Pernikahan yang tak dilandasi oleh cinta. Dan rasa ingin mempertahankan sebuah pernikahan membuat Zahra harus berusaha sangat keras untuk meluluhkan hati suaminya. Meski ribuan luka yang menusuk hati, Zahra tetap harus mempertahankannya karna dia adalah imam baginya.
SELALU AKU YANG TERSAKITI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Sampai di depan rumah, Azka langsung masuk kedalam rumah, tanpa menghiraukan Zahra yang masih berada didalam mobil.
"Ada apa lagi dengan Mas Azka." Batin Zahra yang mengikuti langkah Azka masuk kedalam rumah.
Tanpa berhenti atau pun menunggu Zahra, Azka masih terus melangkahkan kaki, sampai menuju kamarnya. Dia melepas kemejanya, lalu melemparkannya kesembarangan tempat. Tubuhnya ia tenggelamkan ke dalam bathup, berusaha membuat agar kepalanya merasa dingin. Pemikirannya pun mulai bermunculan kembali.
"Memangnya sebegitu mudahnya buat dia untuk dekat dengan para lelaki. Dan apa...? Kakak...? Pangilan macam apa itu. Mendengarnya saja sudah membuat perutku mual." Gerutu Azka yang kembali menenggelamkan kepalanya kedalam air.
Sesaat kemudian Azka keluar dari kamar mandi. Hanya ditutupi dengan handuk, membuat dada Azka yang bidang dan berotot tampak terlihat dengan jelas. Butiran-butiran air, masih menetes dari tubuhnya. Azka pun masih mencoba untuk mengeringkan rambutnya yang basah, disaat bersamaan terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Dalam batinya dia sudah tau siapa yang ada dibalik pintu tersebut. Akhirnya terbesit pikiran untuk sedikit mengerjai orang tersebut.
"Masuk." Ucap Azka.
"Mas, ada sesuatu yang ingin saya...." Kalimat Zahra terhenti sesaat melihat Azka yang bertelanjang dada.
"......bicarakan." Menyambung kembali kalimatnya.
Zahra yang masih diambang pintu, merasa tidak enak. "Sebaiknya nanti saja, saya akan kembali lagi." Menarik kembali gagang pintu yang dibukanya.
"Hay...tunggu dulu..." Tahan Azka.
Gerakan Zahra pun, terhenti untuk menutup pintu kembali.
"Bantu aku untuk mengeringkan rambutku." Pinta Azka yang tengah duduk disofa.
"Tapi Mas... Gak sebaiknya mas berpakain dulu, nanti baru saya bantu untuk mengeringkan rambut" Balas Zahra.
"Berpakaian atau tidak sama saja. Bukankah ini, bukan yang pertama kalinya untukmu melihatnya. Jadi cepatlah bantu aku, jangan membuatku menunggu." Ucap Azka yang melihat Zahra masih berdiri diambang pintu.
"Iya Mas." Zahra berjalan menghampiri Azka. Dia mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Azka.
"Tunggu, jangan gunakan itu, gunakan ini saja." Ucap Azka sambil memberikan handuk kecil kepada Zahra.
"Bukankah lebih cepat kering, bila menggunaka hair dryer Mas." Ucap Zahra.
"Tapi aku sedang tidak ingin menggunakannya, jadi kamu keringkan saja dengan handuk ini. Mengerti?" Jelas Azka.
"Iya Mas." Zahra sunggu tak mengerti dengan kemauan Azka saat ini. Tapi mau gimana lagi, Zahra harus menurutinya.
Ditengah Zahra mengeringkan rambut, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Azka. Dan itu membuat wajah Zahra maju kedepan, berdekatan dengan wajah Azka, kedua mata tajamnya bertemu dengan mata Zahra. Sementara Zahra hanya mampu tertegun menghadapi Azka yang saat ini. Tanpa mampu berbicara.
"Bisakah kamu sedikit lembut, sayang." Ucap Azka yang terdengar sedang menggoda.
Zahra mengedipkan matanya beberapa kali dan mulai tersadar.
"I...iiya Mas." Balas Zahra dengan gagap dan langsung menarik kembali tubuhnya keposisi semula.
Sedangakan Azka yang didepanya tersenyum puas.
Zahra masih mencoba memahami situasi yang dia hadapi saat ini. Dia harus sedikit lebih waspada.
"Zahra, tolong ambilkan pakaian untukku." Titah Azka.
"Iya Mas." Zahra melangkah menghampiri lemari pakaian, namun disaat kakinya melangkah, kakinya menyandung sesuatu. Membuat tubuhnya tak seimbang lalu terjatuh.
Azka sengaja menjulurkan kakinya kedapan, untuk membuat Zahra tersandung kemudian terjatuh. Dia sudah merencanakanya sajak awal. Dan disaat Zahra mulai terjatuh, tangan Azka lebih cepat menangkap tubuh kecilnya. Kini Zahra berada diatas tubuh Azka yang kekar.
"Kamu sangat ceroboh, sayang." Ucap Azka yang menggoda Zahra.
Wajah Zahra mulai memerah, dia dalam posisi yang tidak baik saat ini. Zahra pun buru-buru bangkit dan berdiri.
"Apakah kamu tidak membantuku berdiri?" Ucap Azka yang mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Maaf Mas." Zahra mengulurkan tangannya untuk membantu Azka.
Namun lagi-lagi Azka mempermainkannya kembali, dia menarik tangan Zahra dengan cukup keras, membuatnya jatuh kembali kedalam pelukannya. Azka menatap dengan lekat kedua mata Zahra yang begitu dekat denganya. Wajah Azka semakin mendekat, lebih dekat, dan lebih mendekat lagi. Zahra yang tertegun dan melihat Azka yang semakin mendekat, hanya mampu menelan ludah, jantungnya pun mulai berdegup dengan kencang, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Azka yang melihat ekspresi wajah Zahra, semakin tergoda untuk terus menggodanya, wajahnya semakin dia dekatkan ke wajah Zahra,
seolah-olah dia akan menciumnya. Sampai disatu titik, Azka meniup kening Zahra.
"Ada sesuatu dikeningmu." Ucap Azka sambil tersenyum puas.
Zahra pun yang menyadarinya segera bangkit dan berdiri.
"Oh ya kompor, saya lupa untuk mematikan kompor didapur." Zahra yang berusaha membuat alasan untuk pergi.
"Em... Begitu?"
"Saya harus mematikanya dulu." Ucap Zahra
"Baiklah, it's okay." Balas Azka.
Baru beberapa langkah Zahra pergi, Azka membuat ulah kembali.
"Zahra..." Panggil Azka.
"Ya Mas." Jawab Zahra.
"Ada kecoak di bajumu." Ucap Azka sedikit keras.
"Mana...di mana?" Tanya Zahra yang masih dengan keadaan tenang tanpa rasa takut.
Rencana Azka gagal, ternyata Zahra tidak takut kecoak, Namun bukan Azka namanya kalau tak punya rencana cadangan. Dia melempar ular mainan kebelakang Zahra.
"Ada ular dibelakangmu Zahra." Ucap Azka yang pura-pura panik.
Zahra pun menengok kebelakang, dia melihat ular mainan tersebut. Dia mengira ular mainan tersebut nyata, hingga akhirnya dia berlari ketakutan menuju kearah Azka. Zahra pun memeluk erat tubuh Azka. Azka yang melihat respon Zahra semakin tersenyum puas. Dia membalas pelukan Zahra dan berusaha membuatnya tenang. Dia menendang ular mainan tersebut dengan salah satu kakinya. Membuat ular mainan tersebut masuk kebawah sofa. Barang bukti pun lenyap.
"Sudah, sudah, ularnya sudah pergi. Kamu bisa tenang sekarang." Ucap Azka.
"Serius Mas, ularnya udah pergi?" Tanya Zahra yang belum yakin.
"Kalau kamu gak percaya, kamu lihat saja sendiri." Balas Azka.
Dengan perlahan Zahra melepaskan pelukannya. Dia melihat ketempat ular mainan itu tadi berada. Dan memang benar ular tersebut sudah menghilang. Zahra pun kembali mengarahkan pandangannya kepada Azka. Namun disaat Zahra melihat Azka, dia kembali bertriak sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Aaa....aa.." Teriak Zahra.
"Kenapa kamu bertriak." Tanya Azka.
Zahra menunjuk kearah bagian bawah Azka. Pandangannya pun mengikuti kemana arah tangan Zahra menunjuk. Tanpa dia sadari, handu yang melingkar dipinggangnya telah terlepas, membuat dia sepenuhnya telanjang bulat. Akhirnya pun Zahra berlari keluar kamar Azka. Sementara Azka merasa malu, tentang apa yang telah terjadi padanya.
Mungkin ini yang disebut dengan senjata makan tuan.