Bab 18

Barra berjalan cepat menuju apartemennya. Semalaman tidak bisa tidur nyenyak karna terus memikirkan Cindy.

Setelah menyentuh Yuna, hatinya tidak tenang dan dihantui rasa bersalah terhadap Cindy.

Meski tidak berbuat zina karna adanya status pernikahan yang sah, tapi entah kenapa Barra merasa telah berbuat dosa.

Membuka pintu apartemen dengan akses card yang selalu dia bawa. Wajah Barra di hiasi senyum lebar. Tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercintanya.

Barra sadar, dia tidak berlaku adil pada Yuna. Hanya menganggap Yuna sebagai wanita yang dia beli rahimnya untuk mengandung dan melahirkan darah dagingnya.

Sejujurnya, Barra tidak ingin melakukan hal ini. Dia tau perbuatannya akan sangat menyakiti Yuna suatu saat nanti.

Selama ini, dia selalu berusaha untuk menghindari hal itu. Bahkan tidak pernah berfikir untuk menyakiti hati seorang wanita.

Namun, keadaan membuatnya terpaksa melakukan semua ini demi mempertahankan Cindy.

Satu hal yang tidak di ketahui oleh Cindy, yaitu Barra membuat surat perjanjian pernikahan tanpa sepengetahuan Cindy.

Selama ini Cindy hanya tau kalau Barra akan menikah lagi dan artinya akan memiliki 2 istri untuk selamanya. Barra tidak mengatakan yang sebenarnya kalau dia hanya akan mengambil anak dari wanita yang dia nikahi, setelah itu akan menceraikannya.

Itu sebabnya Barra tidak mempertemukan Cindy dengan Yuna sebelum Yuna di pastikan hamil.

Dengan begitu, rencananya untuk memiliki anak dari Yuna tidak akan gagal.

Jahat memang, Barra bahkan mengakui itu. Namun dia akan bertanggungjawab penuh atas kehidupan Yuna selanjutnya sampai Yuna menemukan kebahagiaannya. Tentunya dengan laki-laki yang bisa mencintai Yuna setulus hati, tidak seperti dirinya. Karna sulit untuk membagi cinta dengan wanita lain, bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi.

Senyum Barra semakin mengembangkan. Dia memperhatikan Cindy yang sedang berada di dapur. Memakai dress pendek, selalu berpenampilan menggoda di dalam rumah.

"Sedang apa.?" Barra memeluk erat tubuh Cindy dari belakang. Meletakkan dagu di bahu Cindy.

Barra sangat merindukan wanitanya, meski baru semalaman tidak bertemu, tapi seolah sudah berhari-hari tidak bertemu dengannya.

"Kamu sudah datang,,," Ucap Cindy sembari berbalik badan. Bibirnya tersenyum tipis. Senyum yang Barra tau ada kesedihan di dalamnya meski Cindy tidak menunjukkannya terang-terangnya.

"Bukan datang, tapi pulang." Ucap Barra menegaskan. Dia menangkup kedua pipi Cindy, setelah itu mendaratkan kecupan di keningnya.

"Datang dan pulang sama saja kan." Kata Cindy, dia mengusap lembut pipi Barra dan menunjukan senyum termanisnya.

"Sekarang rumah kamu bukan hanya disini, jadi harus di ingat-ingat kapan waktunya datang ke sini dan pulang ke sana." Cindy semakin melebarkan senyuman. Senyum untuk menutupi rasa sesak di dada yang ternyata tidak mudah di kendalikan.

"Aku tau,,"

"Kamu sudah selesai membuat sarapan.?" Barra memilih mengalihkan pembicaraan. Selain tidak nyan membahas kehidupannya dengan istri kedua, Barra juga tidak mau membuat Cindy terluka.

"Sandwich seperti biasa." Cindy menyengir kuda. Dia tidak pandai memasak, tapi Barra tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia selalu memakan apapun yang dibuatkan oleh Cindy. Bahkan tidak menuntut Cindy untuk belajar memasak.

Dia lebih sering menyuruh Cindy membeli makan di restoran untuk mmakan siang dan alam.

"Itu kesukaanku." Tutur Barra.

"Tapi sebelum makan,," Tangan Barra mulai merayap ke bawah, berhenti di pan tat Cindy.

"Aku ingin,,,,"

"Aku baru saja haid, Maaf,," Cindy menunduk, merasa bersalah pada Barra karna tadi sudah menyetujui keinginan Barra saat bicara lewat telfon.

"Nggak masalah." Barra mengangkat dagu Cindy, keduanya saling menatap penuh cinta.

"Kita bisa melakukannya nanti." Untuk kedua kalinya Barra mendaratkan kecupan, kali ini bibir Cindy yang menjadi sasaran.

"I love you," Ucap Barra setelah melepaskan ciumannya.

"I love you too,," Cindy menghambur kepelukan Barra, memeluk erat seakan tak ingin melepaskannya.

Mungkin saat ini perhatian Barra masih fokus dan sepenuhnya untuk dirinya, tapi setelah madunya hamil dan mereka memiliki anak, Cindy tidak yakin Barra masih bisa seperti ini.

"Nanti malam aku akan pulang kesini." Kata Barra sembari mengunyah sandwich.

"Jangan seperti itu, kamu baru 1 hari tinggal disana. Lagipula aku sedang haid, sebaiknya kamu disana untuk beberapa hari kedepan."

"Kamu nggak mau dia cepat hamil.? Kalau kamu jarang tinggal disana, bagaimana dia akan hamil."

Cindy selalu memikirkan hubungan Barra dan madunya. Dia ingin hubungan mereka juga baik dan segera memiliki anak.

Cindy akan merasa bersalah jika Barra tidak bisa berlaku adil pada madunya. Jadi sebisa mungkin dia selalu menyuruh Barra agar berbuat adil dan membagi cintanya.

Bagaimana pun juga, wanita itu yang akan menyempurnakan kebahagiaan Barra setelah memiliki anak.

"Aku nggak bisa Cindy, rasanya tersiksa tidur tanpa memeluk kamu." Barra menghela nafas kasar.

1 malam tanpa Cindy sudah cukup menyiksa, rasanya tidak sanggup kalau berhari-hari harus tidur bersama Yuna.

"Bukan nggak bisa, kamu hanya belum terbiasa."

"Jangan membuatku merasa bersalah karna kamu nggak bisa adil sama dia. Kalau dia terluka, lebih baik aku mundur." Cindy sedikit mengancam Barra.

"Aku harap kamu tidak akan pernah menyesali keputusanmu." Ucap Barra dengan sorot mata dalam.

"Tidak demi kebahagiaanmu." Jawab Cindy yakin.

...*****...

"Apa.?! Kamu mau resign.?" Rekan 1divisinya dibuat kaget dengan keputusan Yuna yang akan mengundurkan diri dari.

"Iya Mas, sekarang aku cuma tinggal berdua sama Mama, jadi harus fokus jagain Mama."

"Setelah ini mungkin akan membuka usaha saja di rumah."

"Waktunya lebih fleksibel, bisa 24 jam berada di rumah sambil memantau kesehatan Mama."

Yuna menjelaskan panjang lebar, berharap resign mendadaknya ini bisa diterima oleh rekan kerjanya.

"Tapi Yun,,, nggak harus dadakan begini dong."

"Kamu lupa kita ada proyek.? 2 minggu tanpa kamu saja sudah membuat kita putar otak pagi siang malam."

"Nitha di pecat, sekarang kamu resign, makin sepi aja divisi kita."

"Kenapa nggak tunggu sampai proyek selesai.? Nggak lama kok, 2 sampai 3 minggu lagi."

Erka sedikit memohon. Dia berharap Yuna tidak akan meninggalkan pekerjaannya dalam kondisi seperti ini.

"Maafin aku Mas Erka, tapi aku bener-bener harus berhenti sekarang. Ini aja aku nggak tenang ninggalin Mama sendirian di rumah. Apa lagi baru pulang dari rumah sakit kemarin."

"Kenapa nggak minta orang baru aja buat gabung ke divisi Mas Erka."

Setelah berusaha meyakinkan Erka, akhirnya Yuna bisa menyerahkan surat pengunduran diri.

Dia juga pamit pada teman-temannya, setelah itu meninggalkan kantor yang beberapa tahun terakhir menjadi rumah keduanya.

Meski bekerja disana adalah impiannya, namun pada akhirnya Yuna harus melepas semua itu demi menuruti kemauan Barra yang telah memberikan segalanya.

Mungkin tidak ada salahnya saat ini mengabdikan hidupnya pada Barra selama 1 tahun ke depan. Karna apa yang telah diberikan oleh Barra, tidak akan bisa dia kembalikan.

"Dirumah selama 1 tahun.? Aku harus apa.?" Yuna berfikir sepanjang jalan menuju rumah.

Dia tidak mau hanya mengandalkan uang dari Barra meski lebih dari cukup. Setidaknya setelah pernikahan berakhir, dia masih bisa bertahan hidup.

"Aku nggak punya keahlian lain selain bekerja di kantor dan mendesign baju."

"Ya ampun, kenapa nggak kepikiran sampai situ."

"Aku bisa memproduksi baju, ada banyak konveksi besar disini."

Yuna berbicara sendiri sampai membuat supir taksi mengerutkan dahi.

"Pak, bisa ganti tujuan.? Saya mau ke rumah teman dulu." Pinta Yuna.

Dia ingin pergi ke rumah Nitha untuk mengajak Nitha bekerja dengannya. Nitha akan banyak membantu untuk promosi dan memasarkan produk miliknya lewat media sosial.

Rasanya tidak mungkin jika harus mengerjakan semuanya sendirian.

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

kamubemangvharus mempersiapkan diri utk masadepan kamu Yuna.. kemu harus siap di segala kemungkinan, jgn bergantung pd lelaki gak jelas seperti Bara...

2023-07-24

2

Sri Agustin

Sri Agustin

gak suka ah sama sikap bara

2023-05-19

0

Anthy Ay Bara

Anthy Ay Bara

hiu

2023-05-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 Bab 128
129 Bab 129
130 Bab 130
131 Bab 131
132 Bab 132
133 Bab 133
134 Bab 134
135 Bab 135
136 Bab 136
137 Bab 137
138 Bab 138
139 Bab 139
140 Bab 140
141 Bab 141
142 Bab 142
143 Bab 143
144 Bab 144
145 Info
Episodes

Updated 145 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
Bab 128
129
Bab 129
130
Bab 130
131
Bab 131
132
Bab 132
133
Bab 133
134
Bab 134
135
Bab 135
136
Bab 136
137
Bab 137
138
Bab 138
139
Bab 139
140
Bab 140
141
Bab 141
142
Bab 142
143
Bab 143
144
Bab 144
145
Info

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!