"Hei... melihat perubahan di wajahmu sepertinya kau tak yakin ini enak."
"Iya," jawab Leo jujur.
"Kau begitu jujur, menyebalkan. Apa kau tidak tahu cara membuat wanita senang? Kau harus sedikit berbohong untuk pertanyaan yang satu ini."
Leo terkekeh mendengar ucapan Yuna. Perempuan satu ini sangat lucu, batinnya. Dia beberapa detik yang lalu diam seribu bahasa dan sekarang begitu cerewet padanya.
"Kau harus tahu, selama hampir sebulan ini aku mengikuti kelas memasak," Yuna menjelaskan dan mencoba meyakinkan bahwa cake bikinannya layak di makan.
"Oh ya...," Leo menyendok sedikit. "Aku coba ya...," Sedikit ragu dia menyuap cake itu kedalam mulutnya.
Yuna merasa tegang, dia takut Leo akan memuntahkannya. Yuna memperhatikan kunyahan Leo, dia seperti sedang mengikuti kontes memasak dan menunggu penilaian juri.
Leo meliriknya dan mengangguk.
"Enak." pujinya yang langsung membuat Yuna lega, melemaskan otot wajah Yuna yang tegang. Dia kemudian bertepuk tangan untuk dirinya sendiri, lalu menatap Leo.
"Apa... kau sedikit berbohong tentang komentar mu?" Yuna khawatir. Leo tertawa dan mengacak rambutnya.
"Tidak... aku jujur. Aku tidak pandai berbohong seperti yang kau ajarkan tadi," jawab Leo yang membuat bibir Yuna tersenyum puas. Tentu saja cake itu enak karena Yuna membuatnya dengan panduan guru memasakknya langsung, dengan takaran yang sudah disiapkan.
"Emm... aku juga bisa masak sup. Segeralah pulang malam ini Leo...," Yuna menggantung ucapannya dan mendekatkan wajahnya. "Sayang," lanjutnya mengakhiri kalimatnya. Hembusan lembut nafasnya mengenai wajah Leo. Ini... membuat Leo segera berpaling, menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah. Dia mengambil nafasnya dalam dan menaruh cake di atas meja.
'Perempuan ini benar-benar menguji ku, baiklah,' Leo menatap Yuna dan langsung memeluk pinggang Yuna, sedangkan tangan Leo yang satunya memegangi kedua tangan Yuna dalam satu genggaman. Yuna menjadi gugup, dan berkedip tidak beratiran. Dia tidak bisa bergerak saat ini, tidak ada jarak antara mereka. Leo mendekatkan wajahnya.
"Sepertinya, kamu ingin hukuman dari ku lagi sayang. Oke, jika ini yang kamu mau," wajah Leo semakin mendekat. Kini bibirnya mengenai telinga Yuna membuat jantung Yuna kacau, bulu kuduknya berdiri karena hembusan nafas Leo. "Akan aku lakukan saat ini juga," bisik Leo ditelinga Yuna. Bisikannya terdengar sangat seksi, bisikan yang langsung memberi sinyal pada seluruh tubuh Yuna.
Leo mencium leher jenjang Yuna dengan ciuman yang membekas, lehernya putih, hingga sedikit kecupan saja bisa sangat telihat. Jantung Yuna benar-benar terasa ingin meledak saat ini. Kecupan Leo membuat dirinya tidak bisa berontak, sejujurnya Yuna tidak ingin seperti ini. Dia hanya iseng menggoda Leo, dia tidak berfikir kalau Leo akan jadi seperti ini.
"Kau menikmatinya sayang?" bisik Leo di telinga Yuna. Yuna segera menggeleng.
"Jika kamu ingin lebih dari saat ini, gunakan seluruh cara mu untuk menggoda ku. Aku dengan senang hati melakukannya," lanjut Leo sambil mengigit telinga Yuna pelan.
***@***
Pagi hari di meja makan.
"Dimana dia?" tanya Leo pada Bi sri setelah dia tidak melihat Yuna di meja makan.
"Nona tidak turun dari tadi tuan muda."
"Masih di kamarnya?"
"Sepertinya iya," jawab Bi sri.
Leo membalik badannya lalu kembali menaiki tangga. Leo mencoba membuka pintu kamar Yuna namun ternyata kamarnya masih di kunci.
"Buka atau aku dobrak," ancam Leo tapi tak ada jawaban. Leo mencobanya lagi tapi masih di kunci. "Jangan membuatku mengulangi ucapan ku. Aku hitung sampai tiga. Buka atau aku dobrak," suara Leo tinggi. Tak lama dan dengan perlahan pintu kamar terbuka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 401 Episodes
Comments
Anonymous
galak amat leo
2022-09-08
0
Noor Sukabumi
c bebek Yuna ko g turun kyknya lg kena demam cintanya Leo nih🥰
2022-07-30
0
Amira Hasanah
loading
2022-01-13
0