Setelah keluar dari rumah itu, Sierra menghembuskan nafasnya kasar.
" Terimakasih." Ucap Sierra.
" Begitu saja.?" Ucap Arthur.
" Aku tidak memiliki apapun, sebaliknya kamu memiliki segalanya, apa yang bisa aku berikan kepadamu?" Ucap Sierra.
" Mungkin dengan menjadi partner mu datang ke pertemuan nanti malam." Ucap Arthur.
' Aku tidak bisa melibatkan dirinya, ini adalah dendamku.' Batin Sierra bermonolog.
" Mungkin lain kali saat aku punya uang, aku akan mentraktirmu makan. Hehehe.." Ucap Sierra.
' Dia masih berhati hati denganku.' Batin Arthur bermonolog.
" Bukankah kita partner.? " Ucap Arthur.
" Ya, tentu saja kita partner." Ucap Sierra.
" Lalu mengapa kamu tidak mau melibatkan aku dengan urusanmu malam nanti." Ucap Arthur.
" Hah.??" Ucap Sierra.
' Tidak mungkin dia tahu ada rencana terselubung kan.? ' Batin Sierra bermonolog.
" jika mereka menyulitkan mu, kamu bisa mengandalkan aku lagi." Ucap Arthur.
' Rupanya dia hanya mengkhawatirkanku.' Batin Sierra berucap.
" Tidak apa apa, aku sudah biasa. Ayo, aku antar kamu pulang. Dimana rumahmu.?" Ucap Sierra.
" Kamu serius mau mengantar seorang pria pulang.?" Ucap Arthur.
" Lalu? Kau tidak ada kendaraan. Oh, Astaga aku lupa.. Kamu kan orang kaya, kau bisa panggil supirmu datang menjemputmu kan.? Tapi.. Apakah bisa jangan disini.?" Ucap Sierra.
Arthur terkekeh melihat Sierra yang sedikit berbisik itu, wajahnya sungguh lucu.
" Tidak, kau sudah bilang mau antar, jadi ayo antar aku." Ucap Arthur.
" Cih.. " Sierra hanya berdecih.
Arthur kembali mengemudikan motor itu, sementara Sierra membonceng di belakangnya. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan sama sekali, karena Sierra tengah menyusun rencana dalam otaknya, agar bisa membuat pelajaran bagi kedua saudari tirinya itu.
Hingga tak terasa mereka pun sampai di sebuah kediaman yang nampak tak asing bagi Sierra.
" Eh, sepertinya aku pernah kemari." Ucap Sierra sembari menatap bangunan berpagar tinggi didepan nya.
" Iya kah.??" Ucap Arthur berpura pura tidak tahu.
" Hmm.. Iya , aku yakin sepertinya pernah kemari. Tapi kenapa aku kemari? " Ucap Sierra bingung sendiri.
" ROAAR.!!"
Terdengar auman binatang buas, lebih tepatnya singa.
" Oh... Aku ingat, aku mengantarkan si kucing besar kemari. Eh tunggu, ini kediamanmu.?" Ucap Sierra kepada Arthur.
" Hmm.. Kediaman Edward." Ucap Arthur.
" Edward.. Arthur Edwad.. Haaa Astaga. Jadi kau adalah tuan muda Edward yang di maksud pawang saat itu.?" Ucap Sierra terkejut.
" Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya. Aku selalu merasa aku pernah mendengar nama belakangmu, tetapi aku lupa dimana. Rupanya saat aku bertemu dengan kucing besar, bolehkah aku menemuinya.?" Ucap Sierra.
" Boleh, silahkan, dia begitu rewel. " Ucap Arthur.
" Terimakasih." Ucap Sierra senang.
Sierra pun mengikuti Arthur masuk kedalam kediaman nya. Sierra kagum dengan apa yang dilihatnya, walaupun kediaman nya sendiri mewah, tetapi kediaman Arthur berkali lipat lebih mewah dan megah.
Pilar pilar besar, lampu kristal, guci guci besar, ruangan yang luas dan tertata rapih. Semuanya sungguh mengagumkan dipandang mata.
" Ada berapa orang yang tinggal disini.?" Tanys Sierra.
" Aku.. sendiri." Ucap Arthur.
" Hah? Di rumah sebesar ini kau hanya sendiri.? Dimana orang tuamu.?" Ucap Sierra.
" Apakah kau sudah siap bertemu orang tuaku?" Ucap Arthur dengan artian lain.
" Oh, pasti mereka sibuk ya ? Aku mengerti. " Ucap Sierra manggut manggut.
' Gadis ini.. tidak peka atau pura tidak peka.' Batin Arthur bermonolog.
Hingga akhirnya mereka sampai di halaman samping rumah itu. Sebenarnya jika mereka langsung masuk melewati taman juga bisa, tetapi Arthur sengaja membuat agar Sierra mengenal kediaman nya.
" Nah, itu dia si bawel." Ucap Arthur.
" Kucing besar..." Teriak Sierra senang.
"GROAR.." Aum singa itu.
Seolah bertemu pemiliknya, singa itu langsung memeluk Sierra. Tubuh Sierra yang terbilang kecil itu langsung tumbang diatas rumput disana. Walaupun itu kandang tetapi Arthur membuatnya senyaman mungkin agar binatang binatang peliharaan nya itu mnyaman dengan habitat barunya.
" Hei kucing, apa kabar.?" Ucap sierra.
" Raoorrr.. "
Arthur tersenyum saat melihat interaksi singanya dengan Sierra. Mereka adalah dua makhluk berbeda jenis tetapi mereka memiliki sifat yang kurang lebih sama, sulit didekati.
" Sepertinya dia sangat menyukaimu, dia tidak berisik seperti biasanya." Ucap Arthur.
" Dia berisik.??" Ucap Sierra tidak percaya.
" Ya, dia berisik.. Sudah ada lima pawang mengundurkan diri karena menyerah menjinakan nya." Ucap Arthur.
" Hei kucing, kau membuat mereka ketakutan.?" Ucap Sierra sembari menjitak kepala singa itu.
Seolah mengerti, singa itu tiba tiba menjadi sedih. Melaihatnya begitu Sierra jadi tidak tega, itu terlalu menggemaskan.
" Aaa.. Kamu menggemaskan sekali." Ucap nya sambil mengacak acak bulu singa jantan itu.
" Kamu tidak takut dengan nya.?" Ucap Arthur.
" Tidak, aku bisa menjinakan binatang. Mereka berlaku sesuai kau memperlakukan nya, jika kamu baik maka dia juga baik. Lalu satu lagi, jika mendekatinya harus lebih mendominasi.. Seperti ini, kucing.!! tidur sini." Ucap Sierra sembari menepuk rumput di sebelahnya.
Seolah tahu, singa itu langsung merebahkan dirinya di sebelah Sierra. Dan dengsn gemas Sierra menggaruk garuk bulu singa itu layaknya seekor anjing.
" Oiyah, siapa namanya.?" Ucap Sierra.
" Aku belum memberinya nama, sejauh ini belum ada nama yang cocok untuknya yang cerewet ini." Ucap Arthur.
Arthur mendekati Sierra dan singa itu, tetapi tiba tiba singa itu marah.
" GRROAR.!! RRR..!!"
PLAK.!!
" Dia tuan mu kucing, baik baik kau padanya." Ucap Sierra sembari memukul kepala singa itu.
Singa itu pun kini diam dan pasrah.
" Kau menjatuhkan harga dirinya." Ucap Arthur.
" Peliharaan harus menurut pada tuan nya, begitupun dia." Ucap Sierra.
" Kau ada ide tentang nama untuknya.?" Ucap Arthur.
" Mmmmm... Hwan." Ucap Sierra.
" Hwan.?? " Tanya Arthur.
" Hm.. Dia begitu cerdas, Hwan itu artinya cerdas, berasal dari negara K." Ucap Sierra.
" Hwan.. Bagus. " Ucap Arthur.
" Kau setuju dengan nama itu? Aku hanya asal, kau lebih berhak memberinya nama." Ucap Sierra.
" Aku suka, Hwan.. Mulai sekarang itu adalah namamu, apakah kau senang.?" Ucap Arthur pada singa itu.
" Raorr."
Singa itu menjilat pipi Arthur , yang menandakan dia menyukai nama yang di berikan oleh Sierra.
" Kalau begitu aku pergi dulu, aku harus bersiap siap untuk pertemuan malam nanti." Ucap Sierra.
" Kamu sungguh tidak membutuhkan bantuanku.?" Ucap Arthur.
" Terimaksaih aku..."
" Kamu bisa mengandalkan aku, bukankah kita partner.?" Ucap Arthur memotong ucapan Sierra.
' Aku tidak bisa melibatkanmu, bisakah aku percaya padamu?' Ucap Sierra dalam hati.
" Boleh pinjam ponselmu?" Ucap Arthur.
" Oh, boleh.. " Ucap Sierra lalu memberikan ponselnya kepada Arthur.
Arthur mengetik beberapa angka nomor telepon, lalu menyimpan nya.
" Nah, kapanpun kamu butuh bantuanku, kamu bisa menghubungi ku di nomor itu." Ucap Arthur.
" Arthur.. tampan.?? Narsis sekali." Ucap Sierra terlekeh karena Arthur menamai dirinya di ponsel Sierra dengan nama Arthur tampan.
" Bukankah aku memang tampan.?" Ucap Arthur semakin narsis dengan alis yang di naik turunkan.
" Iya.. Iya.. " Ucap Sierra de gan senyum kaku nya.
" Kamu meragukanku lagi?" Ucap Arthur.
" Hehe, tidak.. Hanya tidak menyangka seorang CEO dari perusahaan besar sepertimu bisa sangat narsis." Ucap Sierra.
" Sudahlah.. Kamu terpaksa mengakui aku tampan." Ucap Arthur.
' Padahal aku begini hanya di depanmu.' Ucap Arthur dalam hati.
" Hehehehe.. Maaf.. Iyaz kamu yang paling tampan. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Sierra pamit.
" Hati hati di jalan." Ucap Arthur.
" Pasti.. Hwan, jadilah anak baik oke? jangan berbuat onar, kita akan bertemu lagi." Ucap Sierra.
' Bertemu lagi? itu artinya dia akan datang lagi kerumahku.?' Batin Arthur bermonolog.
Arthur mengantar Sierra hingga di halaman depan.
" Hati hati di jalan." Ucap Arthur lagi.
" Kau sudah bilang itu tadi. " Ucap Sierra.
" Bagaimana jika aku bilang, maukah aku antar.?? " Ucap Arthur.
" Tidak, terimakasih aku pergi dulu, sampai jumpa dan terimakasih untuk bantuanmu hari ini." Ucap Sierra.
BBRRUUMMM..
Sierra menyalakan motornya lalu pergi dari kediaman Arthur.
' Semoga aku tidak salah langkah, aku belum bisa mempercayai siapapun sejauh ini.' Batin Sierra bermonolog.
' Dan mari kita beri pelajaran untuk para manusia tidak tahu diri itu.' Ucap sierra lagi.
TO BE CONTINUED...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wajar kl Sierra blm bis percaya ke orang lain
2025-01-08
0
Kur Niati
bak kau itam
2024-10-03
1
Nur Bahagia
wkwkkwk udah di panggil kucing, trs dijitak pula kepalanya 😅 kasian kau singaa 🤣
2024-09-02
1