Rico segera berdiri dan mendekat. Dia menggerakkan tangan sembari mengangguk di belakang Jihan. Sebagai isyarat untuk memenuhi semua keinginan wanita itu. Suster itu pun menurut. Ia lalu melakukan pemeriksaan dasar, seperti tinggi badan, berat badan dan tensi darah.
"Silakan, Bu," ucap suster membukakan pintu ruangan dokter khusus kandungan itu.
Rico menerobos masuk di belakang Jihan. Meski perempuan itu terus menolak dan memintanya keluar. Namun pria itu keras kepala, "Saya akan tetap berada di belakang Anda," ujar Rico tersenyum tipis.
Kesal, akhirnya Jihan pun membiarkannya. Dokter bertanya tentang beberapa keluhan yang dialaminya pada trimester pertama ini.
"Sering pusing, Dok. Kadang muntah-muntah, tapi nafsu makan meningkat," jawab Jihan.
"Sering nangis juga, Dok," celetuk Rico terkekeh.
"Heh, bisa diem nggak? Kalau nggak bisa, keluar sana! Ganggu aja!" seru Jihan memutar tubuh menghadap pada Rico.
"Tidak apa-apa, Bu. Memang wajar kok. Wanita hamil itu moodnya gampang berubah karena pengaruh hormon. Mari kita lanjutkan dengan USG agar bisa lebih tahu jelas mengenai janinnya." Dokter tersenyum lembut lalu meminta Jihan untuk naik ke ranjang pasien.
Sesuai prosedur, pemeriksaan pun berjalan lancar. Usia kandungannya memasuki 8 minggu. Detak jantung yang bisa didengar melalui sebuah alat membuat dada Jihan bergetar sekaligus terharu.
Satu lembar foto hasil USG diterima Jihan. Ia mendengarkan dengan seksama anjuran-anjuran dokter. Wajahnya berbinar dan begitu antusias.
Keluar dari ruangan, Jihan masih menggenggam erat foto itu. Menatapnya lamat-lamat dan menitikkan air mata haru.
"Tunggu saja di sini. Saya akan mengambilkan obat dan vitaminnya." Rico meraih resep obat dokter dan menyuruh wanita itu duduk. Sedangkan dia beralih mengantri di tempat obat.
Tiga puluh menit kemudian, mereka bergegas pulang. Hari sudah menjelang sore. Seharian penuh Jihan berada di luar rumah. Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Jihan membuka lebar-lebar jendela, menopang dagu di atas tumpukan tangannya memandang bangunan-bangunan tinggi yang mereka lewati.
Terutama, saat melalui sebuah mall yang sering ia kunjungi dulu. Matanya tampak sangat merindukan surga dunianya dulu sewaktu berbelanja. Namun sekarang hanya menjadi angan belaka.
"Mau mampir?" Rico yang peka langsung bertanya.
"Enggak. Hanya saja, rindu dengan masa-masa itu. Ketika tanpa pernah berpikir tagihan kartu kredit yang membengkak, belanja apa pun keinginanku, makan apa aja yang aku lihat, hemm ... rasanya, pengen balik ke masa lalu," ujar Jihan tanpa sadar.
"Sekarang 'kan juga bisa? Suami Anda kaya, harta melimpah, tidak kekurangan sedikitpun," sahut Rico menaikkan alisnya.
"Hmm ... suami hanya di atas kertas," cetus Jihan masih menikmati pemandangan luar.
Terjawab sudah pertanyaan Rico ketika di rumah sakit tadi. Saat Jihan kekeuh hanya ingin namanya saja yang tertera pada buku periksanya.
"Kapan-kapan kalau mau belanja atau makan apapun bilang saja. Saya yang traktir," Rico membesarkan hatinya.
"Kamu kerja juga baru, Ric. Nggak usah deh, nanti habis gajimu," elak Jihan.
"Saya serius! Emm ... ya 'kan gaji saya sangat besar. Apalagi jika berhasil masuk di anggota utama. Pasti bisa berkali-kali lipat," sahut Rico santai sembari fokus menyetir.
Jihan menegakkan duduknya, "Anggota utama?" tanyanya mengerutkan dahi.
Belum sempat dijawab mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti telat di depan rumah. Dan tanpa diduga, Tiger sudah berdiri dengan tampang dingin dan kilat mata tajam di depan pintu.
Pengawal yang berjaga segera membukakan pintu untuk Jihan. Perempuan itu turun perlahan dan manik sendunya langsung bersirobok dengan mata tajam Tiger. Rico hanya mengamati dalam diam.
"Dari mana saja kamu?!" seru Tiger dengan suara bariton yang menggelegar.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Sari Nu Amoorea
lembut dikit napa pk tiger🤧
2024-07-19
2
Arry Kusumajati
Un
2022-09-07
2
ㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
bener2 nih macan🤦🏻♀️
2022-09-07
0