Sudah puluhan kali Tiger mencoba menghubungi istrinya, namun sama sekali tidak ada jawaban. Ia pun menghubungi Rico berkali-kali, hanya operator yang selalu menjawabnya. Betapa terkejutnya Tiger, ketika menelepon rumah dan menemukan bahwa Jihan belum pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Aaarrgh!! Brengsek! Kemana mereka? Awas saja kalau sampai berani macam-macam!" geramnya dengan emosi membuncah.
Segera pria itu beranjak dari duduknya, meraih jas yang disampirkan pada tiang khusus di sebelahnya, lalu mengenakannya cepat sembari melangkah panjang.
Pria itu melaju dengan kecepatan tinggi hingga tak berapa lama sampai di pelataran rumahnya. Padahal jaraknya lumayan jauh. Ia berlari menapaki tangga untuk mencapai teras rumahnya. Para pengawal yang ada membungkuk memberi hormat.
"Apa wanita itu sudah pulang?" tanya Tiger dengan ekspresi dinginnya.
"Belum, Tuan," sahut mereka serempak menundukkan kepala.
Napas Tiger menderu dengan kasar. Matanya menatap nyalang. Gerahamnya mengeras menampakkan kemarahan. Pengawal itu saling lirik satu sama lain dengan jantung berdentum kuat.
Tiger enggan masuk ke rumah. Ia memutar tubuh sembari berkacak pinggang. Apalagi sudah terdengar deru mesin mobil lain yang masuk pelataran rumah. Matanya tak sedikitpun lepas dari kendaraan yang terparkir di sampingnya.
Rico segera turun dan membukakan pintu mobil. Jihan tersenyum sambil berterima kasih pada Rico yang bersandar di badan mobil setelah dia turun. Perempuan itu melenggang dengan tenang meski matanya menangkap aura kemarahan yang menguar dari suaminya.
"Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang?" sentak Tiger menggelegar.
"Apakah itu penting buat kamu?" balas Jihan pelan namun serasa menikam dada Tiger.
"Tentu saja! Mana ponselmu, kenapa tidak kamu bawa?" serunya lagi lalu beralih menatap Rico. "Dan kamu? Kenapa tidak bisa dihubungi? Mau mati kilat kamu?" sentaknya pada pengawal itu.
Rico yang awalnya berdiri santai, kini menegakkan tubuhnya. Ia berjalan ke arah mereka lalu membungkuk dengan hormat. "Mohon maaf, Tuan. Tapi, saya kehabisan baterai," ungkapnya masih membungkuk.
"Alasan saja! Lain kali tidak ada kata maaf. Kapanpun saya hubungi harus selalu siap! Peringatan buat yang lainnya juga!"
"Baik, Tuan!" sahut mereka serempak.
Jihan melirik sekilas pada Rico, berharap pria itu tidak membeberkan aktivitasnya seharian ini. Ia sedang tidak mood berdebat. Tiba-tiba Jihan tersentak saat tangannya ditarik kasar oleh Tiger, memaksanya masuk.
"Aw!" pekiknya terseok menyamakan langkahnya dengan Tiger.
Dengan sigap Rico berlari dan berdiri di hadapan mereka hingga langkahnya terhenti. "Maaf kelancangan saya, Tuan. Kaki Nyonya sedang sakit," ucapnya menunduk.
"BUGH!"
Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Rico. Hanya meringis sembari menyentuhnya. Tiger melampiaskan kekesalan yang dipendamnya sedari tadi. Semua hal harus berjalan sesuai dengan keinginannya.
"Stop!" teriak Jihan berdiri di depan Tiger agar tidak kembali memukul laki-laki yang seharian ini sudah menemaninya.
Tiger menatap tajam dengan manik abunya. Ada pancaran tak rela yang tampak dari sorot mata itu. Kesal jika ada lelaki lain yang perhatian dengan istrinya ataupun sebaliknya.
Cengkeraman tangan Tiger semakin kuat. Lengan Jihan yang putih dan bening seketika berubah merah. Pria itu mendengkus lalu menarik paksa Jihan tanpa peduli dengan rintihan kesakitan wanita itu. Rico menghela napas panjang, menatap iba pada perempuan itu hingga mereka menghilang di balik pintu kamar yang ditutup sangat keras.
"Astaga, Rico. Kamu mau mengantar nyawa apa?" seru rekannya menepuk dada lelaki itu.
Rico hanya tersenyum miring sembari mengedikkan bahunya acuh. Seolah tidak peduli dengan alarm bahaya yang bisa saja menghampirinya kapan saja.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
"Mulai berani kamu ya!" sentak Tiger melempar tubuh Jihan pada ranjang king sizenya.
Mata perempuan itu menutup rapat, membiarkan kedua kakinya menggantung ke lantai. Keringatnya mulai bermunculan dengan napas yang sedikit berat. Menikmati rasa sakit yang mengoyak kulit kakinya. Kepalanya turut berdenyut, ia bahkan mengabaikan pria devil di hadapannya.
Kemolekan tubuh wanita itu sontak membuat darah Tiger mendidih. Ia melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya. Kepalanya miring ke kiri dan kanan hingga terdengar suara bergemeletuk.
"Tiger! Bukankah kamu tidak menginginkan pernikahan ini? Lepaskan saja aku!" ucap Jihan pelan menekan dahinya. Kedua matanya masih terpejam.
Bersambung~
Lanjutannya entar malem aja ya 😴 abis magrib deh... 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Sari Nu Amoorea
tiger bnr² macan🤦♂️
2024-07-19
1
Siti Khumaira Rahma
kasian Jihan 😢😢😭😭
2022-09-03
2
Ney Maniez
😠
2022-08-09
0