Tiger melangkah dengan tegas keluar dari rumahnya setelah meminta Bi Sari menyiapkan makan malam di meja juga mengantarkan pada Jihan. Wajahnya nampak berseri meski aura dingin masih melekat di sana.
"Di mana Rico?!" tanya Tiger berdiri di antara dua pengawal yang berjaga.
"Di villa, Tuan!" sahut salah satu pengawalnya.
Tiger menyediakan sebuah villa khusus untuk beristirahat para anak buahnya yang berjaga di sana. Sedangkan di markas Blackstone letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Tidak semua pengawal menjadi anggota klan Blackstone, terutama para pengawal yang baru bergabung.
"Panggil ke sini!" perintah Tiger.
"Baik, Tuan!" Segera ia menghubungi Rico agar segera datang ke rumah tuannya.
Beberapa saat kemudian, Rico melangkah cepat hingga berhenti tepat di hadapan Tiger. Ia membungkuk memberi hormat. Tiger melayangkan tatapan tajam dari mata elangnya.
"Kemana saja tadi seharian?" Suara Tiger terdengar menuntut dan mengintimidasi.
Rico menghela napas panjang. Ia pikir tuannya itu sudah tidak mempermasalahkannya. Kepalanya terangkat, agar matanya sejajar dengan manik sang bos. "Kepo," gumamnya sangat pelan.
"Apa kamu bilang?!" sentak Tiger melotot tajam.
"Ee ... itu, Nyonya mendatangi ibunya di kantor polisi. Lalu menangis seharian di alun-alun, setelah tenang memakan eskrim beberapa cup. Dan yang terakhir ...." Rico menggantungkan ucapannya.
"Apa?!" geram Tiger mengetatkan rahangnya. Karena anak buahnya itu terlalu bertele-tele.
"Ke rumah sakit untuk periksa kandungan," lanjutnya menatap manik abu-abu Tiger yang berubah kelam.
Mereka terdiam beberapa saat, ada getaran halus di dadanya. Sesuatu yang hangat mengalir ke hatinya. Namun tak lama, raut wajahnya kembali seperti semula. Datar, dingin dan tanpa ekspresi.
"Hmm! Lain kali jangan sampai HP kamu mati, Kalau kamu tidak ingin aku matikan!" ancamnya membuat semua orang bergidik seketika.
Tiger memutar tubuh lalu kembali masuk ke rumah tanpa mendengar sahutan apa pun dari anak buahnya yang masih terpaku. Ia berjalan menuju meja makan. Memulai makan malam dalam kesunyian dan kesendirian. Sesekali pandangannya mengarah ke lantai atas, seolah berharap kedatangan seseorang meski tak mungkin.
"Aiiss sial!" geramnya mengusap wajah dengan kasar ketika kembali pada kesadarannya.
Tiger kembali melahap makanannya, menepis bayang-bayang Jihan yang mulai meracuni kepalanya. Setelah selesai dengan makan malam dalam kesunyian ditemani denting sendok yang bersinggungan dengan piringnya.
Selepas kegiatan makannya, Tiger beranjak menuju ruang kerja. Ia membuka laptop dan duduk di kursi kerjanya. Jemarinya kembali bergerak lincah menelusuri pencarian yang tertunda.
"Huft! Nggak mungkin minta bantuan Leon!" gumamnya menumpukan kedua siku di meja sembari memijat pelipisnya.
Susah sekali melakukan penelusuran klan musuh yang hampir memporak porandakan transaksi jual beli senjata miliknya. Sedangkan jika meminta bantuan Leon yang memang ahli dalam bidang IT, ia takut semua kebusukannya juga ikut terlacak.
...🍆🍆🍆🍆🍆...
"Aaiihh, bodo amat!" Jihan segera mengambil makanan dan mulai melahapnya.
Bibi Sari masih mengingat jelas jika Jihan akan muntah dengan ikan laut. Karenanya, ia menyiapkan makanan dengan menu lain. Ditambah salad sayur sebagai penutupnya.
Jihan menyandarkan punggungnya, meluruskan kedua kaki jenjang di atas ranjang. Matanya fokus menatap perban putih yang membalut kakinya. Terlintas kembali bagaimana perlakuan Tiger tadi, napasnya tertahan sesaat sembari menggigit bibir bawahnya.
"Setidaknya, dia tidak menyakitimu, Nak!" gumamnya melingkarkan lengan pada perutnya.
Teringat dengan ponsel pemberian Tiger, ia menoleh ke samping nampan bekas makannya. Posisinya masih sama, tangannya menjulur meraihnya.
"Apa benar ponsel ini terhubung dengan ponsel Tiger? Masa sih?" gumamnya memutar-mutar benda pipih itu sembari berpikir.
"Enggak ada salahnya dicoba dulu!" Jihan mulai membuka aplikasi sosial media dan memasukkan akunnya.
Dari sana ia bisa menemukan akun Khansa, dengan ragu Jihan menekan icon pesan setelah membuka profil Khansa. Dua ibu jarinya terus bergerak, maju mundur untuk mengirim pesan pada saudara tirinya yang sedang ada di negara tetangga itu.
"Sa!"
Akhirnya setelah beberapa lama Jihan mengetik dua huruf saja. Dadanya berdegub saat hendak menekannya. Ia menghela napas panjang, lalu menekan tombol kirim pada aplikasi tersebut.
"Tiger tahu nggak ya!" gumamnya dengan detak jantung menggila.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Sari Nu Amoorea
waduh nanti simacan tau😁
2024-07-19
1
𝖒𝖔𝖓🆁🅰🅹🅰❀∂я💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
keceplosan 🤣🤣🤣🤣🤣
2023-02-01
4
Atik Marwati
moga moga ga tau
2023-01-22
0