Hari itu hari sabtu, entah kenapa paginya sebelum berangkat, Aku melihat senyum diwajah Papa dan Mama persis seperti pada hari pernikahan Mereka.
Aku tidak tahu kenapa bisa kecelakaan
dan Polisi masih menyelidiki penyebab kecelakaan itu.
Saat ini Aku benar benar tidak tahu harus berkata apa, Aku hanya memandangi jasab Mama Papa setelah dipindah ke rumah duka.
Berbagi luka dan duka entah sama siapa Aku bingung. Terpukul dan benar benar pedih menyayat hatiku kepergian Mereka.
Silih berganti rekan rekan dari tempat kerja Mama dan Papa datang untuk mengucapkan turut berduka dan memberi penghiburan.
Begitu juga teman teman ku dan sahabatku, datang untuk memberi semangat dan penghiburan.
Mereka tidak menyangka juga kepergian Mereka akan secepat ini.
Aku duduk berdiam diri memandangi Mereka. Airmata selalu bercucuran tanpa henti. Bibi kadang menemaniku disamping dan terkadang menyapa dan menyambut tamu yang datang untuk melayat.
Hari penguburan adalah hari terakhir Aku bersama dan menemani Orangtuaku. Mataku yang bengkak dan sembab membuat Aku harus memakai kaca mata hitam itu.
Aku benar benar belum iklas atas apa yang terjadi dalam hidupku saat itu. Gejolak dihatiku berkecambuk.
" Kenapa ???? Kenapa harus Aku Tuhan ???? Aku Orang yang lemah .... Aku gak kuat menanggung semua ini. " gumamku rintih.
Berkali - kali Aku pingsan saat pemakaman. Aku tidak bisa melepaskan kepergian Mereka.
Bibi berkali - kali mengelus dadaku agar Aku iklas.
" Sungguh, Aku belum bisa. "
Saat pemakaman selesatli, semua yang disitu perlahan pergi meninggalkan tempat itu. Aku hanya duduk dan berdiam diri disana.
" Sabar iya .... Kamu harus kuat. Mama sama Papa udah tenang disana. Ayoo Aku antar pulang. " kata Seorang teman Mama.
Aku tidak menjawab ajakannya itu, Menoleh ke arahnya pun tidak. Bibi langsung mendekati rekan Mama itu dan mengatakan bahwa Bibi akan menungguku dan menemaniku disana.
Ibu itu pun mengangguk senyum sambil ikut prihatin.
Semua Orang sudah pulang tinggal hanya Aku dan Bibi disana. Aku berdiam diri dan menangis, menangis dan menangis walaupun suaraku sudah serak. Sungguh benar - benar pilu.
Hampir satu jam disana berdiam diri, Bibi pun memegang tanganku untuk mengajak pulang. Di taksi Aku hanya diam tapi Bibi tidak melepaskan genggamannya hingga Aku melihat wajah Bibi dan tidak bisa menahan airmataku.
Dirumah, Aku benar benar menyendiri dan hanya duduk diruang tamu memandang foto keluarga Kami. Berminggu - minggu, Aku tidak pernah keluar rumah kecuali ziarah ke makam Mama Papa, Tamu yang datang berkunjung pun Aku tidak terima.
Tiap hari, Aku hanya duduk antara di kamar, ruang tamu dan depan taman. Bahkan ke kamar Orangtuaku pun Aku tidak mau masuk. HP ku yang mulai kepergian Mereka aku matiin sampai sekarang Aku belum pegang sama sekali. Masih tergelak di atas meja.
Rekan kerja Mama sama Papa dan teman temanku sangat memakluminya dan Mereka menunggu sampai Aku benar benar bisa untuk memulai semuanya.
Satu bulan berlalu, Aku mulai membiasakan diri. Perlahan Aku duduk di kamar dan membuka laptop serta mengaktifkan HPku.
Banyak panggilan, pesan dan email yang masuk. Aku mulai membaca dan membalas pesan satu persatu.
Aku membaca pesan masuk dari kantor polisi yang menangani kecelakaan Orang Tuaku. Aku disuruh datang kesana untuk mengambil barang barang peninggalan Mereka yang berada di tkp. Karena pada saat di rumah sakit ternyata Bibi memberi saran sama Polisi untuk tidak memberikannya dulu karena takut Aku makin panik dan sedih.
" Terima kasih atas bantuannya Pak .... Terima kasih untuk belangsungkawanya dan Terima kasih juga untuk pengertiannya atas kepedihan yang sedang Saya alami. Saya akan kesana minggu depan tepatnya hari sabtu. Maaf baru bisa Saya respon hari ini. Terim kasih. "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 300 Episodes
Comments
kodo itu indah
🌹👍👍👍👍👍
2025-03-12
1
☠ᵏᵋᶜᶟηєтα Rєηαтα 📴
satu kata untuk kisah ini... nyesek 🤧🤧 g kebayang q d posisi ity
2023-03-14
3
wil wil
hmmmmm....ujian untuk mu.. semoga semua akan indah pada waktunya
2022-12-17
3