Yuna tegang, dadanya berdebar, jantungnya memompa dengan cepat. Dia duduk dipinggir ranjang menunggu seseorang yang telah sah menjadi suaminya.
'Sungguh menyedihkan, aku menikah dengan cara seperti ini, jauh dari kata pernikahan impian. Tapi ... ini sudah biasa buatku. Segala sesuatu yang menjadi impianku, perlahan akan menjauh dan memudar dari kehidupanku, hingga akhirnya aku tidak berani lagi untuk bermimpi. Ya ... yang harus kulakukan adalah menjalani hidupku tanpa keinginan dan harapan, membiarkannya mengalir mengikuti takdir.'
"Aku siap, aku belum siap, aku siap, belum siap." Yuna menghitung jari-jarinya, "tidaaak ... oh, pangeran impian, selamat tinggal. Kini yang akan datang adalah sosok yang minggu lalu kulihat di rumah besar itu." Yuna menepuk-nepuk keningnya.
"Boleh aku masuk," sebuah suara asing terdengar oleh Yuna. Dia segera menegakkan punggungnya, menarik nafasnya panjang.
"Bagaimana ini, dia sudah datang, apa yang harus aku lakukan, kabur lewat jendela? Sembunyi di kamar mandi? Pura-pura tidur? Ayolah, Yuna berfikir yang benar," Yuna menepuk-nepuk keningnya lagi.
"Boleh aku masuk," suara itu mengulang.
Yuna diam, tak memberi jawaban.
"Kakak ipar, apakah Kak Yuna tidak membukakan pintu kamarnya? Keterlaluan sekali, ya," suara Viona yang sangat manja terdengar dari dalam kamar Yuna.
"Hai, gadis kecil yang cantik, kau adiknya Yuna?"
"Masuk saja, tidak dikunci," Yuna segera menpersilahkan pria itu masuk sebelum Viona semakin centil.
"Maaf, gadis kecil, aku masuk dulu ya ... sampai jumpa besok."
"Bye, Kakak ...." suara langkah kaki Viona menjauh, lalu perlahan pintu kamar Yuna terbuka.
Yuna segera memalingkan wajahnya. ''cowok perut buncit,'' gumamnya pelan, mengingat sosok yang dia lihat minggu lalu.
"Kenapa kau langsung memalingkan wajahmu setelah aku masuk?" Laki-laki itu menutup pintu dan menghampiri Yuna, "Apa kau begitu tidak ingin melihatku?" ucapnya lagi.
Yuna semakin menunduk.
"Angkat wajahmu," perintahnya.
"Kenapa aku harus mengangkat wajahku?" tanya Yuna.
"Kau!!" laki-laki itu tidak ingin berdebat lagi dan langsung memegang wajah Yuna, membuat Yuna menatap wajahnya.
"S-siapa kamu?" Tanya Yuna setelah menatap wajah laki-laki di depannya.
"Siapa? Kamu ini sedang melawak atau apa?"
Yuna menatapnya bingung. Wajah laki-laki ini bersih dengan hidung mancung, bibir yang seksi, mata yang indah berkilauan dan bulu mata yang lentik dengan alis yang tebal dengan jarak yang sempurna.
"Oppa," gumam Yuna tak sadar.
"Ck, kau pikir aku orang Korea?" Laki-laki itu melepaskan wajah Yuna yang masih terbengong. Mata Yuna sedari tadi tak berkedip melihat laki-laki di hadapannya.
"Huff ...." laki-laki itu meniup wajah Yuna. "Sudah puas memperhatikanku?"
Yuna tersadar dan segera mundur.
"Kamu siapa?" tanyanya lagi yang membuat laki-laki itu tertawa.
"Apa aku harus melakukannya sekarang agar kau tahu siapa aku?" laki-laki itu mendekatkan wajahnya.
"Tidak-tidak, tunggu. Apa kamu Leo?" tanya Yuna lagi sedikit ragu.
"Siapa lagi."
"Tidak ... kau bukan Leo."
"Haahh, ya ampuun, kenapa aku bertemu gadis bodoh kali ini." Leo lalu mengeluarkan dompet dan mengambil kartu pengenalnya, juga mengeluarkan kartu nikah yang baru saja dia terima. "Nih."
Yuna menerimanya, membacanya dengan teliti, kemudian ia beranjak dan mengambil buku nikahnya yang tadi dia tanda tangani. Yuna memejamkan matanya.
'Ya ampun kenapa aku bisa sebodoh ini, aku menandatangani sebuah surat yang sangat penting dengan menutup sebelah mataku, hingga aku tidak sadar bahwa ternyata suamiku sekeren ini. Dan itu berarti yang ku lihat waktu itu bukanlah dia. Huff syukurlah.'
Pernikahan mereka dilangsungkan dengan ruangan yang terpisah. Mereka baru boleh bertemu setelah sah menjadi suami istri.
"Apa yang kau pikirkan, gadis bodoh," Leo berbisik di telinga Yuna.
"Bukan apa-apa," jawab Yuna segera.
"Bagaimana, apakah aku sudah membuktikan bahwa aku adalah suamimu?" Leo semakin mendekat. "Apa bisa kita mulai sekarang?" Kata Leo sambil mencoba meraih pinggang Yuna, tapi dengan sigap gadis itu menghindar.
"Kita baru saja bertemu, bukan? Apakah kamu bisa melakukan itu dengan orang asing?" Yuna memberi alasan yang disambut tawa oleh Leo.
"Orang asing? Bukankah kita sudah menjadi suami istri sekarang?" Leo mendekati Yuna lagi.
"Tap-tapi ... kita belum mengenal satu sama lain." Yuna semakin mundur.
"Kita bisa mengenal lebih dekat setelah ini." Leo semakin mendekatkan tubuhnya, yang membuat Yuna terus mundur dan ... bruukk. Kaki belakang Yuna terbentur ujung ranjang, membuat Yuna terjatuh kebelakang. Tangannya refleks menarik kerah baju Leo, tarikan yang membuat Leo ikut terjatuh tepat di atas tubuh Yuna.
"Tidak kusangka, ternyata kamu agresif juga," Leo menatap dan menyunggingkan bibirnya. Ia tersenyum menggoda. Yuna hampir tidak bisa bernafas karena tertindih tubuh Leo. "Jangan salahkan aku, kamu yang menarikku dalam pelukanmu, sayang," bisik Leo di telinga Yuna, membuat Yuna bergidik. Dia mendorong dengan kuat tubuh Leo. Leo akhirnya melepaskannya, kemudia ia berbaring disamping Yuna.
"Maaf, maafkan aku, aku tidak sengaja menarikmu," Yuna segera berdiri. "Tapi itu juga salahmu, kamu terus menerus mendekatiku, hingga akhirnya aku terjatuh," ia membela diri.
Leo beranjak, dia pindah ke sofa dan langsung memejamkan matanya. "Aku sangat lelah hari ini, silahkan tidur di ranjang Yuna. Aku tidur di sofa saja. Kecuali jika kamu ingin terjadi sesuatu silahkan tidur di sampingku."
__________
Catatan Penulis 🥰
Novel ini terikat kontrak dengan pihak MT (MangaToon)/NT (NovelToon) jadi jika ada yang berniat untuk menjiplak nya, siap aja kena pasal. Semua karya kontrak dilindungi undang-undang. 😡😤🤬
Makin ngeri aja ama tukang nyuri karya orang lain 😤
Klo nggak bisa nulis nggak usah nulis dari pada ngambil punya orang lain. 🙄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 401 Episodes
Comments
Renesme Kiky
sukak
2025-02-08
0
Watiie Hafizd Al'fikri M
Baca ulang untuk yg ke2 kali...
padahal baru selesai baca nya SC dan SC musim 2.
bener2 gak bisa move sama yuna leo ini 😘😘
2023-02-27
2
Mat Grobak
wow panas
2022-12-11
0