Di dalam mobil mewah itu, Valen terbengong karena ia ga pernah menyangka kalau dalam semalam saja, ia sudah menjadi milyuner dan bakal menjadi pemilik perusahaan Weston Grup, perusahaan terkenal di Asia. Bahkan ia gak pernah membayangkan kalau ia bisa menaiki mobil sekelas Bentley Flying Spur W12S yang harganya mencapai 3,2 miliar rupiah.
“Tuan Muda, kita sudah sampai.” Kata Revan dengan nada penuh hormat kepada Valen. Mereka sampai di daerah perumahan elit di Jakarta Pusat. Rumah itu sangat mewah bahkan melebihi rumah keluarga Bagaskara yang ditempati oleh nenek Arka dan Papa Eka.
“Disini?” tanya Valen dengan sedikit konyol, ia heran mengapa ia tidak mengingat apapun tentang rumah ini? Mestinya kalau ia pernah tinggal di rumah ini tentu ia akan mengingatnya bukan?
“Benar tuan muda, tuan Willy ada di dalam dan menunggu tuan muda beserta pengacara yang akan mengurus semua surat surat yang diperlukan.”jelas Revan lagi.
“Ehm sebentar, kalau aku pernah tinggal disini tentunya aku akan mengingat sesuatu tentang..”
“Dulu tuan muda dan tuan Willy tidak tinggal disini, kejadian pembunuhan terhadap ibu tuan muda dan pencobaan pembunuhan dengan dalih kecelakaan membuat tuan Willy menjual rumahnya yang dulu dan pindah kemari.”
“Oh!” sahut Valen dengan perasaan bimbang.
Di dalam Valen disambut oleh Willy Weston, ayahnya yang langsung merangkulnya karena rindu pada anaknya.
“Akhirnya kita bertemu, nak!” katan Willy dengan tatapan sendu, akhirnya ia bisa menemukan anak tunggalnya yang ia pikir sudahbmeninggal. Valen emang tidak mengingat Willy sebagai ayahnya, tetapi ia memiliki perasaan familiar terhadap Willy ini. Valen hanya bisa diam dan tidak bisa menjawab apa apa.
“Ayah sudah tahu perlakukan keluarga Bagaskara kepadamu, dan
terus terang saja ayah ingin kamu keluar dari sana dan kembali ke sini bersama ayah.” Kata Willy dengan nada geram.
“Ehm.. tuan.. pak! Maaf apa bisa saya minta bukti? Lagipula aku ga bisa meninggalkan istriku.” Valen bingung mau memanggil apa. Dengan segera Revan menunjukan surat kelahiran dan foto Valen kepadanya, termasuk bukti tanda lahir berupa tato ditubuh Valen, seketika juga Valen percaya walau ia belum dapat mengingatnya dengan jelas.
“Sekarang kamu percaya kan kalau ayah ini benar ayah kamu?” Valen hanya bisa mengangguk saja.
“ Ya , ehm a yah! Tapi saya mesti balik ke rumah keluarga istriku.Dan lebih baik mereka dan semua jangan tahu tentang hal ini terlebih dahulu.” sahut Valen.
“Ya, nanti biarlah Revan yang akan mengantarkan kamu ke rumah keluarga Bagaskara, dan ingatlah nak kalau kamu sekarang memiliki ayahbyang bisa membela kamu, jadi kamu gak usah khawatir,” kata Willy dengan tegas, ia tidak suka kalau ada orang yang merendahkan anaknya.
***
Sesampainya di rumah keluarga Bagaskara, Revan mengeluarkan
sebuah kartu hitam yang merupakan kartu teratas yang dikeluarkan oleh lembaga perbankan dan kartu itu diserahkan kepada Valen.
“Tuan muda, ini kartu berisi uang yang saya katakan tadi, simpanlah ini untuk tuan muda.” Katanya sambil meletakan itu di telapak tangan Valen.
“Tapi..”
“Tuan adalah bagian dari Weston Grup, jadi ini memang milik anda. “ Valen masih menggelengkan kepalanya tidak percaya.
“Tuan muda, saya lupa bilang kalau Mahkota Horeka,bperusahaan penyuplai kebutuhan mall, kantor, hotel serta resort yang terbesar di Indonesia dengan nilai 100 miliar sudah diakuisisi oleh Weston grup. Sekarang semua sahamnya ada di bawahbnama anda. Besok anda diminta untuk datang kesana sebagai pembelajaran sebelum sepenuhnya mengambil alih Weston grup.”
Valen hanya bisa melongo mendengar informasi yang dikatakan oleh Revan dengan nada santai tadi.
Wow, ayahnya menginvestasikan uang sebesar 20 milliar, perusahaan Mahkota Horeka senilai 100 miliar hanya supaya ia bisa belajar berbisnis? Bahkan kalau ia sudah matang, Weston grup akan diserahkan juga dibawah kepemimpinannya. Weston grup ini bergerak di bidang hotel, apartemen, perumahan, resort bahkan sekaligus di bidang design dan penyedia alat beratnya. Kekayaan Weston grup jauh melebihi kekayaan keluarga Bagaskara, bahkan 10 keluarga mereka sekaligus. Tak disangka dirinyalah bahkan yang menjadi pemiliknya.
“Tuan muda, ini ponsel keluaran terbaru milik anda. Di dalam sudah ada no telepon saya dan tuan Willy, Anda bisa menghubungi saya kapan saja.” Usai berbicara Revan langsung masuk kembali ke dalam mobil dan
meninggalkan Valen yang terbengong karena masih terkejut, di tangannya ada ponsel dan juga kartu hitam yang diberikan kepadanya tadi oleh Revan.
Setelah memasukan kartu dan ponsel baru ke sakunya, Valen pun masuk ke dalam rumah keluarga Bagaskara yang ditempati oleh Mertuanya, dan ia mendengar kalau mama mertuanya sedang memarahi istrinya. Padahal ia baru berada di ruang tamu, tapi suara mertuanya yang ada di ruang keluarga sudah terdengar sampai tempatnya berdiri.
“Anin, kamu harus menceraikan suami kamu! Nenek tadi bilang kalau kamu bakal dinikahkan dengan Andrew seorang dokter muda dan juga pewaris rumah sakit Adji Husada. Kalau kamu gak mau menceraikan sampah itu, nenek akan
mengusir kamu dari hotel Bagaskara dan menyerahkan semuanya kepada There.” Sergah mama mertuanya itu dengan nada ketus.
“Kalau emang nenek memecat aku dari kerjaan aku di hotel.Bagaskara, aku akan mencari kerjaan lain.”
“ Kamuu..” ibu mertuanya mendengus kesal dengan kelakukan
putrinya.
“Apa baiknya Valen, gara gara dia, kita selalu dipermalukan oleh menantu Dewa, paling tidak kalau kamu menikah dengan Andrew, mulut mereka tidak hanya menghina kita saja, tapi melihat kamu sebagai sebuah prestasi.juga.” Kali ini keluhan keluar dari papa mertuanya.
“Ma, pa, jangan kita melihat Valen dari sisi itu saja, ia laki laki yang baik dan bertanggung jawab.” Sahut Anin dengan kesal Valen terharu dengan pembelaan istrinya. Agar istrinya terbebas dari cacian, Valen langsung masuk ke ruang keluarga.
Melihat kedatangan Valen, mama Yuli semakin meradang, karena ia sudah terlampau malu dihina oleh adik ipar dan mama mertuanya.
“Dasar menantu tak tau diri! Sudah mempermalukan keluarga eh masih punya muka untuk balik kesini lagi.” Sindirnya sarkas.
Valen hanya bisa mendesah kesal. Mama Yuli selalu menghinanya, jika mama mertuanya tahu kalau sekarang ia adalah pewaris tunggal Weston grup, pemilik Mahkota Horeka yang memiliki asset 100 miliar rupiah serta memiliki kartu hitam dengan total nilai 20 miliar didalamnya, mungkin mertuanya akan langsung pingsan.
“Maaf, Ma, Pa kalau tadi Valen..”
“Sudahlah Pa, Ma!!! Mas Valen mandi dulu saja, ayo kembali
ke kamar!” potong Anin yang tidak ingin orang tuanya mencaci suaminya.
Valen menuruti istrinya dan berjalan bersama istrinya menuju ke kamar mereka.
“Kenapa wajah kamu terlihat kusut?” tanya Valen.
“ Iya banyak masalah di hotel Bagaskara, kayaknya nenek juga
butuh bekerja sama dengan Mahkota Horeka sebagai investor kuat, yang bisa mendukung Bagaskara
hotel meningkatkan fasilitas hotelnya.” Sahut istrinya.
“Emang ga ada yang bisa menjalin kerjasama dengan Mahkota
Horeka?” tanya Valen lagi.
“Mana bisa? Mahkota itu terlalu tinggi untuk diraih, mereka
bisa menginvestasikan miliaran untuk hotel yang bekerjasama dengannya. Nenek
berharap banyak sama Allan, kabarnya keluarga Kusuma ada hubungan dengan Weston, soalnya Mahkota Horeka diakuisisi oleh Weston. Allan mungkin bisa masuk lewat Weston.”
Tapi kamu gak tahu kalau Mahkota Horeka adalah milikku, suamimu! Bahkan aku juga adalah pewaris tunggal Weston, batin Valen, ia akan mencoba membantu istrinya dari Mahkota Horeka terlebih dahulu supaya istrinya tidak lagi diremehkan oleh keluarga Bagaskara.
Valen ingin keluarga Bagaskara terutama nenek kagum dan
menghargai kerja Anin selama ini.
.
.
.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 278 Episodes
Comments
Yusup Rahman
opening yang bagus
2025-01-19
0
Praised93
terima kasih👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
2023-12-18
1
Eric ardy Yahya
masih jadi pewaris rumah sakit ? kalah banyak dibandingkan Valen yang mempunyai semua hal dari Mahkota Horeka sampai ke Resort seharga 100 M . kalau bisa Andrew sama Alan berantem saja , biar Anin sama Valen yang lihat kalian berantem
2023-06-06
0