Eps. 10
Tidak terasa, Hari sudah sore.
Setelah berpisah dengan Riki dan teman yang lainnya, Sean pun mengantar Nazwa pulang.
Nazwa
Udah sore Sean, Aku bisa pulang pake angkot.
Sean
Ga apa-apa Naz. Kan rumah kita juga searah. lebih cepet kalo Aku anter.
Nazwa
hehe. iyah makasih yah Sean.
Nazwa terlihat sangat senang. Kacamatanya tak bisa menyembunyikan rona kemerahan diwajahnya.
Nazwa
Oh iyah. Sean. Aku mampir sebentar beli nasi warteg yah.
Sean
eh? oke oke aja si. emang kamu biasa beli warteg?
Nazwa
Iyah. abisnya orangtua aku, dua-duanya sibuk kerja. jadi dirumah udah kayak ngekos.
Nazwa
kadang tante marisa ngasih lauk makan. tapi ga enak kan kalo setiap hari.
Sean
hmm. Kalo Aku si masak sendiri.
Nazwa
serius? Sean bisa masak??
Sean
Iyah. soalnya mami sering pergi keluaran. Dan Kakakku ga bisa masak.
Nazwa
waaah. keren banget Sean. Aku juga paling bisanya masak nasi goreng. Tapi kan bosen kalau setiap hari bikin nasi goreng.
Sean
Kalo mau, kapan-kapan Aku bisa masakin kamu?
Terlihat wajah Nazwa begitu seumeringah mendengar tawaran dari Sean.
Sean
Sangat tenang yah jalan bersama Kamu, Naz.
Sean terdiam dan hanya melirik sedikit ke arah Nazwa.
Seakan makhluk-makhluk tak kasat mata itu menjauh dari arah Nazwa.
Aura cahaya di sekeliling Nazwa begitu terang yang membuat para makhluk itu meringis dan menjauh dari jarak mereka berada.
Sean
Naz. Apa kamu ikut semacam pengajian atau ibadah gituh?
Nazwa
Ibadah? paling sholat sama ngaji. Aku biasa ditinggal sendiri. Jadi, sebenarnya, Aku ngerasa ga tenang kalo ga ngaji.
Sean
oh. gituh yah. pantes.
Sean
kamu terang banget di mata aku, Naz.
Wajah Nazwa menjadi semakin memerah. Nazwa melihat ke arah Sean sambil berpikir. Kemudian, kembali ke pikiran positifnya.
Karena, Ayah Nazwa tipe yang tegas, tidak mengizinkannya dekat pada teman laki-lakinya. Nazwa bermaksud tidak terlalu dekat dengan Sean.
Sean dan Nazwa terlihat keluar dari warteg. Ketika hendak memakai helm, Sean mengamati Nazwa yang terdiam melihat ke arah samping, tepat di arah belakang Sean.
Sean melihat Sandra yang lagi bersama Sintia.
Lalu, Sean menyadari sesuatu.
Dipandangan Sean, yang ada Sintia disamping Sandra, mereka terlihat ngobrol bersama.
Nazwa
Cewek itu lagi ngomong sama siapa?
Nazwa mengamati Sandra yang Ia tidak kenal . Tidak ada handphone atau alat untuk dia berkomunikasi dengan orang lain.
Sean terdiam awalnya. Namun, Sean merasa tak bisa membiarkan kakaknya yang lagi berbicara sendiri dilihat orang banyak. Sean langsung menghampiri Sandra dengan spontan.
Sandra
Eh? Sean? Ko bisa ada disini?!
Sean
Kakak juga lagi apa disini? Bukannya lagi pergi sama kak Andhika?
Sandra langsung merengut ketika mendengar nama Andhika.
Sandra
Aku lagi ngambek sama dia.
Sean berusaha tidak terlalu melihat ke arah Sintia yang mengamatinya dengan tajam.
Sandra
Cowok itu ego nya tinggi. Aku ga suka.
Sandra
Masa pas Aku bilang kita mau jalan bareng Sintia, Andhika langsung cemberut aja. Kan kita ga sengaja ketemu Sintia, harusnya dia ngertiin kan.
Sean mendengar Sandra yang mendumel tentang pacarnya itu.
Sintia
udah lah. yuk kita pulang. udah mau malem. Kan bahan makanan juga udah pada dibeli.
Sandra
iyah. yuk Sean. kamu kesini naik apa?
Sean terkejut dan menoleh ke belakang.
Ternyata dari tadi dibelakang Sean, Nazwa ikut menghampiri. dan tersembunyi dibalik badan Sean yang lebih tinggi besar dari Nazwa.
Sandra
Lho??? ada cewek siapa ini??
Sean
temen sekelas Sean, Namanya Nazwa. Keponakannya om Ery.
Sandra sedikit melirik ke Sean sambil berpikir. Mengamati jarak antara Sean dan Nazwa yang begitu dekat. Namun, Ia tidak mau bertanya lebih jauh tentang hubungan adiknya itu.
Sandra
Aku Sandra, kakaknya Sean. Yang ini Sintia, saudara kembar ku.
Nazwa terlihat bingung. Kemudian, Sandra menengok ke samping. Dan Sintia sudah tidak terlihat ada disampingnya.
Comments