Decakan halus terdengar dari bibir Jihan. Ia meletakkan kembali ponsel itu lalu bergegas pergi tanpa membawanya. Jihan sudah mulai kebal dengan perlakuan Tiger yang seenaknya sendiri. Ia pun tidak mau ambil pusing. Karena ada kehidupan lain dalam perutnya yang kini menjadi prioritas.
Jihan menuruni tangga dengan hati-hati, tubuhnya dibalut gaun sepanjang lutut berwarna pastel, dengan bahu lebar dilapisi cardigan putih, membuatnya tampak anggun di pagi yang cerah itu. Sepatu convers nampak nyaman membalut kakinya. Ia tidak memakai heels karena sangat riskan membahayakan janin dalam kandungan.
Aroma masakan yang menguar membuat langkahnya berhenti sejenak. Menghirupnya dalam-dalam, merasakan harumnya perpaduan bumbu dapur yang menyeruak di hidungnya. Perutnya semakin meronta, ia mempercepat langkah meski sedikit manahan sakit, mendekati dapur.
"Bibi, masak apa?" tanya Jihan berdiri di belakang Bibi Sari.
"Eh, Nyonya. Ini, mau buat nasi goreng seafood. Tunggu di meja makan saja, Nyonya. Sebentar lagi siap," ujar asisten rumah tangga itu.
"Hmmmp!"
Jihan menutup hidung dan mulutnya saat seafood yang baru saja dimasukkan ke dalam minyak panas menguarkan aroma tak sedap baginya. Perutnya bergejolak ingin memuntahkan segala isinya.
Segera ia berlari menuju kamar mandi, di depan wastafel ia berjuang mengeluarkan semua isi perutnya. Hanya cairan berwarna putih sedikit kekuningan saja yang keluar. Dan itu terasa sangat pahit sekali di mulutnya.
"Astaga! Nyonya!" pekik Bibi Sari saat melihat majikannya muntah-muntah.
Segera ia mematikan kompor lalu berlari menyusul Jihan. Memijit pelan tengkuk wanita itu. Wajahnya memutih, tampak sangat pucat dengan bulir keringat yang membasahinya.
"Sudah, Bi, terima kasih," ucapnya pelan lalu berkumur dan membasuh mukanya setelah beberapa saat.
Tubuhnya sedikit gemetar dan lemas. Bibi Sari membantunya untuk duduk di meja makan. Lalu menuangkan air hangat pada gelas dan menyodorkannya pada Jihan, berharap bisa mengurangi rasa mualnya.
"Nyonya ... hamil?" tanya Bibi ragu saat merasa ada yang aneh pada majikannya itu.
Jihan berhenti bergerak, ia menggigit bibir bawahnya yang kemudian berkaca-kaca. Kedua tangannya mengepal dengan kuat. Bibi Sari sudah tahu jawabannya dari gestur tubuh Jihan.
"Baiklah, ibu hamil harus banyak makan bergizi. Karena nyonya muntah dengan aroma seafood, Bibi ganti dengan omelet daging saja ya, Nyonya," tawar Bibi Sari kembali ke dapur dan membuatkannya.
Jihan menghela napas panjang, kepalanya menoleh pada sang bibi yang kini sibuk menyiapkan bahan-bahannya. Tangannya sibuk menyeka air mata yang sempat berjatuhan. Hatinya menghangat, setidaknya masih ada yang memperhatikannya di sini.
Beberapa saat kemudian semua makanan dihidangkan oleh Bibi Sari. Tampak sangat menggiurkan bagi Jihan. Ia pun dengan semangat segera melahap sarapannya.
"Bibi, terima kasih. Ayo ikut makan di sini!" ajak Jihan menepuk kursi di sebelahnya.
"Ah, tidak usah, Nyonya. Bibi makan di dapur saja," elak Bibi Sari yang masih berdiri di belakangnya.
"Ayolah, Bi. Temenin aku sarapan. Jangan kaku begitu," ujarnya menarik lengan Bibi Sari dan memaksanya duduk di sampingnya.
Bibi Sari tersenyum, mereka pun menikmati sarapan bersama. Jihan teringat dengan Bibi Fida yang selalu menemaninya sebelum ia diboyong ke sini.
"Nyonya, kandungannya sudah berapa bulan?" tanya Bibi di sela makannya.
"Emm ... enggak tahu, Bi." Jihan kembali fokus menikmati dengan makannya.
"Loh, belum periksa ke bidan atau dokter?"
Jihan menggeleng dengan mulut yang tengah mengunyah makanannya. Bibi Sari pun memberi saran agar segera memeriksa kandungan agar tahu bagaimana perkembangannya.
"Iya, Bi. Nanti aku coba periksa," sahut Jihan tersenyum lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jihan terkejut ketika keluar rumah dihadang oleh dua pria bertubuh kekar menghadangnya. Matanya menelisik pada dua pria itu. Keningnya mengerut dalam.
"Minggir!" ucap Jihan pada pria itu.
"Maaf, Nyonya. Anda tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa sepengetahuan Tuan!" tegas salah satu pria itu.
Manik indah Jihan berubah tajam, ia membuang napas berat bersamaan dengan kekesalannya. "Sini ponsel kalian!" pintanya menjulurkan tangan menengadah.
Dua pria berpakaian rapi itu saling pandang. Mereka saling meminta pendapat melalui gerakan dagu kokohnya.
"Mana sini! Biar aku hubungi bos devil kalian itu!" Jihan kembali bersuara menggerakkan jari-jarinya.
Akhirnya salah satu di antaranya mengeluarkan ponsel dan menghubungkan panggilan pada Tiger, kemudian menyerahkannya pada Jihan. Terdengar nada tunggu selama beberapa saat.
"Halo! Ada kabar apa?!" seru Tiger setelah telepon diangkat.
"Ini aku." Jihan berucap singkat dan pelan.
Di seberang, Tiger segera menegakkan tubuhnya dari kursi kebesarannya. "Kau? Kenapa pakai ponsel pengawal? Bukankah aku sudah memberimu ponsel sendiri?" sentaknya dengan nada geram.
"Kamu sendiri yang mengatakan agar tidak menghubungi siapapun?" jawab Jihan dengan santai.
Tiger terdiam, mengingat kembali percakapannya tadi yang ternyata memang salah berucap. 'Sial!' batinnya mengusap wajah dengan kasar.
"Bagaimana, Tuan? Sudah mengingatnya bukan? Baiklah, saya cuma mau izin keluar untuk menjenguk ibu saya."
"Keluar bersama pengawal. Gunakan ponselmu untuk menghubungiku saja! Jangan sekali-kali berani untuk melarikan diri!" tandasnya dengan nada ancaman.
Jihan memutar bola matanya malas. "Ya, ya! Terserah anda, Tuan Devil! Dasar macan!" gumamnya pelan namun terdengar oleh dua pengawal yang berdiri di depannya. Lalu segera mematikan ponselnya.
"Apa kamu bilang?!" pekik Tiger mendengkus kesal. Ditambah dengan lancangnya Jihan mematikan teleponnya.
Dua pengawalnya itu membeliak ketika melihat istri atasannya itu seperti tidak ada rasa takut. Justru beraninya membuat sang bos kesal. Jihan kembali menyerahkan ponselnya. Ia meminta satu orang saja untuk mengantarnya ke kantor polisi.
"Sudah. Puas 'kan?" ucapnya dengan tatapan kesal.
Tak berapa lama ponsel itu berdering. Hampir saja terlempar karena terlonjak kaget. Pengawal itu menelan saliva sembari berdehem, bersiap menerima telepon dari sang bos.
"Maaf, Tuan!" kata pertama yang terucap.
"Temani Jihan kemanapun. Jangan sampai lolos dari pengawasanmu!"
"Baik, Tuan!" balasnya mengarahkan pandangan pada Jihan yang masih menatapnya kesal.
Setelahnya, pria itu bergegas mengambil mobil tak jauh dari jangkauannya. Ia segera membukakan pintu mobil untuk Jihan. "Silakan, Nyonya!" ucapnya setengah membungkuk.
Wanita itu berjalan pelan dengan embusan napas kasar. Setelah duduk dengan nyaman, sopir itu bergegas melajukan mobil dengan hati-hati. Jihan memintanya untuk mengantar ke kantor polisi, tempat ibunya ditahan.
Jihan hanya menyandarkan kepala dengan pandangan keluar jendela. Pengawal itu meliriknya melalui pantulan kaca spion yang menggantung di hadapannya. Tampak sekali Jihan menangis tanpa suara. Tangannya sesekali menyeka air mata itu.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya pria yang masih cukup muda itu.
Alis Jihan saling bertaut, heran dengan pria tiba-tiba membuka suara itu. Ia mencoba mengabaikannya. Kembali menatap keluar jendela.
"Panggil saja aku Rico, Nyonya. Jangan sungkan jika Anda membutuhkan bantuan," ucap pria itu lagi.
Jihan sedikit tertarik, mata mereka saling berbenturan pada kaca spion. "Kau? Sudah lama bekerja dengannya?" tanya Jihan.
"Baru sekitar dua bulan, Nyonya," balasnya tersenyum karena berhasil membuat wanita itu mengeluarkan suara.
"Oh! Jangan terlalu kaku. Panggil saja Jihan. Di sini nggak ada si macan!" gerutu Jihan yang sontak mengundang tawa menggelegar pria muda itu.
Jihan memutar bola matanya malas, "Apanya yang lucu?" ucapnya mengerucutkan bibir.
Bibir pria itu kembali merapat, sambil menggelengkan kepalanya. Jihan bergerak maju dari duduknya, sehingga jarak mereka cukup dekat. Lelaki itu panik seketika.
"Nyonya eh Jihan mau apa?" tanyanya.
"Bisakah kamu membawaku keluar dari penjara ini?" bisik Jihan memiringkan kepala tepat pada tepi kursi yang diduduki Rico.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Sari Nu Amoorea
y kbur aj
2024-07-19
1
Anonim
Jihan pinginnya kabur dari Tiger
2023-12-09
1
Atik Marwati
jangan mau Rico tar bisa mati konyol sama tiger
2023-01-20
0