"Ssstt, diem!" ucap Rico mengulurkan kedua tangan pada salah satu kaki Jihan.
Namun Jihan dengan gerakan cepat menendang dada pria itu hingga terjengkang ke belakang. Kepanikan nampak sangat jelas dari raut wajah Jihan. Dia berdiri dengan melemparkan tatapan menghunus jantung. Napasnya terengah-engah.
Rico mengernyitkan keningnya, beranjak berdiri tegap sembari menepis celana dan telapak tangannya yang kotor. Ia diam dan berpikir sejenak.
"Ada apa?" Rico hendak menyentuh kedua bahu Jihan namun wanita itu buru-buru mundur, membuat jarak di antara mereka.
"Stop! Jangan mendekat!" teriak Jihan menatal tajam.
'Aneh, tadi biasa saja? Apa karena tadi nggak terlalu sadar saking sedihnya?' gumamnya dalam hati mengingat Jihan diam saja ketika direngkuh keluar dari lapas tadi.
"Aku cuma mau lihat kakimu. Kenapa kelihatannya kamu kesakitan saat berjalan?" sanggah Riko berdiri kembali.
Jihan menggelengkan kepala, "Nggak usah! Nggak perlu!" jawabnya cepat menundukkan kepala.
Tubuhnya terlihat sekali menegang. Rona merah di wajahnya sudah menghilang, berganti dengan pucat pasi. Penjual eskrim memberikan sebuah nampan dengan beberapa cup eskrim aneka rasa. Jihan mengatur napas sembari duduk dengan perlahan, berusaha menenangkan diri. Rico masih berdiri terpaku.
"Baiklah, saya tunggu di mobil. Makanlah sepuasnya," ucap sang pengawal meninggalkannya sendiri. Mengawasi dari jarak beberapa meter. Karena ia tidak mau Jihan merasa tertekan.
Dengan langkah tegap, Rico berbalik dan menunggunya di mobil. Namun matanya sama sekali tidak lepas dari wanita cantik yang kini berusaha menghapus air matanya. Bibir tipisnya menyungging senyum, saat Jihan mulai mencicipi eskrim sedikit demi sedikit. Hingga nampak moodnya kembali membaik dengan kondisi yang lebih tenang.
Satu jam berlalu, Jihan sudah bisa mengatur emosinya. Lima cup eskrim aneka rasa tanpa terasa dihabiskan sendiri. Ia menoleh pada mobil yang membawanya tadi. Tampak Rico tersenyum tulus bersandar di badan mobil. Jihan hanya menatapnya datar.
Ia beranjak menemui penjual eskrim. "Pak, apa semua sudah dibayar oleh lelaki itu?" tanyanya menunjuk Rico yang masih memperhatikannya.
"Benar, Neng." Penjual itu tersenyum dengan anggukan mantap.
"Kalau begitu sisanya bagikan gratis saja sama anak-anak yang lewat, Pak. Terima kasih ya," pamit wanita itu melenggang pergi.
Rico dengan sigap membukakan pintu untuknya, meski jalannya sedikit lama. Tanpa berkata apapun, Jihan masuk dan duduk di belakang.
Segera Rico beralih cepat di balik kemudi. Menyalakan mesin mobil dan bersiap melajukannya. Ia menatap Jihan melalui spion, "Kita mau ke mana lagi, Nyonya?" ucapnya kembali berkata formal.
"Rumah sakit!" cetus Jihan tanpa menoleh. Ia merasa tidak enak karena sikapnya tadi.
"Siap!" sahutnya sigap.
Di tengah jalan, Jihan masih merasa gelisah. "Eumm, Rico. Maaf, aku selalu overthinking dengan laki-laki yang menyentuhku," aku Jihan tersenyum getir. Manik matanya kembali berair. Kedua tangannya meremas ujung dress dengan kuat. Melampiaskan emosinya. Ia benci lagi-lagi harus mengeluarkan air mata. Akhir-akhir ini mudah sekali menangis.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Aku siap menjadi pendengar yang baik, meskipun tidak bisa memberikan solusi. Kapanpun Anda membutuhkan tempat bercerita, saya siap!" tandas pria itu dengan mantap.
Jihan tertawa sinis, ia memutar bola matanya hingga berbenturan dengan mata Rico melalui kaca spion. "Kamu, tidak bisa dipercaya. Bisa saja setiap yang aku katakan bakal kamu aduin sama bos kamu itu!" sindirnya melipat kedua lengan.
Hanya kekehan ringan yang terdengar dari mulut Rico. Mereka tak berbicara lagi. Rico tahu, tak semudah itu membuat orang mengungkapkan perasaannya.
Jihan segera turun setelah mobil berhenti di salah satu rumah sakit di pusat kota, yang letaknya cukup jauh dari rumah. Ia menolak uluran tangan Rico yang hendak membantunya.
Pria itu pun sadar, hanya membungkuk lalu kembali menutup pintu mobil dan berjalan di belakang Jihan. Sedikit terkejut saat wanita itu berhenti di depan poli kandungan. Namun enggan bertanya apa pun. Tugasnya saat ini mengawal dan menjaga perempuan itu.
"Kamu ngapain sih ngikutin aku sampai sini, Ric?" decak Jihan kesal saat mendudukkan tubuhnya dan ternyata diikuti pengawalnya yang duduk di sebelahnya.
"Anda harus selalu dalam pantauan saya, Nyonya," tegasnya tanpa ada bantahan.
Helaan napas panjang berembus dari hidung Jihan. Ia menyandarkan punggung sembari menunggu nomor antrian. Tepat di depannya, Jihan melihat ibu hamil yang sudah besar ditemani suaminya. Bahkan di tempat umum, suaminya tak segan menunjukkan perhatian.
Mengusap lembut perut buncit sang istri, mengajaknya berbicara lalu tertawa bersama, sungguh itu terlihat sangat indah. Bibir Jihan melengkung membentuk senyum tipis.
'Mungkin itu hanya akan menjadi mimpi bagiku,' gumamnya dalam hati menggigit bibir bawahnya sembari mengusap perut datarnya.
Semua ekspresi Jihan tak luput dari pandangan Rico. Dia pun menebak-nebak isi pikiran Jihan. Hingga beberapa lama kemudian, seorang suster memanggil nama Jihan.
"Nyonya Jihan!"
Jihan bergeming, masih larut dalam lamunannya. Memperhatikan pasangan suami istri yang begitu hangat di hadapannya.
"Nyonya," bisik Rico pelan namun tidak terdengar oleh Jihan.
"Jihan!" panggil Rico lebih keras hingga membuat Jihan terjingkat dari lamunannya.
"Ngagetin tahu nggak?" cebik Jihan kesal, menoleh sembari menatap tajam.
"Dipanggil sama suster!" Rico menunjuk pada perempuan berseragam serba putih di depan.
Jihan segera beranjak berdiri lalu melangkah ke depan hingga berhenti di depan ruangan. Sang suster pun dengan ramah menanyakan keluhan Jihan.
"Saya ingin periksa kehamilan, Sus," jawab Jihan singkat.
"Oh, baiklah apa sudah mempunyai buku KIA?"
Jihan nampak mengernyit tidak mengerti. Dari ekspresinya ia bisa menebak bahwa wanita di hadapannya belum memiliki buku berwarna pink itu.
"Belum ya, Bu. Buku tersebut sangat penting untuk memantau kesehatan ibu dan anak. Selama memeriksakan kandungan, buku tersebut harus dibawa ya, Bu. Baik kalau begitu, saya akan menanyakan beberapa hal untuk mengisinya," papar suster tersebut panjang lebar.
Beberapa pertanyaan mengenai identitasnya berhasil dia jawab dengan lancar. Namun saat menanyakan identitas sang suami, Jihan bungkam seketika. Ia enggan menyebut nama pria itu, mengingat Tiger tidak mengakui janin yang ada dalam kandungannya.
"Kosongi saja!" tandas Jihan dengan tegas.
"Tapi, Bu. Ini wajib diisi," elak suster.
"Saya bilang kosongi saja ngerti nggak sih? Saya bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak saya!" teriak Jihan yang langsung menyita perhatian semua orang.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Murni Banty
seoeang jihan ko kasar si.... seharusx lembut..... jihan sama kerasnya tiger... semangat
2022-12-21
1
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
bawaan hormon ye..naik turun tuh esmosinya
2022-09-07
1
Siti Khumaira Rahma
sabar Ji sabar jangan terbawa emosi.
2022-09-03
1