Part 13

Hari sudah siang, Gail melihat jam tangannya. Sebentar lagi jam makan siang, dia akan pergi ke restoran di mana Cristal akan mentraktirnya makan siang. Alamat sudah dia dapatkan dari Cristal, dia terlihat tidak sabar untuk pergi. Semoga saja bosnya tidak memintanya mengantar dia pergi karena dia tidak bisa menemui Cristal jika sampai bosnya meminta hal demikian.

Gail kembali melihat jam, dia tampak senang karena jam makan siang sudah tiba. Gail segera bergegas menuju ruangan bosnya, dia ingin meminta ijin untuk keluar sebentar.

"Sir, apakah kau hendak pergi? Jika tidak aku ingin keluar sebentar. Apakah boleh?"

"Tentu saja, aku tidak pergi ke mana pun karena istriku mau datang."

"Terima kasih, Sir," ucap Gail. Tentunya dia terlihat senang.

Ijin pun sudah didapatkan, Gail bergegas pergi. Dia hanya punya waktu sampai satu jam saja, sebab itu dia tidak mau membuang waktu.

Cristal tampak sibuk di restoran karena saat itu sedang jam makan siang. Dia harap dia memiliki sedikit waktu agar dia bisa menemani Gail karena dia ingin berterima kasih padanya tapi dia rasa pria itu tidak mungkin datang namun sayangnya tebakannya salah.

Gail melangkah menuju restoran sambil memutar kunci di tangan. Dia bahkan terlihat bersiul seolah-olah dia sedang senang. Pintu restoran terbuka, Gail melihat restoran yang begitu ramai. Matanya mencari sosok wanita yang hendak dia temui dari tamu restoran tapi nyatanya, dia mendapati Cristal berada di antara para pelayan yang sedang sibuk. Rasa kecewa sedikit dia rasakan. Padahal dia mengira jika mereka bisa makan siang bersama namun nyatanya tidak.

Gail mencari tempat duduk, matanya tidak lepas dari Cristal yang sedang melayani tamu lain. Seorang pelayan mendekatinya namun Gail justru meminta pelayan itu untuk pergi. Dia diam saja sambil memperhatikan Cristal. itu lebih baik dari pada dia bekerja di club malam. Sesungguhnya apa yang wanita itu alami sehingga dia memiliki hutang dan harus bekerja di club malam?

Dia pasti akan tahu nanti jika dia semakin mengenal Cristal. Anggap saja ini sebagai awal dari mereka berdua, itu pun jika Cristal mau dengannya. Cristal masih mencari Gail, sudah dia duga pria itu tidak mau datang. Itu wajar, pria itu pasti tidak mau makan di restoran seperti itu.

"Cristal, pemuda di sana memanggilmu," ucap seoang rekannya.

"Aku?" Cristal sangat heran dan melihat ke arah di mana sang rekan menunjuk. Dia tampak sedikit terkejut. Bukankah pria itu yang dia tunggu?

"Ya, pergilah!"

Cristal melangkah pergi dengan buku menu, dia kira pria itu tidak mau datang tapi ternyata dia sudah ada di restoran tanpa dia ketahui. Tatapan mata Gail tidak lepas darinya saat Cristal melangkah mendekatinya. Cristal berusaha tersenyum, dia benar-benar sudah salah sangka pada pria itu.

"A-Apa kau sudah lama di sini?" tanya Cristal basa basi.

"Yeah, setidaknya aku sudah menghitung beberapa orang yang keluar dan masuk!"

"Maaf, aku tidak tahu kau sudah datang."

"Tidak apa-apa, duduk denganku dan makan denganku!" ucapan Gail seperti memerintah sehingga Cristal tidak berani menolak namun dia tidak juga berani setuju karena dia sedang bekerja.

"Kenapa diam saja?" Gail menatapnya dengan tatapan dingin dan tajamnya.

"Maaf, aku sedang bekerja."

"Aku sudah meminta ijin dengan managermu."

"Apa?"

"Duduk!" Gail memanggil seorang pelayan. Cristal tampak tidak enak hati saat rekan kerjanya datang untuk melayani mereka.

"Mau makan apa?" Gail memberikan buku menu.

"Tidak, aku yang akan mentraktirmu, Kau tidak lupa, bukan?" ucap Cristal.

"Lain kali, sekarang aku yang akan mentraktirmu!"

Cristal tampak tidak enak hati, namun dia duduk juga bersama dengan Gail. Cristal bahkan tidak berani memesan apa pun. Dia diam saja melihat Gail memesan begitu banyak makanan untuk mereka.

"Mengenai uang yang ada di dalam tas," ucap Cristal sambil menunduk.

"Uang apa?" Gail pura-pura tidak mengerti.

"Uang yang ada di dalam tasku, aku tahu itu uang darimu," Cristal menatapnya, ingin mencari tahu apa alasan pria itu memberikan sejumlah uang itu.

"Jangan salah paham!" sebatang rokok dinyalakan, "Itu uang yang diberikan oleh managermu," dustanya karena dia tidak ingin Cristal tersinggung.

Cristal mengernyitkan dahi, apakah benar? Dia tidak percaya uang sebanyak itu diberikan oleh sang manager. Bahkan dia merasa untuk mendapatkan uang itu dia memerlukan tip beberapa hari dari para tamu yang berbaik hati.

"Kenapa? Apa kau tidak percaya?" Gail meliriknya.

"Bu-Bukan begitu. Aku hanya merasa uang itu terlalu banyak."

"Bodoh, bukankah itu bagus?"

"Kau benar, maaf," Cristal tersenyum tipis. Walau Gail berkata itu uang dari sang manager tapi dia tidak percaya. Sebaiknya dia tidak bertanya lagi karena dia tahu, pria itu tidak mungkin akan mengakuinya.

Mereka berdua diam saja, Gail melihat jam yang melingkar di tangan. Waktunya habis, dia sudah harus kembali ke kantor. Makanan yang dia pesan belum juga dihidangkan tapi dia sudah tidak punya banyak waktu lagi sehingga mau tidak mau dia harus pergi.

"Aku sudah tidak punya waktu lagi, semua makanan itu untukmu. Bawa pulang dan nikmati dengan keluargamu," ucapnya seraya beranjak.

"Apa? Tapi...," Cristal juga beranjak karena Gail sudah melangkah pergi menuju kasir.

"Tunggu, jangan tinggalkan makanannya seperti itu," ucap Cristal sambil mengejar Gail.

"Aku sudah harus kembali, bosku sudah mencari," Gail mengeluarkan kartunya dan memberikannya pada kasir sambil berkata, "Semua makanan itu untuknya."

Cristal semakin tidak enak hati, pria itu sudah banyak membantunya dan sekarang makanan pun diberikan padanya. Setelah membayar, Gail melangkah keluar dengan terburu-buru karena dia sudah harus kembali. Cristal menyambar roti yang ada di meja dan berlari mengejar Gail.

"Tunggu, aku sungguh berterima kasih. Maaf lagi-lagi kau harus mengeluarkan uang padahal aku yang mengajakmu makan siang."

Langkah Gail terhenti, pria itu berpaling namun tidak ada senyum di wajahnya karena dia memang bukan orang yang mudah tersenyum.

"Tidak masalah, bagaimana jika kau traktir makan malam saja? Malam aku punya banyak waktu," sesungguhnya itu hanya alasan saja agar dia bisa bertemu dengan Cristal lagi sehingga dia bisa tahu mengenai wanita itu lebih banyak.

"Boleh, tapi kali ini harus aku yang membayar."

Gail tidak menjawab, Cristal terkejut saat pria itu mengusap kepalanya dengan perlahan, "Aku pergi dulu, lain kali kita buat janji lagi," ucapnya.

"Te-Terima kasih, ini roti untukmu," ucap Cristal gugup sambil memberikan roti yang dia bawa pada Gail.

"Baiklah, aku pergi," roti diambil, Gail melangkah pergi.

Cristal berdiri di tempatnya dan memegangi kepalanya, aneh. Kenapa dia jadi curiga dengan maksud pria itu? Semoga saja apa yang dia pikirkan salah, semoga saja pria itu benar-benar berbuat baik saja tanpa ada maksud tertentu karena dia tidak mau.

Terpopuler

Comments

Wulan Unet

Wulan Unet

kayak ada manis manisnya ahahahaha

2024-08-09

1

Shanty Oriance

Shanty Oriance

kok aku jd trharu ya,liht cristal ketemu org baik..

2023-10-17

0

Yuli Yanti

Yuli Yanti

nyesel thor bru bca karya mu,bnr2 the best aq suka banget

2023-04-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!