Pagi-pagi sekali, kala mentari masih malu-malu menampakkan diri Tiger menerima panggilan di ponselnya. Tangannya meraba-raba ke atas meja, matanya masih enggan untuk terbuka.
"Hmmm!" gumamnya dengan suara serak.
"Tuan, Gawat! Kapal kita yang mengangkut senjata AK-74M dari Rusia dijarah orang-orang asing di pelabuhan!"
Terdengar pekikan suara seorang anak buahnya yang panik disertai seruan tembakan yang saling bersahutan. Seketika kedua mata Tiger terbuka dengan lebar. Dadanya berdegub dengan sangat kasar.
Buru-buru ia bangun dari sofa panjang di ruang kerjanya lalu berlari masuk ke kamar. Sengaja ia tidur di sana, karena tidak tahan ketika berada di dekat Jihan. Jiwa lelakinya meronta dan memaksa keluar dari sarangnya.
Hanya sekedar mencuci muka, Tiger meraih rompi anti peluru lalu memakai jas sambil berlari. Tak lupa menyelipkan kedua ponselnya di saku jas. Tiger pergi tanpa membangunkan Jihan.
"Aku harus pergi! Jangan biarkan Jihan keluar tanpa izinku!" tegas Tiger pada para anak buahnya, lalu masuk ke mobilnya dan memacu dengan kecepatan tinggi.
Pria itu menggeram, karena selama ini tidak pernah ada yang berani mengusiknya. Matanya menajam fokus dengan jalan yang dilalui. Beruntung suasana pagi itu masih sangat lengang, sehingga tidak menghambat perjalanannya.
Mobil sport mewah berwarna biru itu meluncur dengan cepat sehingga tak lama, melalui pintu pelabuhan. Dari kejauhan ia bisa melihat baku tembak antara anak buahnya dengan orang-orang asing mengenakan topi dan muka tertutup masker, berkacamata hitam.
"Siapa mereka! Beraninya membuat kericuhan di daerahku!" gumam Tiger mengeluarkan senjata andalannya.
"DOR!"
Belum sempat membuka jendela, sebuah tembakan melesak bebas pada mobilnya. Namun tentu saja tembakan itu sama sekali tidak berarti. Karena Tiger sudah melapisi mobilnya dengan anti guncangan, getaran dan anti peluru.
Bibir tipis pria itu menyeringai dingin. Matanya membidik sasaran, memutar setir mobil agar lebih tepat mengarah pada musuh. Sedikit membuat celah dan dalam tembakan beruntun, Tiger mampu melumpuhkan 4 lawan sekaligus. Salah satunya hanya ditembak bagian kaki dan tangannya.
Tiger kembali menaikkan jendela, mencari lawan yang masih adu kekuatan senjata dengan para anak buahnya. Mobilnya kembali berputar dan berjalan pelan, mencari posisi yang tepat.
Mata tajamnya mampu membaca gerakan lawan meski mereka bersembunyi di antara container yang berjajar di sepanjang pelataran luas pelabuhan tersebut.
Kembali Tiger melesakkan peluru beruntun hingga tepat mengenai jantung dan kepala mereka. Ia bisa menghela napas lega ketika gemuruh tembakan sudah tak terdengar setelah beberapa lama situasi menegangkan itu terjadi.
"Tangkap mereka yang masih bernyawa dan bawa ke markas! Lakukan interogasi dan amankan semua senjata!" perintahnya tegas melalui sambungan komunikasi yang tersambung dengan anak buahnya, sembari menyandarkan kepala yang bercucuran keringat.
"Baik, Tuan!" sahut mereka serempak.
Tiger mengembuskan napas berat, memejamkan mata sebentar lalu meraih ponsel pribadinya. Jemarinya menekan kontak Jihan pada ponsel baru yang ia letakkan semalam. Ponsel milik Jihan masih ditahan, sehingga ia menggantinya dengan yang baru dan hanya menyimpan nomornya saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mendengar ucapan Jihan, seketika tubuh Rico menegang dengan mata membelalak. Ia tidak berani menoleh pada majikannya itu. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil sembari memicingkan mata.
"Terima kasih, tapi saya masih sayang nyawa," jawab Rico pelan fokus dengan jalan raya.
Jihan menepuk bahu pria itu dengan keras, hingga Rico sedikit terjingkat, lalu menoleh sekilas. Ia menautkan alisnya melihat keanehan pada sang majikan.
"Aiihh pecundang! Nggak malu sama badan?" ejek Jihan kembali menghempaskan punggungnya pada sandaran mobil.
Bibir tipis perempuan itu menyeringai tipis, tangannya terlipat di depan dada sedang satunya menopang dagu. Pandangannya terus menuju keluar jendela. 'Kita lihat, seberapa setianya kamu sama manusia macan jelmaan devil itu!' gumamnya melirik ke depan sekilas.
Dua jam terlewati dengan kejenuhan. Akhirnya mereka sampai di depan lapas khusus wanita yang terletak tak jauh dari alun-alun kota. Jihan menatap sejenak bangunan tertutup rapat dengan tembok kokoh yang sangat tinggi.
"Kamu tunggu di sini saja, Ric!" titah Jihan membuka pintu.
"Maaf, tidak bisa. Saya harus ikut!" sahutnya segera turun.
Jihan menatapnya dengan ekspresi kesal. Bibirnya mengerut yang justru terlihat lucu di mata pengawal itu. Hatinya bergejolak melihat wajah cantik, polos dan menggemaskan itu. Namun ia hanya bisa menghela napas panjang, sadar dengan posisinya.
"Ck! Batu!" gerutunya melenggang masuk.
Usai mendapat izin kunjungan, mereka diantarkan ke ruang tunggu. Jihan duduk dengan sedikit gelisah. Terlihat jelas dari kedua tangannya yang saling bertautan dengan kepala menunduk. Sedangkan Rico berdiri tegap dan siaga di belakang perempuan itu. Ini adalah pertama kalinya Jihan berkunjung setelah penahanan Maharani.
Tak berapa lama, seorang polisi wanita mendorong kursi roda dan menghentikannya tepat di depan Jihan. Wanita paruh baya itu berbinar saat melihat Jihan bersama dengan lelaki tampan yang berpenampilan rapi.
"Jihan!" panggil Maharani.
Sang pemilik nama mendongak, bibirnya mengurai senyum meski manik matanya berkaca-kaca. "Ibu," sahutnya dengan suara bergelombang.
"Ji, keluarkan ibu dari sini, Ji. Ibu nggak mau tinggal di sini. Sudah pengap, terlalu sempit dan tidurnya hanya beralaskan tikar. Orang-orang mengucilkan ibu. Tolong keluarkan ibu dari sini!" paksanya meremas jemari Jihan.
Penampilan mantan aktris itu sangat memperihatinkan. Rambut acak-acakan, wajah kusam tak terawat, berseragam nara pidana membuat Jihan hancur melihatnya. Namun, mengingat semua kesalahan sang ibu yang sangat fatal, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bu, ibu harus mempertanggungjawabkan semuanya. Maaf, kali ini Jihan tidak bisa membantu. Jihan ke sini hanya ingin melihat keadaan ibu," ungkap Jihan dengan nada pelan.
Maharani menggeram, ia menatap tajam ke arah Rico yang masih berdiri kaku. "Oh! Mentang-mentang kamu sudah punya pacar orang kaya, sekarang kamu melupakan ibu?! Kamu tidak mau mengurus ibu lagi agar kamu bisa hidup bahagia sendiri, iya?" bentak wanita itu membuat Jihan bergetar menahan tangis.
Jihan menggeleng dengan cepat. Air matanya mulai berjatuhan. Tenggorokannya seperti tercekik, kesulitan mengeluarkan suara.
"Bukan! Bukan seperti itu. Tapi, ibu harus mematuhi hukum. Khansa sudah menceritakan semua kejahatan ibu. Maaf, bukan niat Jihan untuk menjadi durhaka. Tapi semua perilaku ibu memang benar-benar keterlaluan," jelas Jihan menggenggam tangan ibunya.
Maharani menepis tangan Jihan dengan kasar. Wajahnya berubah sinis dipenuhi kemarahan. "Hallah! Alesan. Dasar anak tidak tahu diuntung kamu ya! Ibu mati-matian melakukan segalanya demi kamu. Tapi ini balasan kamu, hah?!" bentaknya berusaha memukul-mukul Jihan.
Namun seketika Jihan memundurkan tubuhnya. Dan dengan sigap, Rico menghalau pukulan-pukulan Maharani. Wanita itu terus berteriak dan meronta, tidak terima dengan keputusan Jihan.
"Kita harus pergi!" bisik Rico membantu Jihan berdiri dan mengajaknya keluar.
Tubuh Jihan melemas, kepalanya serasa berputar-putar, wajahnya pun berubah pucat seputih kapas. Rico segera meraup tubuhnya dan membawanya keluar dari tempat tersebut. Jihan menangis di pelukan pria itu. Rasanya sudah tidak punya tenaga. Hormon kehamilannya membuat hatinya begitu sensitif dan mudah menangis.
"Kenapa membahayakan diri sendiri? Untung saja saya ikut!" gerutu Rico menurunkan Jihan saat sudah sampai di parkiran tepat di samping mobilnya.
Segera ia membukakan pintu dan membantu Jihan duduk. Pikirannya kemana-mana. Di satu sisi kasihan dengan ibunya, tapi di sisi lain perbuatannya patut dipertanggungjawabkan. Apalagi mengingat Khansa sudah terlampau baik kepadanya.
"Masih mau nangis?" tanya Rico menoleh sedikit.
Jihan menyeka air matanya, ia mengedarkan pandangan lalu menunjuk sebuah tempat tak jauh dari sana. "Antar aku ke sana!"
Berambung~
Cimimiwww like komennya bestie 😘 vote and giftnya juga makasi banyak...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Atik Marwati
sadar Rico.
sayangi nyawamu
2023-01-21
1
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
Rico ternyata masih sayang nyawa,inget sama bos devilmu yg kejam
jadi jgn sampai belok😏
2022-09-07
2
Siti Khumaira Rahma
Maharani masih belum berubah walau udh di penjara juga 🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2022-08-31
1