua alisnya. "Macam-macam gimana, sih? Aku kan cuma mau bangunin kamu aja. Agar kamu bangun karena kita sudah sampai di rumah keluargamu," ujar Arshen yang masih menggosok pipinya karena terasa memar.
Mata Kenza pun langsung menatap ke depan. Sebuah rumah megah milik mendiang Kakek Uyut yang masih bertengger dengan indah membuatnya langsung mengerucutkan bibirnya. Bukan karena sedang marah pada Daddy si Alan-nya, tetapi dirinya sedang kesal pada Elena, yang berani berfoto dengan pacarnya. Dan saat ini Arshen malah mengantarkannya pulang ke rumah Elena
"Kok malah kesini, sih? Ini bukan rumah Daddy Ke, tapi rumah Daddy si Alan. Aku enggak mau pulang kesini!" rajuk Kenza.
"Jadi kamu mau pulang kemana? Memangnya kamu tahu alamatnya?"
Kenza yang mengerucutkan bibirnya pun langsung membuka pintu untuk keluar. Sepertinya tidak ada masalah jika Kenza singgah di rumah Daddy si Alan-nya terlebih dahulu. Setelah itu Kenza bisa menyuruh sopir untuk mengantarnya pulang.
"Hei, bukain bagasinya, dong! Aku mau ambil koper!" teriak Kenza pada Arshen.
Arshen yang diperintahkan oleh Kenza hanya mengerutkan dahinya. "Aku?" Tunjuk Arshen pada dirinya sendiri.
"Ya iyalah, masa mau tukang cilok yang aku suruh!"
"Dasar, merepotkan! Buka bagasi aja gak bisa! Bisanya apa? Buka baju dan celana?" cibir Arshen kesal.
"Kamu ngomong apa, aku dengar ya!"
Dengan langkah gontai, Kenza memasuki rumah peninggalan kakek uyut yang saat ini ditempati oleh Alan dan keluarganya. Padahal rencana awal ia langsung ingin pulang ke rumah Daddy Ke, karena saat ini sang Daddy sedang berulang tahun. Namun, semua rencananya gagal total karena dia harus bertemu dengan Arshen.
Tanpa ingin mengetuk pintu ataupun memencet bel, Kenza langsung nyelonong untuk masuk ke dalam rumah. Namun, suasana rumah terasa sangat sepi.
"Astaga ... Non Eza!" pekik Lily, asisten rumah tangga di rumah Daddy Alan-nya.
"Apakah ini benar-benar Non Eza atau hanya sekedar halusinasiku saja, ya?" Lily memastikan penglihatannya dengan cara mengecek matanya. "Oh, astaga ... benar."
"Bibi Lily apa-apa, sih? Ini aku Eza, bukan arwahnya!" ungkap Kenza.
"Oh, maafkan Bibi, Non. Abis datang tiba-tiba kayak hantu," balas Lily.
"Sembarang Bibi kalau ngomong! Oh iya, ini kenapa rumah sangat sepi kayak kuburan, sih? Daddy Alan sama Mommy Azra kemana?"
"Jam segini Tuan dan Nyonya masih berkeliaran di luar, Non. Yang jelas Tuan Ke sedang berada di kantor dan Nyonya Azra masih berada di butik. Tapi ngomong-ngomong angin apa yang membaut Non Eza kesini?"
"Udah ah, Bi. Aku lelah. Kasih tahu nanti kalau Daddy Alan udah pulang ya."
"Siap, Non."
Bibi Lily berusaha untuk membantu membawakan koper milik Kenza untuk menuju ke kamar, tetapi Kenza menolaknya. "Aku bisa bawa sendiri kok, Bi. Bibi lanjutkan aja pekerjaan Bibi."
Lily hanya menatap punggung Kenza untuk menaiki anak tangga. Gadis manja kesayangan Tuanya kini telah tumbuh dewasa. "Mengapa Nona Eza pulang kesini? Apakah dia sedang ada masalah dengan Tuan Ke? Aku harus memberitahu Nyonya Mouza," ucap Lily dengan pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Pujiastuti
semangat kak 💪💪😊😊😊
2023-03-03
1
Haryati
ada yah lupa rumah sendiri....yah tuh kenza....lain dari yg lain....🤦🤭
2023-03-02
1